Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taring Every
"Setiap lembar uang yang keluar dari yayasan ini harus menjadi investasi, Every. Bukan sekadar bantuan sosial bagi mereka yang gagal memenuhi standar akademik."
Suara Axel Emmerson memecah keheningan ruang rapat yang dingin. Ia melempar berkas beasiswa ke tengah meja, tepat di hadapan Every yang duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat.
Every tidak menyentuh berkas itu. Ia justru menatap Axel dengan tatapan meremehkan. "Investasi? Jika ukuran investasi lo hanya angka di atas kertas, maka Emmerson bukan yayasan pendidikan, tapi pabrik mesin. Dan sejauh yang gue tahu, pabrik mesin nggak butuh Ketua BEM."
"Tapi kita butuh lulusan yang bisa langsung diserap perusahaan kelas kakap!" sahut salah satu anggota BEM pro-Emmerson, menyambar pembicaraan. "Kalau kriteria IPK kita turunkan demi 'kemanusiaan' seperti yang lo usulkan, akreditasi internasional kita yang jadi taruhannya, Every. Perusahaan nggak akan mau melirik lulusan kita lagi."
"Dengerin itu, Every," Axel menyeringai, melirik River yang berdiri di sudut ruangan sebagai kepala keamanan, tetap diam namun auranya mendominasi. "Lo mau menghancurkan reputasi yang dibangun kakek gue puluhan tahun cuma buat mahasiswa kurir yang nilainya nggak seberapa itu?"
Every terkekeh sinis, suara yang membuat seisi ruangan merinding. "Reputasi? wibawa itu dibangun dari kekuatan finansial dan kemanusiaan yang seimbang. Kalau Emmerson terlalu kaku untuk melihat potensi di balik kesulitan hidup seseorang, maka mungkin Emmerson sudah mulai kehilangan inovasinya."
"Dengarkan baik-baik. Gue sudah menyusun skema baru: 'Program Beasiswa Resilience'. Poin penilaian perjuangan hidup akan setara dengan IPK. Mahasiswa yang bekerja sambil kuliah punya daya tahan mental yang jauh lebih dibutuhkan perusahaan masa depan daripada kutu buku yang nggak pernah kena sinar matahari." tegas Every
"Gue nggak setuju!" wakil yayasan, seorang pria utusan ayah Axel, angkat bicara. "Itu subjektif. Tidak bisa diukur secara administratif. Kami menolak."
"Subjektif menurut kacamata lo yang terlalu tebal buat liat realita?" Every berdiri, matanya menyapu anggota BEM yang mulai berbisik-bisik. "Siapa yang pro dengan kriteria lama karena takut kehilangan kursi di perusahaan kakap? Silakan angkat tangan. Gue pengen tau berapa banyak pengecut di ruangan ini."
Beberapa anggota BEM menunduk, takut dengan tatapan tajam Every.
"ini sampah birokrasi!" hardik Dion melempar lembaran yang baru saja Racha berikan.
"Bisa kita bicara pakai logika dasar saja?" Every melipat tangan di depan dada, menatap jengah ke arah Dion, koordinator humas BEM yang dikenal sebagai 'penjilat' yayasan. "Dion, silakan, jelaskan kenapa proposal gue lo anggap sebagai sampah birokrasi."
Dion berdehem, merapikan dasinya yang kaku. "oke.. Bukan sampah, Every. Tapi coba pikirkan. Lulusan Emmerson itu dicari karena perfection. Kalau kita meloloskan Gibran—atau siapa pun yang punya IPK di bawah 3.0—perusahaan mitra seperti Emmerson Tech atau Global Finance bakal mempertanyakan kualitas filter kita. Lo mau tanggung jawab kalau tahun depan kuota magang kita dipotong?"
"Kualitas?" Every menaikkan sebelah alisnya. "Lo pikir kualitas cuma soal IPK? Gibran itu kerja 12 jam dan masih bisa dapet 2.9 di Teknik Elektro. Itu namanya efisiensi mental. Orang kayak dia nggak akan burnout cuma karena lembur dua jam di kantor, beda sama anak-anak titipan yayasan yang IPK-nya 4.0 tapi mentalnya kerupuk."
"Tapi sistem poin 'Resilience' lo itu absurd!" sahut Maya, anggota divisi pendidikan yang pro-Axel. "Gimana cara lo mengukur 'perjuangan hidup'? Pake air mata? Pake jumlah keringat? Itu nggak objektif, Every! Standar Emmerson itu angka. Angka nggak bisa bohong."
"Angka bisa dimanipulasi, Maya. Tapi daya tahan hidup? Enggak," balas Every tajam.
Axel tertawa hambar dari kursi seberang. "Every, Every... Lo terlalu idealis karena lo nggak pernah ngerasain sulitnya cari investor. Investor mau kepastian. Dan kepastian itu ada di nilai akademik. Lo mau bawa mahasiswa 'pejuang' ini ke depan jajaran direktur? Mereka bakal nanya, 'Kenapa nilai lo jelek?', bukan 'Berapa box paket yang lo anter semalem?'."
"Itu karena direktur yang lo maksud adalah orang-orang kolot kayak lo, Axel," Every memajukan tubuhnya, matanya menghujam Axel. "Dunia berubah. Emily di Zurich baru saja menutup kesepakatan dengan firma hukum yang justru mencari orang-orang dengan latar belakang sulit karena mereka punya grit. Kalau Emmerson nggak mau berubah, Emmerson bakal jadi museum."
"Lo bicara soal Emily lagi?" Axel mendengus. "Ini bukan Zurich, ini kampus gue."
"Dan gue adalah presiden mahasiswa di sini!" Every memukul meja dengan telapak tangannya, suaranya naik namun tetap terkontrol dengan elegan.
"Gue setuju sama Every!" Bimo, anggota BEM dari fakultas hukum, menggebrak meja. "Gue liat sendiri banyak temen kita yang pinter tapi putus kuliah cuma karena kurang 0,1 poin dari syarat beasiswa. Itu gila! Kita ini organisasi mahasiswa, bukan kaki tangan bankir!"
"Jaga mulut lo, Bimo!" bentak Dion. "Yayasan yang kasih kita gedung ini, kasih kita fasilitas. Kita berutang loyalitas pada standar mereka!"
"Gue nggak berutang apa pun selain pada kebenaran!" Every memotong dengan suara yang dingin namun menggelegar. "Recha, bacakan data mahasiswa yang kita coret semester lalu."
Recha membuka map dengan tangan gemetar. "Ada... 42 mahasiswa. 30 di antaranya memiliki IPK 3.1 sampai 3.2. Sebelas dari mereka sekarang terancam putus kuliah, dan tiga sudah mulai bekerja full-time sebagai buruh kasar."
"Tiga puluh orang calon jenius lo buang ke jalanan cuma karena kurang 0,05 poin?" Every menoleh pada wakil yayasan. "Itu yang kalian sebut investasi? Itu namanya pemborosan talenta. Dan gue nggak akan biarin itu terjadi lagi di bawah kepemimpinan gue."
"Tapi Every, prosedur tetap harus lewat rapat pembina yayasan," ujar wakil yayasan dengan suara yang mulai menciut.
"Rapat pembina?" Every menyeringai arogan. "Bilang sama mereka, kalau proposal 'Resilience' ini nggak ditandatangani sore ini, gue akan bawa data ini ke media internasional. Gue akan kasih tahu dunia gimana Emmerson membuang talenta terbaiknya hanya demi angka semu. Gimana? Masih mau bicara soal reputasi, Axel?"
Axel berdiri, tangannya mengepal kuat di atas meja. "Lo bener-bener mau main api sama keluarga gue, Every Riana?"
"Gue nggak main api, Axel. Gue adalah apinya," Every ikut berdiri, merapikan blazernya dengan sangat tenang sementara seisi ruangan menahan napas. "Pilihannya cuma dua: Berubah sekarang, atau hancur perlahan karena kesombongan kalian sendiri."
"Every, lo terlalu arogan," desis Axel, ia ikut berdiri menantang Every. "Lo pikir lo bisa merombak sistem ini sendirian? Yayasan punya hak veto."
"Dan keluarga Riana punya hak untuk menarik seluruh dana hibah tekstil yang menyokong riset teknologi tekstil universitas ini," balas Every tanpa berkedip. "Mau tau apa yang terjadi kalau dana itu hilang? Laboratorium kalian tutup, dan peringkat inovasi dunia kalian terjun bebas dalam satu semester. Apa itu investasi yang lo maksud, Axel?"
Ruangan mendadak senyap. River, yang sedari tadi hanya mengamati, menyunggingkan senyum tipis. Ia menikmati bagaimana Every menggunakan taring keluarganya untuk mencabik-cabik birokrasi Emmerson.
"Jadi," Every merapikan blazernya, kembali duduk dengan ketenangan yang mematikan. "Kita bahas skema baru gue sekarang, atau kita bahas pengunduran diri massal donatur tetap yayasan ini?"
"Lo... lo ngancem yayasan?" wakil yayasan itu gagap.
"Gue nggak ngancem. Gue lagi edukasi kalian soal gimana cara kerja dunia bisnis yang sebenarnya," Every melirik Recha. "Recha, bagikan draf proposalnya. Siapa pun yang masih mau berdebat, pastikan argumen kalian lebih mahal daripada nilai saham keluarga gue."
Axel mengepalkan tangan di bawah meja, wajahnya merah padam. Ia tahu, sekali Every Riana mengeluarkan kartu nama keluarganya, argumen sekuat apa pun tentang "standar Emmerson" hanya akan terdengar seperti alasan yang lemah.