NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYENTUH HATI KU.

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden otomatis di penthouse mewah itu, menyinari wajah Melisa yang sembab. Tubuhnya terasa remuk, sebuah pengingat fisik atas badai gairah semalam. Hal pertama yang ia lakukan saat membuka mata adalah meraih ponselnya yang tergeletak di nakas.

​Dengan tangan gemetar, ia membuka galeri foto. Di sana ada foto Narendra—suaminya yang sedang tersenyum lebar saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang sederhana setahun lalu.

​Air mata Melisa luruh seketika. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu sesak hingga ia merasa sulit bernapas. Ia merasa telah mengkhianati pria yang paling ia cintai di dunia ini, meski ia melakukan ini semua demi mempertahankan nyawa pria itu. Ia menyentuh layar ponselnya, membisikkan kata maaf yang tak terdengar, sementara air matanya jatuh membasahi layar.

​"Hapus air matamu. Itu menjijikkan."

​Suara dingin Harvey memecah keheningan. Pria itu sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi satin hitam dengan rambut yang masih basah. Ia telah memperhatikan Melisa sejak tadi, melihat bagaimana wanita itu menangisi suaminya tepat setelah mereka menghabiskan malam yang panas bersama.

​Melisa tersentak dan segera menyembunyikan ponselnya di balik selimut. Ia menghapus air matanya dengan kasar, namun ia tidak bisa menyembunyikan tatapan penuh duka di matanya.

​Harvey melangkah mendekat, auranya pagi ini jauh lebih menindas daripada semalam. Kemarahannya justru memuncak saat melihat Melisa merasa berdosa. Baginya, tangisan Melisa adalah penegasan bahwa setinggi apa pun puncak yang ia berikan pada Melisa semalam, ia tetap tidak bisa menggeser posisi Narendra di hati wanita itu.

​"Apa kau sedang meratapi nasibmu sebagai istri yang tidak setia?" Harvey mencengkeram dagu Melisa, memaksanya mendongak. "Atau kau sedang membandingkan aku dengan suami mu itu?"

​"Cukup, Harvey," bisik Melisa parau. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau beli. Jangan campuri apa yang aku rasakan."

​"Bagaimana aku tidak mencampurinya jika kau menangis seperti itu di tempat tidurku?!" bentak Harvey, suaranya menggelegar di dalam kamar. "Semalam kau mendesah memanggil namaku, kau membalas sentuhanku, kau menyerahkan segalanya padaku! Tapi sekarang, kau bertindak seolah-olah aku adalah monster yang memaksamu?"

​Harvey melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu tertawa sinis. "Kau mencintainya sampai seperti ini? Kau mencintainya meski dia tidak bisa memberikan apa-apa selain kemiskinan dan hutang?"

​"Dia memberikan aku harga diri, Harvey! Sesuatu yang tidak pernah kau dan keluargamu pahami!" balas Melisa dengan keberanian yang tersisa.

​Wajah Harvey mengeras, matanya berkilat penuh kebencian. "Harga diri? Di mataku, kau hanya wanita yang sedang berduka tapi tetap menikmati sentuhan pria lain. Jika kau memang begitu mencintainya, seharusnya kau menolakku semalam—meski itu berarti suamimu mati hari ini juga."

​Kata-kata Harvey begitu tajam hingga Melisa merasa jantungnya ditusuk. Harvey berbalik, menyambar kemejanya dengan emosi yang meluap. Ia benci kenyataan bahwa ia cemburu pada pria yang sedang sekarat. Ia benci karena ia menginginkan lebih dari sekadar tubuh Melisa.

​"Bersiaplah. Kita akan ke rumah sakit," perintah Harvey dingin tanpa menoleh. "Aku ingin kau melihat suamimu dengan tubuh yang masih membawa aroma tubuhku. Biar kau tahu, siapa yang sebenarnya memegang kendali atas hidupnya sekarang."

Melisa bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa perih di tubuhnya. Ia menatap Harvey dengan tatapan yang lebih tajam.

"Kau ingin aku melihat Narendra dengan kondisi seperti ini?" Melisa tertawa getir, suaranya parau namun penuh penekanan. "Silakan, Harvey. Bawa aku ke sana. Tapi ketahuilah satu hal..."

Melisa melangkah mendekat, hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan dada bidang Harvey. Ia tidak lagi gemetar. "Kau bisa memaksaku memanggil namamu, kau bisa menghancurkan tubuhku sepuasmu, tapi setiap kali kau menyentuhku, aku hanya membayangkan wajah Narendra. Bagiku, kau hanyalah alat medis. Kau hanyalah mesin ATM yang kebetulan memiliki detak jantung. Tidak lebih."

Wajah Harvey memerah padam. Rahangnya mengatup begitu keras hingga otot-otot di lehernya menonjol. "Apa kau bilang?"

"Kau dengar aku, Harvey Andreas," desis Melisa, matanya berkilat penuh kemenangan di balik luka. "Kau pikir kau menang karena aku mendesah semalam? Itu hanya reaksi biologis yang menjijikkan. Di dalam pikiranku, aku sedang bersama suamiku. Kau hanyalah bayangan tanpa wajah yang aku gunakan untuk menyelamatkannya. Kau tidak akan pernah bisa menyentuh hatiku, meski kau mengurungku di sini selamanya."

"Tutup mulutmu, Melisa!" Harvey menyentak bahu Melisa, matanya berkilat penuh kegilaan.

Hinaan Melisa yang menyebutnya sebagai "alat" dan "mesin" menghancurkan ego Harvey hingga ke dasar. Ia yang selama ini dipuja, kini direndahkan oleh wanita yang ia beli. Rasa cemburu dan amarah yang meledak menciptakan dorongan gelap yang tidak tertahankan.

"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lama kau bisa menganggapku sebagai 'alat'," desis Harvey rendah, suaranya bergetar karena emosi.

Tanpa peringatan, Harvey membanting Melisa kembali ke atas ranjang. Ia merangsek maju, menindih tubuh wanita itu dengan seluruh berat badannya, mengunci kedua tangan Melisa di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kuat.

"Harvey, lepaskan! Kita harus ke rumah sa—"

"Tidak ada rumah sakit," potong Harvey kasar. Ia mencium leher Melisa dengan gigitan yang meninggalkan tanda merah yang nyata. "Jika aku hanya sebuah transaksi bagimu, maka aku akan memastikan transaksi kali ini sangat mahal hingga kau tidak akan bisa melupakannya. Aku akan membuatmu memohon padaku, bukan sebagai alat, tapi sebagai pria yang menghancurkanmu."

Harvey menyentak jubah mandinya hingga terlepas, menunjukkan niatnya yang tidak terbendung. Ia tidak peduli lagi dengan rasa bersalah Melisa atau air matanya yang kembali mengalir. Pagi itu, di bawah cahaya matahari yang mulai meninggi, Harvey kembali mengklaim Melisa dengan lebih liar dan posesif, berniat membungkam kata-kata menyakitkan itu dengan gairah yang menuntut pengakuan mutlak.

Harvey mulai menyentuh Melisa dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi kekasaran yang menyakitkan. Tangan besarnya mulai membelai lembut lekuk tubuh Melisa, seolah-olah wanita itu adalah porselen yang sangat berharga namun harus ia taklukkan.

Ia membawa tangannya naik, memijat lembut buah kembar Melisa yang kenyal. Jemarinya bermain dengan ritme yang lambat dan presisi, memberikan sensasi geli yang membuat napas Melisa mulai tidak beraturan. Harvey menunduk, mengecap setiap inci kulit di sana dengan lid4nya, memberikan stimulasi yang begitu intens hingga Melisa tidak bisa menahan lenguhannya.

"Katakan lagi bahwa aku hanya mesin, Melisa," bisik Harvey serak, sementara tangannya mulai merayap turun, melewati perut rata Melisa yang kencang.

Sentuhan Harvey terus turun hingga mencapai area bawah Melisa yang sudah mulai lembap. Ia tidak terburu-buru. Dengan keahlian yang mematikan, Harvey memainkan titik sensitif di sana, membuat tubuh Melisa melengkung tanpa sadar. Melisa mencoba melawan, namun gelombang kenikmatan itu terlalu kuat. Pikirannya tentang rasa bersalah mulai kabur, digantikan oleh sensasi panas yang menjalar dari bawah hingga ke ubun-ubun.

"Harvey... hhh..." desah Melisa, kali ini tanpa paksaan. Matanya sayu, terhanyut dalam permainan jemari Harvey yang sangat ahli.

Melihat pertahanan Melisa mulai runtuh, Harvey memposisikan dirinya. Kali ini, ia tidak menghujam dengan kasar. Ia menatap mata Melisa dalam-dalam, lalu perlahan-lahan memasukkan miliknya ke dalam inti Melisa yang hangat dan sangat lembut.

Melisa terhanyut. Ia memeluk punggung Harvey, kuku-kukunya terbenam di sana bukan karena marah, tapi karena ia tidak mampu menahan terjangan kenikmatan yang begitu hebat.

Mereka bergerak dalam harmoni yang sunyi, hanya diiringi oleh suara napas dan desahan yang saling bersahutan, hingga keduanya mencapai puncak kebahagiaan fisik yang membuat mereka terkapar lemas dalam pelukan satu sama lain.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!