NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Aku melangkah cepat membelah lobi kantor, mengabaikan debaran jantung yang tak beraturan setelah bisikan Arlan di kafe tadi. "Nggak ada hubungan apa-apa lagi," katanya? Lucu sekali. Pria itu pikir aku masih gadis lugu yang bisa dikenyangkan dengan bualan murah.

Aku langsung menuju lantai 15 dan mengetuk pintu ruangan Pak Bram.

"Masuk!" suara berat Pak Bram menyahut dari dalam.

Aku mengatur napas, memasang topeng ketenangan yang sempurna sebelum memutar kenop pintu. "Bapak memanggil saya? Arlan bilang ada revisi mendadak untuk presentasi sore ini."

Pak Bram mendongak dari tumpukan berkasnya, kacamatanya bertengger di ujung hidung. "Ah, Rania. Iya, duduk dulu. Pihak klien dari Vantara Group memajukan jadwal pertemuan jadi jam empat sore ini. Mereka minta tambahan detail alokasi anggaran yang lebih spesifik."

Aku mengangguk profesional. "Saya sudah menyiapkan cadangannya, Pak. Saya hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk merapikan tabelnya."

"Bagus. Itu kenapa saya suka kerjamu, Ran. Selalu selangkah di depan," Pak Bram tersenyum puas, lalu raut wajahnya sedikit berubah. "Oh ya, soal Arlan... bagaimana menurutmu kinerjanya sejauh ini? Dia punya rekam jejak bagus di cabang Jogja, tapi saya ingin tahu bagaimana dia beradaptasi di timmu."

Aku terdiam sejenak. Jemariku saling bertaut di atas pangkuan. "Dia cukup kompeten secara teknis, Pak. Namun, saya harap dia bisa lebih fokus pada pekerjaan dan memisahkan urusan pribadi saat berada di lingkungan kantor."

Pak Bram mengerutkan kening, tampak sedikit tertarik. "Urusan pribadi? Apa ada masalah?"

"Tidak ada yang tidak bisa saya tangani, Pak. Saya hanya memastikan tim saya tetap solid dan profesional," jawabku diplomatis. Aku tidak ingin terlihat seperti wanita pendendam yang mencampuradukkan emosi dengan karier. Aku akan menghancurkannya secara elegan jika dia berani melewati batas.

"Baiklah. Kalau begitu, tolong koordinasikan dengan Arlan. Dia yang memegang data mentah dari cabang Jogja yang diminta klien. Kalian harus kompak sore ini."

"Baik, Pak. Saya permisi."

Aku keluar dari ruangan Pak Bram dengan perasaan berat. Kompak? Dengan Arlan? Takdir benar-benar sedang mengujiku.

Saat aku kembali ke kubikel tim, aku melihat Arlan sudah berdiri di depan meja kerjaku. Dia memegang sebuah map biru dan beberapa lembar kertas. Wajahnya tampak serius, tidak ada lagi jejak tatapan memohon seperti di kafe tadi.

"Ini data tambahan yang diminta Pak Bram, Bu Rania. Saya sudah memisahkan poin-poin krusialnya agar Ibu lebih mudah memasukkannya ke presentasi utama," ucapnya dengan suara formal.

Aku menerima map itu tanpa menyentuh tangannya. "Terima kasih. Kembali ke mejamu."

"Ran..." dia berbisik pelan saat rekan kerja yang lain sedang sibuk menelepon. "Soal Siska pagi ini, aku serius. Dia hanya datang untuk—"

"Arlan," aku memotongnya tanpa menoleh, mataku fokus menatap layar monitor. "Siapkan dirimu untuk jam empat sore ini. Jika presentasi ini gagal karena kamu tidak fokus, saya tidak akan segan mengeluarkanmu dari proyek ini. Mengerti?"

Arlan terdiam. Aku bisa merasakan tatapannya yang tertuju pada punggungku selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menghela napas dan berjalan kembali ke kursinya.

Aku mulai mengetik dengan cepat. Jemariku menari di atas keyboard, berusaha menenggelamkan rasa mual dan sesak yang terus mencoba mencuat. Tiga tahun lalu aku menemani prosesnya, mendukung setiap langkahnya, hanya untuk dikhianati di garis finis. Sekarang, aku berada di posisi yang jauh di atasnya.

Aku tidak akan membiarkan bayang-bayangnya merusak momen keberhasilanku. Jika dia ingin bicara, dia harus melewati dinding es yang sudah aku bangun setinggi langit.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!