Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 | ANJING PELIHARAAN YANG BERHARGA
Pisau yang beradu dengan talenan kayu menjadi satu-satunya pemecah lengang yang tercipta di dapur restoran. Summer menambah kecepatan tangannya pada bawang bombai, mencincangnya halus. Genap di akhir gerakan, ia langsung memasukkan bawang bombai dan bawang putih cincang ke papan penggorengan, menumisnya.
Daging sapi giling menyusul masuk setelah bawang-bawangan dan potongan wortel mulai layu dan beraroma harum. Setelah itu, Summer menyibukkan diri dengan menyiapkan saus tomat yang dicampur oregano kering, basil segar yang dicincang halus, dan sedikit thyme kering. Ketika daging sudah berwarna cokelat keemasan, ia menuangkan saus tomat ke papan penggorengan.
Lasagna. Itu yang sedang ia masak. Sengaja Summer tidak memberi jeda, tangan dan pikirannya ia tumpahkan untuk menghasilkan lasagna layaknya sebuah mahakarya. Kulit lasagna tidak boleh terlalu lunak sedikit saja, susu dalam saus bechamel tidak boleh terlalu kental atau cair, bahkan ketika menyusun kulit lasagna ke dalam loyang posisinya harus sempurna dan rapi. Semua itu Summer lakukan agar tidak tercipta celah di kepalanya untuk memikirkan berbagai hal yang akan membuat dirinya terasa hina.
Tepat saat lasagna masuk ke dalam oven, suara langkah kaki yang semakin terdengar jelas membuat Summer menoleh ke arah pintu dapur. Tak lama setelah itu, sosok pria dengan kepala yang tertutup tudung hoodie hitam terlihat. Ia menghentikan langkah di ambang pintu yang terbuka, berdiam diri sambil menatap lurus pada Summer.
“Oh, kau datang lebih awal.” Summer menyambut riang, tersenyum lebar ke arahnya.
Denver mendengus, sebelum tangannya terangkat untuk melepaskan tudung hoodie. Barulah saat itu Summer bisa melihat wajahnya yang masam dengan jelas.
“Tidak perlu basa-basi. Katakan apa yang kau inginkan.”
Bahkan suaranya masih sama dinginnya seperti yang terakhir kali Summer ingat.
Summer berjalan ke arah wastafel, mencuci tangannya. “Kenapa harus buru-buru? Aku sedang memanggang lasagna. Masih menjadi makanan kesukaanmu, bukan?”
Dari rautnya, terlihat jelas jika Denver semakin jengkel. Gesturnya menunjukkan jika ia ingin segera enyah dari sana, tepatnya muak melihat Summer.
“Selera berubah seiring berjalannya waktu. Beberapa hal yang aku sukai di masa lalu, sekarang tidak terasa spesial lagi,” Denver menjawab tak acuh, bersedekap dengan pandangan yang menyapu dapur restoran.
Seulas seringaian terbit di bibir Summer sebelum ia berbalik, menyandarkan pinggangnya pada tepi wastafel. “Benar, selera memang berubah begitu cepat. Sesuatu yang dulu terlihat bergemerlapan, sekarang menjelma menjadi seonggok kesuraman yang tidak menarik. Aku bahkan bertanya-tanya bagaimana aku bisa sangat menyukainya dulu.”
Jemari Denver dalam lipatan tangan bergerak mengepal, tahu jika “sesuatu” yang dibicarakan Summer adalah dirinya.
“Kau tahu, Denver, di tahun pertama penjara, di jam-jam seperti ini aku biasanya sedang menempelkan lengan dan pipiku yang memar ke tembok untuk mendapat sensasi dingin. Luka dan memar kemarin bahkan belum sembuh, bibirku masih robek, tapi mereka tidak peduli, menghantam dan menendang tiap ada kesempatan.” Summer menatap sejurus pada Denver, masih dalam posisi bersandar pada wastafel. “Ketika merasa sekujur tubuhku remuk dan seperti ingin pingsan sebentar lagi, alih-alih memikirkan betapa menyakitkannya luka-luka itu, aku malah khawatir jika kau tidak akan menerimaku lagi jika kulitku tidak cantik, wajahku kusam.”
Sejenak, dapur diliputi keheningan. Denver bergeming di tempatnya berdiri, air mukanya menjadi kaku. Ada sekelumit, entahlah, mungkin iba atau penyesalan yang berkelebat di wajahnya.
“Kekerasan, diskriminasi, perundungan ekstrem—aku akan menyebutnya penganiayaan—pelecehan, dan penyimpangan seksual … ada banyak sekali hal yang menakutkan di sana. Kau lemah, tidak mampu bergabung dengan kelompok kuat, maka kau akan diinjak-injak sampai mati. Apa kau pernah memikirkan tentang ketakutan yang aku alami di tempat itu? Setiap hari aku ketakutan setengah mati, mengerahkan segenap tenaga untuk melawan saat sipir dan wanita-wanita sialan itu mencoba melakukan sesuatu terhadap tubuhku. Saat akhirnya aku bisa meloloskan diri, di hari selanjutnya mereka akan memukuliku sampai puas.
“Tempat itu neraka. Kau tahu berapa kali aku harus menyaksikan dengan mata telanjang wanita yang bunuh diri? Selagi ada kesempatan mereka akan melakukannya. Dan ketika melihat mereka dengan kaki yang melayang dan terkulai, atau cairan merah gelap yang menggenang, hanya ada satu hal yang muncul di benakku. ‘Ah, mungkin sebentar lagi aku juga akan begitu’. Kematian rasanya dekat sekali.”
Summer merenung pahit, potongan-potongan kenangan mengerikan itu kembali singgah di pikirannya dengan leluasa, berputar-putar, mengejek, mengingatkan Summer bahwa ia pernah dipandang setara kotoran.
“Yang paling lucu—atau menyedihkan—aku bisa bertahan karena kau. ‘Dia pasti akan datang besok’. Itu yang sering aku rapalkan saat kecewa kau tidak muncul di sepanjang hari, termenung seperti orang bodoh.” Summer menjatuhkan pandangannya pada lantai, tersenyum getir. “Aku selalu menunggumu, memberimu kesempatan, Denver. Sepatah kata maaf darimu sudah cukup untukku melupakan pengkhianatanmu, segala kesengsaraan yang aku alami di penjara. Namun, sampai akhir, kau tidak pernah datang, tidak ada penyesalan.”
Tawa hambar pelan Summer mengalun mengisi ruangan, seolah-olah ia sedang mengabarkan betapa luka menganga itu merayap untuk membunuhnya. Kepala Denver sedikit tertunduk, diam-diam membasahi bibirnya yang mendadak terasa kebas.
“Aku kehilangan segalanya, Denver. Mamaku selingkuh, lalu mati bunuh diri dengan segunung penyesalan. Papa depresi dan membenci segala hal termasuk putrinya sendiri, lalu dia menikah dan menciptakan neraka baru untukku. Saat aku merasa tidak ada lagi yang tersisa, saat aku merasa hidupku sudah mencapai ujungnya, kau datang. Mengulurkan tangan dan memberikan senyum paling teduh yang pernah kulihat. Aku mulai melihat harapan, melihat dunia baru, sehingga aku menjadi serakah dan melakukan segala cara agar kau tidak meninggalkanku seperti orang-orang itu.”
“Kau bukannya mencintaiku.” Denver akhirnya memaksa suaranya keluar, mengangkat wajah, dan mempertemukan tatapannya dengan Summer. “Kau hanya terobsesi denganku. Apa kau tahu betapa menyesakkannya kau dan obsesi itu? Kau memperlakukanku seperti anjing peliharaan yang berharga. Diberi makan, dirawat dengan penuh kasih sayang, tapi sebetulnya aku hanya hiburan untuk hari-harimu yang suram dan membosankan, bukan? Sejak awal, kau hanya menginginkanku sebagai mainan yang bisa menemanimu, sehingga kau tidak merasa sendirian lagi. Kau sama sekali tidak pernah mencintaiku.”
Keheningan dengan cepat merambat dengan cara yang janggal seusai Denver melontarkan kata terakhirnya dengan nada tajam dan penuh penekanan. Summer diam dengan mata mengerjap lambat sebelum akhirnya menegakkan punggungnya.
“Jadi selama ini kau berpikir begitu?” Summer tertawa sumbang. “Wah, aku bahkan kehilangan kata-kata sekarang. Tapi, apa kau pernah sekali saja memikirkan tentang betapa putus asanya aku saat itu? Bagaimana bisa kau semena-mena menilaiku sementara saat itu kau satu-satunya alasanku bertahan? Pemikiran tentang bunuh diri bersarang di kepalaku, menggumpal semakin pekat dan menyuruhku mati, Denver …. Setiap hari aku ingin mati.”
Tangan Summer meremas ujung baju di balik apron, berusaha mengendalikan diri dan menekan gejolak kemarahan.
“Sekarang … harapan itu benar-benar sudah musnah, tak tersisa barang setitik pun. Untuk itu, aku menggunakan dalih balas dendam agar terus hidup. Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan memiliki keberanian untuk bernapas esok hari.”
Denver merasakan pipinya menegang saat Summer beranjak dari tempatnya, berjalan ke arahnya. Mengambil jarak setengah meter, Summer berhenti, menyalurkan ketegangan yang seperti ingin membunuh Denver.
“Kau belum bilang ke Allura jika kau sudah bertemu denganku, bukan?” Summer sedikit mendongak menatap Denver.
Tidak ada jawaban. Namun, dari ekspresinya, Summer tahu Denver belum mengatakan pada wanita itu saat mereka bertemu secara rahasia agar Summer bisa leluasa berinteraksi dengan Archilles di acara sosial.
Tangan Summer bergerak terlipat di dada. “Kalau aku menyuruhmu pensiun sebagai aktor, apa kau akan melakukannya?”
Dalam sekejap, rahang Denver mengeras. Kebencian terpancar jelas di mata cokelatnya. “Aku lebih baik membunuhmu daripada harus kehilangan mimpi yang sudah susah payah aku perjuangkan. Kau tidak akan pernah bisa menghancurkan karierku.”
“Astaga, kenapa kau marah sekali? Aku hanya bercanda.” Summer tertawa renyah, mengibaskan tangan. “Menggunakan kasus pembunuhan Gabriel sudah tidak bisa, kau juga tidak mau menyerahkan mimpimu. Kalau begitu … bagaimana kalau kau mencari keburukan Allura? Jika tidak ada, kau bisa merangkai skenario, membuat jebakan untuk menciptakan sisi buruk itu, sehingga orang-orang akan meninggalkannya—”
“Kau sudah gila?” Denver melotot dengan gigi terkatup rapat.
Summer pura-pura memasang raut sedih dan kecewa. “Bahkan setelah tiga tahun, kau masih mau melindunginya? Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membalas kalian berdua jika semuanya tidak boleh?”
Denver mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memberat. “Tolong hentikan …. Kau bertingkah terlalu jauh.”
“Mana bisa aku berhenti begitu saja. Ini mulai menyenangkan, tahu.” Summer mengerutkan hidungnya jahil. “Baiklah, baiklah, aku tidak akan menyuruhmu menghancurkan hidup Allura. Tapi, karena tadi kau merasa aku memperlakukanmu seperti anjing, maka keinginanmu itu akan kuwujudkan sekarang.”
Summer maju selangkah, mengikis jarak di antara mereka, berbisik, “Seperti layaknya anjing yang patuh, kau akan datang jika kusuruh, pergi jika kuminta, bahkan kau harus melindungiku dengan segenap jiwamu, termasuk jika harus mengorbankan nyawamu sendiri. Mulai sekarang, aku harus menjadi orang yang paling penting buatmu. Tidak peduli jika kau sudah bersimbah darah dan kehilangan kakimu, kau harus selalu memastikan aku tidak terluka sedikit pun. Bagaimana? Kau setuju?”
Menatap senyum lebar Summer yang dipenuhi dengan kelicikan itu, Denver menggertakkan giginya. Kepalanya seolah dipenuhi dengan perintah agar dia segera membunuh gadis itu. Kecemasan, kemuakan, dan kebencian menyeruak tak terelakkan lagi.
“Hei, bagaimana? Kau setuju atau tidak? Aku akan kecewa sekali jika kau—”
“Ya.” Denver membuang mukanya yang sudah merah padam.
Sepatah kata Denver itu membuat senyum Summer mengembang dengan cara yang memesona. Ia kemudian melingkarkan tangannya melewati pinggang Denver, memeluknya hangat.
“Bagus sekali, kau membuat keputusan yang tepat, Denver. Aku tidak memaksa, ya ….” Setelah menepuk dada pria itu dua kali, Summer melepaskan pelukannya. “Sekarang kau boleh pergi. Aku akan membuatkan lagi lasagna untukmu lain kali.”
Saat Summer melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar. Denver buru-buru berbalik, berderap cepat keluar dari dari dapur.
Senyum Summer sepenuhnya lenyap ketika melihat punggung Denver yang menjauh. Wajah yang sesungguhnya dia tampakkan: raut penuh kebencian.
Dalam keheningan di dapur, Summer berbisik selirih desau angin, “Benar. Kau harus memperjuangkan kariermu dengan keras, Denver. Jadilah aktor paling hebat, paling bersinar, dan paling terkenal. Dengan begitu, permainan ini baru benar-benar akan seru.”
...****...