Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #12: Duel Persahabatan
Lapangan Latihan Pusat Kota Jeokha biasanya dipakai oleh penjaga kota untuk baris-berbaris atau oleh anak-anak yang bermain perang-perangan.
Tapi hari ini, lapangan itu berubah menjadi arena duel dadakan.
Berita menyebar lebih cepat dari wabah cacar.
"Murid Dalam Wudang menantang seseorang duel!"
Dalam waktu kurang dari setengah jam, ratusan orang sudah berkumpul melingkar. Pedagang, pendekar kelana, bahkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar berdesakan ingin melihat.
Melihat Murid Wudang turun tangan adalah tontonan langka. Biasanya mereka terlalu "suci" untuk mengotori pedang di jalanan.
Di tengah lapangan yang berdebu, Baek Mu-jin berdiri dengan tenang. Jubah putihnya tidak ternoda debu sedikitpun. Tangan kanannya memegang pedang Jian, pedang lurus bermata dua, yang masih di dalam sarung. Postur tubuhnya tegak tapi rileks, memancarkan aura Taiji yang harmonis.
Di seberangnya, berdiri Geun.
Rambut hitamnya yang agak kusut terurai sampai pinggang, jubah dan pakaian sutra yang dia pinjam dari Paviliun Heavenly Scents, dan memegang... linggis berkarat yang dibungkus kain goni kumal.
Dia menguap lebar sambil menggaruk pantat.
"Siapa pria kurus itu?" bisik seorang penonton. "Dia mau lawan Tuan Muda Wudang? Cari mati."
"Ssst, dengar-dengar dia yang membunuh Ketua Bandit Gang-dol."
"Hah? Dengan tongkat yang dibalut kain goni itu? Jangan bercanda."
Geun memandangi sekeliling, dia melihat banyak orang. "Satu, dua, tiga... ratusan orang. Kalau aku pasang tarif tontonan satu keping tembaga, aku bisa kaya," batin Geun serakah.
Baek Mu-jin melangkah maju satu tapak, lalu mengangkat kedua tangannya membentuk hormat Yin-Yang khas Wudang.
"Aku, Baek Mu-jin. Murid Generasi ke-26 Sekte Wudang. Tahap First Rate Puncak. Memohon petunjuk dari Saudara..." Dia memberi jeda, menunggu Geun memperkenalkan diri.
Suaranya bergema, jelas dan bertenaga, didorong oleh energi murni.
Penonton bersorak kagum. Tradisi perkenalan diri adalah tanda kehormatan tinggi.
Ini adalah etika dasar Murim. Kau sebut namamu, sekte-mu, dan gelarmu.
Geun mengedipkan mata.
"Nama? Oke. Gelar? Gembel? Ranah? Apa itu ranah? Makanan?" pikir Geun dalam hati.
Geun berdehem, mencoba terdengar berwibawa demi 20 tael.
Semua mata kini tertuju pada Geun. Mereka menunggu balasan yang setara. Mungkin nama julukan yang garang? Atau deklarasi ranah yang menakutkan?
Geun tidak tahu tata krama Murim. Dia tidak tahu cara hormat kepalan tangan, Baoquan. Dia bahkan tidak tahu dia ada di ranah apa.
Jadi, Geun hanya mengangguk canggung, seperti orang yang menyapa tetangga saat buang sampah.
"Aku Geun," jawabnya singkat. "Tanpa sekte. Tanpa gelar. Tanpa ranah?? Dan tanpa waktu luang."
Hening.
Burung gagak seolah lewat di atas lapangan.
Seo Yun-gyeom di pinggir lapangan menepuk jidatnya. "Dia menghina kita atau dia benar-benar idiot?"
Tapi Baek Mu-jin tersenyum tipis. Di matanya, ketidakacuhan Geun adalah tanda kepercayaan diri seorang master yang tidak terikat aturan duniawi.
"Sikap tanpa bentuk. Menarik."
"Silakan, Saudara Geun. Anda tamu, Anda boleh menyerang duluan," kata Mu-jin sopan.
Geun menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Kau yang bayar, kau yang mulai." Meskipun alasan aslinya adalah karena Geun tidak tahu cara menyerang tanpa terlihat konyol.
"Baiklah. Hati-hati, pedang ini tidak memiliki mata."
SRING!
Baek Mu-jin mencabut pedangnya. Bilahnya berkilau biru muda, dialiri Qi murni Wudang.
Dia bergerak.
Bagi penonton, gerakan Mu-jin adalah puisi.
Dia menggunakan jurus langkah kaki Cloud Stepping Ladder. Dia tidak berlari, tapi meluncur di atas tanah. Jubahnya berkibar lembut, seolah dia ditiup angin, bukan bergerak sendiri.
Terlihat indah, elegan, dan mematikan.
Tapi bagi Geun...
"Dia sedang menari?"
Mata Geun menyipit. Penglihatan aktif.
Di mata Geun, keindahan itu lenyap.
Yang dia lihat adalah aliran sungai berwarna biru terang di dalam tubuh Mu-jin. Energi itu mengalir dari Dantian, naik ke kaki, lalu berputar ke pinggang, menciptakan momentum putaran yang halus.
"Banyak gaya," pikir Geun. "Kenapa harus muter-muter kalau bisa jalan lurus?"
Mu-jin tiba di depan Geun. Pedangnya menusuk.
Jurus Wudang Soft Sword: Jarum di Balik Kapas.
Tusukan itu terlihat lambat dan lembut, tapi ujung pedangnya bergetar, mengincar tiga titik vital sekaligus di leher, bahu, dan dada. Ini adalah teknik ilusi optik yang membingungkan lawan.
Geun tidak tertipu ilusi. Dia melihat aliran Qi-nya.
Energi terbesar mengumpul di ujung pedang yang mengarah ke bahu kanan.
Geun harus menangkis. Dia mengayunkan linggisnya.
TRANG?
Tidak ada suara benturan keras.
Saat linggis Geun menyentuh pedang Mu-jin, pedang itu "melilit" linggisnya seperti ular.
Mu-jin menggunakan prinsip Taiji: Empat Tael Menggeser Seribu Kati.
Mu-jin memutar pergelangan tangannya sedikit.
Tenaga kasar Geun dibelokkan. Linggisnya sendiri malah terpelanting nyaris memukul wajah Geun sendiri.
"Woah!" Geun panik, kepalanya hampir bocor oleh senjatanya sendiri.
"Kekerasan tidak akan menang melawan kelembutan, Saudara," kata Mu-jin tenang, sambil mengirim tendangan sapuan rendah ke kaki Geun.
Geun melompat. Tapi Mu-jin sudah memprediksinya. Pedang Wudang berbalik arah, menebas horizontal ke arah pinggang Geun yang sedang melayang di udara.
Di udara, manusia tidak bisa menghindar. Itu hukum fisika. Tidak ada pijakan untuk mengubah arah.
Penonton menahan napas. Mereka semua berfikir satu hal, "Kena!"
"Sial, pinggangku bakal putus!"
Geun tidak bisa menghindar dengan cara wajar. Dia juga tidak punya teknik bela diri sama sekali.
Jadi, otaknya secara reflek mengirim sinyal listrik ke otot-otot di pinggangnya punggungnya.
KRETEK!
Di udara, tubuh bagian atas Geun tiba-tiba "patah" sembilan puluh derajat ke belakang, seolah tulang punggungnya dicabut.
Dia menekuk tubuhnya dalam sudut siku-siku yang mustahil, persis seperti boneka wayang yang talinya putus.
Tebasan pedang Mu-jin lewat di atas pusar Geun, hanya memotong ujung baju.
Mata Baek Mu-jin membelalak. "Apa?!"
Geun jatuh gedebuk di tanah dengan posisi kayang yang mengerikan, lalu dengan cepat merangkak mundur seperti laba-laba dengan tangan dan kaki terbalik. Dia menjaga jarak.
Dia berdiri, lalu menghentakkan punggungnya.
KLAK.
Tulang belakangnya lurus kembali.
"Hampir saja..." Geun mengusap keringat. "Orang ini licin sekali. Linggisku tidak bisa mengenainya, dan dia terus membelokkan tenagaku."
Penonton hening. Mereka baru saja melihat sesuatu yang... menjijikkan.
Itu bukan teknik meringankan tubuh. Itu adalah pemandangan yang horror.
"Teknik macam apa itu?" bisik Jang Min-seok di pinggir lapangan. "Tulang punggung manusia tidak bisa menekuk begitu tanpa patah!"
Baek Mu-jin kembali memasang kuda-kuda. Wajahnya kini serius total. Senyumnya hilang.
"Luar biasa," puji Mu-jin, meski ada nada ngeri dalam suaranya. "Fleksibilitas tubuhmu melampaui logika. Tapi... Teknik Wudang belum selesai."
Mu-jin mengangkat pedangnya tinggi. Aura biru di sekelilingnya memadat.
Udara di sekitar lapangan menjadi berat.
"Jurus Pedang Taiji: Membelah Aliran Sungai."
Ini bukan serangan fisik biasa. Mu-jin memproyeksikan Qi Pedang.
Dia menebas dari jarak satu meter. Gelombang energi biru melesat ke arah Geun.
Geun melihatnya.
Gelombang itu bukan hanya angin. Itu adalah aliran deras energi yang tajam.
Kalau dia menangkis dengan linggis, linggisnya akan putus.
Kalau dia menghindar, gelombang itu terlalu lebar.
"Dia mau membunuhku?! Katanya persahabatan?!" Geun panik. Batinnya berteriak.
Dia melihat sumbernya.
Tangan kanan Mu-jin.
Di pergelangan tangannya, ada jalur Meridian Paru-paru yang bersinar terang benderang, menyalurkan energi internal ke pedang.
"Putus alirannya," pikir Geun.
Geun tidak mundur. Dia maju menerjang gelombang pedang itu.
"Gila!" teriak penonton.
Sesaat sebelum gelombang itu mengenainya, Geun melakukan hal yang paling tidak masuk akal.
Dia melepaskan sendi lututnya.
Tubuhnya jatuh ceper ke tanah, lebih rendah dari tebasan gelombang pedang yang melesat di atas rambutnya.
Dengan momentum meluncur di tanah, Geun berada di jangkauan kaki Mu-jin.
Dia tidak menyerang kaki.
Geun mengulurkan tangan kanannya.
Dia meregangkan ligamen jari telunjuk dan jari tengahnya, membiarkan jarinya memanjang satu inci secara tidak wajar.
Geun menusuk ke atas.
Bukan ke arah selangkangan, meskipun Geun tergoda melakukannya, tapi ke arah pergelangan tangan Mu-jin yang sedang terbuka setelah menebas.
Targetnya adalah Titik Sumber Meridian Paru-paru, yang Geun sendiri tidak tahu apa namanya.
PLEK.
Sentuhan itu ringan. Tidak ada darah.
Geun hanya mengirimkan getaran kecil, sebuah kejutan kecil dari energi internalnya yang liar, tepat ke dalam aliran energi internal Mu-jin.
Efeknya instan.
"Ugh!"
Wajah Baek Mu-jin berubah pucat.
Pedang di tangannya tiba-tiba terlepas.
KLANG.
Mu-jin mundur tiga langkah, memegangi tangan kanannya yang gemetar hebat.
Dia menatap tangannya dengan horor.
Rasanya tidak sakit sakit, tapi mati rasa.
Seolah-olah tangan itu bukan miliknya lagi. Aliran energinya terputus mendadak, menyebabkan arus balik kecil yang membuat dada Mu-jin sesak.
Dia mencoba menggerakkan jarinya untuk mengambil kembali pedangnya, tapi jarinya tidak mau bergerak.
Geun, yang masih dalam posisi berlutut aneh karena lututnya belum dipasang. Dia mendongak sambil menyeringai lebar.
"Ah... maaf," kata Geun polos. "Tanganku kepeleset. Kau tidak apa-apa? Masih bisa bayar tagihanku kan?"
Baek Mu-jin menatap Geun. Lalu menatap pedangnya yang jatuh di tanah.
Dalam duel pedang, menjatuhkan senjata adalah kekalahan mutlak.
Baek Mu-jin yang seorang First Rate Puncak dari Sekte Wudang, baru saja dilucuti oleh pemuda tanpa kuda-kuda, tanpa jurus, yang bertarung dengan cara merangkak dan mematahkan badan.
Mu-jin menarik napas panjang, menenangkan gejolak energi internal yang kacau di dadanya, lalu membungkuk hormat. Kali ini, hormatnya jauh lebih dalam.
"Aku... kalah."