NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Salah Sangka

Saat membuka mata, Keisya masih belum menyadari jika dia bukan berada di kamarnya. Padahal matanya sudah terbuka, dan menatap ke arah langit langit kamar.

Kepalanya pusing, tapi lebih pusing lagi karena dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam.

Setelah Bastian mengusir anaknya sendiri, dia samar-samar mengingat jika dia diseret oleh pria itu.

Sudah.

Hanya itu yang dia ingat.

Lalu apa lagi setelahnya?

Apa dia pulang dengan Papanya?

Jika benar seperti itu, lalu apa yang membuatnya lupa? Tidak mungkin kan kalau dia tertidur saat bersama Bastian?

Demi apapun, Keisya benar-benar pening dibuatnya. Ini kali pertama dia mengalami ini. Jadi dia belum memiliki gambaran apapun, atau menerka apa yang membuatnya sampai seperti ini.

"Sudah bangun?"

Keisya melotot. Suara itu milik seorang pria, dan itu bukan suara Papanya. Sekalipun benar, Papanya tidak akan masuk begitu saja tanpa seizin dirinya.

Kepala Keisya bergerak menunduk. Di depan sana. tepatnya di sebuah sofa yang sebelumnya tidak ada di kamarnya, duduk seseorang yang tidak lain adalah Bastian.

"Om, ngapain di kamar aku?" Keisya bertanya panik. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana tidak, ada seorang pria di kamar_nya?

Tunggu!

Ini bukan kamar miliknya!

Keisya bangun, terduduk dengan kebingungan saat melihat ruangan yang ditempatinya saat ini. Ini benar-benar asing.

"Yakin ini kamar kamu?" Bastian kembali berbicara.

"Om, ini dimana? Kenapa aku disini? Terus kenapa Om juga ada disini?" maksudnya, sekalipun dia berada entah dimana, kenapa ada Bastian juga disini?

Perlu di ingatkan, saat ini mereka ada di dalam kamar. Ada tempat tidur yang masih dia tempati saat ini.

"Kamu tidak ingat kejadian semalam?"

"Kejadian apa?" Keisya mulai khawatir. Tangannya refleks meraba tubuhnya yang masih tertutupi oleh selimut. Pakaian yang dikenakannya sekarang masih gaun semalam. Dan juga, bagian bawahnya tidak sakit.

Sekalipun dia tidak tahu bagaimana seharusnya, tapi jika mereka benar-benar melakukan itu, pasti akan ada perbedaannya.

Mengingat dia tidak pernah 'melakukan itu' sebelumnya.

"Jadi kamu tidak mengingatnya?" ujar Bastian sambil berdiri dari duduknya.

"Om bisa ga jangan berbelit belit? langsung aja bilang. Ada apa sebenarnya?" kesal Keisya. Tapi ekspresinya langsung berubah begitu melihat Bastian berjalan mendekat sambil membuka kancing kemejanya.

Keisya menatap waspada. Dia menarik semakin tinggi selimutnya untuk menutupi dadanya. "O-om mau apa? Jangan macam-macam. A-aku bilangin yah sama Papa!" nada suaranya tinggi, namun tergagap. Keisya memperingati Bastian sekalipun dia tengah takut setengah mati.

Bastian menyeringai, dan tetap membuka semua kancing kemejanya hingga terbuka sepenuhnya. Dada serta perutnya yang memiliki beberapa tonjolan itu terpampang jelas. Dia sudah berdiri di sisi ranjang, namun Keisya sudah menutup matanya.

"Buka mata kamu"

"Enggak!" Keisya menggelengkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu sampai panik seperti itu. Mungkinkah dia berpikir jika Bastian tengah bugil?

Lucu sekali.

"Kamu mau tahu jawabannya kan? Lihat sendiri"

Ragu-ragu, Keisya membuka matanya. Dia langsung terpaku melihat tubuh Bastian yang penuh otot terpampang jelas di depannya. Dia berkedip berkali-kali, reaksi alami saat melihat perut kotak kotak yang sebelumnya hanya bisa dia lihat pada layar ponsel.

Luar Biasa.

 Dia ini wanita normal seperti perempuan di luar pada umumnya yang menyukai pria berotot.

Sangat memanjakan mata.

Keisya mengerjap. Dia menyadarkan diri akan tingkahnya yang sangat memalukan.

Mengagumi tubuh teman Papanya sendiri.

Begitu dia mengangkat pandangannya, barulah dia sadar akan sesuatu.

"Itu,," tunjuknya ragu ke area leher Bastian.

Bastian terkekeh. Lama sekali gadis itu melihat perutnya. Tidak sia-sia dia melakukan banyak hal pada tubuhnya akhir-akhir.

"Kamu yang melakukannya"

Keisya melotot sejadi jadinya.

"Dan kamu harus bertanggung jawab. Atau,," Bastian menjeda.

"Atau apa?"

"Saya laporkan sama Papa kamu"

Mati dia.

\=\=\=\=\=

Begitu Keisya pulang, Gunawan tidak tahan untuk bertanya.

"Kamu benaran mabuk?"

Keisya mengangguk, "Kayanya begitu Pa" dia menjawab singkat, berusaha terlihat biasa saja.

"Terus gimana? Ga terjadi apa-apa kan? Papa denger kamu dianterin Om Bastian?"

"Aku sempet nyari Papa, tapi ga ketemu. Jadi minta Om Bastian nganterin aku. Tapi Papa tenang aja, Om Bastian cuma sampai depan kamar hotel. Aku masuk dibantu pelayan" dustanya.

Padahal sebelumnya dia sudah diajarkan Bastian harus menjawab apa jika Papanya bertanya.

Gunawan menghela napasnya, ekspresi wajahnya menunjukan penyesalan. "Papa yang salah sudah membiarkan kamu sendirian. Tapi syukur kalau tidak terjadi apa-apa"

Keisya meringis. Andai saja Papanya tahu apa yang sudah dia lakukan tadi malam pada temannya. Papanya pasti akan kecewa kan?

Jadi dia bertekad tidak akan memberitahu Papanya tentang kejadian ini sampai kapanpun.

"Lain kali jangan minum sembarangan lagi, apalagi minuman yang ga jelas. Kita ga pernah tahu kan kalau ada orang yang punya niat buruk sama kita. Beruntung yang kamu minum efeknya cuma memabukkan, kalau sampai lebih dari itu, kamu bisa dalam bahaya"

Keisya menunduk. Dia tengah berpikir jika dirinya kemarin bukan mabuk. Dia pernah minum sebelumnya beberapa kali, tapi bukan seperti kemarin efeknya.

Lantas, jika bukan mabuk apa?

Apa mungkin?

\=\=\=\=\=

Sisi menunggu kedatangan Keisya. Mereka berjanji bertemu hari ini setelah temannya itu menyelesaikan kelas terakhirnya. Dia kafe tempat biasa mereka mengabiskan waktu, dia duduk sambil memainkan ponselnya.

Jemarinya bergerak cepat di layar, membalas pesan yang masuk.

Itu dari Haikal.

Helaan napasnya dia hembuskan, menyayangkan atas perbuatan yang pria itu lakukan.

"Bego. Gimana bisa suka kalau begitu" Sisi bergumam. Setelahnya dia mematikan ponselnya, dan meminum jus yang di pesannya sambil menatap ke arah pintu masuk.

Tidak lama, orang yang dia tunggu akhirnya datang. Sisi mengangkat tangannya, agar Keisya bisa melihat keberadaannya.

Keisya berjalan cepat, lalu duduk di sebrang temannya. Dia menyambar minuman milik Sisi, dan meminumnya tanpa permisi.

Si pemilik minuman hanya bengong saat melihat jus miliknya sudah raib dalam sekejap.

"Panas banget, gila" Keisya mendesah lega sambil mengipasi wajah serta rambutnya yang lepek akibat sengatan sinar matahari.

"Lagian kenapa ga bawa mobil coba? Ngeribetin diri sendiri aja"

Keisya berdecak. Bagaimana mau bawa mobil jika dia di jemput oleh Bastian.

Benar. Tadi saat dia hendak berangkat kuliah, tiba-tiba saja Bastian sudah berada di depan rumah. Pria itu dengan memaksa memintanya untuk berangkat bersama. Tidak ada alasan pasti, namun Keisya tidak memiliki pilihan untuk menolak apapun itu tujuan Bastian.

Katanya jika dia melakukan itu, Bastian akan mengadukan kejadian hari itu pada Papanya.

Menyebalkan sekali.

Dia sekarang merasa seolah sedang dimanfaatkan oleh pria tersebut.

"Udahlah, ga usah di bahas. Katanya lo mau ngomong, soal apa?" Keisya berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Soal Haikal"

Wajah Keisya langsung berubah.

Sisi kemudian menambahkan, "Katanya dia mau minta maaf langsung sama lo soal malam itu" Haikal tidak mengatakan dimana mereka bertemu, hanya menjelaskan apa yang dia lakukan pada Keisya.

Dan dia memintanya untuk mempertemukannya dengan Keisya.

Sisi tidak menyanggupi, apalagi sampai berjanji. Karena dia sangat tahu bagaimana sifat temannya ini.

"Ga usah." tolaknya tanpa ragu

Nah kan, apa dia bilang?

"Gue bisa lupain kejadian itu, tapi gue ga mau ketemu lagi sama dia"

Keisya yakin, kejadian malam itu adalah ulah Haikal. Meskipun tidak ada bukti, tapi waktu setelah dia mengambil minuman dengan kedatangan Haikal sangat mencurigakan.

Apalagi ditambah pria itu mencoba mengambil kesempatan menciumnya saat dia tengah, melamun?

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!