NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keesokan paginya, Dian sudah sibuk di dapur. Sambil menunggu air mendidih, ia memasukkan cucian ke ember, tangannya bergerak otomatis—seolah tubuhnya sudah hafal ritme lelah itu. Kompor menyala kecil, aroma bawang yang ditumis perlahan memenuhi ruangan.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Pesan dari Bu Minah.

> Dian, ibu akan lama di Batam. Mungkin sampai bulan depan. Jangan boros kamu.

Ibu sudah transfer uang.

Disusul foto bukti transfer.

Dian menghentikan gerakannya. Matanya menatap layar ponsel lama, terlalu lama. Nominal itu… kecil. Sangat kecil untuk kebutuhan sebulan—beras, gas, token, susu Naya, belum lagi dagangan.

Dadanya terasa sesak.

“Ini enggak akan cukup…” batinnya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel kembali ke meja. Ingin rasanya menangis, tapi ia menahan. Air mata tak akan menambah isi dompet.

Dian menoleh ke arah ruang tengah. Naya duduk di lantai, sibuk menyusun balok warna-warni, sesekali tertawa sendiri. Pemandangan itu membuat hati Dian menguat—walau lelahnya tak berkurang.

“Enggak apa-apa,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

“Aku pernah hidup lebih sulit dari ini.”

Ia kembali ke dapur. Api kompor ia kecilkan, lalu ia membuka lemari, menghitung sisa beras, mengecek telur, melihat stok tepung dan bumbu. Otaknya langsung bekerja—mengatur, menghemat, menyusun strategi.

“Jualan harus jalan. Pengeluaran ditekan. Yang penting Naya aman.”

Dian mengambil ponsel lagi, membuka aplikasi dagangannya. Jarinya mulai mengetik unggahan baru—bukan keluhan, bukan protes—melainkan pengumuman sederhana: stok ready hari ini.

Di balik tubuhnya yang terlihat rapuh, Dian sedang belajar menjadi tulang punggung. Tanpa sorak, tanpa pengakuan—hanya demi satu nama kecil yang sedang bermain di ruang tengah.

Dian menatap layar ponselnya lama. Kata-kata itu berputar di kepalanya sejak tadi.

Tidak mungkin gajinya terus diberikan ke ibu…

Ia tahu, Andi anak yang berbakti. Tapi Andi juga suami, juga ayah. Ada tanggung jawab yang seharusnya berdiri sejajar—bukan saling meniadakan.

Dian menarik napas dalam.

“Nanti… nanti aku bicara baik-baik sama Bang Andi,” gumamnya pelan.

Bukan dengan emosi. Bukan dengan tudingan. Ia terlalu lelah untuk bertengkar. Yang ia butuhkan adalah kejelasan.

“Uang yang ibu kasih enggak cukup. Bukan soal boros… tapi kebutuhan memang segitu,” lanjutnya dalam hati.

Ia membayangkan percakapan itu. Nada yang tenang, kata-kata yang terukur. Menjelaskan tentang susu Naya, gas, token, bahan jualan—hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, padahal setiap hari harus dibayar.

Dian menoleh ke arah Naya yang kini berlari kecil menghampirinya.

“Ibu… lapar,” ucap Naya polos.

Dian tersenyum tipis, lalu menggendong anaknya.

“Iya, sayang. Ibu masakin sekarang.”

Di pelukan itu, Dian kembali diingatkan: ia tidak sedang meminta lebih. Ia hanya menuntut hak yang seharusnya—untuk hidup layak sebagai istri dan ibu.

“Kalau nanti Bang Andi tetap enggak dengar,” batinnya,

“setidaknya aku sudah berusaha. Dan aku sudah siap berdiri di kakiku sendiri.”

Api kompor kembali menyala.

Hari terus berjalan, dan Dian—dengan segala lukanya—tidak punya pilihan selain tetap kuat.

Setelah semua siap, Dian duduk di lantai sambil menyuapi Naya.

Anak itu makan dengan lahap, matanya terpaku pada televisi yang menayangkan acara kesukaannya. Sesekali Naya tersenyum, membuat lelah Dian terasa sedikit terbayar.

Dian mengusap kepala anaknya lembut.

“Pelan-pelan ya, sayang,” ucapnya hangat.

Tak lama, ponselnya bergetar di samping piring kecil. Sebuah pesan masuk.

> Mbak, kaya biasa cireng sama cilok. Nanti diambil kurir.

Dian membaca pesan itu dua kali, lalu senyum tipis terbit di wajahnya.

“Alhamdulillah,” gumamnya pelan.

Ada rasa lega yang mengalir di dadanya. Di tengah pikiran yang semrawut, di tengah hati yang lelah, rezeki itu selalu datang tepat waktu. Mungkin tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya bertahan hari ini.

Dian segera membalas pesan pelanggan itu, lalu kembali fokus menyuapi Naya.

Dalam hati ia berjanji, selama tangannya masih bisa bekerja dan kakinya masih bisa berdiri, ia tidak akan membiarkan anaknya kekurangan.

Naya tertawa kecil saat acara di televisi berganti segmen lucu. Dian ikut tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca.

“Lihat ya, Nak,” batinnya,

“ibu akan terus berjuang. Pelan-pelan, tapi pasti.”

Setelah salat magrib, Naya sudah tertidur pulas di samping Dian. Napas kecil anak itu teratur, wajahnya tampak tenang. Dian memandanginya sejenak, lalu meraih ponsel. Dengan ragu, ia menghubungi suaminya.

Beberapa kali nada sambung terdengar, hingga akhirnya diangkat.

“Iya, Dian,” suara Andi terdengar singkat dari seberang.

“Assalamualaikum, Yah…” Dian menarik napas lebih dulu. “Ayah boleh bicara sebentar?”

“Cepatlah,” jawab Andi tanpa basa-basi.

Dian terdiam sesaat, menguatkan hati. Dengan suara hati-hati ia berkata,

“Bang… bisa tidak uang belanja Dian ditambah sedikit? Yang ibu kasih kemarin itu kurang…”

Belum sempat ia melanjutkan, Andi langsung meledak.

“Kamu ini taunya uang, uang, dan uang saja! Kamu enggak mikir aku capek kerja? Isinya cuma minta dan minta! Kamu kan jualan, pakai dulu uang jualanmu itu. Gajiku juga enggak sebanyak dulu, Dian. Cobalah mengerti!”

Kata-kata itu mengalir panjang tanpa jeda, lalu tiba-tiba—tut.

Telepon diputus sepihak.

Dian menatap layar ponsel yang kini gelap. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat. Bukan karena marah, melainkan perih yang pelan-pelan menjalar.

Ia tahu. Ia sangat tahu suaminya lelah bekerja. Tapi yang ia minta bukanlah kemewahan, hanya hak yang seharusnya ia terima sebagai istri dan ibu dari anak Andi.

Dian mengalihkan pandangan ke Naya yang masih terlelap. Ia mengusap rambut anaknya perlahan.

“Kalau ada, Bang, aku terima,” bisiknya dalam hati.

“Kalau tidak ada, aku masih bisa bertahan. Aku masih bisa menghidupi Naya dari hasil jualanku sendiri.”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu, lalu ia segera menyekanya. Dian tak ingin lemah terlalu lama.

Besok, ia harus kembali kuat. Untuk Naya. Untuk dirinya sendiri.

Ia membuka aplikasi m-banking di ponselnya. Angka saldo tertera jelas di layar. Dian menghitung dalam diam, jemarinya bergerak pelan seolah menakar kemungkinan.

“Cukup…” gumamnya lirih.

“Cukup untuk modal cireng, cilok, sama epok-epok.”

Ia menghela napas panjang. Bukan napas lega sepenuhnya, tapi napas orang yang memutuskan untuk bertahan. Besok saja ia akan belanja bahan. Kali ini ia ingin membuat lebih banyak dari biasanya. Lebih capek tak apa, yang penting dapur tetap mengepul dan Naya tetap bisa makan dengan tenang.

Dian menoleh ke arah anaknya yang tidur pulas.

“Ibu kerja sedikit lebih keras ya, Nak,” bisiknya sambil tersenyum tipis.

Ponsel ia letakkan di samping bantal. Dalam hati, ia mulai menyusun rencana: berapa kilo tepung, berapa bumbu, berapa bungkus kemasan. Pelan-pelan, seperti biasa, Dian kembali berdiri di atas kakinya sendiri.

Setelah salat Isya, Dian melangkah ke dapur. Perutnya terasa perih sejak tadi, baru sekarang ia sempat memikirkannya. Ia membuka lemari, mengambil satu bungkus mi instan. Malam ini cukup Indomie saja, pikirnya. Praktis, hangat, dan tidak merepotkan.

Air mulai mendidih di panci kecil. Dian bersandar sejenak di meja dapur, matanya menyapu sekeliling. Dapur itu bersih, rapi, sunyi. Tidak ada suara omelan, tidak ada langkah kaki yang membuat dadanya menegang. Entah kenapa, ada rasa nyaman yang lama tak ia rasakan.

“Begini ternyata rasanya,” gumamnya pelan.

Tenang.

Ia menuang bumbu ke piring, mengaduk perlahan, lalu memasukkan mi yang sudah matang. Aroma sederhana itu menguar, mengingatkannya pada masa-masa awal menikah, saat ia dan Andi masih tertawa hal-hal kecil, makan mi berdua tanpa beban apa pun.

Dian membawa piringnya ke meja makan. Ia duduk sendiri, menyuap perlahan. Tidak terburu-buru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar menikmati makan malamnya.

Sesekali matanya melirik ke arah kamar, memastikan Naya masih terlelap. Hatinya terasa hangat. Dalam kesunyian itu, Dian menyadari satu hal:

ia ternyata bisa bernapas lebih lega saat tidak ada tekanan.

Selesai makan, Dian mencuci piringnya sendiri. Ia mengelap meja, mematikan lampu dapur, lalu kembali ke kamar. Sebelum berbaring, ia menatap wajah Naya yang damai.

“Selama ibu masih kuat,” bisiknya lirih,

“kita akan baik-baik saja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!