"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Harga Sebuah Nyawa
Lantai rumah sakit yang putih bersih itu terasa seperti hamparan es yang membekukan telapak kaki Tian. Ia berdiri mematung, mendekap tubuh Mega yang basah kuyup, sementara Adrian berdiri di sampingnya dengan keangkuhan yang nyata. Bau obat-obatan yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma parfum mahal Adrian yang seolah mengejek bau keringat dan air hujan dari tubuh Tian.
"Ini uang mukanya. Lakukan yang terbaik untuk wanita ini," ucap Adrian dengan nada memerintah kepada petugas administrasi. Ia melemparkan beberapa lembar uang seratus ribu ke meja seolah itu hanyalah sampah kertas.
Petugas itu segera berubah ramah. "Baik, Pak. Perawat, segera bawa brankar ke sini!"
Tian merasa dunianya berputar. Saat brankar datang dan tangan-tangan perawat mulai mengambil alih tubuh Mega dari dekapannya, ia merasa separuh nyawanya ikut ditarik paksa. Ia ingin berteriak bahwa ia adalah suaminya, bahwa ia yang berhak menjaga Mega. Namun, suara itu tertahan di tenggorokan yang tercekat. Ia sadar, di tempat ini, suara uang jauh lebih nyaring daripada suara cinta.
"Tian, lihat dirimu," Adrian mendekat, berbisik tepat di telinga Tian saat Mega didorong masuk ke ruang tindakan. "Kau bahkan tidak bisa membayar sewa taksi. Bagaimana kau bisa bermimpi menjaga mutiara seperti Mega? Hari ini aku membayarnya, tapi ingat, tidak ada yang gratis di dunia ini."
Tian mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Aku akan mengganti setiap rupiahmu, Adrian. Jangan pernah merasa kau memiliki hak atas istriku."
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang meremehkan. "Dengan apa? Dengan uang hasil narik ojekmu itu? Butuh berapa tahun bagimu untuk mengumpulkan biaya operasi jika ternyata Mega butuh tindakan serius? Jangan egois. Jika kau mencintainya, lepaskan dia. Biarkan dia hidup layak denganku, bukan mati perlahan bersamamu."
Adrian melenggang pergi menuju ruang tunggu VIP, meninggalkan Tian yang berdiri gemetar di tengah koridor yang ramai. Tian tidak punya waktu untuk melayani amarahnya. Ia berlari menuju pintu ruang tindakan, namun seorang perawat menghentikannya.
"Maaf, Pak. Anda harus menunggu di luar. Dokter sedang melakukan pemeriksaan awal," ucap perawat itu tegas.
Tian terduduk di kursi plastik yang dingin. Ia menunduk, menatap tetesan air dari ujung bajunya yang membasahi lantai. Pikirannya melayang pada janji sucinya di depan altar tiga tahun lalu. Saat itu, ia berjanji akan memberikan dunia pada Mega. Namun kenyataannya, ia bahkan tidak bisa memberikan selembar selimut hangat di saat istrinya menggigil kedinginan.
Satu jam berlalu seperti satu abad. Setiap kali pintu ruang tindakan terbuka, jantung Tian seolah berhenti berdetak. Hingga akhirnya, seorang dokter paruh baya dengan gurat wajah lelah keluar sambil melepas maskernya.
"Keluarga Ibu Mega?" tanya dokter itu.
Tian langsung berdiri tegak. "Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?"
Dokter itu menghela napas panjang, sebuah isyarat yang selalu ditakuti oleh siapa pun di rumah sakit. "Istri Anda mengalami kelelahan ekstrem dan malnutrisi yang cukup parah. Namun, itu bukan masalah utamanya. Dari hasil pemeriksaan cepat, ada indikasi gangguan fungsi ginjal yang sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Kita harus segera melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan kemungkinan prosedur cuci darah darurat."
Lutut Tian terasa lemas. Malnutrisi? Ia teringat bagaimana Mega selalu menyisihkan bagian lauknya untuk Tian dengan alasan "sedang tidak nafsu makan". Ternyata selama ini, istrinya kelaparan demi memastikannya cukup makan untuk bekerja.
"Berapa... berapa biayanya, Dok?" tanya Tian dengan suara bergetar.
"Untuk tahap awal dan observasi di ruang intensif, Anda harus menyiapkan dana sekitar lima belas sampai dua puluh juta rupiah. Itu belum termasuk biaya tindakan jika kondisinya memburuk," jelas dokter itu tanpa ekspresi.
Angka itu terdengar seperti petir di siang bolong bagi Tian. Lima belas juta? Baginya, uang itu setara dengan tabungan sepuluh tahun yang tak pernah ia miliki.
Di sudut koridor, ia melihat ibu mertuanya, Dewi, baru saja sampai dengan wajah berapi-api. Tanpa peringatan, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tian. Plak!
"Puas kau sekarang?!" teriak Dewi histeris. "Sudah kubilang kau akan membunuhnya! Anakku sakit karena hidup melarat bersamamu! Jika terjadi sesuatu pada Mega, aku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara!"
Tian tidak membalas. Ia menerima makian itu sebagai cambuk bagi dirinya sendiri. Ia memang bersalah. Namun, ia tidak boleh menyerah sekarang.
Tian melangkah keluar dari rumah sakit dengan tatapan kosong namun penuh tekad. Ia harus mendapatkan uang itu malam ini juga. Pikirannya tertuju pada satu orang. Seseorang dari masa lalunya yang ia janjikan tidak akan pernah ia hubungi lagi. Seorang pria yang menjalankan bisnis "arena berdarah" di pinggiran kota.
Tian merogoh kantongnya, menemukan sebuah kartu nama yang sudah kumal di balik lipatan baju batiknya yang basah. 'Bara - Arena Petarung'.
Ia berjalan menembus hujan yang semakin lebat, menuju sebuah gudang tua di ujung jalan buntu. Di sana, suara sorak-sorai kasar dan bau keringat menyambutnya.
"Aku butuh uang. Lima belas juta. Malam ini juga," ucap Tian saat berdiri di depan seorang pria bertato macan di lehernya.
Pria bernama Bara itu menoleh, menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu tersenyum menyeringai. "Tian 'Sang Macan' sudah kembali? Aku pikir kau sudah pensiun jadi budak cinta. Lima belas juta itu mudah, tapi lawannya malam ini adalah 'Si Jagal' dari Utara. Dia tidak pernah membiarkan lawannya keluar dari ring dalam keadaan bernapas. Kau yakin?"
Tian menatap tangannya yang gemetar, lalu membayangkan wajah Mega yang pucat di ranjang rumah sakit.
"Siapkan ringnya," jawab Tian dingin.
Tian melangkah masuk ke dalam ring yang dikelilingi pagar kawat berduri. Lawannya, seorang raksasa dengan bekas luka di sekujur tubuh, menatapnya dengan nafsu membunuh. Saat wasit mulai berhitung, ponsel di saku celana Tian yang dititipkan di pinggir ring bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor rumah sakit: "Pasien Mega kritis, detak jantung menurun drastis. Segera kembali ke RS!" Namun, di depan Tian, tinju raksasa itu sudah melesat tepat ke arah wajahnya. Apakah Tian akan tumbang di detik pertama atau mampu bertahan demi nyawa istrinya?
Tian merasakan dunianya seolah terbelah. Di satu sisi, monitor di ruang ICU mungkin sedang menjeritkan suara kematian yang memanggil nyawa Mega, namun di sisi lain, maut dalam wujud manusia raksasa sedang berdiri hanya tiga langkah di hadapannya. Setiap embusan napas sang lawan menebarkan aroma darah dan logam, sebuah peringatan bahwa ring ini tidak mengenal belas kasihan.
"Kau melamun, Anak Muda? Itu kesalahan terakhirmu!" geram Si Jagal dengan suara parau yang menggetarkan dada.
Tian tidak menghindar. Ia justru menutup mata sejenak, membiarkan bayangan senyum Mega yang memudar menjadi satu-satunya bahan bakar dalam nadinya. Saat matanya terbuka, kilat kesedihan itu telah berganti menjadi api kemarahan yang dingin. Ia tidak lagi bertarung untuk gelar atau pujian; ia bertarung untuk mencuri kembali nyawa istrinya dari tangan takdir yang kejam.
Penonton bersorak gila saat tinju pertama mendarat telak di tulang rusuk Tian, menimbulkan bunyi retakan yang mengerikan. Namun, Tian tidak tumbang. Ia hanya bergeser sedikit, menahan rasa sakit yang menusuk paru-parunya, lalu membalas dengan tatapan yang membuat Si Jagal tersentak. Di mata Tian, tidak ada lagi rasa takut mati, karena baginya, hidup tanpa Mega adalah kematian yang jauh lebih menyakitkan daripada hantaman beton sekalipun.
"Jika aku harus hancur malam ini," bisik Tian di tengah riuh rendah teriakan taruhan, "maka aku akan pastikan kau hancur bersamaku."
Darah mulai merembes dari sudut bibirnya, menetes ke lantai ring yang kotor. Di saat yang sama, ponselnya kembali bergetar di kejauhan, menandakan panggilan darurat kedua dari rumah sakit yang tak sempat ia angkat. Waktu sedang mengejarnya, dan setiap detik yang ia habiskan di ring ini adalah detak jantung Mega yang berharga.
Lanjut bab 3...