NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat dalam Kegelapan

Dini hari yang sunyi menyelimuti mansion megah itu. Shasha keluar dari kamarnya dengan langkah yang sangat hati-hati. Tenggorokannya terasa sangat kering. Karena efek dari tangisnya yang tidak kunjung reda sejak kejadian traumatis di ruang bawah tanah dan di kamar tadi. Ia berpikir untuk segera ke dapur, mengambil air, lalu kembali mengurung diri sebelum bertemu Jake lagi.

Langkah kakinya melambat saat ia sampai di puncak tangga. Lantai bawah mansion kini berubah menjadi padang kegelapan yang mencekam. Hampir semua lampu dimatikan, menyisakan suasana remang-remang yang hanya berasal dari pantulan cahaya bulan yang menembus jendela-jendela tinggi di ruang tamu.

Namun detak jantung Shasha seolah berhenti saat matanya menangkap sebuah siluet. Di sana, di tengah ruang tamu yang luas, sesosok pria duduk dengan sangat tenang di sofa.

Pria itu, Jake, tampak sedang menatap pemandangan luar melalui jendela. Ia menyesap rokoknya perlahan, membiarkan asap putih membumbung ke udara yang dingin, lalu bergantian menyesap cairan keemasan dari gelas kristal di tangannya.

Bahu Shasha luruh seketika. Harapannya untuk tidak bertemu pria itu sirna sudah. Ia merasa seolah Jake sengaja duduk di sana, menjadi penjaga tunggal yang mengawasi setiap jengkal mansion, karena malam ini entah mengapa tidak ada satu pun pengawal yang terlihat berjaga di dalam.

Seolah-olah, mansion besar ini hanya milik mereka berdua malam ini.

Shasha menarik napas panjang, mencoba menekan rasa takutnya. Ia memutuskan untuk tetap melanjutkan niatnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, ia menuruni anak tangga satu demi satu. Gerakannya bahkan sudah menyerupai seorang pencuri yang takut tertangkap basah.

Keajaiban sepertinya berpihak padanya. Ia berhasil mencapai area dapur tanpa membuat Jake menoleh. Di bawah keremangan cahaya dapur, Shasha mengintip ke ruang tamu. Pria itu masih tetap pada posisinya, terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Syukurlah,” gumamnya sangat lirih.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuangkan air ke dalam gelas di atas meja dapur. Ia mengisi gelas itu hingga penuh, lalu segera meneguknya sampai tandas, membiarkan air dingin itu membasahi kerongkongannya yang kering. Setelah merasa cukup, ia meletakkan gelasnya dengan sangat hati-hati. Memastikan tidak ada suara denting kaca yang muncul.

Shasha mulai melangkah kembali, mencoba mengulang keberhasilannya menuju tangga. Namun tepat saat ia baru melangkah keluar dari area dapur menuju koridor utama, sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan.

“Kau pikir aku buta, gadis nakal?”

Langkah Shasha terhenti seketika. Tubuhnya menegang kaku seperti batu. Di ruang tamu, Jake masih duduk di posisinya, tidak bergerak sedikit pun, bahkan tidak menoleh ke arahnya. Namun suaranya yang tenang justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan kemarahan.

Shasha menegakkan tubuhnya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Ketahuan dalam kegelapan seperti ini membuatnya merasa seperti tikus yang terpojok.

“Sebenarnya ada berapa matamu?” tanyanya dengan suara bergetar, meski berusaha terdengar sinis.

Jake tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum miring, menekan puntung rokoknya ke dalam asbak kristal hingga padam sepenuhnya. Perlahan ia menoleh, menatap Shasha dengan sorot mata yang sulit dibaca di bawah temaram cahaya bulan.

“Kemarilah,” ucapnya singkat sambil memberikan gestur tangan yang menuntut kepatuhan.

“Aku tidak mau!” jawab Shasha ketus. Ia segera memutar tubuh, melangkah cepat menuju tangga. Ia ingin segera hilang dari pandangan pria itu.

“Kalau begitu, aku yang akan datang ke kamarmu,” ancam Jake. Ia menghabiskan sisa cairan keemasan di gelasnya dalam satu tegukan besar, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan dentuman kasar.

Langkah Shasha kembali terhenti. Ia menoleh dengan tajam, matanya menyiratkan kemarahan yang meluap, “Kau mau apa?”

“Tentu saja melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda,” jawab Jake dengan nada rendah.

Shasha menyentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Dengan langkah berat yang terpaksa, ia memutar balik menuju ruang tamu. Namun ia menolak untuk duduk. Ia hanya berdiri mematung di samping sofa yang diduduki Jake, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Sama sekali tidak berniat membalas tatapan pria itu.

“Kenapa hanya berdiri?” tanya Jake.

“Sedang melindungi diri,” jawab Shasha singkat tanpa menoleh.

Tawa Jake pecah seketika, menggema di ruangan yang luas dan sunyi itu, “Kau benar-benar gadis yang menarik.”

“Aku tidak ingin terlihat menarik di matamu,” balas Shasha tajam.

“Baiklah, baiklah. Kau jangan selalu marah-marah. Kata orang, itu bisa membuat penuaan lebih cepat.”

Kalimat itu akhirnya membuat Shasha menoleh dan menatap Jake dengan emosi yang meledak, “Berkacalah, brengsek! Kau yang membuatku selalu marah. Selama hidupku, aku selalu menjadi seseorang yang tenang. Tapi setelah bertemu denganmu...” Shasha menghela napas panjang, “Sudahlah. Percuma menjelaskannya padamu.”

“Duduklah sekarang,” perintah Jake, suaranya kini berubah lebih dingin dan tegas.

Shasha tetap diam membatu.

Jake yang sudah kehilangan kesabaran, akhirnya menyambar pergelangan tangan gadis itu dan menariknya dengan satu sentakan kuat. Tubuh Shasha kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat ke dalam pelukan Jake di atas sofa.

“Lepaskan aku!” seru Shasha sambil meronta.

Namun Jake justru melingkarkan lengannya di pinggang Shasha dengan sangat erat untuk mengunci pergerakannya. Ia mulai meneliti wajah Shasha dengan jarak yang sangat dekat. Menelusuri setiap detail wajah gadis itu hingga Shasha merasa sangat tidak nyaman.

“Lepaskan aku, atau aku akan memukul kepalamu!” ancam Shasha sambil menunjuk botol minuman di atas meja dengan gerakan mata.

Jake hanya tertawa kecil, “Nyawaku banyak, gadis nakal. Hanya kau seorang, tidak akan bisa membunuhku.”

“Dasar arogan!” umpat Shasha sambil memalingkan wajahnya, karena wajah pria itu semakin mendekat. Bahkan ia sudah merasakan embusan napas Jake di pipinya.

Shasha menyadari bahwa melawan secara fisik hanya akan menguras tenaganya dengan sia-sia. Ia harus melewati ujian ini dengan sabar. Ingatan tentang pria yang disiksa secara mengenaskan di penjara bawah tanah tadi bahkan masih membuat bulu kuduknya merinding. Pria di depannya ini adalah seorang predator yang tidak bisa dianggap remeh. Jangan sampai ia melakukan kesalahan fatal yang justru membuat nyawanya melayang sebelum ia sempat melarikan diri. Ia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha mengusir bayangan mengerikan itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Jake, menyadari perubahan ekspresi di wajah gadis itu.

Shasha menoleh sedikit, “Cara untuk mengalahkanmu.”

“Oh ya?” Jake menaikkan alisnya, tampak sangat tertarik, “Kau bisa mengalahkanku di satu tempat khusus.”

Kening Shasha mengerut, mencoba menebak maksud tersembunyi dari kalimat itu, “Di mana itu?”

Jake memajukan wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Shasha, lalu berbisik dengan nada nakal, “Di atas ranjang.”

“Bajingan!” umpat Shasha cepat. Ia berusaha meronta dan melarikan diri dari dekapan itu, namun rengkuhan Jake justru semakin menguat, mengunci tubuhnya dalam sangkar lengan yang tidak mungkin ia tembus.

“Kau tidak penasaran aku baru saja bertemu siapa?” tanya Jake tiba-tiba.

“Tidak,” jawab Shasha ketus.

“Baiklah.” Jake menghela napas panjang, sengaja menggantung kalimatnya untuk memancing emosi gadis itu, “Kupikir kau sedang merindukannya.”

“Siapa yang kau maksud?!” seru Shasha, suaranya naik satu nada. Ia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang bercampur cemas.

“Kesempatan bertanya sudah habis,” jawab Jake santai.

Shasha yang terpancing emosi memukul dada Jake dengan tangan terkepal, “Katakan sekarang! Kau sedang membicarakan siapa? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?! Jika sampai kau macam-macam pada orang-orang terdekatku—“

“Aku tidak berani macam-macam,” jawab Jake jengah, seolah merasa terganggu dengan tuduhan itu, “Aku bisa dimarahi seseorang jika sampai menyentuhnya.” Pria itu kemudian menatap Shasha tajam, sorot matanya yang gelap tampak menembus hingga ke ulu hati, “Ternyata kau begitu mengkhawatirkannya.”

“Pria gila! Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu!” Shasha berteriak frustrasi.

Jake akhirnya melepaskan rengkuhannya, membiarkan tubuh Shasha menjauh. Gadis itu pun berdiri dengan menjaga jarak, agar Jake tidak bisa menggapainya lagi.

Sementara Jake memilih untuk mengambil sebatang rokok lagi, menyalakannya, dan menghisapnya dalam-dalam. Asap putih kembali mengepul di udara hingga akhirnya Jake bersandar di sofa, kembali memandangi kegelapan di luar jendela.

Pria itu melirik Shasha yang masih berdiri mematung dengan napas memburu, “Kenapa masih di sini? Menungguku untuk bercinta?”

“Dasar brengsek!” umpat Shasha. Ia memutar tubuhnya untuk pergi, namun langkahnya terhenti. Ia teringat sesuatu, “Di mana kau menyembunyikan barang-barangku?”

“Sudah kubakar,” jawab Jake tanpa dosa, bahkan tanpa menoleh sedikit pun.

“Apa?!” Shasha terbelalak, dunianya serasa runtuh saat itu juga, “Buku kuliahku, catatan pentingku, dompetku, bahkan ponselku... semua kau bakar?”

“Hanya barang rongsokan,” jawab Jake santai sambil menyesap rokoknya lagi.

Mata Shasha mulai berkaca-kaca. Hatinya perih bukan main, “Itu semua memang hanya rongsokan bagimu! Tapi bagiku, itu adalah bagian dari hidupku! Gara-gara kau, aku tidak bisa berkuliah! Kau sudah menghancurkan masa depanku! Dasar iblis brengsek!”

Suaranya bergetar hebat. Tanpa menunggu jawaban lagi, Shasha segera berlari menuju tangga, menaiki anak tangga dengan terburu-buru sambil mengusap air mata yang kini jatuh membasahi pipinya. Rasa benci itu kini sudah mengakar begitu dalam.

Di sisi lain, Jake masih diam membisu. Cahaya bulan menerangi separuh wajahnya, sementara separuhnya lagi tenggelam dalam kegelapan. Ia terlihat tenang, bahkan masih sibuk menikmati rokoknya.

“Merepotkan,” geramnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!