NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Romeo pun menatap ladusing itu dengan sorot mata ngeri tanpa alasan yang jelas, entah mengapa, hari ini terasa begitu sial baginya.

“Apa kau benar-benar buta? Lihat baik-baik apa yang sedang terjadi!” suara Romeo meninggi, penuh amarah tertahan.

“Rom, tahan emosimu. Tarik napas dulu, jangan sampai kehilangan kendali.” Satria menyela dengan suara rendah namun tegas.

Satria diliputi kecemasan, takut persoalan ini melebar dan menyeret terlalu banyak orang ke dalam kekacauan yang tak perlu.

“Bayar saja berapa pun yang dia minta. Gue nggak mau lagi melihat mukanya nongol di tempat ini.” bentak Romeo dengan rahang mengeras menahan amarah.

“Serahkan semuanya ke gue. Biar gue yang turun tangan dan menyelesaikan urusan ini.” putus Romeo dengan nada dingin penuh tekad.

Mau tak mau, Satria memanggil pengacara untuk membela Romeo. Meskipun tindakannya salah, Romeo melakukannya dengan alasan yang jelas, nyawa istrinya terancam. Untungnya, aksi yang dilakukannya tadi di jalanan tidak menimbulkan korban.

Arjuna ikut turun tangan, menghubungi pamannya yang bekerja di kantor Ladusing. Bukan karena Romeo ingin bebas dari hukum, melainkan karena nyawa istrinya jauh lebih berharga daripada segalanya.

Di ujung koridor, Satria berusaha menenangkan Ladusing, menjelaskan dengan sabar agar ia mengerti situasinya. Akhirnya, keputusan diambil, semua dokumen Romeo akan disita bersamaan dengan mobilnya. Romeo hanya mengangkat bahu, tak peduli dengan aturan itu.

Setelah ladusing itu pergi, Romeo menarik napas berat, kesal pada dirinya sendiri. Mengapa dia begitu lengah saat bahaya menghampiri Alya? Andai saja ia sempat menghentikan vas bunga itu, mungkin Alya tak akan terluka dan tak kehilangan kesadarannya. Dan andai saja ibunya tak muncul tiba-tiba tadi, mungkin semuanya bisa berjalan lebih tenang.

"Rom, gue udah minta pengawal buat ambil baju lo di rumah. Udah, jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri. Lihat lo sekarang, kacau banget. Gimana kalau anak-anak sampai liat?" tegur Satria tegas, tapi nada suaranya menyimpan kekhawatiran.

Satria merasa kasihan melihat Romeo terus menyesali diri sendiri, hingga tak terhitung lagi pukulan yang mendarat di dinding rumah sakit dari tangannya yang gemetar.

"Seandainya gue bisa lebih cepat tadi, semuanya nggak akan berantakan seperti ini."

“Stop dengan semua andai-andai nya. Penyesalan nggak bakal mengubah apa pun yang sudah terjadi. Sekarang yang penting, kita fokus buat sembuhin Alya dan memastikan dia serta anak-anakmu aman. Ingat, anak-anakmu juga lagi dalam bahaya.” Satria menatap Romeo dengan serius, suaranya tegas namun tenang.

"Apa maksudmu? Anak-anak gue dalam bahaya?" Romeo menatap Satria dengan mata yang menyala-nyala, penuh campuran takut dan kemarahan.

Satria menceritakan secara singkat kejadian sebelum ia sampai di rumah sakit, sambil menjelaskan bagaimana Dinda dengan paksa mengambil Selina dari pelukan Arjuna.

"Sialan… gue nggak nyangka Mama bisa segila ini. Gue yakin, kalau anak-anak sama dia, pasti dijadikan alat untuk jebak gue." kata Romeo, matanya berkobar marah.

"Iya, gue setuju. Itu memang yang nyokap lo inginkan. Tapi ada satu hal lagi yang harus Lo tau."

"Apalagi kali ini…" Romeo menggosok pangkal hidungnya, wajahnya penuh frustrasi.

"Yona, gue denger jelas banget. Dia ngomong sama nyokap lo, terus manggil Tante Dinda mama." Satria menatapnya serius, nada suaranya penuh kekhawatiran.

Romeo terhenti sejenak, jari-jarinya berhenti bergerak. Matanya menatap Satria dengan tajam, seolah berusaha menangkap kebohongan, tapi kenyataannya, tak ada satupun yang bisa dia temukan.

"Serius, Lo?" desis Romeo dengan nada tegang.

"Gue nggak salah denger kok. Waktu gue sama Arjuna dihadang nyokap lo, Yona kelihatan iba sama Tante Dinda." lanjut Satria tegas.

"Dasar kurang ajar… jadi benar, Yona yang dia maksud mama itu Yona, sekretaris gue!" Romeo mengepalkan tangan, menahan amarah yang memuncak.

"Untuk hal itu, gue belum bisa pastiin, soalnya gue belum rampung menelusuri data Yona yang sebenarnya. Tapi Lo santai aja. Gue harap Lo jangan buru-buru ambil keputusan. Kalau memang kecurigaan kita terbukti, jangan langsung pecat dia begitu saja."

"Kenapa, tadi gue udah nyiapin buat pecat dia karena udah menghina Alya. Tapi, istri gue… terlalu baik. Dia melarang gue buat ngelakuin itu." sela Romeo sambil menggerutu kesal.

"Lo bisa manfaatin dia sebagai umpan, sekaligus alat buat ngecek Tante Dinda. Kita harus pastiin dulu, bener Yona yang kita maksud atau enggak. Kalau ternyata bener, dia nggak boleh lepas, selalu harus dalam pengawasan kita. Lo ngerti kan? Dia bisa aja bikin hal buruk sama anak-anak dan istri lo kalau sampai kita kehilangan jejaknya."

Romeo menunduk sejenak, merenungkan kata-kata Satria yang memang masuk akal. Dalam situasi seperti ini, satu-satunya jalan adalah meningkatkan keamanan untuk istri dan kedua buah hatinya.

"Lo ganti baju dulu, Rom. Anak-anak sebentar lagi pasti bangun." Satria menyerahkan sebuah paperbag berisi pakaian untuk Romeo.

"Hm… terima kasih, Sat," bisik Romeo sambil menundukkan kepala, sedikit tersenyum di tengah kekacauan pikirannya.

Romeo segera membersihkan dirinya, sementara dokter belum juga muncul untuk memberi kabar tentang Alya. Rasanya lebih bijak mengikuti saran Satria daripada menunggu pertanyaan tak berujung dari kedua putrinya nanti.

Sementara itu, Dinda telah meninggalkan Yona sendirian di kantor Romeo. Wanita paruh baya yang sempat dicibir tua oleh Arjuna tadi merasa kesal luar biasa, hatinya tersinggung setelah merasa dipandang rendah oleh Romeo dan sahabatnya beberapa saat yang lalu.

"Dinda memerintahkan semua anak buahnya untuk melacak Alya. Tak ada jalan lain, pikirnya dingin. Satu-satunya cara adalah memastikan Alya lenyap dari muka bumi, dan Dinda bersikeras, dirinya sendiri yang akan menuntaskan pekerjaan itu, dengan kedua tangannya.

**********

Sekitar satu jam berlalu, dokter yang menangani Alya muncul dari ruang perawatan dengan langkah tenang.

"Keluarga nyonya Alya."

Romeo berhenti mondar-mandir, menatap dokter itu sebentar, lalu tanpa ragu melangkah maju, menuntut jawaban dengan langkah pasti.

“Saya suaminya… dokter, bagaimana kondisi Alya?” Romeo menatap dokter dengan mata yang penuh kekhawatiran.

“Untung pasien cepat dibawa ke rumah sakit. Luka di bagian belakang kepala cukup dalam dan memar, tapi itu bukan masalah serius. Kami sudah menjahit robekan kulit yang disebabkan benda tajam tadi. Maaf, kami harus memangkas rambut di bagian belakang untuk perawatan.” jelas dokter sambil menatap Romeo serius.

Romeo menghela napas panjang, rasa lega memenuhi dadanya. Untungnya, Alya dalam keadaan baik-baik saja. Rambut istrinya yang dipangkas tak menjadi masalah baginya, yang terpenting sekarang hanyalah melihat Alya segera pulih dan kembali sehat.

"Bolehkah saya bertemu dengannya?"

"Pasien bisa dijenguk nanti setelah masuk ruang rawat inap. Sekarang dia masih dalam perawatan dan tertidur akibat bius."

"Terima kasih banyak, Dokter."

Rasa lega menyelimuti Romeo begitu mengetahui istrinya aman. Untung Satria sudah menuntaskan semuanya. Tak lama lagi, Alya akan dipindahkan ke ruang VVIP.

"Jadi sekarang bagaimana? Tante Dinda sudah melakukan kejahatan. Lo mau lapor polisi atau gimana?" tanya Satria dengan nada serius.

"Gak usah, Mama. Biarkan itu urusan gue. Gue sendiri yang bakal kasih Mama pelajaran." jawab Romeo dengan penuh keyakinan.

"Lo yakin nggak sih, bakal jadi ribet banget kalau kasus ini bocor ke media? Rom, posisi lo sekarang berat banget. Laporkan ke polisi? Bisa-bisa seluruh negeri ngejek lo. Ambil tindakan sendiri? Langsung dicap anak durhaka. Menurut gue, mending kita cari jalan lain yang lebih aman."

"Maksud lo… cara lain yang lo maksud gimana, sih?" tanya Romeo, wajahnya penuh kebingungan.

Satria menunduk dan membisikkan sesuatu ke telinga Romeo. Setelah mendengar rencana itu, senyum puas terukir di wajah Romeo.

"Gimana menurut Lo, kalau kita lakukan cara ini? Orang-orang nggak akan bisa menghujat Lo atau Alya. Malah, mereka bakal merasa kasihan, dan polisi yang akan menindak Tante Dinda." ujar Satria dengan penuh keyakinan.

"Gue sepakat, Sat. Semua urusan ini gue percayain ke lo. Makasih banget."

"Oke, gue pergi dulu. Gue bakal langsung lakuin dari sekarang. Arjuna lagi bawa anak-anak ke ke kantin, mereka udah bangun waktu Lo ganti baju."

"Oke, hati-hati, ya. Jangan sampai ada yang tau soal rencana ini kecuali kita berdua," ujar Romeo.

Satria mengangguk mengerti. Tanpa menunggu lama, dia melangkah pergi dan langsung mengeksekusi rencana yang barusan dia bisikkan pada Romeo. Tak ada pilihan lain, itulah satu-satunya cara agar Dinda menerima hukumannya.

Tak lama kemudian, si kembar muncul bersama Arjuna. Begitu melihat Romeo, mereka berlari tanpa ragu dan memeluknya erat. Tidak ada yang menyangka, di pelukan ayahnya itu, mereka menangis tersedu-sedu, meski tadi di kantin bersama Arjuna mereka masih tertawa lepas.

“Pa…pa!” teriak si kembar serempak, mata mereka membelalak menahan air mata.

“Hei, jangan panik… jangan menangis. Ibu baik-baik saja, kok.”

“Ibu… di mana? Aku mau ketemu Ibu!” teriak Selina sambil menangis tersedu-sedu, suaranya paling nyaring.

Kekhawatiran Selina terpancar jelas di wajahnya, sementara Serena lebih memilih diam, menahan perasaannya sendiri.

"Ibu lagi dibersihkan dulu, nanti kalau sudah dipindahkan ke ruangan atas, kita bisa menemui ibu. Jangan nangis lagi, nanti ibu malah sedih." bujuk Romeo menenangkan.

"Tapi nenek jahat! Selina benci Nenek!" teriak Selina, tubuhnya gemetar karena amarah.

Romeo menatap Arjuna dengan mata penuh pertanyaan, seakan ingin tahu apakah dialah yang telah membocorkan semuanya. Namun Arjuna hanya mengangkat kedua bahunya, diam seribu kata. Sejak tadi mereka hanya berbicara tentang tontonan kartun, dan tak satu pun kata tentang Alya terlontar dari mulut Arjuna.

"Serena nggak mau ketemu nenek lagi… Nenek jahat, udah bikin ibu celaka!" ucap Serena tiba-tiba, suaranya bergetar.

Romeo tak merasa marah saat kedua putrinya mengucapkan hal itu, yang membuatnya penasaran hanyalah… siapa yang sudah memberitahu hal ini pada si kembar.

“Kalian lagi bicara apa? Apa hubungannya sama nenek?” pancing Romeo, nada suaranya menyiratkan rasa penasaran sekaligus waspada.

“Kita tadi lihat semuanya, Papa. Nenek yang lempar vas bunga ke Ibu.” terang Selina dengan jujur, matanya tak mau berbohong sedikit pun.

Deg!

Romeo terperangah, begitu pula Arjuna. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa si kembar benar-benar menyaksikan kejadian itu secara langsung.

“Sejak kapan kalian melihat semuanya? Kalian bangun karena suara dari luar?” tanya Romeo dengan serius, menatap anaknya penuh kekhawatiran.

“Sejak nenek menjerit. Awalnya Selina mau ke kamar mandi. Waktu nggak lihat Ibu, Selina buka pintu, terus Serena bangun karena mendengar jeritan nenek.” jawab Serena, menjelaskan dengan jujur.

"Papa… kita ketakutan. Nenek seperti monster… kita cuma pura-pura tidur supaya dia nggak tahu." teriaknya sambil terisak. "Waktu nenek menarik aku tadi… Serena hampir menangis, papa. Serena nggak mau ikut nenek yang jahat… Serena nggak mau!" Air matanya mengalir deras, dan tangis yang selama ini ia tahan dalam diam akhirnya meledak begitu saja.

Romeo dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam, ia sadar, kejadian ini bisa meninggalkan trauma pada kedua putrinya. Jika hal ini sampai terlihat oleh si kembar, kondisi psikologis dan mental mereka pasti akan terguncang.

"Maafin papa… sayang," kata-kata itu keluar begitu saja, penuh penyesalan yang tak tertahankan.

"Jadi dari tadi kalian pura-pura tidur, ya?" celetuk Arjuna sambil menyunggingkan senyum.

Si kembar mengangguk pelan, dan tanpa sadar membuat Arjuna menepuk dahinya. Ternyata tubuh mereka terasa lebih berat dari biasanya, rupanya karena mereka pura-pura tidur, ketakutan yang menumpuk membuat geraka

Kini, Alya telah dipindahkan ke ruangan VVIP. Tubuhnya masih terlelap akibat efek bius, membuat Romeo dan si kembar hanya bisa berdiri di dekatnya, menatap dengan hati yang campur aduk antara cemas dan lega.

“Papa… ibu kapan bangun?” Selina bertanya pelan, suaranya nyaris tersendat.

“Tak lama lagi ibu bangun… diam saja, jangan ribut. Nanti ibu terganggu.” bisik Romeo pelan, matanya penuh cemas.

Tak lama setelah ucapan Romeo, Alya tampak menggerakkan jarinya, perlahan mencoba membuka matanya.

"Papa… ibu bangun." Serena menatap wajah ibunya yang masih terlelap, suaranya tercekat saat berbisik.

"Sayang… jangan dipaksa dulu. Buka matamu pelan-pelan, nanti malah sakit." Suaranya lembut, tapi penuh kekhawatiran saat melihat Alya meringis kesakitan.

"Aku… mau duduk." katanya pelan, suaranya hampir seperti berbisik.

"Sini… biar aku bantu." ucapnya lembut.

Romeo segera membantunya, menyesuaikan posisi ranjang agar Alya bisa duduk dengan nyaman. Alya tersenyum lembut, matanya menatap si kembar yang kini ikut membalas senyumnya.

"Ibu, kita akan menjaga ibu… kita nggak akan biarin nenek yang jahat nyakitin lagi." ucap Selina tiba-tiba, matanya serius dan penuh tekad.

Alya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Ia ingin menegur kedua putrinya, namun kenyataannya, nenek mereka memang telah berlaku kejam padanya.

“Sayang, jangan paksa ibu bicara soal yang berat dulu. Kasihan, ibu pasti masih bingung.” Romeo menatap Selina lembut.

“Siap, Papa.” gumam keduanya dengan suara serak, niat mereka cuma ingin menjadi pelindung untuk ibunya.

“Sayang, mau sesuatu untuk diminum? Biar kamu nyaman dulu.”

Alya menggeleng pelan, matanya menatap Romeo dengan sendu. Hubungan mereka baru saja mulai pulih, namun kini sudah muncul rintangan baru, sebuah ujian berat yang harus mereka hadapi bersama.

"Kenapa kamu begitu… hmm?" Romeo mendekat, jarinya menelusuri pipi Alya dengan sentuhan hangat dan penuh perhatian.

"Apa aku salah… karena sudah jadi istrimu?" Alya menunduk, suaranya bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!