Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Pabrik Rahasia
Bara kembali ke Markas Tebing dengan membawa uang tunai yang lumayan.
"Dana likuid aman. Saatnya Upgrade Fasilitas Produksi," gumam Bara sambil menyusun uang itu rapi di bawah kasur bambunya.
Misi utamanya sekarang ada dua:
Meracik 'Luna Harmony' (ramuan pelancar haid untuk Viona) agar Ruko jatuh ke tangannya.
Mengembangkan prototipe Produk Kosmetik untuk dijual massal.
Bara sadar, dia tidak bisa meracik obat tingkat tinggi di panci bekas mie instan selamanya. Dia butuh sterilisasi.
Bara menghabiskan dua hari berikutnya untuk merenovasi gubuk bambunya. Dia membeli plastik bening tebal bergulung-gulung dari desa, dan melapisi dinding bagian dalam gubuk bambu itu dengan plastik, menciptakan Ruang Isolasi kedap udara sederhana.
Dia juga membeli Lampu UV (biasa untuk aquarium) untuk mensterilkan ruangan setiap malam.
"Selamat datang di Laboratorium Pusat Nusantara Glow," ucap Bara bangga, meskipun dari luar gubuknya masih terlihat seperti kandang kambing yang dibungkus plastik.
Untuk Viona, Bara tidak main-main. Dia butuh bahan herbal spesifik yang menargetkan meridian hati dan rahim.
Bara masuk ke hutan bagian dalam, area yang belum pernah dia jamah.
Dia mencari Daun Tapak Liman (Elephantopus scaber) dan Rumput Teki (Cyperus rotundus).
Bagi orang awam, ini gulma pengganggu. Bagi Bara, umbi rumput teki adalah Analgesik (pereda nyeri) alami terbaik untuk kram perut jika diolah dengan benar.
"Hmm jelek begini, tapi berkhasiat bos senggol dong," kata Bara sambil mencabut rumput teki.
Di laboratorium plastiknya, Bara mulai bekerja.
Teorinya sederhana jangan direbus, Panas api langsung akan merusak enzim.
Tapi menggunakan teknik Ekstraksi Dingin.
Bara menumbuk herbal itu sampai jadi pasta, lalu merendamnya dalam Minyak Zaitun Murni (yang dia beli di toko bahan kue) selama 24 jam.
Setelah sari patinya keluar, dia mencampurnya dengan Madu Hutan Hitam (yang pahit) dan sedikit bubuk Kayu Manis (untuk melancarkan aliran darah dan memberi aroma enak).
Tak berselang lama akhirnya ramuan itu jadi dengan sempurna.
"Selesai. Luna Harmony. Tinggal nunggu Proses fermentasi" bisik Bara.
Sambil menunggu Luna Harmony terfermentasi sempurna, Bara iseng mengerjakan proyek sampingan: Sampo Penumbuh Rambut.
Pasarnya besar: Bapak-bapak botak.
Bara menggunakan Minyak Kemiri yang dibakar (teknik tradisional) dicampur dengan lendir Lidah Buaya Raksasa yang dia beli bibitnya tempo hari.
Dia menambahkan satu bahan rahasia: Getah Akar Alang-Alang Mutan (yang tumbuh di dekat rembesan limbah tambak lelenya).
"Teorinya, ini akan merangsang folikel rambut yang sudah mati," analisis Bara.
Dia menuangkan cairan sampo berwarna hijau pekat itu ke dalam mangkuk batok kelapa.
Baunya menyengat, campuran antara kacang gosong dan mint.
Saat Bara lengah karena harus ke sungai buang air kecil, Sersan Jago (si ayam jantan preman) masuk ke laboratorium.
Dia melihat mangkuk berisi cairan hijau yang menyegarkan mata untuk dilihat saja. Dikira minuman isotonik.
Srut... Srut...
Sersan Jago meminum sampo eksperimental itu.
Setelah selesai dengan masalah per-air-an Bara pun kembali.
"Lho? Kok mangkuknya kosong?" Bara bingung. "Perasaan tadi penuh. Apa menguap ya?"
Tiba-tiba, dari sudut ruangan terdengar suara kokok yang aneh. Bukan Kukuruyuk, tapi lebih berat dan berwibawa.
KUKURUYUUUUUUUK!!
Bara menoleh. Matanya melotot sampai hampir keluar.
Sersan Jago berdiri di sana dengan gagah cantik mempesona.
Bulu-bulu di seluruh tubuh Sersan Jago tumbuh lebat seketika!
Bulu ekornya memanjang drastis, melengkung indah menjuntai ke lantai seperti Ayam Onagadori Jepang.
Bulu di lehernya mengembang tebal seperti singa.
Warnanya pun menjadi hitam kilap kehijauan yang memukau.
Sersan Jago mengibaskan kepalanya. Poni (jambul) baru tumbuh menutupi matanya, membuatnya terlihat seperti vokalis band emo tahun 2000-an.
"Astaga..." desis Bara. "Potensinya terlalu kuat."
Sersan Jago berjalan mendekati Bara dengan gaya angkuh.
"Oke," Bara mengangguk pelan. "Kalau diminum ayam saja efeknya begini, kalau dioles ke kepala botak Pak Tejo supir truk... bisa-bisa dia jadi Rapunzel."
Bara mencatat di buku resepnya: Dosis harus dikurangi 90%. Jangan diminum.
Tak terasa seperti kedipan mata waktu berlalu, sudah sebulan bara melakukan rutinitas yang berulang-ulang, memijit bagian viona yang sakit, jualan, dan eksperimen.
Dan setiap minggu, Bara turun ke kota mengantar sebotol Luna Harmony ke kantor Viona, ramuan yang di khususkan untuk di minum.
Laporan dari Clara selalu positif:
"Bu Viona sudah nggak marah-marah lagi. Karyawan sujud syukur."
"Bu Viona kemarin senyum pas rapat. Klien sampai kaget."
"Jerawat di dagunya hilang total."
Dan hari ini adalah hari penentuan. Hari penagihan janji.
Bara bertemu dengan viona saat wanita itu tidak sibuk bekerja, di temani secangkir kopi, obrolan yang penuh basa-basi itu terlihat kaku.
"Nih kunci dan ini surat-suratnya, dan semua alat-alat kimia yang kamu minta sudah disiapkan" ucap viona setelah banyak basa-basi.
"Ok Terimakasih, satu lagi aku minta tolong antarkan sekalian alat-alat itu ke perbatasan hutan larangan."
"Buat apa antar kesana?" tanya viona keheranan.
"Aku tinggal disana, lebih tepatnya didalam hutan larangan"
"Wahhh.... gila, gak ada yang pernah masuk kesana keluar hidup-hidup loh, kamu serius ?" Tanya viona lagi memastikan kupingnya tidak bermasalah.
"Iya serius, orang yang datang kesana pasti hanya mempelajari sedikit ilmu tentang hutan dan mencoba keberuntungan disana, makanya banyak yang hilang atau meninggal di makan hewan buas."
Sore harinya, di perbatasan Hutan Larangan.
Sebuah truk ekspedisi menurunkan peti-peti kayu besar di pinggir jalan aspal yang sepi. Supir truknya buru-buru pergi setelah menurunkan barang, wajahnya ketakutan melihat kabut tebal yang menyelimuti hutan itu.
Bara berdiri di samping motor roda tiganya menatap tumpukan peti itu dengan mata yang berbinar-binar nafsu.
"Mainan baruku," Bara menyeringai sambil memeluk kotak itu bagai orang gila.
kemudian mulai mengangkut peti-peti kebak motor.
"Satu... Dua... Tiga..."
Bak motor penuh. Suspensi motor itu berdecit protes.
"Tahan napasmu, Kuda Besi. Kita akan mendaki," ucap Bara menepuk tangki bensin.
Bara masuk ke dalam hutan.
Suasana langsung berubah. Cahaya matahari terblokir kanopi pohon raksasa. Suara binatang hutan terdengar asing.
Di tengah jalan, seekor Babi Hutan besar dengan taring mencuat menghalangi jalan setapak. Hewan itu mendengus, siap dengan pose menyeruduk.
Bukannya berhenti Bara malah seakan balik menantang, dia menggeber gas motornya untuk menguji nyali hewan tersebut.
Bayer... bayer...
"Minggir, atau kau jadi menu makan malam!" teriak Bara.
Dia mengambil segenggam bubuk dari saku celananya—Bubuk Amonia Konsentrat (dari fermentasi kotoran kelelawar). Dia melemparnya ke depan.
Bau menyengat amonia meledak di udara. Babi hutan itu, yang hidungnya sensitif, memekik kaget dan lari terbirit-birit masuk semak-semak.
"Cihhh....gitu aja takut lu ....yeee.... sok-sokan mau nantang gw."
Bara lanjut memacu motornya, melibas akar pohon dan lumpur. Skill mengemudinya diuji maksimal. Motor gerobak itu melompat-lompat seperti mobil reli.
Sesampainya di Markas Tebing, hari sudah gelap.
Bara menyalakan obor damar sebagai penerangan.
Gubuk bambu panggungnya berdiri kokoh di sana. Tapi bagi Bara, gubuk ini masih terlalu "primitif" untuk alat-alat canggihnya.
Malam itu juga, Bara bekerja lembur.
Pertama, dia membongkar peti kayu pembungkus alat lab. Kayu-kayu peti itu terbuat dari kayu pinus olahan yang kuat dan rata.
Bara menggunakan kayu peti itu untuk membuat Meja Kerja dan Rak Dinding di dalam gubuk bambunya.
"Lantai bambu ini tidak stabil buat mikroskop," analisis Bara.
Dia mengambil batu-batu kali yang datar, menyusunnya di pojok ruangan, lalu merekatkannya dengan adonan tanah liat campur getah pohon karet (semen alami). Jadilah meja batu yang kokoh dan anti-getar.
Dia menata alat-alat gelas itu.
Tabung distilasi kaca yang rumit terpasang rapi. Bejana ukur berbaris.
Kontrasnya luar biasa.
"Sempurna," Bara mengelap keringat.
Sekarang dia butuh air mengalir untuk pendingin distilator.
Bara pergi ke air terjun kecil di dekat gubuk. membelah bambu menjadi dua, dan membuat sistem Pipanisasi Bambu.
Air dingin dari air terjun dialirkan lewat bambu, masuk ke dalam gubuk, memutar di selang pendingin kondensor, lalu keluar lagi ke sungai.
Sistem Pendingin Air Alami: Zero Cost, High Efficiency.
"Sekarang bisa menyuling minyak atsiri 24 jam nonstop tanpa takut mesin kepanasan," gumam Bara puas.
Keesokan paginya, Bara berdiri di teras gubuknya sambil meminum kopi hitam (kopi hutan liar yang dia sangrai sendiri).
Dia melihat hamparan tanah kosong di sekitar markasnya yang membuat dia terpikirkan sesuatu.
Hutan Larangan ini tanahnya vulkanik. Hitam, gembur, penuh mineral.
Ruko di kota hanyalah etalase. Di sinilah tempat dia yang sebenarnya.
Bara mengeluarkan peta yang dia gambar sendiri di kulit kayu.
"Zona A (Pinggir Sungai): Untuk Tanaman Kosmetik (Lidah Buaya, Mawar, Melati). Mereka butuh banyak air."
"Zona B (Bawah Pohon Rindang): Untuk Tanaman Penumbuh Rambut (Kemiri, Urang Aring). Mereka butuh keteduhan."
"Zona C (Tebing Batu): Untuk Tanaman Beracun/Obat Keras (Kecubung, Gadung, Jamur). Ini area berbahaya."
Bara tidak akan menanam dengan cara biasa.
Dia akan menggunakan pengetahuannya tentang Alelopati (interaksi kimia antar tanaman).
Dia akan menanam Kacang Babi di sela-sela tanaman utamanya. Kacang Babi mengikat nitrogen dari udara dan menyuburkan tanah secara alami, sekaligus baunya tidak disukai hama ulat.
Tidak perlu pestisida kimia. Hutan ini sudah punya keseimbangannya sendiri.
"Dan untuk keamanan..."
Bara melirik ke arah jalan masuk satu-satunya ke markasnya.
Dia tidak bisa mengandalkan keberuntungan agar orang tidak masuk. Dia harus membuat Sistem Pertahanan.
Bara mengambil bibit Jelatang Api (tanaman yang kalau disentuh bikin gatal dan panas 3 hari 3 malam).
Dia akan menanam pagar Jelatang Api mengelilingi markasnya.
Hanya dia yang tahu di mana letak "pintu rahasia" yang aman.
"Siapapun yang nekat masuk tanpa izin, akan pulang dengan kulit melepuh," Bara tersenyum dingin.
Semua persiapan sudah matang.
Alat lab ready.
Lahan tanam ready.
Toko di kota ready.
Tinggal menunggu kebangkitan dirinya yang akan mengguncang pasar.