NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu, pukul 08.00, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar hotel mewah menerangi kamar bak adegan pembuka drama mahal. Namun keanggunan ruangan itu segera kontras dengan kekacauan kecil yang hanya bisa diciptakan oleh satu orang Jema.

Para perias masuk lagi untuk keenam kalinya pagi itu. Mereka membawa koper besar berisi peralatan premium, gaun putih yang bergantung di gantungan emas, serta riasan bernuansa lembut khusus untuk pengantin.

Di tengah ruangan…

Jema masih terlelap, wajahnya menempel di bantal, rambut hitamnya berantakan, dan sisa alkohol semalam menempel jelas di ekspresi lelahnya. Bahkan begitu kacau, ia tetap cantik.

Salah satu perias maju dengan langkah super hati-hati.

“Nona… mohon bangun. Kita harus mulai bersiap.”

Jema menggerutu. Tangannya meraba-raba bantal seperti mencari kenyamanan yang dirampas.

“Hhh… siapa pun yang berani bangunkan aku lagi… sumpah akan kubuang dari… ugh ini kamar siapa sih…” gumamnya setengah sadar, suara serak tapi tetap terdengar mahal.

Perias-perias itu saling melirik, tegang.

Jema akhirnya membuka mata pelan, malas, dan kesal. Ia memicingkan mata ke arah mereka.

“Apa sih… Tuhan… kenapa banyak orang di kamar ku? Kalian ngapain lagi di sini? Baru lima menit lalu kalian masuk, kan?” omelnya,

Salah satu perias menelan ludah lalu menjawab lembut,

“Nona Jema… dua jam lagi Anda akan menikah. Kita harus segera memulai persiapannya.”

Jema terdiam.

Benar-benar diam, seperti patung.

Kemudian bibirnya bergetar marah bukan karena mereka masuk tapi karena kenyataan itu menghantam seperti palu godam.

“Oh. Sial.” gumamnya dingin.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Menghela napas panjang… panjang sekali.

“Ya Tuhan… aku lupa.” Ia mengusap wajah nya. “Kenapa kalian tidak biarin aku mati dulu satu menit sebelum ngingetin hal sebesar ini?”

Para perias membungkuk sedikit, takut salah gerak.

Jema beranjak dari ranjang dengan langkah limbung namun tetap anggun. Tangannya memijat pelipis.

“Denger ya… aku tahu kalian cuma kerja. Tapi kalau kalian masuk lagi sebelum aku siap… kita bakal perang. Oke?” katanya tanpa menaikkan suara, namun auranya cukup membuat suhu ruangan turun dua derajat.

Salah satu perias cepat-cepat menunduk.

“Tentu, nona. Kami akan menunggu.”

Jema berjalan ke arah kamar mandi. bajunya melambai lembut, kontras dengan mood-nya yang masih berantakan. Sesaat sebelum menutup pintu, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar.

“…Ayo, Jema. Kau harus menikah hari ini.” gerutunya pada diri sendiri.

Ia menarik napas panjang, wajahnya perlahan menjadi lebih tenang.

Pintu kamar mandi tertutup.

Para perias menahan napas antara lega dan tetap waspada. Drama besar belum dimulai… tapi intensitasnya sudah terasa di udara.

* * * *

Pagi itu tidak ada musik, tidak ada keributan.

Yang terdengar hanya suara jam antik berdetak pelan dan desiran angin dari jendela besar suite mewah itu.

Lucane berdiri di depan cermin tinggi, kemeja putih terpasang sempurna di tubuhnya. Ekspresinya tenang terlalu tenang. Seperti seseorang yang selalu tahu hasil akhir bahkan sebelum permainan dimulai.

Di belakangnya, Liam sibuk mengancingkan manset dan merapikan jas hitam eksklusif yang tergantung di rak.

“Jadi… kamu menemukannya di mana?” tanya Lucane datar, matanya tidak lepas dari bayangannya di cermin.

Liam menghela napas kecil, seolah baru saja melewati malam yang panjang.

“Di lobi apartemennya, Tuan. kami menunggu nona Jema dari pukul sepuluh malam dan nona Jema baru kembali pukul dua dini hari. dan…” Liam berhenti sejenak, menimbang kata-katanya agar tetap sopan. “Nona Jema mengalami malam yang… cukup meriah.”

Lucane melirik Liam melalui pantulan cermin, satu alisnya terangkat tipis.

“Mabuk?”

“Benar tuan, sedikit kacau karena nona Jema kembali dengan keadaan berantakan.”

Suasana hening sejenak.

Lalu Lucane tersenyum samar bukan senyum lembut, tapi senyum kecil yang berbahaya, dingin, dan penuh penilaian.

“Malam yang indah,” gumamnya pelan.

Liam melanjutkan, “Kami membawanya pulang dengan aman. Tim perias sudah datang sejak subuh. Sejauh ini… mereka masih hidup.”

Lucane memutar badan, kini benar-benar menatap Liam.

“Dia mengamuk?”

“Bukan sekadar mengamuk, Tuan,” Liam menelan ludah. “Nona Jema… terus mengomel karena di bangunin cukup pagi”

Kali ini, Lucane tertawa kecil suara rendah yang jarang sekali keluar.

“Cukup menarik, apa dia hanya tau ngomel ngomel aja ”

Liam mengangguk. “Tapi Nona Jema tetap bersiap tuan, semua sudah terkendali.”

Lucane mengambil jas tuxedo hitamnya, dan Liam segera membantu memasangkannya.

Gerakannya tenang, elegan, seolah hari ini hanyalah kesepakatan bisnis biasa.

“Baik,” ucap Lucane sambil menarik napas panjang. “Jika dia datang ke altar dalam keadaan masih mengamuk, biarkan saja. Itu lebih baik daripada dia mencoba kabur.”

Liam tersenyum tipis. “Saya akan memastikan semuanya berjalan lancar, Tuan.”

Lucane memasang dasi hitamnya, wajahnya kembali serius dan dingin.

“Liam.”

“Ya, Tuan?”

“Pastikan juga… tidak ada yang berani menyentuhnya atau membuatnya kesal.”

Matanya menggelap, dingin bahkan lebih tajam dari bilah pisau.

“Karena mulai hari ini,” lanjutnya pelan, “dia adalah istri saya.”

Liam menunduk hormat.

“Baik, Tuan Lucane.”

Lucane melangkah menuju pintu, siap memasuki hari yang sudah lama ia kendalikan… meski calon istrinya bangun dari mabuk dan marah-marah.

* * * *

Beberapa menit berlalu.

Para perias menunggu dengan tenang, meski sebenarnya mereka menahan napas setiap kali terdengar suara dari dalam kamar mandi suara keran dibuka keras, suara Jema menggerutu, dan sesekali suara “ARGH KENAPA AIRNYA DINGIN SEKALI?!” yang membuat semua orang saling berpandangan ngeri.

Setelah hampir sepuluh menit, pintu kamar mandi terbuka perlahan.

Jema keluar dengan balutan jubah mandi putih hotel, rambutnya masih basah menetes. Namun mata dan raut wajahnya sudah jauh lebih tajam lebih hidup, lebih siap… dan jelas lebih galak dari lima belas menit lalu.

“Baik. Sekarang kalian boleh mulai,” ucapnya datar, sambil menyeret kursi rias mendekat ke cermin.

Para perias bergerak cepat namun tetap anggun.

Namun… begitu satu perias mencoba menyeka wajahnya, Jema langsung menahan tangannya.

“Tunggu jangan sentuh dulu area bawah mata,” katanya tegas.

Sang perias mengangguk cepat. “Baik, nona. Apakah… Anda kurang tidur?”

Jema menatapnya dari cermin dengan tatapan ‘apakah itu pertanyaan serius’.

“Menurutmu? Aku minum semalaman, dibawa pulang dalam keadaan nyaris mati gaya, lalu dibangunkan enam kali hanya untuk diingatkan bahwa aku harus menikah dengan pria yang bahkan aku..”

Ia berhenti, menarik napas, mengubah nada menjadi elegan lagi.

“yang bahkan aku belum siap hadapi pagi ini.”

Para perias otomatis menunduk, pura-pura sibuk merapikan alat.

Yang lain bertanya dengan hati-hati, “Apa Anda ingin minuman hangat dulu?”

“Ya. Teh.”

Lalu ia menambahkan dengan nada tajam, “Dan tolong nyata panasnya. Bukan air suam-suam basi yang bahkan nyawa ku sudah tidak menghargai.”

Seorang perias langsung keluar terbirit-birit.

Jema duduk tegak. Aura bossy tapi masih memancarkan kecantikan kuat.

Tatapannya lurus ke depan, menatap dirinya di cermin.

“Kalian tahu, kalau bukan karena… keadaan, aku pasti kabur sekarang.” gumamnya lirih.

Mereka pura-pura tidak mendengar.

Setelah beberapa menit, salah satu perias mulai mengeringkan rambut Jema.

Suara alat pengering memenuhi ruangan.

Dalam suara gemuruh itu, Jema kembali membuka mulut lebih pelan, lebih jujur.

“Aku bahkan tidak tahu… apakah aku tampak seperti wanita yang siap menikah,” katanya sambil menatap wajahnya sendiri di cermin.

Perias yang berdiri di belakangnya tersenyum lembut.

“Anda terlihat kuat, nona. Itu lebih dari siap.”

Jema memutar mata, tapi ada sedikit senyuman tipis.

“Jangan buat aku terharu pagi-pagi. Nanti eyeliner-nya susah.”

Para perias terkekeh pelan, lega karena suasana sedikit mencair.

Namun tepat saat itu

BRUK!

Seseorang mengetuk pintu dengan keras.

Para perias terhenti.

Jema menatap pintu dengan sorot tajam seperti singa terganggu.

“…Siapa yang punya nyali menganggu ku sekarang?”

Pintu terbuka sedikit.

Liam muncul, separuh wajahnya masuk ke ruangan.

“Nona Jema… Tuan Lucane sudah siap dan… ehm… beliau menyuruh saya memastikan Anda tidak kabur.”

Wajah Jema langsung membeku.

Kemudian ia mengerutkan kening, suaranya dingin.

“Bilang sama dia… kalau aku mau kabur, dia pasti tidak bisa mengejar ku.”

Liam menghela napas.

“Itu juga yang beliau bilang.”

Jema: “…”

Jema mendecak kesal, namun pipinya memerah sedikit antara malu dan jengkel.

“Keluar. Tutup pintunya. Aku belum selesai.”

Liam menutup pintu cepat-cepat.

Para perias menatap satu sama lain drama besar sudah dimulai bahkan sebelum gaun dikenakan.

Dan Jema hanya menatap cermin lagi… kali ini dengan tatapan lebih rumit.

“Aku benar-benar akan menikah dengan pria itu,” bisiknya.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!