NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Singa di Lobi SCBD

Lobi Apartemen SCBD — 22:45 WIB

Rangga berjalan dengan langkah tenang namun ritmis. Setiap hentakan sepatu kulitnya di lantai marmer terdengar seperti genderang perang yang mendekat. Aura pria itu berubah total—dari pangeran santun menjadi singa yang siap menerkam.

Mateo menyeringai lebar saat melihat Rangga muncul dari lift. “Wah, si Pangeran Suci akhirnya turun juga dari menara gadingnya. Aku kira kamu lagi sibuk... menghibur calon istri yang sedang ‘berisi’.”

Rangga berhenti tepat tiga meter di depan Mateo—jarak ideal bagi seorang atlet untuk bereaksi dalam hitungan detik. “Buang kertas sampah itu, Mateo. Kita berdua tahu itu palsu.”

“Palsu?” Mateo tertawa keras, suaranya bergema di lobi yang sepi dan megah. Ia melambaikan kertas itu dengan dramatis. “Ini hasil lab DNA resmi, Rangga. Aku punya akses ke hal-hal yang kamu bahkan nggak tahu. Begitu ini rilis besok pagi, Livia Liang bukan lagi juara dunia. Dia hanya akan jadi ‘cewek Chindo yang hamil anak bule playboy’. Karier tamat. Game over.”

Mata Rangga menggelap seperti malam tanpa bintang. “Kamu benar-benar tidak punya harga diri, ya? Menghancurkan perempuan yang kamu klaim pernah kamu cintai hanya demi ego yang terluka?”

“Aku nggak menghancurkan dia,” desis Mateo, matanya memerah penuh obsesi gila. “Aku cuma mau dia kembali ke aku. Aku mau dia sadar kalau dia milik aku, bukan pajangan keluarga Liang atau alat politik kamu sama Pak Menteri!”

Rangga melangkah satu langkah lebih dekat. Auranya mendadak berubah—dari atlet disiplin menjadi pria yang siap membunuh demi melindungi apa yang menjadi miliknya. “Livia bukan barang. Dan dia bukan milikmu lagi sejak kamu memilih jadi pengecut yang merekam dia secara diam-diam.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah lift. Livia muncul, diikuti Vania dan Sherly yang masih membawa tas belanjaan dan wajah penuh kepanikan.

“Mateo, stop!” teriak Livia. Suaranya bergema, serak oleh emosi yang meluap. Ia berdiri di samping Rangga, tangannya gemetar tapi matanya menatap Mateo dengan kebencian murni. “Kamu benar-benar menjijikkan. Aku nggak pernah hamil anakmu. Aku baru saja tes lagi, dan hasilnya negatif!”

Mateo tertegun sejenak melihat Livia, tapi seringainya kembali muncul. “Negatif versi alat tes murahan? Liv, kertas di tangan aku ini lebih valid di mata media. Publik suka drama, dan aku akan kasih mereka pertunjukan terbaik.”

“Kalau kamu kasih mereka pertunjukan, aku kasih kamu neraka,” potong Rangga. Suaranya sangat rendah, hampir seperti bisikan maut, tapi cukup kuat untuk membungkam tawa Mateo seketika.

Rangga menarik ponselnya dari saku jas. Ia tidak menelepon polisi biasa. Ia menekan satu nomor privat. “Halo, Pak Nasution? Maaf mengganggu malam-malam. Saya sedang bersama Mateo de Vries di lobi. Ya, pria yang menyebarkan berita bohong soal aset nasional kita. Saya rasa... deportasi dan pembatalan visa atletnya bisa diproses malam ini juga, kan? Bukti pemerasan serta pengancamannya sudah saya kirim ke email Bapak.”

Wajah Mateo berubah pucat seketika, seperti darahnya tersedot habis. “Kamu... kamu nggak mungkin punya koneksi segitu...”

“Kamu pikir aku cuma atlet yang main pukul kok bulu tangkis, Mateo?” Rangga tersenyum—senyum predator paling mengerikan yang pernah dilihat Livia. “Aku Adiwinata. Keluargaku punya pengaruh yang bahkan nggak bisa kamu bayangkan. Kamu pikir kamu bisa main-main dengan perempuan aku di tanah air aku sendiri?”

Rangga melangkah maju, menjulang tinggi di depan Mateo yang mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Dengan satu gerakan cepat, Rangga merebut kertas itu dari tangan Mateo, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil tepat di depan wajah pria itu. Serpihan-serpihan itu beterbangan seperti confetti kemenangan.

“Keluar dari sini sekarang,” perintah Rangga dingin. “Atau aku pastikan malam ini kamu tidur di sel imigrasi dan namamu di-blacklist dari seluruh turnamen BWF selamanya.”

Mateo menatap Livia, mencari secercah belas kasihan di mata gadis yang pernah ia klaim cintai. Tapi yang ia temukan hanyalah punggung Livia yang kini berlindung di balik pundak kokoh Rangga. Mateo tahu ia kalah telak. Dengan geram terakhir, ia berbalik dan melangkah kasar keluar dari lobi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Vania dan Sherly menghela napas lega secara bersamaan. “Gila, Rangga... kamu cool banget,” gumam Sherly, masih memegang botol minyak pengasih dari Thailand yang ternyata tak diperlukan malam ini.

Namun Livia tidak langsung merasa lega. Tubuhnya mendadak lemas, seperti tulang penyangganya lenyap. Rangga segera menangkapnya, melingkarkan lengan kuatnya di pinggang Livia dengan sigap.

“Dia sudah pergi, Liv. Semuanya selesai,” bisik Rangga, suaranya kembali lembut—kontras total dengan nada mematikan beberapa menit lalu.

“Rangga... terima kasih,” Livia menyandarkan kepalanya di dada pria itu, menghirup aroma cendana yang kini menjadi satu-satunya tempat amannya di dunia ini.

“Kak Vania, Kak Sherly,” Rangga menoleh ke arah kedua kakak Livia dengan sopan santun Jawa yang sudah kembali sepenuhnya. “Maaf telah membuat kalian khawatir. Tolong kabari keluarga Liang bahwa semuanya sudah terkendali. Livia biar istirahat di sini dulu malam ini. Besok pagi, saya sendiri yang akan mengantarnya ke Solo untuk pertemuan keluarga.”

Vania dan Sherly mengangguk cepat. Mereka tahu kapan harus memberi ruang. Setelah memeluk Livia singkat, keduanya pergi, meninggalkan pasangan itu sendirian di lobi megah yang kini kembali sunyi.

Di dalam apartemen, Livia duduk di sofa beludru abu-abu, masih terbungkus jaket Rangga yang kebesaran. Rangga membawakan segelas teh hangat dengan jahe, lalu duduk di sampingnya. Ruangan hanya diterangi lampu temaram amber, menciptakan suasana intim sekaligus intens—seperti rahasia yang hanya milik mereka berdua.

“Kenapa kamu lakukan semua itu, Rangga?” tanya Livia pelan, suaranya masih sedikit gemetar. “Kamu bisa saja biarkan aku hancur. Saham pelabuhan keluargaku tetap bisa kamu ambil lewat tekanan politik kalau aku jatuh.”

Rangga meletakkan gelasnya, lalu berbalik menghadap Livia sepenuhnya. Tangannya naik perlahan, mengusap pipi gadis itu yang masih agak pucat dengan kelembutan yang kontras dengan sikapnya di lobi tadi. “Aku sudah bilang, Liv. Sekarang aku nggak peduli lagi soal saham atau bisnis apa pun. Saat aku lihat kamu ketakutan karena bajingan itu, aku sadar satu hal.”

“Apa?”

“Aku nggak cuma ingin punya status sebagai tunanganmu. Aku ingin jadi satu-satunya orang yang kamu cari saat dunia kamu runtuh.” Rangga mendekat, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Livia. Napasnya hangat, aroma cendana semakin kuat. “Aku posesif, Liv. Aku akui itu. Aku mau miliki kamu sepenuhnya—tubuhmu, hatimu, bahkan traumamu, biar aku yang simpan dan lindungi.”

Livia merasakan panas menjalar deras di perutnya, seperti api yang baru dinyalakan. “Tapi janji kamu... no sex before marriage?”

Rangga tersenyum tipis—senyum sarat gairah yang selama ini ia tekan kuat-kuat. Ia merapatkan tubuhnya, tangan besarnya meremas pinggang Livia dengan posesif, jari-jarinya seperti membakar kulit gadis itu melalui kain tipis. “Janji itu tetap ada. Tapi bukan berarti aku nggak bisa kasih tahu kamu seberapa serius aku ingin kamu jadi milikku.”

Rangga menunduk perlahan, mencium ceruk leher Livia dengan tekanan lebih dalam dari sebelumnya—bibirnya hangat, meninggalkan tanda samar yang akan membuat Livia teringat padanya sepanjang malam. Livia mendesah pelan tanpa sadar, tangannya meremas kemeja Rangga, menarik pria itu lebih dekat hingga dada mereka menempel.

“Besok kita ke Solo,” bisik Rangga di ceruk lehernya, suaranya serak oleh hasrat yang terkendali. “Di depan orang tua aku, di depan keluarga Liang, kamu bakal resmi jadi milikku secara adat. Dan setelah itu... nggak akan ada jalan kembali buat kamu, Livia.”

Livia menatap mata Rangga yang membara itu. Di titik ini, ia sadar sepenuhnya: Mateo mungkin gairah liar yang pernah membuatnya merasa hidup sejenak, tapi Rangga adalah api abadi—yang melindungi sekaligus membakarnya secara perlahan, tak terburu-buru, tapi pasti.

“Aku nggak berencana untuk kembali, Rangga,” jawab Livia berani, menarik dasi pria itu hingga bibir mereka hanya berjarak satu tarikan napas. “Tapi jangan mimpi aku akan setuju jadi milikmu begitu saja. Keep dreaming!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!