NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: tamat
Genre:Dosen / Berbaikan / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PODCAST TANPA PENGGEMAR, ROTI BAKAR, DAN HAL-HAL YANG TIDAK TERKATAKAN

Disclaimer: Bab ini mengandung percakapan yang direkam namun tidak pernah dirilis, pengakuan yang terlalu jujur untuk didengar publik, dan satu permintaan yang mengubah segalanya tanpa mengubah apapun.

Pukul 16.17. Kinan datang ke kosan Ardi membawa peralatan rekaman sederhana: dua mikrofon USB, pop filter bekas, dan sebuah laptop tua.

"Kita bikin di sini," katanya, memandang kamar Ardi yang sudah agak rapi (dalam standarnya). " Di tempat di mana semua kesalahan kita mulai."

"Kesalahan atau keberuntungan?" tanya Ardi sambil membersihkan space di lantai.

"Keduanya.Sisi dua mata uang yang sama."

Mereka duduk bersila di lantai, beralaskan kasur tipis, membentuk segitiga dengan laptop di tengah. Kinan mengatur level audio, wajahnya serius seperti sound engineer profesional.

"Ini hanya untuk kita," dia mengingatkan, menekan tombol rekam. " Mulai kapan pun lo siap."

Ardi menarik napas. Mikrofon terasa seperti moncong pistol yang diarahkan ke mulutnya.

"Oke.Halo... ini Ardi. Dan Kinan. Dan kita... sedang mencoba."

"Dan kita sedang ketakutan," sambung Kinan, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Tapi kita rekam ketakutan ini, supaya kita ingat."

00:01:23

Ardi: "Jadi, kenapa kita rekam ini? Bukannya buat konten, kan?"

Kinan: "Iya. Ini semacam... time capsule audio. Kalau nanti kita bertengkar, atau kita ragu lagi, kita putar ini. Supaya ingat suasana hari ini. Suasana sebelum kita... terlalu banyak berpikir."

Ardi: "Apa yang kita takutkan sekarang sih, sebenernya? MatchMade udah kelar. Kontrak Dadu Champ nggak mengikat. Kita bebas."

Kinan: "Kita takut kalau tanpa konflik besar, tanpa musuh bersama... kita nggak punya apa-apa. Kalau chemistry kita cuma reaksi kimia dari tekanan eksternal. Kalau pas semua damai, kita malah bingung ngomong apa."

00:07:41

Kinan: "Gue masih suka bikin konten, Ard. Tapi sekarang setiap kali mau post, gue mikir: ini buat siapa? Buat engagement? Buat prove sesuatu? Atau beneran buat berbagi?"

Ardi: "Gue ngerti. Kayak lagu gue yang 'Setelah Kamu Nyata'. Waktu itu gue nulis cuma buat lo. Bukan buat dinyanyiin di depan orang. Tapi setelah lo denger, rasanya... lengkap. Padahal cuma lo satu-satunya pendengar."

Kinan: (Diam beberapa detik) "Itu lagu... gue simpan di HP. Kadang diputer kalau gue lagi overwhelmed sama ekspektasi orang. Itu ngingetin gue, ada yang liat gue bukan sebagai 'Kinan yang aesthetic', tapi sebagai... orang yang bikin dia nulis lagu."

Suara mereka di rekaman terdengar berbeda. Lebih dalam, lebih lambat. Seperti sedang menyentuh permukaan sesuatu yang rapuh.

00:15:10

Ardi: "Lo pernah kepikiran nggak, apa yang bakal terjadi kalo kita beneran... pacaran? Model hubungan kayak gimana?"

Kinan: (Tertawa pendek) "Gue nggak mau model. Model itu untuk catwalk atau photoshoot. Gue mau... sistem operasi. Sesuatu yang jalan di background, nggak keliatan, tapi bikin semua jalan. Gak perlu pamer."

Ardi: " Gue juga. Tapi... gue masih trauma. Bukan dari mantan. Tapi dari ekspektasi. Sekarang kita 'si burung hantu dan si aesthetic'. Orang punya ekspektasi cerita kita harus kayak fairy tale reformasi digital."

Kinan: "Padahal realitanya, kita cuma dua orang yang lagi belajar percaya. Kadang sukses, kadang gagal. Kayak kemarin di reunion, gue malah perform. Lo yang justru jadi orang paling autentik di sana."

00:22:05

Ardi: "Ngomong-ngomong reunion... itu kunci yang lo kasih."

Kinan: "Lo masih simpan?"

Ardi: "Iya. Gue gantung di kunci motor gue. Biar selalu inget."

Kinan: "Kenapa di kunci motor?"

Kinan: "Karena itu yang bawa gue ke lo setiap hari. Ke kampus, ke warung kopi, ke mana-mana. Jadi... simbolis, lah."

Diam di rekaman. Hanya suara napas dan dengungan AC kosan yang sudah tua.

00:23:11

Kinan: (Suara hampir berbisik) "Ardi, gue mau minta sesuatu. Tapi ini berat."

Ardi: "Apa?"

Kinan: "Gue mau lo janji, kalau suatu hari nanti gue kembali jadi 'Kinan yang perform'... yang terlalu sibuk mengurasi hidup buat feed... lo tegor. Lo ingetin dengan rekaman ini. Lo kasih tau bahwa gue berharga bukan karena aesthetic feed gue, tapi karena gue yang bisa bikin ayam goreng gosong dan ketawa sama lelucon jelek lo."

Ardi: (Suara serak) "Gue janji. Tapi lo juga harus janji sesuatu."

Kinan: "Apa?"

Ardi: "Kalau suatu hari nanti gue mundur lagi ke zona nyaman... jadi terlalu takut buat ambil risiko, buat confess apa yang gue rasain... lo dorong. Kasih tau bahwa gue berharga bukan karena low profile ku, tapi karena gue yang berani nge like foto bowl cut lo dan menghadapi konsekuensinya."

00:25:00

Kinan: "Deal."

Ardi: "Deal."

Suara ketukan. Ternyata Bowo membawa roti bakar dan es teh dari bawah. "Lagi latihan podcast ya? Ini bahan bakar," katanya, lalu pergi.

Rekaman tetap berjalan. Mereka makan roti bakar, suara kunyahan terekam dengan jelas.

00:28:33

Kinan: (Dengan mulut penuh) "Ini enak banget. Harusnya kita bikin konten makanan street aja. Nggak usah mikirin algoritma."

Ardi: "Makanan lo aja yang nggak gosong."

Kinan: "Hey! Nggak usah diingetin!"

Tawa.Tawa yang tulus, tidak terkurasi, dan penuh remah roti.

00:31:20

Ardi: "Kita stop rekaman yuk? Udah dapet essensinya."

Kinan: "Satu hal lagi. Sebelom kita stop... gue mau bilang sesuatu yang mungkin cuma bisa gue bilang di sini, di rekaman yang cuma kita berdua yang dengar."

Ardi: (Tegang) "Ya?"

Kinan: "Gue... bersyukur banget lo salah follow waktu itu. Dan gue... pelan-pelan jatuh cinta sama proses mengenal lo. Bukan dengan Ardi yang viral, tapi dengan Ardi yang kikuk, yang overthink, yang bawa martabak waktu gue panik. Itu aja."

Rekaman berhenti tiba-tiba. Seperti ada yang menekan tombol stop.

---

Pukul 18.00. Rekaman sudah disimpan di flashdrive khusus, diberi label "BACKUP_OS". Kinan bersiap pulang.

"Rekaman terakhir tadi..." kata Ardi, ragu.

"Gue hapus bagian itu dari file utama," kata Kinan cepat. "Gue simpan di file terpisah. Password-nya... tanggal kita pertama ketemu offline di kantor Pak Suryo."

"Kenapa?"

"Karena itu terlalu berharga buat di dengar ulang sembarangan.Itu cuma buat... hari-hari yang sangat spesial. Atau sangat buruk."

Dia berdiri di depan pintu, memandang Ardi.

"Besok gue ada meeting sama brand yang mau kolaborasi etikal.Beneran etikal, bukan greenwashing. Mereka mau kita bikin campaign 'Digital Wellness'. Mau ikut?"

"Buat apa? Kita kan mau lepas dari konten?"

"Ini beda.Ini konten yang beneran kita percaya. Dan... kita bisa bayar listrik lo yang suka byar pet," goda Kinan.

Ardi tersenyum. "Oke. Tapi syaratnya: nggak ada naskah. Kita ngomong spontan."

"Deal.Gimana kalau kita pakai format podcast beneran? Tapi live?"

"Boleh.Tapi judulnya harus kita yang tentuin."

"'Off the Record: Ngobrolin Hidup di Era yang Selalu Merekam'.Gimana?"

"Sempurna."

Kinan pergi. Ardi memutar kembali rekaman tadi, melompat ke menit terakhir. Tapi yang terdengar hanya diam, lalu suara dia bertanya "Ya?", lalu klik. Bagian itu benar-benar sudah dipotong.

Dia membuka laptop, mengetik password: 140923 — tanggal 14 September, hari mereka bertemu di kantor Pak Suryo, saat Kinan melihatnya "lebih tinggi dan awkward" dan mereka memutuskan kolaborasi.

Sebuah file audio kecil muncul. "UNSAID.WAV"

Dia memutarnya. Hanya 30 detik. Hanya suara Kinan yang mengucapkan kata-kata tadi, diikuti oleh hembusan napas panjang, lalu: "Dan sekarang gue takut, karena gue nggak tahu lo bakal bilang apa. Tapi nggak apa-apa. Gue cukup berani untuk mengatakannya, dan cukup kuat untuk menerima apapun jawabannya. Karena setidaknya, ini jujur. Selamanya, Kinan."

Ardi memutar ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dia tidak menangis. Dia hanya duduk di lantai kosannya, merasa seluruh ruangan bergetar dengan frekuensi yang berbeda. Dia membalas dengan caranya sendiri. Dia mengambil gitar, merekam voice note 30 detik. Hanya sebuah melodi sederhana, tanpa lirik. Lalu dikirim ke Kinan.

Notifikasi masuk dari Kinan, 5 menit kemudian:

"Itu jawabannya?"

Ardi: "Itu… perasaannya. Liriknya masih gue cari."

Kinan: "Take your time. Gue nggak ke mana-mana."

Malam itu, mereka tidak mengobrol panjang. Mereka memberi ruang pada kata-kata yang belum terucap dan melodi yang belum berlirik untuk bernapas di udara di antara mereka.

LAST LINE: Di dua kamar yang berbeda, sebuah file audio tersimpan dalam folder rahasia, dan sebuah voice note tersimpan di chat pribadi. Keduanya adalah bentuk pengakuan yang terlalu besar untuk diucapkan, terlalu dalam untuk dipamerkan, dan terlalu berharga untuk dijadikan konten. Mungkin, pikir Ardi sambil memandang langit-langit kosong, itulah bentuk hubungan era baru: bukan tentang mengumpulkan bukti cinta untuk dipajang di feed, tapi tentang menyimpan momen-momen yang paling rentan di tempat yang hanya kalian berdua yang tahu, dan memilih untuk percaya bahwa itu cukup bahkan jika dunia tidak pernah melihat atau menyukainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!