Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27.
Kacau. Suasana akan menjadi kacau karena ucapan Reskara yang ambigu dan sangat membingungkan untuk Cila dan Bumi. Seharusnya dia tidak memberikan reaksi seperti itu di depan mereka berdua.
" Lo kenapa Rakha? " Cila bertanya dengan wajah yang penuh dengan kebingungan.
" Kenapa? Maksud lo Haeyla. Gak boleh di sentuh sama Bumi? " Lagi. Cila bahkan bertanya lagi untuk memastikan. Suasana tiba tiba menjadi hening. Aku bingung bagaimana cara mencairkan suasana ini. Apa yang harus aku lakukan?.
" Aaa.. Awww aww. Jari aku sakit banget Bumi " Ucapku tiba tiba. Kebetulan jari ku sedang terluka saat itu. Jadi itu bisa untuk aku jadikan alasan.
" Kenapa? Mana yang sakit? " Bumi bereaksi berlebihan kali ini.
" Maksud saya tadi itu. Jangan sentuh. Karena saya lihat luka di jari teman kamu Cila " Reskara dengan cepat memanfaatkan alibi ku kali ini.
" Ya ampun. Kok gue malah gak sadar kalau jari lo luka ya La. Malah Rakha yang tau kan " Cila menghampiri ku dan melihat luka di jariku.
" Yaudah. Kita pulang. Nanti aku obatin dirumah " Bumi langsung membawa ku pergi dari sana.
' Bukan pemandangan seperti ini yang mau aku lihat saat pertama kali melihat kamu lagi Rembulan. Bukan dengan kamu yang bersama dengan laki laki lainnya. ' Batin Reskara saat melihat aku yang pergi menjauh bersama dengan Bumi.
Sementara aku yang sebenarnya juga ingin bertanya banyak hal kepada Reskara. Namun ini bukan saatnya untuk melakukan apa yang menjadi kemauan ku. Aku tidak akan pernah melukai hati sahabat ku lagi kali ini. Apa pun yang pernah terjadi antara aku dan Reskara di masa lalu. Sampai kapan pun tidak akan pernah aku ungkapkan. Biarlah semua terkubur rapih dalam kenangan masa lalu.
" Lo jeli banget ya? Sampe bisa tau loh jari Haeyla lagi luka " Cila bertanya lagi kepada Reskara.
" Bukan. Kebetulan aja saya lihat. Apa salah kalau saya katakan tadi? "
" Ohh. Bukan gitu. Malah gue salut. Hal sekecil itu lo bisa perhatiin kan " Puji Cila untuk laki laki di hadapan nya.
' Hanya karena itu dia. Hal sekecil apapun. Aku akan selalu perhatikan." Batin Rakha.
Di perjalanan pulang aku dan Bumi terjebak oleh hujan yang tiba tiba saja turun dengan begitu derasnya. Kami berhenti di satu pendopo di pinggir jalan. Tampak jalanan sangat sepi. Jarang ada kendaraan yang melintas.
" Seharusnya aku pake mobil aja tadi. Begini kamu jadi basah " Bumi mengusap air hujan yang ada di wajahku dengan tangan nya.
" Its oke. Hujan juga gak di rencanakan " Aku juga ikut mengusap air hujan yang ada di wajah dan rambutku.
" Sepi. Kenapa harus di tempat sepi begini dia belajar? " Tanya Bumi karena melihat sekitar kami memang benar benar tidak ada orang.
" Kadang sepi membuat keadaan jadi lebih tenang. Mungkin itu alasan nya " Jawabku asal padanya.
" Kamu suka tempat yang sepi dari hiruk pikuk jalanan? " Tanya nya sambil menatap ku.
" Ya. Aku bisa menikmati setiap hembusan angin yang datang alami dari alam " Aku menjawab sambil memainkan air hujan yang turun.
" Jangan. Jangan pergi ke tempat yang sepi hanya dengan diri kamu "
" Kenapa? "
" Ajak aku. Ajak aku untuk sama sama menikmati itu bersama kamu " Dia berkata seakan akan kami benar akan bersama di tempat itu.
Aku lebih banyak diam saat itu. Aku tidak bisa berpikir apa yang akan aku katakan pada Bumi. Rasanya kami kembali asing. Rasanya dia seperti orang lain. Tapi kata kata dan perlakuan nya masih sama.
" Sory untuk semua yang terjadi Haeyla. Mungkin bagi kamu itu gak penting. Tapi bagi aku, minta maaf sama kamu itu penting " Matanya terlihat tulus saat menatap ku. Terlihat tatapan sendu yang dia berikan saat itu benar benar menyiratkan kalau dia memang merasa bersalah.
" Bumi. Jangan pernah minta maaf untuk hal yang kamu sama sekali gak pernah lakuin sama siapapun. Kalau aku gak tau kamu pemilik fourtune. Itu bukan kesalahan kamu. Jadi stop dengan kata maaf itu Bumi " Aku juga menatap mata nya sambil mengisyaratkan kalau tidak ada yang bersalah disini.
" Jadi. Bisa kita lupain semua yang terjadi kemarin La? " lagi lagi mata itu menunjukan ketulusan.
" Ya. Kenapa aku harus terus mengingat kejadian itu " Jawabku sambil terus memainkan air hujan yang turun.
Antara Arbian dan Bumi. Bagiku keduanya sama sama seperti teman biasa. Aku sadar jika keduanya menaruh perhatian lebih padaku. Tapi aku tidak pernah mengartikan nya sebagai apapun. Aku hanya menganggap mereka perduli padaku.
" Ayo Bumi. Hujan nya sudah reda. Kita pulang " Ajakku
" Ayo. Kamu pakai jaket aku aja " Dia melepaskan jaket kulit miliknya dan memakaikanya kepadaku.
" Pegangan yang erat Haeyla. Aku mungkin sedikit ngebut " Ucapnya sambil menarik tangan ku.
Sebenarnya aku terkadang merasa heran dengan sikap Bumi yang begitu agresif dan dominan kepadaku. Bahkan sering kali aku tidak bisa mengimbangi dominan yang di miliki oleh Bumi.
Sementara Cila dan Rakha masih berada di tepi danau Cempaka.
" Udah lama. Kamu sahabatan dengan Haeyla? " Rakha bertanya karena dia penasaran dengan Haeyla.
" Wah. Lama banget. Udah hampir 3 tahunan lah " Jawab Cila tanpa rasa curiga.
" Oke. Kalian akrab kelihatan nya "
" Pasti lah. Kita kan sahabatan Rakha" Cila menjawab dengan nada penuh tekanan.
' Kita sudah tidak bertemu hampir 7 tahun Rembulan. Ternyata di 7 tahun itu sudah banyak yang berubah dari kamu. Cara kamu berbicara dan tatapan kamu sudah tidak sama seperti dulu lagi. ' Batin Rakha ketika mendengar jawaban Cila tadi.
" Haeyla itu baik banget. Aku suka berteman dengan dia " Cila tiba tiba memberitahu perasaan nya pada Haeyla .
" Kelihatan. she's good girl " Rakha menjawab tanpa memikirkan apa yang dia bicarakan barusan.
" Kamu hebat. First impresion kamu dengan Haeyla. Kamu bisa langsung menilai kalau Haeyla itu baik "
" Semua orang bisa menilai itu kalau bertemu dengan teman kamu tadi kaya nya " Rakha langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak terlihat mencurigakan.
Reskara dan juga Haeyla. Keduanya memang sudah saling mengenal dari bertahun tahun lalu. Jauh sebelum Haeyla mengenal teman teman nya saat ini. Namun belum tahu pasti apa yang pernah terjadi pada Haeyla ataupun Reskara. Kenapa mereka bisa sampai berpisah selama ini.
Back kediaman Haeyla.
Lilian tampak mondar mandir di pintu rumah menunggu kedatangan Haeyla yang tak kunjung terlihat. Perasaan nya saat ini sangat gelisah. Takut kalau terjadi sesuatu kepada putri satu satu nya itu. Namun kecemasan Lilian segera berakhir. Karena dari kejauhan sudah terdengar suara motor Bumi yang datang mendekat.
" Haeyla. Sayang " Lilian langsung berlari mendekati Haeyla.
" Kamu darimana sih sayang? Lihat? Kamu basah begini? Nanti kamu sakit loh " Lilian benar benar merasa khawatir dengan keadaan Haeyla.
" Mama. Aku gak kenapa kenapa. Ini aku cuma kehujanan aja tadi di jalan pulang"
" Iya tante. Tante tenang aja. Saya gak mungkin biarin Haeyla dalam bahaya " Bumi menjawab seakan akan dia memang selalu menjaga Haeyla dan ada di samping nya. Ya. Walaupun itu sedikit benar adanya.
Yang di katakan Bumi barusan adalah sebuah fakta. Bumi memang selalu ada di saat Haeyla membutuhkan nya. Bumi selalu memastikan Haeyla tidak dalam bahaya. Hanya saja. Kemarin dia gagal berada di samping Haeyla untuk menenangkan gadis itu.
Bersambung.