NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Wah apakah kita harus merayakan akhirnya jelita punya pacar." Celetuk Dinda dengan wajah tanpa dosa.

Ira menoleh ke arah Dinda dengan tatapan tidak percaya, sementara Jelita hanya bisa ternganga mendengar celetukan sahabatnya itu. Di tengah suasana gedung tua yang masih menyisakan aura dingin dan mencekam, Dinda justru sempat-sempatnya berpikir untuk berpesta.

​"Merayakan?! Dinda, ini bukan pacar biasa yang bisa kamu ajak makan seblak atau double date di kafe!" seru Ira sambil memijat pelipisnya yang pening. "Sahabatmu ini baru saja menandatangani kontrak jiwa dengan penguasa kegelapan, dan kamu malah terpikir untuk merayakannya?"

​"Ya habisnya mau bagaimana lagi, Ira?" bela Dinda sambil merapikan pakaiannya yang sudah tidak berbentuk. "Daripada kita terus-terusan menangis ketakutan, lebih baik kita ambil sisi positifnya. Lihat Jelita, dia sekarang punya pelindung paling kuat dan paling tampan. Tidak akan ada laki-laki di kampus ini yang berani macam-macam dengannya!"

​Jelita mencoba berdiri dengan bantuan Ira. Ia melihat pergelangan tangannya di mana gelang hitam itu kini tampak berkilau dengan cara yang elegan, seolah-olah memang diciptakan untuk kulitnya.

​"Aku tidak tahu apakah ini harus dirayakan, Dinda," bisik Jelita parau. "Tapi setidaknya, aku merasa... dia benar-benar tidak akan menyakiti kalian lagi."

Dinda tetap pada pendiriannya. Ia menggandeng tangan Jelita dan Ira untuk keluar dari gedung itu. "Pokoknya, besok kita harus beli es krim cokelat yang paling besar! Kita anggap saja itu perayaan karena kita bertiga masih hidup, dan perayaan karena Jelita resmi jadi 'Ratu' di gedung dekan ini."

​Ira menghela napas panjang, akhirnya ia menyerah dengan sifat optimis Dinda yang absurd. "Terserah kamu, Dinda. Tapi ingat, kalau besok pagi Arjuna tiba-tiba muncul di kamarmu karena kamu terlalu berisik, jangan panggil-panggil aku ya!"

​"Eh! Kalau dia muncul di kamarku dan membawa teman-temannya yang tampan tadi, aku malah berterima kasih, Ira!" celetuk Dinda yang langsung mendapat cubitan di lengannya dari Ira.

Saat mereka berjalan keluar menuju jalan raya, matahari mulai menampakkan semburat merah di ufuk timur. Fajar telah tiba, dan sesuai janji, aura Arjuna memudar namun tetap terasa menjaga Jelita dari kejauhan.

​"Ingat," bisik Jelita saat mereka akan berpisah menuju rumah masing-masing. "Orang tuaku tidak boleh tahu soal Arjuna. Aku akan bilang tanda di leherku ini karena alergi atau digigit serangga besar saat kita tersesat semalam."

​"Serangga besar bernama Pangeran Arjuna, ya?" goda Dinda sambil nyengir.

​Ira menatap Jelita dengan serius sebelum naik ke motornya.

"Jel, hati-hati. Perjanjian ini baru dimulai. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi malam nanti saat dia kembali menjemputmu."

​Jelita mengangguk pelan. Ia menyentuh lehernya yang kini memiliki ukiran emas abadi. Di dalam hatinya, ada rasa takut yang tersisa, namun entah kenapa, ada juga rasa rindu yang mulai tumbuh untuk sosok dingin yang menyebutnya "Ratu Kecil".

Kini mereka pulang ke rumah masing-masing.

Sekitar tiga puluh menit akhirnya Jelita sampai di halaman rumahnya.

"Kita pamit pulang ya Jel! Ingat kalau ada apa-apa hubungi kami, kamu tidak boleh melakukan apa pun sendirian ok." Ujar Ira memberi semangat.

"Iya betul apa kata ira! dan ya katakan jika arjuna nanti malam main kerumah kamu, bilang padanya aku juga menyukai pengawal yang dia utus waktu itu saat kami mencoba mengejermu." Sambung Dinda yang otaknya sudah tergeser akibat ketakutan.

Ira dan Jelita hanya bisa saling pandang mendengar ucapan Dinda yang benar-benar tidak tahu situasi itu. Jelita hanya tersenyum kecut, tak habis pikir dengan sahabatnya yang masih sempat-sempatnya memikirkan hantu tampan di tengah situasi hidup dan mati ini.

​"Dinda! Kamu ini benar-benar ya!" Ira geleng-geleng kepala"Ayo pulang!" sambil menarik gas motornya.

Jelita melambaikan tangan sampai motor mereka menghilang di tikungan jalan. Suasana rumahnya masih tampak sepi, hanya ada lampu teras yang masih menyala. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia melangkah masuk, sambil terus mengeratkan jaket untuk menutupi tanda emas di lehernya.

Begitu pintu terbuka, Jelita langsung berhadapan dengan ibunya, Diana, yang sudah berdiri di ruang tamu dengan wajah cemas bercampur curiga.

​"Jelita! Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang pagi begini? Ibu dan Ayah telepon berkali-kali tidak diangkat!" cecar Diana sambil mendekat dan memegang kedua bahu Jelita.

​Jelita menunduk, mencoba mengatur napasnya. "Maaf, Bu. Semalam kami... kami mengerjakan tugas di rumah Ira lalu ketiduran. Ponsel Jelita mati."

​"Lalu kenapa bajumu kotor begini? Dan itu... lehermu kenapa?" Mata Diana yang tajam mulai menyadari ada yang aneh.

​Jelita tersentak, ia spontan menutup lehernya dengan tangan. "Ini... ini cuma alergi, Bu! Semalam di rumah Ira banyak nyamuk dan serangga besar, Jelita gatal-gatal jadi merah begini."

​Diana mendekat, mencoba menyibak tangan Jelita. "Alergi kok sampai begini merahnya? Ini seperti..."

Tiba-tiba, suhu di ruang tamu itu turun drastis. Diana bergidik, ia mengusap lengannya yang tiba-tiba merinding. Di saat yang sama, vas bunga di atas meja bergeser sedikit dengan sendirinya, mengalihkan perhatian Diana dari leher Jelita.

​"Lho, kok tiba-tiba dingin sekali? AC-nya mati padahal," gumam Diana bingung.

​Jelita tahu itu adalah ulah Arjuna. Pria itu seolah tidak rela Jelita disudutkan, atau mungkin ia sedang merasa posesif karena 'miliknya' sedang diinterogasi. Gelang di tangan Jelita berdenyut hangat, memberikan sinyal ketenangan.

​"Jelita capek, Bu. Jelita mau mandi dan istirahat dulu," ucap Jelita cepat-cepat melarikan diri ke kamarnya sebelum ibunya bertanya lebih jauh.

​Di dalam kamar, Jelita mengunci pintu dan langsung luruh di balik pintu. Ia menyentuh tanda emas di lehernya yang kini terlihat sangat cantik di depan cermin. Tak lama, sebuah bisikan dingin kembali memenuhi ruangan yang tertutup itu.

​"Kau pandai berbohong pada ibumu, Ratu Kecilku..."

​Jelita tersentak melihat bayangan Arjuna samar-samar muncul di balik gorden kamarnya yang tertiup angin, meskipun hari sudah terang. Sosoknya tidak utuh, hanya berupa kabut hitam yang membentuk siluet pria gagah.

​"Istirahatlah. Simpan energimu, karena malam nanti aku akan menjemputmu untuk penobatanmu yang sebenarnya."

Jelita hanya pasrah kini ia memilih untuk membersihkan diri, setelahnya ia ingin istirahat sejenak sebelum menghadapi Arjuna kembali.

Setelah pintu kamar terkunci rapat, Jelita melepas jaket dan pakaiannya yang terasa kotor oleh debu gedung tua itu. Di bawah kucuran air shower yang hangat, ia mencoba meluruhkan segala ketegangan yang menumpuk di pundaknya.

​Namun, air hangat itu seolah tidak mampu menyentuh hawa dingin yang mengakar di lehernya. Setiap kali jemarinya menyentuh tanda emas itu, rasa berdenyut yang aneh kembali muncul, mengirimkan getaran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Jelita menatap bayangan dirinya di cermin kamar mandi yang beruap: tanda itu tidak memudar, justru terlihat semakin berkilau, seolah-olah ia memang terlahir untuk memakai "hiasan" gaib tersebut.

1
Blueberry Solenne
Di ratukan sama makhluk halus, belum tentu juga di cintai ugal-ugalan sama manusia, 😁
Wida_Ast Jcy
Apakah jelita akan cinta nanti nya dengan Arjuna thor. wah dah mulai baper ni dianya
CACASTAR
seketika kulihat mataku di kaca, mata hazel itu yang seperti apa, indah, bening dan berbinar-binar bukan
Jing_Jing22: Haha/Facepalm/ sampai segitunya kak! Mata hazel itu unik, Kak. Bukan cuma satu warna, tapi campuran hijau, cokelat, dan emas. Jadi kalau kena cahaya matahari, memang kelihatan sangat berbinar dan bening!
total 1 replies
studibivalvia
pamer dada mulu si arjuna ini
Stanalise (Deep)🖌️
Posesif sekali posisinya, jel🤭 Apa kamu gak risih. Kamu ini beneran suka juga sama si Juna ternyata ya.
Indira Mr
Baru tulisan satu kalimat Jelita, belum dijelaskan 🤣
Indira Mr
Bingungkan pak broto.. 🤭
Indira Mr
visual hantunya tampan 🥰🥰
arunika25
ada apa ya dengan malam ini?🤭
arunika25
ikut merinding ini gara-gara ngehalu🤭
Greta Ela🦋🌺
Hantunya bisa dihantam gak thor?
Greta Ela🦋🌺
Emangnya manusia bisa tembus pandang kayak kau?🙄
Greta Ela🦋🌺
Wahai hantu arjuna, lebih baik kau cari sama2 yang hantu juga. Masa kau ganggu manusia ihhhh☺️
Greta Ela🦋🌺
Jelita kok gak mau ngelawan sih. Apa dia juga suka sama hantu itu😭
Stanalise (Deep)🖌️
The mytch satu ini main nyosor aja, sabar woi...
Stanalise (Deep)🖌️
/Sob/ Baru baca juga udah gini suguhannya
Rara Ardani
ya ga ama sama ira tidak apa2 daripada sama dinda yang lebay
Mingyu gf😘
jangan jelita jangann
Mingyu gf😘
Arjuna hanya ingin membalas dendamnya
Wida_Ast Jcy
sampai kapan ya jelita harus begini thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!