NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDUR DI KELAS

Ruang kelas mulai ramai saat bel istirahat berbunyi. Murid-murid perlahan kembali memasuki ruangan, beberapa masih bercanda kecil, tapi mayoritas langsung menuju bangku masing-masing. Kursi-kursi tersusun rapi, tas-tas diletakkan rapi di samping meja, dan papan tulis sudah bersih menanti pelajaran terakhir hari itu.

Suasana pun berubah lebih serius. Anak-anak menatap guru dengan penuh perhatian, buku, alat tulis, dan laptop siap di tangan masing-masing. Di tengah kelas, Anton, Ketua Murid, berdiri tegak dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Siap beri salam?!" Serunya lantang.

Seketika, seluruh kelas kompak membalas dengan salam seragam, tangan diangkat rapi, suara serentak, menandai dimulainya sesi belajar terakhir hari itu dengan penuh disiplin dan antusiasme, meski ini adalah jam terakhir, jam yang biasanya menjadi waktu paling rawan.

Beberapa murid terlihat mulai menguap atau menunduk sebentar, tapi mayoritas tetap fokus menatap guru. Kecuali...

"Put, bangun!" Seru Rian, setengah berbisik sambil menyenggol Putra yang masih tertidur di bangku mereka.

"Ah, berisik!" Dengus Putra, menepis tangan sahabatnya itu.

Rian membelalak saat Pak Lukman, guru mata pelajaran Produktif yang terkenal tegas tapi santai itu menyadari sesuatu. Perlahan, ia melangkah mendekati bangku mereka, langkahnya tenang tapi pasti, seakan memberi sinyal tanpa suara bahwa ia memperhatikan setiap gerak-gerik muridnya.

Semua murid di kelas mulai tertuju pada langkah Pak Lukman. Suasana yang tadinya ramai dengan bisik-bisik pelan dan gesekan kursi menjadi hening seketika. Mata mereka mengikuti setiap gerakan guru itu dengan campuran rasa penasaran dan waspada.

Rian yang semakin panik, tak henti-hentinya menyenggol sikut Putra dengan cemas. Putra masih tertidur, wajahnya tersembunyi di balik kedua tangan, seolah mencoba menghilang dari perhatian dunia.

Begitu Pak Lukman ada di dekat mereka, Rian menyengir. "Biasa, Pak. Putra. Hehe..."

Pak Lukman memberi isyarat halus agar Rian menyingkir dari bangku Putra. Rian mengangguk cepat, menurut, dan berpindah ke kursi di samping Putra.

Pria berusia tiga puluh tahunan itu mulai duduk di samping Putra, menyenggol lengan Putra mencoba membangunkannya.

"Hmmm..." Deham Putra tanpa membuka mata. "Bentar lagi, gue bangun!"

Putra menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke tangan. "Ngantuk banget nih, gue... semalam gadang abis boxing." Gumamnya.

Pak Lukman menggeleng namun tak bersuara. Sementara itu, beberapa murid lainnya menahan tawa, saling bertukar pandang, bahkan menahan rasa penasaran mereka, memperhatikan adegan Putra. Kemudian, Pak Lukman menyenggol sikut Putra lagi.

"Aduuuh... bro, ngantuk brat gue sumpah!" Lirih Putra.

Pak Lukman menghela udara, menahan napas sambil menyenggol lagi Putra, kali ini dengan gerakan lebih tegas di lengan.

Hingga akhirnya, Putra mengangkat wajah dan perlahan membuka mata. "MONYEEET...!!" Serunya kaget, meloncat dari bangkunya.

Di saat yang sama, Pak Lukman tak kalah terkejutnya, alisnya terangkat sedikit, matanya menatap Putra dengan ekspresi setengah bingung dan setengah serius. "Kamu katain saya apa?!" Tanyanya, memandang Putra tajam.

Sementara itu, siswa lain, termasuk Rian, menahan tawa dengan susah payah. Beberapa menutup mulut dengan tangan, ada yang menahan senyum hingga pipinya memerah karena takut terdengar oleh Pak Lukman, bahkan ada juga yang mengabadikan momen langka itu dengan merekamnya lewat video, diam-diam.

"E-Eh.. ada Bapak." Ucap Putra sambil menyengir canggung. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, seakan memohon ampun di hadapan Pak Lukman, yang menurutnya terlalu cepat menangkap momen lengahnya. Wajah Putra memerah, campuran antara malu dan geli, sementara matanya sesekali menatap Rian kesal yang masih berusaha menahan tawa. "Bapak... gak ngopi dulu?" Celetuknya. "Atau mau Putra beliin dulu kopi buat, Bapak?"

"Kopi... kopi...!" Geleng Pak Lukman. "Kamu yang harusnya minum kopi satu ember!"

Putra mengangguk. "Boleh tuh, Pak. Hehe"

"Ya ampun, Putraaaaaa!" Dengus Pak Lukman beranjak dari bangku itu. "Setiap pelajaran saya kamu selalu tidur dan tidur! Belum mulai pelajaran aja kamu sudah enak-enakan tidur! Mau jadi apa, kamu?! Tidur di kelas, tugas jarang masuk... nilai yang muncul cuma ada di ulangan saja! Siswa gaib, kamu?!" Cecarnya. "Kamu ini sekarang sudah kelas dia bekas Putra. Sebentar lagi mau PKL. Gimana perusahaan nantinya nilai kamu?! Malu-maluin nama sekolah saja!"

"Bawel kayak emak gue," Gumam Putra pelan, hampir tak terdengar, tapi sayangnya cukup sampai ke telinga Pak Lukman.

Pak Lukman menoleh cepat, alis terangkat, dan suaranya terdengar tegas tapi masih menahan senyum, "Apa kamu bilang?!"

Putra tersentak, wajahnya langsung memerah. "E-Enggak, Pak."

Pak Lukman menggeleng pelan, tetap menatap Putra dengan serius tapi tak marah. "Hati-hati dengan ucapanmu, Putra. Jangan sampai kata-kata kecil jadi masalah besar. Sekarang... kamu ke toilet dulu, sana!"

Putra mengangguk cepat, menunduk malu, menahan senyum yang ingin lepas. Pak Lukman kemudian memalingkan pandangannya dan kembali bergerak ke mejanya, seakan memberi sinyal agar kelas kembali tenang.

Rian yang tadi mematung di tempatnya, kini hanya bisa menahan tawa puas saat melihat Putra menatapnya dengan wajah memerah, antara kesal sekaligus malu.

"Putraaaaa!" Pekik Pak Lukman.

"Siap, Pak!" Sahut Putra dengan nada lantang dan tegas. Sementara, tangannya hormat bak seorang prajurit yang siap menerima perintah. "Aku permisi dulu, Pak." Tambahnya, sesaat sebelum akhirnya ia berlari keluar kelas.

Pak Lukman hanya menggeleng pelan, tersenyum tipis, lalu mulai membuka pelajaran dengan meminta murid-muridnya untuk membuka buku maupun laptop mereka masing-masing.

Begitu pun Rian. Ia membuka layar laptopnya sambil mulai memperhatikan layar infokus yang menyala di depan sana. Namun di saat itu juga, ponselnya yang tergeletak di atas meja menyala. Sebuah notif tanpa suara maupun getar, membuat matanya menatap benda tipisnya itu.

Putra

Gue otw kantin. mau nitip jajan, gak?

Pesan singkat yang masuk lewat grup sekawanannya itu, membuat Rian tak bisa mengendalikan diri untuk diam apalagi tetap fokus ke depan. Ia menyentuh layar pesan dan membuka beranda grup Whatsapp-nya.

Rian

Kampret! Lo emang gak ada lawan. @putra

Tyo

Haha. Si Putra kenapa emang, cok?

Danil

Anomali....anomali... sial! Kalau gak tidur di kelas... pasti gak ngerjain project produktif!

Putra

Bawel lo, pada! Mau gak ni... gorengan?!

Rian

gue risol aja tiga! Bungkus item masukin seragam belakang! Jangan lupa kasih bumbu kacang sama cabe rawit dua. Cabenya pilih yang sedikit tua!

Putra

Anjir si @rian... apa ini permintaan terakhir lo? Banyak amat maunya!

Tyo

Kasih aja cabe-cabean! Lebih mantap, gila!

Danil

Haha. Gue mau cabe-cabean, satu aja di geprek mantep kayaknya!

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!