NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PERTEMUAN DI BALIK DEBU

Istirahat pertama tiba, dan biasanya ini adalah waktu bagi Eliza untuk menarik Alsya ke kantin agar tetap berada di bawah pengawasannya. Namun, Alsya sudah menyiapkan rencana. Begitu bel berbunyi, dia langsung berlari keluar lewat pintu belakang kelas, bahkan sebelum Eliza sempat berdiri dari kursinya.

"Alsya! Mau ke mana loe?" teriak Eliza, tapi Alsya tidak menoleh.

Alsya berlari melewati koridor laboratorium yang sepi, jantungnya berpacu hebat. Dia merasa seperti buronan. Setiap kali melihat guru atau satpam, dia bersembunyi di balik pilar. Akhirnya, dia sampai di gudang tua di pojok belakang sekolah yang jarang dilewati orang.

Pintu gudang itu sedikit terbuka. Alsya masuk ke dalam yang gelap dan berdebu.

"Sam?" bisiknya pelan.

"Di sini."

Samudera muncul dari balik tumpukan meja kursi bekas. Dia tidak memakai seragam dengan rapi, dasinya sudah lepas, dan kancing atas kemejanya terbuka. Begitu melihat Alsya, wajah datarnya sedikit melunak.

"Loe beneran nekat dateng," ucap Samudera.

"Gue nggak punya pilihan lain, Sam. Ponsel gue disita, motor gue diambil. Gue dikawal supir kayak tahanan. Gue... gue takut ini terakhir kalinya gue bisa ngomong bebas sama loe," kata Alsya dengan napas terengah-engah.

Samudera mendekat, menarik sebuah kursi kayu tua untuk Alsya duduk. Dia sendiri berdiri di depan Alsya, menatapnya dalam-dalam. "Loe tahu kenapa gue minta loe ke sini?"

Alsya menggeleng.

Samudera mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah ponsel kecil model lama—bukan smartphone, tapi cukup untuk menelepon dan mengirim pesan. "Pakai ini. Gue udah isi pulsanya dan simpen nomor gue di dalem. Simpen di tempat yang nggak bakal bisa ditemuin bokap loe."

Alsya menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. "Sam, kenapa loe lakuin ini? Kalau loe ketahuan bantuin gue, Papa nggak bakal tinggal diem."

"Gue udah bilang kan, gue nggak suka lihat burung dikurung, apalagi burung yang baru belajar terbang kayak loe," Samudera sedikit membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Alsya. "Sya, dengerin gue. Apapun yang Eliza bilang, apapun yang orang tua loe lakuin... jangan pernah percaya kalau loe itu sampah. Loe itu jauh lebih berharga dari semua perhiasan yang Mama loe pakai."

Tepat saat suasana menjadi emosional, suara langkah kaki terdengar dari luar gudang. Krak! Suara ranting patah yang sangat jelas.

"Sya? Loe di dalem, kan? Gue tahu loe sama Samudera!" suara Eliza terdengar melengking di luar pintu.

Alsya panik. "Sial, dia ngikutin gue!"

Samudera tetap tenang. Dia menarik Alsya ke sudut yang lebih gelap. "Loe diem di sini. Jangan keluar sampai gue bilang keluar."

Samudera berjalan menuju pintu dan membukanya lebar-lebar tepat saat Eliza hendak masuk. Eliza terlonjak kaget melihat Samudera berdiri menjulang di depannya.

"Mana Alsya?" tanya Eliza dengan wajah ketus. "Loe jangan berani-berani sembunyiin dia, atau gue telepon Papa sekarang juga!"

Samudera bersedekap, menatap Eliza dengan tatapan menghina. "Loe itu sebenernya kembaran atau sipir penjara? Kerjaan loe cuma ngadu dan ngawasin hidup orang.

Nggak ada kerjaan lain yang lebih berguna buat dapet pujian orang tua loe?"

"Jaga mulut loe, Samudera! Alsya itu tanggung jawab gue!"

"Tanggung jawab?" Samudera tertawa sinis. "Loe cuma takut kalau Alsya bahagia, loe nggak punya 'pembanding' lagi buat kelihatan sempurna. Loe butuh Alsya jadi orang rusak supaya loe bisa jadi pahlawan. Bener, kan?"

Wajah Eliza memerah karena marah. "Loe nggak tahu apa-apa! Minggir! Gue mau bawa Alsya balik ke kelas!"

"Alsya nggak ada di sini. Dia tadi lewat pintu samping pas lihat loe ngikutin dia. Dia bilang dia lebih milih dengerin omelan Pak Bagas daripada dengerin suara cempreng loe," bohong Samudera dengan sangat meyakinkan.

Eliza mendesis kesal, dia melongok ke dalam gudang yang gelap, tapi karena penglihatannya belum terbiasa dengan kegelapan, dia tidak melihat Alsya. Dengan langkah kasar, Eliza pergi dari sana untuk mencari Alsya ke arah lain.

Setelah Eliza pergi, Samudera kembali ke arah Alsya.

"Aman. Dia udah pergi," ucap Samudera.

Alsya keluar dari persembunyiannya dengan wajah pucat. "Makasih, Sam. Tapi kalau Eliza curiga..."

"Biarin dia curiga. Yang penting sekarang loe punya alat buat hubungin gue," Samudera mengusap puncak kepala Alsya singkat. "Balik ke kelas lewat jalan muter. Gue bakal jagain dari belakang."

Alsya mengangguk. Saat dia berjalan keluar, dia menggenggam ponsel kecil itu erat-erat. Untuk pertama kalinya, Alsya merasa dia punya senjata untuk melawan "penjara" di rumahnya sendiri.

Pertemuan yang menegangkan! Samudera bener-bener jadi pelindung Alsya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!