Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Gerbang Kesempatan
.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan sepeda motornya, Riko akhirnya tiba di kota tempat ia akan bekerja. Riko mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang berisi alamat perusahaan keamanan yang diberikan oleh Profesor Rahmat.
Riko memperhatikan alamat itu dengan seksama. Mencocokkan dengan sebuah alamat yang tertempel pada bangunan megah yang kini ada di hadapannya. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar besi yang tinggi. Di atas pagar besi itu, terpampang sebuah papan nama besar yang bertuliskan
"SENTINEL - Security and Risk Management".
Benar. Ini adalah alamat yang diberikan oleh profesor Rahmat.
Riko terkesima melihat bangunan itu. Perusahaan keamanan ini tampak sangat besar dan profesional. Ia merasa sedikit gugup dan minder. Namun, ia segera menepis perasaan itu dan memantapkan hatinya. Ia harus percaya diri dan menunjukkan kepada Profesor Rahmat bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan ini.
Riko membawa sepeda motornya menuju gerbang depan perusahaan dan melihat seorang penjaga keamanan yang sedang berjaga di pos penjagaan. Penjaga keamanan itu tampak tegap dan berwibawa dengan seragam lengkapnya.
Riko menarik napas dalam-dalam dan menghampiri penjaga keamanan itu dengan sopan. "Selamat siang, Pak," ucap Riko ramah.
Penjaga keamanan itu menatap Riko dengan tatapan yang menyelidik. "Selamat siang," jawab penjaga keamanan itu dengan singkat. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Profesor Rahmat," jawab Riko dengan percaya diri. "Saya Riko Permana. Saya sudah ada janji dengan beliau."
Penjaga keamanan itu memindai penampilan Riko dari atas sampai bawah, lalu berkata. "Sebentar, saya cek dulu."
Penjaga keamanan itu mengambil telepon yang ada di pos penjagaan dan menghubungi seseorang. Setelah beberapa saat berbicara, ia meletakkan telepon itu dan menatap Riko dengan tatapan yang lebih ramah.
"Oh, maaf, Mas," ucap penjaga keamanan itu. "Profesor Rahmat sudah memberitahu tentang kedatangan Mas. Silakan masuk, Mas. Akan ada yang mengantar Mas Riko ke ruang Profesor."
Riko tersenyum lega dan mengikuti petunjuk dari penjaga keamanan itu masuk ke dalam perusahaan. Sampai di dalam ternyata sudah ada seorang petugas lain yang menunggunya. Riko merasa lega karena tidak mengalami kesulitan untuk bertemu dengan Profesor Rahmat. Ia yakin, ini adalah awal yang baik untuk kariernya.
Setelah melewati beberapa lorong yang bersih dan rapi, Riko sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati. Di pintu itu, terdapat sebuah plakat kecil yang bertuliskan "Prof. Dr. Rahmat Hidayat, M.Si - CEO".
Petugas yang mengantar Riko mengetuk pintu dengan sopan. Setelah mendengar jawaban dari dalam, ia membuka pintu dan mempersilakan Riko untuk masuk.
"Silakan, Mas," ucap penjaga keamanan itu dengan ramah. "Profesor Rahmat sudah menunggu Mas di dalam."
Riko mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ia terkesima melihat ruang kerja Profesor Rahmat yang sangat luas dan mewah. Ruangan itu dihiasi dengan berbagai macam lukisan, patung, dan tanaman hias yang membuat ruangan itu terasa nyaman dan elegan.
Di balik meja kerjanya yang besar, tampak Profesor Rahmat sedang duduk dan tersenyum menyambut kedatangan Riko.
"Akhirnya kamu datang," seru Profesor Rahmat yang berdiri dari kursinya dan menghampiri Riko. "Selamat datang di SENTINEL! Saya senang kamu bisa bergabung dengan perusahaan ini."
Riko tersenyum lebar dan menjabat tangan Profesor Rahmat dengan hormat. "Terima kasih banyak, Profesor," ucap Riko dengan tulus. "Justru saya yang sangat senang bisa bergabung dengan perusahaan ini."
"Ayo sini, duduklah," ucap Profesor Rahmat, mempersilakan Riko untuk duduk di sofa yang ada di dekat meja kerjanya.
“Bagaimana perjalananmu kesini tadi?" tanya profesor Rahmat setelah mereka berdua duduk.
"Aman, Prof. Alhamdulillah," jawab Riko.
"Syukurlah,” ucap Profesor Rahmat.
Setelah berbincang sejenak, Profesor Rahmat mulai menjelaskan tentang tugas-tugas Riko sebagai asisten profesor.
"Sebagai asisten profesor, tugasmu adalah membantu saya dalam berbagai macam kegiatan," ucap Profesor Rahmat dengan nada yang serius. "Kamu akan membantu saya dalam melakukan penelitian, menyusun laporan, memberikan pelatihan, dan mengembangkan sistem keamanan yang baru."
Profesor Rahmat melanjutkan, "Kamu juga akan menjadi penghubung antara saya dengan para karyawan lainnya. Kamu akan menyampaikan pesan-pesan saya, mengumpulkan informasi, dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada."
"Saya mengerti, Profesor," ucap Riko dengan nada yang penuh perhatian. "Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan semua tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya."
Profesor Rahmat tersenyum. "Saya percaya padamu, Riko," ucap Profesor Rahmat dengan nada yang yakin. "Kamu adalah orang yang cerdas, pekerja keras, dan jujur. Saya yakin kamu akan sukses di perusahaan ini."
Profesor Rahmat kemudian menjelaskan tentang struktur organisasi perusahaan, sistem kerja, dan peraturan-peraturan yang berlaku di SENTINEL. Ia juga memperkenalkan kepada Riko beberapa karyawan senior yang akan menjadi rekan kerjanya.
Riko mendengarkan penjelasan Profesor Rahmat dengan seksama dan mencatat semua informasi penting.
Setelah menjelaskan tugas-tugas administratif dan manajerial, Profesor Rahmat menatap Riko dengan serius. "Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan, Riko," ucap Profesor Rahmat dengan nada yang sedikit berbeda.
Sesaat Riko merasa sedikit tegang, sekaligus penasaran dengan apa yang akan dikatakan Profesor Rahmat selanjutnya.
"Saya tahu kamu sudah memiliki dasar ilmu bela diri. Tapi, di dunia keamanan ini, kita harus selalu berkembang dan meningkatkan kemampuan. Oleh karena itu, saya ingin memberikanmu pelatihan bela diri yang lebih mendalam dan komprehensif," jelas Profesor Rahmat.
Riko terkejut sekaligus antusias. "Pelatihan bela diri, Prof?" tanyanya.
Profesor Rahmat mengangguk mantap. "Benar. Saya akan menunjuk salah satu instruktur terbaik di perusahaan ini untuk melatihmu. Kamu akan mempelajari teknik-teknik bela diri yang lebih canggih dan mematikan, serta taktik-taktik pertarungan yang efektif. Tujuannya adalah agar kamu menjadi lebih mumpuni dan siap menghadapi segala macam ancaman."
Riko merasa sangat terhormat dan bersemangat mendengar tawaran itu. Ia selalu ingin meningkatkan kemampuan bela dirinya, dan kesempatan ini adalah impian yang menjadi kenyataan.
"Terterima kasih, Prof," ucap Riko bersangat. "Saya akan berlatih dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan Profesor."
"Bagus!” Profesor Rahmat tersenyum puas. "Mulai besok, kamu akan memulai pelatihan bela diri dengan instruktur yang sudah saya tunjuk. Namanya Pak Haris. Dia mantan anggota pasukan khusus dengan segudang pengalaman di lapangan. Siapkan dirimu untuk menerima ilmu darinya."
Riko menelan ludah. Mantan anggota pasukan khusus? Guru yang keras? Ini akan menjadi tantangan yang berat, namun ia justru semakin bersemangat.
"Saya siap, Profesor," jawab Riko dengan nada penuh keyakinan. "Saya akan memberikan yang terbaik."
Profesor Rahmat mengangguk puas. "Bagus. Saya senang mendengar itu. Sekarang, mari kita lanjutkan membahas tugas-tugasmu yang lain..."
*
Hari-hari berikutnya di SENTINEL begitu padat bagi Riko. Pagi hingga siang, ia sibuk membantu Profesor Rahmat dengan berbagai tugas. Sore hingga malam, ia mengikuti pelatihan beladiri.
Awalnya, Riko merasa kewalahan. Tubuhnya sakit dan memar-memar. Pernah merasa ingin menyerah. Namun, tujuannya untuk membahagiakan ibunya dan membalas dendam pada keluarga Laras, membuatnya bertahan.
Seiring berjalannya waktu, Riko benar-benar mengalami kemajuan yang signifikan. Kekuatan fisiknya meningkat pesat. Gerakannya semakin lincah dan cepat. Insting bertarungnya semakin tajam, semakin percaya diri dan siap menghadapi segala macam tantangan.
Di tengah kesibukannya bekerja dan berlatih, Riko tidak pernah melupakan ibunya. Ia selalu menyempatkan diri untuk menelpon ibunya setiap malam, menanyakan kabarnya dan berbagi cerita tentang kegiatannya. Ia juga sesekali menengok ibunya dan memberikan uang hasil kerja kerasnya.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄