Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Salah Alamat
"MATI KAU, PUTRI S-IALAN—!"
BRAKK!
Assasin dari faksi Viper itu tidak pernah membayangkan bahwa target yang seharusnya adalah seorang gadis rapuh, ternyata memiliki kepadatan tubuh layaknya dinding kastil. Belati peraknya yang dilapisi racun kelumpuhan terhenti tepat di atas permukaan liat Leather Armor cokelat tua. Getaran benturan itu merambat naik ke pangkal lengannya, membuat tulang pergelangan tangannya berderit retak.
Thud! ngek... ngek... ngek...
Pandangan assasin itu perlahan naik. Di balik kabut asap sisa energi altar, ia tidak menemukan mata hijau ketakutan sang putri. Sebaliknya, ia bertemu dengan sepasang mata tajam milik Scwartz yang penuh amarah.
"Putri?" Scwartz mendengus, suaranya terdengar seperti gesekan logam di atas batu. "Matamu buta ya?! Apa aku terlihat seperti seorang gadis?! Lihat baik baik!!! Apa pakaianku terlihat seperti gaun sutra, hah?!"
Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Scwartz mencengkeram wajah assasin itu dengan telapak tangannya yang besar. Dengan satu sentakan brutal, ia menghantamkan kepala assasin itu ke akar pohon raksasa di sampingnya. Bunyi krek yang tajam menggema, disusul tubuh yang merosot lemas tak bernyawa.
"BODOH!! KAMU SALAH SASARAN!! ITU BUKAN PUTRI!! ITU MONSTER HUTAN PRIMORDIAL AETHELGARD!!!" teriak seorang pengintai dari kelompok Night-Claw Shadows yang bertengger di dahan pohon.
"Abaikan si bodoh itu! Formasi melingkar! Ambil kepala target di belakangnya!" perintah pemimpin Viper’s Fang yang baru saja muncul dari balik semak.
Bam! kesunyian Hutan Primordial pecah berkeping-keping. Dari segala penjuru, bayangan-bayangan hitam bermunculan. Puluhan assasin dari dua kelompok besar dunia bawah—Viper’s Fang yang ahli dalam serangan dadakan dan Night-Claw Shadows yang terdiri dari para Beastkin lincah—mengepung area altar. Mereka datang bukan sebagai pembunuh bayaran biasa, melainkan pasukan elit yang siap membakar hutan demi reputasi mereka.
"Elder Elron," Scwartz menarik pedang satu tangannya yang ramping namun berat. Scwartz terlihat jauh lebih mengancam; otot-otot lengannya yang kencang terlihat jelas di bawah cahaya neon bunga hutan. "Sepertinya mereka tidak mengerti arti kata suci yang dijunjung ras kita."
Elder Elron, sang Tetua Elf, berdiri tegak dengan mata hijau yang berpendar terang. Ia tidak membawa pedang, hanya sebuah tongkat kayu kuno yang berukirkan rune-rune suci. "Mereka tidak hanya melanggar batas wilayah, Scwartz. Mereka membawa aroma busuk ke tempat suci di mana sang gadis suci baru saja kembali. Hutan Primordial Aethelgard... tidak akan memaafkan mereka."
Elder Elron menghentakkan tongkatnya ke tanah. BOOM!
Gelombang energi hijau menyapu lantai hutan. Seketika, Hutan Primordial seolah terbangun dari tidurnya yang panjang. Tanaman merambat yang tadinya hanya menjadi hiasan altar, tiba-tiba bergerak seperti cambuk berduri. Seorang assasin Catkin yang sedang meluncur di udara terkejut saat dahan pohon di depannya tiba-tiba melilit pinggangnya, lalu membanting tubuhnya ke batu altar dengan kekuatan yang menghancurkan tulang.
"AAARGHH! TANAMAN INI HIDUP!"
Pertempuran menjadi kacau. Scwartz melesat masuk ke tengah formasi Viper’s Fang. ia bergerak lincah seringan kapas di antara pepohonan. Panahnya melesat tajam menyambar leher seorang assasin, lalu dalam satu putaran tubuh, tumitnya menghantam rahang assasin lainnya hingga gigi-giginya bertaburan di tanah.
Scwartz merunduk, menghindari hujan belati beracun dari atas pohon, sementara di saat yang sama, akar-akar pohon raksasa mencuat dari tanah untuk menangkap kaki para penyerang. Itu adalah pemandangan yang mengerikan: koordinasi antara ksatria elit dan amukan alam para Elf. Para assasin yang tadinya sombong kini terjebak dalam jebakan maut yang mereka buat sendiri.
Beberapa meter di belakang garis depan yang berdarah, suasana terasa sangat berbeda.
Aruna masih berada dalam pelukan Asher. Tubuhnya dan kepalanya masih terasa begitu berat. Setiap kali ia mencoba memfokuskan pandangan pada pertempuran di depannya, kilasan layar laptop, kode-kode Project: Fate Breaker, dan wajah ibunya masih berputar-putar di benaknya.
Asher berdiri disampingnya seperti sebuah benteng yang tak tergoyahkan. Meski dadanya telanjang dengan perban yang kini mulai merembeskan cairan merah karena gerakannya yang menopang Aruna, ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Tangannya yang besar melingkar erat di pinggang Aruna, menekan tubuh gadis itu ke dadanya agar tidak terjatuh.
"Jangan melihat, Putri," bisik Asher, suaranya serak namun penuh wibawa. Ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk menutupi pemandangan brutal di depan mereka. "Fokuslah pada napasmu. Biarkan Scwartz membersihkan sampah-sampah ini."
Asher memegang pedang Solis-Aeterna dengan tangan kiri. Meski ia tidak mengayunkannya, aura keemasan dari pedang suci itu menyelimuti mereka berdua, menciptakan gelembung ketenangan di tengah badai teriakan dan dentingan logam. Sesekali, seorang assasin mencoba menyelinap melewati Scwartz, namun hanya dengan satu tatapan tajam dari mata biru Asher yang berkilat dingin, nyali assasin itu mendadak ciut sebelum akhirnya habis dilahap akar-akar hutan.
Aruna mendongak kecil, menatap rahang tegas Asher yang mengeras karena menahan sakit dan amarah. "Asher... lukamu..." gumam Aruna lemah, jarinya yang gemetar menyentuh perban di bahu Asher.
"aku baik baik saja" sahut Asher tanpa mengalihkan pandangan dari medan tempur 'Dibanding rasa takutku saat melihatmu memudar tadi, Ini bukan apa-apa'. Pelukannya semakin erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Aruna akan kembali menghilang ke dunia asing yang tak bisa ia jangkau.
Di garis depan, jumlah assasin mulai menyusut drastis. Pemimpin Viper’s Fang terengah-engah, melihat separuh pasukannya tergantung terbalik di dahan pohon, dililit oleh tanaman berduri yang menghisap mana mereka.
"S-sialan!! Yang kita serang seharusnya cuma seorang target lemah!! Kenapa kita jadi menyerang seluruh Hutan Primordial?!" teriaknya panik.
Scwartz berdiri di tengah genangan d4rah musuhnya, menyeka bilah pedangnya dengan kain cadar asasin yang baru saja ia kalahkan. Ia menatap sisa-sisa penyerang dengan senyum miring yang menyeramkan.
"Kalian benar benar memilih target yang salah," kata Scwartz sambil menunjuk ke arah Asher dan Aruna dengan dagunya. "Dan untuk itu, aku tidak akan membiarkan kalian pergi dengan kepala utuh."
Pertempuran berlanjut dengan lebih sadis. Anak panah perak para penjaga Elf yang bersembunyi di kegelapan mulai menghujani para assasin yang mencoba melarikan diri. Hutan Primordial tidak memberikan jalan pulang bagi mereka yang datang dengan niat membunuh sang Putri yang baru saja 'pulang kembali'.
"A-AAHHHH..." Pemimpin Viper’s Fang gemetar, kakinya lemas saat melihat Scwartz melangkah maju melewati tumpukan tubuh anak buahnya yang tak lagi bergerak. Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang berlumuran d4rah. Ia merogoh sesuatu dari balik saku rahasia di pinggangnya.
"Jika aku tidak bisa mengambil kepalamu, maka aku akan memastikan tempat ini menjadi kuburanmu, Putri!"
Sebuah kristal hitam pekat dilemparkan ke udara. PRANG!
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya