Naila tak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Dihujani fitnah dan kebencian dari keluarga mantan suaminya, ia menjadi orang asing di rumah yang dulu dianggap tempat pulang. Difitnah suami dan dikhianati adik sendiri. Luka batin bertubi-tubi dan pengkhianatan yang mendalam memaksanya bangkit menjadi sosok baru yang tegas, penuh perhitungan, dan siap membalas setiap luka yang pernah diterimanya.
Lima tahun berlalu, Naila kembali dengan wajah dan tekad yang berubah. Bukan lagi wanita lemah, ia kini hadir sebagai ancaman nyata yang mengguncang rumah tangga mantan suaminya. Dalam perjalanan membalas dendamnya, ia akan menguak rahasia-rahasia kelam dan menetapkan aturan baru, tidak ada yang boleh melecehkannya lagi.
Siapakah yang akan bertahan saat permainan balas dendam dimulai?
Bersiaplah menyelami kisah penuh emosi, intrik, dan kekuatan wanita yang tak tergoyahkan dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 TAMU TAK DIUNDANG
Naila tidak terpikir sejauh itu. Ia hanya menganggap ucapan Olivia sebagai candaan. Namun di tengah obrolan hangat mereka, tiba-tiba terdengar suara klakson dari luar. Suara itu begitu bising, diikuti oleh suara Bi Siti, asisten pribadi di rumah itu, yang tampaknya sedang berdebat dengan seseorang di depan.
“Siapa sich? Berisik sekali,” keluh Olivia kesal.
“Lihat, yuk!” ajak Naila.
“Memangnya kamu kuat berjalan?” tanya Olivia sambil menatapnya cemas.
Naila melempar candaan.
“Kamu pikir aku sekarat? Aku masih bisa berjalan, Liv. Ayo, lihat siapa yang datang. Sepertinya Bi Siti sedang bertengkar dengan seseorang,” sahut Naila.
“Ya, biasalah. Paling juga bertengkar dengan pembantu sebelah. Biasanya Bi Siti dan para pembantu itu suka memperebutkan Pak Joko, satpam kompleks!” jawab Olivia.
Mendengar itu, Naila langsung tertawa. Keduanya berjalan beriringan menuju halaman depan rumah Olivia. Namun, tawa itu segera memudar ketika Naila melihat seseorang yang tidak ia sangka akan datang.
“Buat apa kamu datang ke sini? Masih mau cari masalah?” tanya Olivia dengan nada tinggi.
“Entahlah, Non. Tadi saya tidak mengizinkan dia masuk, tapi dia malah membentak Bibi!” sahut Bi Siti.
“Aku bukan mau bicara dengannya! Jangan ikut campur!” seru perempuan itu.
Seseorang yang datang dan membuat keributan itu adalah Nadia. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan sikap sopan terhadap kakaknya sendiri. Bahkan yang membuat Naila tak habis pikir, Nadia datang ke tempat itu menggunakan mobil milik Naila mobil pemberian dari Naufal yang memang tidak sedang Naila bawa.
“Nai, sudah, tidak perlu ditanggapi. Ayo, kita masuk!” ajak Olivia.
“Heh, dasar perempuan pengecut! Aku mau bicara sebentar! Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, Naila!” bentak Nadia.
Naila merasa sesak. Bahkan adiknya kini berbicara begitu kasar, menggunakan kata “kamu” dan nada tinggi kepada kakaknya sendiri.
“Bicaralah dengan sopan. Aku lebih tua darimu! Dan aku ini kaka mu Nad. ” tegas Naila sambil menahan emosi.
Nadia yang berdiri di luar pagar tampak memutar bola matanya dengan malas. Jika bukan karena ketakutan bahwa suaminya akan kembali pada kakak kandungnya itu, tentu Nadia enggan menemui kakaknya lagi.
“Baiklah. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk berbicara empat mata. Sepuluh menit saja!” ucap Nadia.
Naila terdiam sejenak. Ia melirik Olivia sebelum akhirnya meminta Bi Siti untuk membukakan pagar rumah sahabatnya itu.
“Biarkan dia masuk, Bi,” ucap Naila, yang langsung dibalas anggukan mantap oleh Bi Siti.
“Aku akan mengawasinya, Naila. Berhati-hatilah dengan ular betina itu,” ujar Olivia memperingatkan.
Wanita itu duduk di teras, tidak jauh dari tempat duduk Naila dan Nadia saat ini. Di bawah payung besar dengan meja dan kursi tempat bersantai di halaman depan, keduanya duduk saling berhadapan, menatap satu sama lain.
Mereka adalah saudara kandung, terikat kuat dalam persaudaraan. Namun, saat ini Naila merasa bahwa Nadia adalah orang asing. Naila memperhatikan penampilan adiknya itu, yang mengenakan gaun panjang polos dengan pashmina yang hanya dililitkan seadanya. Ia tersenyum kecut pasti Naufal yang memintanya untuk mengenakan hijab dan pakaian tertutup.
“Kenapa? Gerah, ya?” tanya Naila ketika Nadia mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya.
“Baru sehari menjadi istri Mas Naufal, lumayan juga ada perubahan. Tapi kalau bisa, yang ditutup bukan hanya penampilanmu, tapi juga hatimu,” ujarnya dengan nada sarkastis.
“Cih, tidak perlu kamu sok tahu. Langsung ke intinya saja. Aku kemari untuk menanyakan satu hal. Apa ucapan Mbak Naila semalam? Apa kamu hamil?” tanya Nadia.
Naila mengangguk.
“Ya, aku hamil. Tapi kamu jangan khawatir, aku sudah keguguran. Tidak ada lagi pengikat apa pun antara aku dan Mas Naufal,” ucap Naila datar.
Nadia tertawa sinis.
“Hahaha… Baguslah. Jangan sampai Mbak datang lagi dan berusaha merebut Mas Naufal. Mbak akan tahu akibatnya!” ancam Nadia.
Naila menggelengkan kepala. Ia benar-benar tidak mengenali Nadia yang dulu. Wanita itu sudah berubah.
“Kenapa kamu tega melakukan ini Nad? Apa karena kamu menginginkan suamiku? Kenapa harus melakukan hal sekeji ini? Kamu memfitnahku, dan kamu yang menyebabkan Ayah kita meninggal dunia, Nad!” seru Naila dengan emosi tertahan.
“Cukup! Bukan karena aku Ayah meninggal. Kondisinya saja yang lemah. Ya, aku memang menginginkan Mas Naufal sejak dia memilih Mbak Naila untuk menjadi istrinya,” jawab Nadia tanpa rasa bersalah.
Naila kembali menggeleng pelan, matanya basah. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu. Nadia tidak memikirkan risiko yang timbul dari rencana jahatnya. Bukan hanya Naila yang hancur, melainkan juga keluarga mereka.
“Kenapa tidak sejak awal kamu mengatakan hal ini? Jika saja kamu jujur, mungkin Mbak akan mengalah saat itu. Kenapa kamu tega, Nadia? Kamu bukan hanya menghancurkan hidupku, tapi juga menghancurkan hidup Ibu. Sekarang, Ibu telah kehilangan separuh jiwanya. Dan semua itu karena kamu!”
Nada bicara Naila mulai meninggi. Ia tidak lagi mampu menoleransi sikap adiknya itu. Nadia sudah terlalu jauh, bahkan sampai membuat video palsu seolah-olah Naila adalah pelaku dalam video tersebut.
“Mau aku mengatakan sejak dulu ataupun sekarang, itu sama saja,” balas Nadia dengan dingin.
“Sama saja, Mbak. Tidak akan mengubah keadaan. Ayah dan yang lainnya selalu membanding-bandingkan kita. Kamu adalah anak kebanggaan mereka. Tapi aku…”
Nadia menghentikan kalimatnya, matanya mulai mengembun sebelum akhirnya air mata bercucuran membasahi wajahnya yang penuh riasan itu.
“Selama ini Mbak Naila selalu mendapatkan apa yang Mbak Naila mau. Mbak Naila lebih cantik dan lebih pintar. Semua orang memujimu. Bahkan Mas Naufal tidak pernah sekalipun melirikku. Dia juga yang menolak saat Ibu memintaku untuk menumpang di rumahmu daripada tinggal di kos. Mas Naufal terlalu alim, dia takut jika aku menggodanya. Tanpa dia sadari, kini dia masuk ke dalam perangkapku. Akhirnya, Mas Naufal menjadi milikku sepenuhnya!”
Di sela tangisnya, terdengar tawa penuh kemenangan dari Nadia. Jika kemarin Naila begitu berapi-api ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, kini semuanya telah berbeda. Ia bisa saja merekam percakapan mereka dan mengirimkannya kepada Naufal. Namun, Naila seolah telah mati rasa terhadap mantan suaminya itu.
Tepukan keras dari Naufal semalam sudah cukup menegaskan bahwa tidak ada lagi kepercayaan untuk Naila. Kini yang tersisa hanyalah kebencian dan dendam. Tidak ada sedikit pun keinginan dalam diri Naila untuk kembali kepada pria yang bahkan tidak lagi mempercayainya.
“Jadi sekarang, Apa maumu, Nadia? Bukankah kamu sudah mendapatkan segalanya?” tanya Naila sambil melipat kedua tangannya di dada.
Meskipun wajahnya terlihat pucat, Naila kini mampu menunjukkan sedikit ketegaran. Benar kata Olivia, hidupnya terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kesedihan. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi terpuruk. Ia tahu, hal itu hanya akan membuat Nadia semakin puas.
"Pergilah jauh dan jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapan kami lagi!” pinta Nadia dengan penuh kesombongan.
BERSAMBUNG...
🤣🤣 dodol si Nadia.
sebenernya naila anak kandung nya atau bukan sih kok bisa gitu seorang ibu ngomong gitu..
aku jadi kesel sama nadia dia kan adik nya masa setega itu, atau jangan jangan mereka adik kakak tiri