Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Pak Kades
“Sialan kau, ya!”
Bugh!
Bugh!
“Si— Arghhh …”
Bugh!
“Arghhh … si-a-p—”
Bugh!
“Aarrgghhh …”
Bugh!
“Mati aja!”
“S—”
Bugh!
“Aarrgghh …”
Bugh!
“Udah … udah hentikan!” Zara dibuat terkejut, dengan Reynan yang memberikan pukulan pada Amir dengan bertubi-tubi.
“Udah, kamu bilang? Dia ini predator dan kamu hampir menjadi mangsanya, kamu bilang udah?” tanyanya dengan wajah merah padam. Kali ini nampak Reynan begitu marah.
“B-bukan gitu. Tapi dia bisa mati, kalo terus-terusan di hajar seperti itu,” kata Zara dengan setengah berteriak.
Reynan yang masih memegang kerah baju Amir, ia pun melepaskannya dengan sedikit dorongan, hingga tubuh Amir terjatuh ke belakang.
Orang yang mendengar itu, berbondong-bondong melihatnya. Begitu juga dengan Pak Kades, yang merasa jika kepergian Reynan cukup lama, ia pun berinisiatif menyusulnya.
Namun, kejadian tak terdugalah yang ia lihat.
“Ada apa ini?” tanya Pak Kades seraya mendekat pada Amir yang tergeletak di lantai.
“Kenapa ini, Mas?” tanyanya lagi pada Reynan.
“Tanyakan saja pada anak anda.” Reynan menjawab seraya membenarkan kerah kemejanya. “Ayo. Za,” ajaknya pada Zara.
“Besok saya ke sini lagi.” lanjutnya.
Zara pun menurut, akhirnya mereka keluar dari pabrik itu.
Sedangkan Pak Kades, ia meminta bantuan para pekerja untuk menggotong Amir yang sudah tidak berdaya.
Tubuhnya lemas dengan bercak darah di sudut bibirnya.
Di mobil, Reynan terus membuang napasnya dengan kasar.
Keduanya pun tidak ada yang bersuara sama sekali.
Sampai mereka melihat, Amir digotong lalu dimasukkan ke dalam mobil. Mungkin mau dibawa ke puskesmas atau rumah sakit.
Hingga … sepuluh menit kemudian, Zara membuka suaranya.
“Dia bisa mati, kalo kamu terus-terusan menghajarnya,” kata Zara.
“Biarin saja. Lelaki seperti itu, lebih baik mati, daripada hidup bikin bumi kotor aja,” ucapnya.
“Dia juga bisa melaporkanmu ke polisi,” kata Zara lagi.
“Laporkan balik. Gampang saja.”
“Orang tua dia, Kades loh.”
Reynan tersenyum kecil. “Gak apa-apa kalo mereka mau lapor, ya laporkan saja,” kata Reynan lagi.
Zara berdecak kecil. “Uang bisa membeli hukum sih, gini.”
Reynan pun menoleh ke arah Zara. “Ya begitu,” jawab Reynan santai. “Kamu tidak perlu memikirkan hal itu,” lanjutnya. “yang seharusnya kamu pikirkan itu … bagaimana jika saya telat datang? Apa yang akan pria hidung belang itu lakukan ke kamu? Mungkin … bukan hanya pipi, bibir yang dia sentuh. Tapi …” Reynan tidak melanjutkan ucapannya. Karena Zara sudah pasti paham kemana arah pembicaraannya.
“Untungnya … saya datang tepat waktu dan dia belum sempat menyentuh pipi bahkan bibirmu, apalagi bagian itu.” Reynan kembali bicara.
Zara membulatkan matanya.
Reynan menepuk setir mobil dengan pelan. “Tidak akan saya biarkan itu terjadi. Saya aja suaminya belum menyentuh apapun,” sambungnya, dengan senyum di akhir kalimat.
Seketika, Zara langsung menepuk lengan Reynan. Dengan pipi yang terlihat bersemu.
“Kenapa? Memang begitu kenyataannya bukan?” tanya Reynan dengan setengah menggoda.
“Ish … sudah ah lupakan. Ayo kita pulang,” kata Zara.
***
“Apa yang kamu lakukan, sampai anak Pak Reza menghajarmu seperti ini?” tanya Pak Kades, kala Amir sudah berada di rumah.
Ya, Amir hanya melakukan perawatan sebentar di IGD. Dokter mengatakan, jika Amir tidak perlu rawat inap.
Amir pun menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi.
“Bodoh, totol. Si Zara itu istrinya,” kata Pak Kades dengan berang.
“Mana aku tau, Yah. Lagian tadinya cuma mau main-main aja.”
“Gob-lok dipelihara!”
“Berarti dia anaknya Pak Reza?” tanya Amir.
“Ya,” jawab Pak Kades singkat. Lekas ia duduk, seraya memijat pangkal hidungnya.
“Harus baik-baik kamu sama si Reynan itu. Kalo nggak, bisa-bisa dia gak lagi percaya pada kita, mungkin pabrik itu akan dikelola dengan sendirinya,” kata Pak Kades.
Amir pun diam.
“Siapkan air hangat, Ayah mau mandi,” titahnya pada sang istri.
Setelah air hangat siap, Pak Kades pun berendam di air hangat. Seketika ia punya ide, mengingat besar kemungkinan jika Pak Reza tidak tahu tentang pernikahan anaknya.
Pak Kades ingat di undangan itu, jika pengantin prianya bukan Reynan melainkan Danish.
“Ide brilian,” gumamnya dengan senyum menyeringai.
Lekas Pak Kades menyelesaikan ritual mandinya, lalu membalut tubuhnya dengan bathrobe. Setelah itu, ia mengambil ponsel.
Senyum menyeringai kembali terukir di bibirnya.
“Siap-siap kamu. Bocah ingusan,” gumamnya.