Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Berusaha Membujuk
"Aku bukankah sudah mengatakan jangan menyentuh apapun di kamarku, aku sedang memberikan bagian padamu, dan untuk privasiku tidak boleh disentuh. Aku bisa membuatmu tidur di luar jika kau berani melakukan itu!" tegas Ravindra penuh penekanan benar-benar marah dengan tindakan istrinya.
"Sakit!" Aluna berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Ravindra karena rasa sakit.
Mata Ravindra melihat ke arah tangan tersebut dan menyadari jika dia mencengkram terlalu keras dan langsung melepasnya.
Aluna sampai menghela nafas dengan memegang pergelangan tangannya tersebut sampai memerah.
"Aku sudah mengatakan tidak sengaja menemukannya," ucap Aluna dengan wajah cemberut dan melihat ke depan.
"Tulisan itu tidak mungkin terbaca sendiri jika tidak dibaca," ucap Ravindra.
Aluna tidak berkutik, benar tulisan itu memang tidak mungkin terbaca sendiri jika tidak sengaja dibaca.
"Isss, kenapa sampai semarah itu kepadaku, hanya karena aku membaca tulisan itu. Apa dia malu karena aku membacanya," batin Aluna terlihat kesal.
Ravindra menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, kemudian kembali menyetir.
"Isss, Aluna seharusnya jangan ngomong itu, kalau sudah seperti ini mana mungkin perjalanan bisnis akan diganti ke Kanada, dia sudah begitu kesal kepadaku," batin Aluna merasa dirinya tampak bodoh.
****
"Pak tunggu!" Aluna buru-buru keluar dari mobil mengejar suaminya yang sudah memasuki rumah terlebih dahulu.
Sampai Aluna bisa menghalangi jalan Ravindra dengan merenggangkan kedua tangannya.
"Plisss, Kanada!" Aluna menyatukan kedua tangannya memohon kepada sang suami.
"Minggir!" tegas Ravindra.
Aluna menggelengkan kepala dan harus mendapatkan apa yang dia mau.
"Apa aku harus mendorongmu!" tegas Ravindra memberi ancaman.
"1 kali ini saja aku mohon. Aku tidak memiliki kesempatan untuk melihat Aurora. Itu adalah impianku sejak dulu dan ketika aku ingin melihatnya, Abi tidak akan pernah mengizinkanku ke Luar Negeri. Jadi aku mohon tolong!" pinta Aluna.
"Aku tidak tertarik untuk mendengar kesedihanmu!" tegas Ravindra kemudian langsung berlalu dari hadapan istrinya itu.
"Pak Ravindra tunggu!" Aluna mengejar sembari merengek memasuki rumah. Karena terlalu buru-buru membuat Aluna menabrak punggung Ravindra, karena tanpa disadarinya .
Ravindra menghentikan langkahnya ketika Rami berdiri di depannya.
Mata Rami menatap tajam Aluna membuat Aluna langsung menunduk.
"Bagaimana mungkin menantu saya bisa memilih wanita seperti kamu untuk menjadi istri dari cucu saya, kamu pikir ini hutan teriak-teriak, kamu benar-benar wanita tidak punya sopan santun," ucap Rami membuat Aluna langsung terdiam.
Berbuat baik saja dia selalu salah di mata Rami dan apalagi melakukan kesalahan dan pasti sudah dicecar habis-habisan.
"Ayo bicara di kamar," ucap Ravindra berjalan terlebih dahulu dan sudah pasti dia tidak ingin adanya keributan terjadi di rumahnya akibat kecerobohan istrinya.
"Maaf. Nek," ucap Aluna kemudian langsung pergi.
"Semakin lama, anak itu semakin tidak bisa menghargai orang-orang yang ada di rumah ini. Ravindra selalu saja berpihak dan membelanya. Aku benar-benar sangat muak," umpat Rami.
"Pak, please tolong!" Aluna kembali memohon kepada Ravindra ketika keduanya sudah berada di dalam kamar.
"Saya tidak punya alasan untuk menuruti keinginan kamu!" tegas Ravindra.
"Tetapi tuan, apa salahnya...."
"Pak, tuan, kamu semakin lama memang semakin tidak punya sopan santun seperti apa yang dikatakan Nenek, sesuka hati kamu memanggil saya," kesal Ravindra.
"Oke-oke, aku tidak akan melakukan hal itu lagi, tetapi mohon tolong perjalanan bisnis tahunan dilakukan di Kanada," ucapnya tetap ada permintaannya.
Ravindra memperhatikan bagaimana wajah sang istri benar-benar sangat menginginkan hal itu, wajah cantik itu rasanya ingin dibelas kasihani, paling pintar mengayunkan suaranya untuk membujuk Ravindra.
"Bukankah perusahaan tahun ini kebanyakan bekerja sama dengan perusahaan Kanada, lalu sudah pasti memiliki pertimbangan untuk melanjutkan perjalanan bisnis ke Negara tersebut," ucap Aluna.
"Oke, semuanya bisa diubah kembali," sahut Ravindra.
"Benarkah?" tanya Aluna seolah-olah mendapat kesempatan.
"Tetapi semua tergantung bagaimana usaha kamu," ucap Ravindra.
"Maksudnya?" tanya Aluna.
"Saya ingin melihat usaha kamu sebesar apa? jika kamu berhasil membujuk orang-orang yang terlibat untuk mengatur perjalanan ini untuk kembali pada tujuan ke Negara Kanada. Maka saya akan mengeluarkan persetujuan," ucap Ravindra.
"Benarkah cara itu bisa dilakukan?" tanya Aluna memastikan membuat Ravindra menganggukkan kepala.
"Baiklah. Tetapi awas aja jika sampai bohong!" tegas Aluna.
"Kamu memberikan ancaman kepada saya?" Ravindra menautkan kedua alisnya.
"Tidak! Tetapi sangat tidak etis jika kamu sampai berbohong. Jadi aku akan berusaha agar perjalanan bisnis pergi ke Kanada!" tegas Aluna kemudian langsung berlalu dari hadapan Ravindra.
"Hah!"
"Sebegitunya dia ingin melihat Aurora," gumam Ravindra dengan geleng-geleng kepala.
******
Firman memasuki kamar dan mendengar suara air di kamar mandi. Sudah dapat dipastikan bahwa Jiya sedang mandi. Firman sangat hafal jadwal mandi istrinya itu di sore hari.
"Sama saja kamu menjatuhkan harga diri, jika istri kamu berkuasa," semua perkataan Melly di perpustakaan kembali diingat Firman.
Firman melangkah mendekati kamar mandi, ada rasa kegugupan dan takut terlihat dari wajahnya, mungkin memang benar selama ini Firman selalu berada di bawah kuasa Jiya, membuat dirinya tidak memiliki harga diri dan takut pada istrinya.
Seperti ada derajat di antara mereka berdua, sehingga segala keputusan selalu Jiya yang menentukan.
Tangannya perlahan memegang kenopi pintu. Jantung Firman berdetak dengan kencang. Firman ingin membuka kenopi pintu, tetapi tiba-tiba saja tidak jadi ketika ponsel Firman berdering.
Firman menghentikan hal yang ingin dilakukan dan mengambil ponselnya dengan cepat-cepat keluar dari kamar.
Entah siapa yang menghubungi Firman dan mungkin saja telpon itu benar-benar sangat penting.
****
Aluna berada di dalam kamar mandi dengan ponsel yang berada di telinganya.
"Kamu serius?" tanya Aluna ketika mendengar cerita dari Melly.
"Aku sangat yakin hal itu pasti terjadi, kamu coba bayangkan saja. Aluna aku benar-benar takut dengan Jiya. Dia benar-benar wanita manipulatif, penuh drama. Isss sangat tidak terduga," ucap Melly sampai mengedikkan bahu berkali-kali.
"Apa mungkin benar yang dikatakan Melly. Jika sebenarnya mereka berdua belum melakukan hubungan suami istri. Bagaimana mungkin bisa memiliki keturunan dan sementara dia saja belum melakukan tugasnya sebagai seorang istri," batin Aluna.
"Astagfirullah Aluna, bagaimana mungkin kamu bisa berbicara seperti itu. Kamu lihat diri kamu di kaca, kamu sama saja seperti dia. Tidak, aku jelas berbeda. Aku tidak munafik dan tidak sok suci," batin Aluna.
"Hey Aluna!" tegur Melly ketika tidak mendengarkan respon temannya itu.
"Iya, kenapa?" sahut Aluna.
"Kamu masih ada bukan? Kamu mendengarku, kan?" tanya Melly.
"Iya-iya aku dengar," jawab Aluna.
"Kamu tahu tidak Aluna, jika aku memberi saran pada Firman," ucap Melky.
"Saran apa?" tanya Aluna
"Aku katakan saja kepada Firman agar dia bertindak tegas kepada istrinya, Firman bukan laki-laki yang bodoh dan aku sudah yakin dia pasti tahu harus melakukan apa untuk memberi istrinya pelajaran?"
"Intinya aku menyuruhnya untuk mengambil haknya secara paksa," jawab Melly.
"Lalu Firman mendengarkan kamu?" tanya Aluna.
"Entahlah, tetapi dari ekspresi wajahnya, aku bisa melihat secara jelas bahwa dia sepertinya memikirkan saranku," jawab Melly.
"Kamu ngeri sekali memberi saran seperti itu kepadanya, bagaimana jika sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan?" tanya Aluna.
"Hey, kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Kamu kenapa juga harus peduli kepada wanita yang selama ini selalu memojokkanmu. Meski Firman memaksa istrinya, itu juga bukanlah dosa," lanjut Melly.
"Entahlah, aku tidak tertarik untuk mencampuri urusan rumah tangga mereka. Terima kasih sudah memberiku informasi. Aku tutup teleponnya dulu," ucap Aluna mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Lalu bagaimana jika Ravindra juga meminta hal yang sama, barangkali dia juga menginginkan haknya," Aluna tiba-tiba saja kepikiran tentang hal itu.
"Tidak! dia jelas-jelas tidak menyukaiku dan hanya ingin balas dendam kepadaku. Mana mungkin dia memiliki pikiran seperti itu. Sudahlah, aku tidak tertarik untuk melakukan hal apapun, biarkan saja jalan rumah tangga mereka ceritanya seperti itu. Aku tidak peduli sama sekali," gumam Aluna dengan menghela nafas.
Bersambung ...