Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Prasasti di Atas Awan
Langit di atas Gunung Lingyun tampak abu-abu, seolah-olah awan itu sendiri ikut merasakan kesedihan yang menggelayuti Sekte Awan Tenang. semua murid, dari yang paling muda hingga para tetua yang rambutnya telah memutih, berkumpul di lapangan utama. Tidak ada suara senjata, tidak ada teriakan latihan; hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Di tengah lapangan, terdapat sebuah monumen batu besar yang baru saja dipahat. Di sana terukir nama-nama murid yang gugur dalam ledakan pengorbanan saat melawan Pasukan Elang Hitam.
Li Yuan melangkah maju. Ia tidak lagi mengenakan jubah sutra Master yang megah, melainkan kembali memakai pakaian kain kasar yang sederhana—pakaian yang mengingatkan semua orang pada sosok "gembel" yang pertama kali datang ke gerbang mereka. Di sampingnya, Dong Dong berdiri dengan perban yang masih melilit dadanya, tampak sangat tenang, matanya yang biasa jenaka kini terlihat sayu.
Li Yuan meletakkan setangkai bunga putih di depan prasasti tersebut. Ia terdiam cukup lama, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Mereka yang namanya terukir di sini," Li Yuan memulai, suaranya tenang namun bergema ke setiap sudut gunung. "Banyak yang mengatakan mereka mati sebagai pahlawan. Tapi bagiku, mereka mati sebagai saudara. Mereka bukan berkorban untuk sebuah nama besar sekte, tapi untuk memberi kesempatan bagi kalian yang berdiri di sini agar bisa melihat matahari esok hari."
Li Yuan berbalik, menatap semua murid yang mulai meneteskan air mata.
"Aku datang ke sini sebagai orang asing yang hanya ingin mencari tempat sembunyi. Tapi kalian memberiku sesuatu yang tidak pernah aku miliki sebelumnya: rasa hormat dan persaudaraan. Kalian memanggilku Master, namun akulah yang sebenarnya belajar banyak dari kalian tentang keberanian."
Li Yuan mengambil napas dalam, matanya menyapu wajah-wajah muridnya yang tersisa.
"Dengar baik-baik. Aku harus pergi. Bukan karena aku tidak lagi peduli, tapi karena namaku adalah kutukan yang akan memancing elang-elang berikutnya datang ke gunung ini. Jika aku tetap di sini, pengorbanan saudara-saudara kita di prasasti ini akan menjadi sia-sia."
Seorang murid muda berteriak dari tengah kerumunan, "Master! Kami tidak takut mati! Kami akan bertarung bersamamu sampai akhir!"
Li Yuan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kasih sayang. "Aku tahu kalian tidak takut. Tapi tugas kalian sekarang bukan untuk mati bersamaku. Tugas kalian adalah tetap hidup. Gunakan emas yang kutinggalkan untuk membangun kembali desa-desa yang hancur. Gunakan kitab yang kutulis untuk melindungi mereka yang lemah. Itulah cara terbaik untuk menghormatiku."
Li Yuan kemudian mengeluarkan Pedang Hitam Takdirnya. Ia tidak menghunusnya, hanya memegang sarungnya.
"Dunia di luar sana sangat luas dan penuh dengan kegelapan. Aku akan pergi menghadapi kegelapan itu bersama rekanku Dong dong agar kegelapan itu tidak sampai ke gerbang kalian. Jangan pernah lupakan apa yang aku ajarkan: Kultivasi bukan tentang seberapa tinggi kau bisa terbang, tapi seberapa dalam kau berani merogoh penderitaan orang lain untuk menolong mereka."
Li Yuan membungkuk dalam-dalam—sebuah penghormatan dari seorang Master kepada murid-muridnya. "Hari ini, aku melepaskan gelarku sebagai Master Sekte Awan Tenang. Mulai detik ini, aku hanyalah Li Yuan, sang pengembara."
Tangisan pecah di seluruh lapangan. Para tetua membungkuk, dan semua murid mengikuti, menciptakan pemandangan yang luar biasa mengharukan. Mereka tidak hanya kehilangan seorang guru yang kuat, tapi mereka kehilangan cahaya yang telah mengubah hidup mereka.
"Hiduplah dengan baik." bisik Li Yuan.
Ia berbalik, memberi isyarat pada Dong Dong. Keduanya mulai berjalan menuju jalan setapak yang menurun, menjauh dari puncak gunung. Saat mereka melangkah pergi, banyak suara berteriak serempak, menggetarkan langit:
"KAMI AKAN SELALU MENUNGGUMU, MASTER LI! SEMOGA LANGIT MENJAGAMU!"
Li Yuan tidak menoleh lagi. Ia takut jika ia menoleh, ia tidak akan sanggup untuk melangkah pergi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya saat ia menghilang di balik kabut hutan.