Selena secara tidak terduga masuk ke dalam animasi 3D berjudul Love In Time. Jiwanya masuk ke dalam tubuh tokoh utama bernama Li Shuyi, anak bangsawan miskin Li Chengdu dari Jiangzhou.
Kehidupan Li Shuyi digambarkan begitu berat. Orang yang dicintainya menolak mentah-mentah lamaran keluarga Li, dan rumor tentang Li Shuyi yang beredar sangat buruk.
Selena yang berada dalam tubuh Li Shuyi bertekad untuk pindah ke Beizhou dan memulai hidup yang baru.
Apakah ia bisa melakukannya? Apa yang akan terjadi di Beizhou? Kehidupan Li Shuyi akan berubah atau bertemu cinta sejati? Ikuti kisah Selena menaklukkan kehidupan Li Shuyi yang berat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyana Mentari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perebutan Tahta (2)
"Berdasarkan kitab leluhur, Murong Xingxu juga pantas mendapatkan tahta!"
Ucapan lantang datang dari seorang wanita lemah tanpa pengaruh, yang hanya bisa meminta perlindungan kepada kekaisaran selama sisa hidupnya. Kehadirannya selalu dipandang sebelah mata, tidak berharga, dan hanya menyebabkan masalah. Selama bertahun-tahun, Murong Ziyuan harus menelan pahitnya celaan dan hinaan kepada dirinya yang lahir dari seorang wanita kaum rendahan.
Melihat para saudara tidak bisa akur, bahkan di hari kematian kakak pertama, hatinya sakit seperti teriris-iris. Murong Ziyuan terus menangis, mungkin juga hanya dirinya yang dengan tulus bersedih untuk Murong Huanfeng.
Tapi, dia tetap harus bersuara.
Meskipun ucapannya nanti membuat beberapa orang tidak setuju, dan terang-terangan merasa marah. Terutama pihak Murong Yuanfeng dan Murong Qianfeng yang sejak awal juga memiliki niat tersembunyi.
"Berasal dari garis keturunan langsung! Ibunya bukan seorang wanita dari kalangan biasa yang merangkak di bawah kaki raja. Ibunya adalah putri terhormat!"
"Tidak bermasalah! Tidak mendeklarasikan perang, apalagi bertindak kasar dan diam-diam berkolusi dengan bandit untuk membunuh keluarga sendiri."
"Memiliki dukungan kuat dari pasukan utama!"
"Siapa yang lebih pandai berpedang dibandingkan adik ketujuh? Siapa yang bisa meragukan keterampilannya?!"
"ZIYUAN!!"
Murong Yuanfeng melangkah marah, hendak melayangkan pukulan kepada wanita yang dinilainya melewati batas. Tapi, tangan itu segera ditahan oleh Murong Xingxu.
Tatapan penuh permusuhan yang tidak akan menjadi hangat itu membuat seisi aula utama bergetar. Suasana mencekam yang datangnya dari perseteruan perebutan tahta.
Tangan itu dihempaskan kuat, "Tenanglah, pria terhormat tidak memukul wanita!"
"Sampah!"
"Jaga ucapanmu!" hardiknya pada sang kakak. "Aku tidak akan jadi orang yang duduk di singgasana, apalagi Kakak Ziyuan!"
Murong Yuanfeng memilih duduk di kursinya, sisa amarah yang mendekam di kepala bisa jadi badai jika diteruskan.
"Jika yang dipermasalahkan oleh para tetua adalah deklarasi perang."
"Aku membawa bukti bahwa kakak kedua tidak lagi menginginkan perang!"
"Dan, jika kekaisaran membutuhkan pemimpin, maka sudah seharusnya menjadi milik kakak kedua!"
Murong Xingxu berjalan dengan derap langkah pelan tapi tegas menuju tengah-tengah. Auranya yang sangat mendominasi membawa ketegangan pada setiap tapak kakinya menyentuh ubin. Laki-laki itu tidak lepas dari pengamatan orang-orang. Mereka juga bertanya-tanya tentang apa yang bisa dia lakukan selanjutnya.
Seluruh pintu di aula utama tertutup, mengingat pembicaraan yang sangat sensitif dan rahasia. Tapi angin dingin berhembus entah dari mana, yang seolah membersamai Murong Xingxu menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada para tetua kekaisaran.
Dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati, Murong Xingxu menunduk. "Ini adalah surat perdamaian yang terlambat kubawakan, mohon tetua memakluminya. Di dalamnya ada cap stempel resmi kedua pihak dan bisa dibuktikan keabsahannya."
"Permintaan negosiasi itu diperintahkan langsung oleh kakak pertama. Seharusnya ini masih berlaku mengingat kematian kakak pertama terjadi sangat mendadak!"
"Kakak pertama tidak pernah menginginkan perang!"
Para tetua memeriksa isi dari gulungan kertas yang dibawa oleh Murong Xingxu. Di dalamnya tertulis sebuah negosiasi perdamaian, dengan kalimat yang sudah disusun rapi oleh kaisar baru — Murong Huanfeng — saat sebelum kejadian naas menimpa dirinya.
Di dalam selembar kertas itu tidak hanya ada stempel kekaisaran, tapi juga stempel pangeran kedua, Murong Xuanli. Mengenai keabsahan, Kasim Yuan telah menyetujui jika itu memang ditulis oleh Murong Huanfeng.
"Benar."
"Kaisar Huanfeng dan pangeran kedua telah sepakat untuk berdamai!"
"Kalau begitu bisa disepakati bahwa Murong Xuanli telah sah berada di garis keturunan langsung dan berhak atas tahta!"
Beragam raut wajah yang tercipta setelah salah satu tetua mendeklarasikan kepantasan Murong Xuanli memangku tahta. Tentu saja ada pihak yang setuju dan tidak setuju. Tapi yang lebih aneh adalah bagaimana bisa gulungan surat itu berisi perjanjian damai, sementara isi surat yang asli adalah deklarasi perang tiga hari lagi.
Tidak mungkin bagi Murong Xingxu mendapatkan cap stempel milik kakak keduanya sementara stempel itu tersimpan di tempat yang hanya diketahui Murong Xuanli dan ...
Sang pangeran kedua menoleh ke kanan, dimana adiknya tampak tenang seperti air di danau yang dalam tapi tetap tenang pada permukaannya. Pantas saja Murong Xuantong diam sejak tadi.
Brak!
Cangkir teh diletakkan kuat ke meja, sampai menimbulkan bunyi yang keras. Jika saja tidak ingat dimana berada, meja itu pasti sudah terbalik beberapa langkah dari tempatnya semula berada.
Pelakunya?
Siapa lagi jika bukan Murong Yuanfeng.
Dengn wajah merah padam, darah mendidih di atas kepala, dan kedua telapak tangan menggigil menahan kobaran emosi. Sang pangeran menatap marah kepada keputusan para tetua. "TIDAK!"
"AKU TIDAK SETUJU!"
"Tidak bisa tahta diberikan kepada orang yang salah!"
"Aku juga tidak setuju!" Murong Qianfeng yang sejak tadi pasif kini ikut bersuara bersama sang kakak. "Sejak awal tahta diserahkan kepada anak kaisar yang berperilaku baik, Murong Xuanli jelas-jelas hanya anak selir yang merangkak menjadi permaisuri tidak resmi. Mana bisa dikatakan sebagai pewa—"
"Murong Qianfeng, hentikan!" Salah satu tetua berusaha menginterupsi.
"Tetua dengar!" Sang pangeran tidak mau mendengarkan perintah, dia tetap ingin melanjutkan apa yang ada di kepalanya. "Aku dan Kakak Yuanfeng adalah anak permaisuri resmi, kedudukan kami lebih tinggi dibandingkan Murong Xuanli hanya bisa mendeklarasikan perang!,
"Perang adalah kejahatan luar biasa! Dia seharusnya dihukum, dia seharusnya dipenjarak—"
"PANGERAN KELIMA!"
Hening.
Suasana yang riuh dan tegang menjadi senyap.
Namun, perasaan mencekam tetap ada.
Suara lantang yang tidak ada bantahan itu datang dari Panglima Tinggi Feng. Seseorang yang amat sangat dihormati, bahkan disegani oleh kaisar terdahulu karena dedikasi dan ketegasannya. Jika sang panglima yang tenang saja bisa membentak, pasti terbayangkan betapa riuhnya suasana perebutan tahta itu.
Para tetua, petinggi kekaisaran, Panglima Feng, dan Kasim Yuan berdiskusi karena penyerahan tahta tidak menemukan titik sepakat.
Setelah keheningnya panjang yang sedikit banyak melunakkan ego masing-masing. Sampai pagi menjelang pun, diskusi yang dilakukan para tetua belum menemukan tanda-tanda akan usai.
Semua garis keturunan yang duduk di singgasana masing-masing hanya saling mengunci mulut.
Membiarkan hening menguasai keadaan yang semakin membara begitu dipantik bara pertikaian tak berujung.
"Adik, apa yang harus kita lakukan setelah ini?"
Murong Xingxu menoleh, menatap sang kakak perempuan dengan tatapan sama buntunya. Nasib mereka tidak akan baik, entah siapapun yang menguasai tahta. Tapi, jika pun harus angkat kaki dari istana, setidaknya bukan Murong Yuanfeng yang berkuasa.
Sayangnya, Xingxu tidak pandai menghibur, dia kaku dan tidak mengerti cara memotivasi. Sedangkan Murong Ziyuan, sangat jelas membutuhkan perlindungan. "Kakak tenanglah!"
"Aku akan melindungimu dan Ibu Selir Quan."
"Adik, jangan mengkhawatirkan kami, aku dan ibu akan mengabdi untuk kuil di sisa hidup kami."
Murong Ziyuan mengatakan kebenaran yang tersimpan dalam hatinya. Jika yang berkuasa adalah Murong Xuanli, maka ia tidak pernah tahu bagaimana nasib membawa. Tapi jika yang berkuasa adalah Murong Yuanfeng, sudah pasti keberadaannya di dalam istana tidak aman. Murong Ziyuan, dan ibunya, Selir Quan, sudah memutuskan ini jauh-jauh hari.
"Bahkan jika harus melepaskan duniawi, maka menjadi biarawati juga tidak masalah."
"Kakak ... " Murong Xingxu tidak mampu menjawab, kilau yang tersirat dari bola mata sendu sang kakak mengisyaratkan putus asa.
"Adik, kau hiduplah dengan tenang."
Ceklek.
Pintu ruangan khusus yang digunakan untuk berdiskusi telah terbuka. Para tetua dan petinggi kekaisaran keluar satu persatu untuk memberikan jawaban atas penantian para pewaris tahta. Jawaban yang akan menjadi penentu tentang siapa yang menang, dari perang dingin tak berkesudahan.
Kali ini,
Kasim Yuan yang akan memberi sebuah jawaban. "Pangeran kedua, para tetua dan petinggi kekaisaran sepakat mengangkatmu menjadi kaisar yang baru!"
"Hidup kaisar baru!"
"Hidup kaisar baru!"
"Hidup Murong Xuanli!"
"Hidup Murong Xuanli!"