NovelToon NovelToon
Unwritten Apologies

Unwritten Apologies

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Model / Diam-Diam Cinta / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Bullying dan Balas Dendam / Tamat
Popularitas:867.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Ini adalah kisah cinta pria berkebangsaan Korea dan gadis berdarah Indonesia.

Waktu SMA, Ha joon tidak setampan sekarang. Pria itu gemuk dan selalu memakai kacamata tebal kemana-mana. Ha joon sangat menyukai Rubi, gadis populer di sekolahnya.

Namun suatu hari Ha joon mendengar Rubi menghina dan mengolok-oloknya di depan teman-teman kelas mereka. Rasa suka Ha joon berubah menjadi benci. Ia pun memutuskan pindah ke kampung halamannya di Seoul.

Beberapa tahun kemudian, Rubi dan Ha joon bertemu lagi di sebuah pesta pernikahan. Ha joon sempat kaget melihat Rubi yang berada di Korea, namun rasa dendamnya sangat besar hingga ia berulang kali menyakiti perasaan Ruby.

Tapi, akankah Ha joon terus membenci Ruby? Mulutnya berkata iya, namun tiap kali gadis itu tidak ada didepan matanya, ia selalu memikirkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pakai itu

Jin Young menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap sahabatnya yang kini kembali tenggelam dalam diam. Suasana bar terasa makin sesak oleh emosi yang tak terucap. Ia dapat melihat luka Ha Joon bukan sekadar luka biasa.

Ia sungguh penasaran dengan kisah masa lalu sahabatnya ini dengan gadis yang sudah pergi tadi.

"Joon-ah," Jin Young akhirnya bicara lagi. Suaranya pelan, tapi tegas.

"Kalau kau dan gadis itu ada masalah, kalian harus bicara."

Ha Joon tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap kosong meja kayu yang dingin di hadapannya. Tangan kirinya masih mengepal di pangkuan, tapi yang kanan mengusap pelan wajahnya yang mulai kembali pada warna asli, tidak lagi merah padam oleh alkohol. Mabuknya mendadak hilang.

"Apa gunanya bicara?" gumamnya.

"Kau dengar sendiri dia tadi. Dia membenciku. Sama seperti aku membencinya."

Jin Young menghela napas.

"Kalau kau benar-benar membencinya, kau tidak akan peduli dia datang atau tidak. Kau tidak akan diam saat dia pergi. Kau juga tidak akan menyebut-nyebut namanya berkali-kali selama tiga jam terakhir kau mabuk."

Ha Joon menatapnya, tapi tak berkata apa-apa.

"Kau tahu apa yang aku lihat tadi?" lanjut Jin Young.

"Aku lihat seorang pria yang tersesat dalam luka dan dendamnya sendiri. Tapi di balik semua itu, aku juga lihat seorang pria yang tidak benar-benar ingin kehilangan gadis itu."

Ha Joon tertawa kecil, getir.

"Kau salah lihat."

"Tidak, aku tidak salah lihat," Jin Young menatapnya tajam.

"Aku temanmu, Ha Joon. Aku mungkin tidak tahu semua cerita kalian, tapi aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang."

Kalimat itu membuat Ha Joon tertegun. Untuk pertama kalinya, ia menatap Jin Young dengan pandangan berbeda. Ada luka juga di mata sahabatnya itu, luka yang mungkin selama ini tidak pernah dibicarakan.

"Kau kehilangan siapa?" tanya Ha Joon pelan.

Jin Young tersenyum miris.

"Seseorang yang tidak akan pernah kembali."

Ha Joon ingin bertanya lebih, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Semua orang punya luka, pikirnya. Sama seperti dirinya yang sangat amat tersakiti oleh Ruby. Mungkin Jin young benar, dia masih menyukai Ruby. Tetapi dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, Ruby berjalan cepat menyusuri trotoar basah dengan perasaan yang campur aduk. Setiap langkah terasa berat, seakan-akan kata-kata Ha Joon masih menggema di kepalanya.

"Aku tidak sudi disentuh oleh wanita mengerikan sepertimu."

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Meski ia datang karena khawatir, karena ia masih peduli, balasan yang ia terima justru seperti pisau berkarat yang disayatkan perlahan.

Ruby tidak tahu harus merasa apa. Marah? Sedih? Kecewa? Atau semuanya sekaligus?

Ia akhirnya berhenti di halte bus, duduk di bangku dingin sambil memeluk tubuhnya sendiri. Matanya memandang kosong ke jalanan yang sepi. Tak ada taksi, tak ada orang. Hanya gerimis yang masih turun ringan, membuat rambut dan bahunya basah.

"Kau bodoh, Ruby," bisiknya pada dirinya sendiri.

"Kenapa harus datang? Kenapa harus peduli pada orang yang jelas-jelas membencimu?"

Tapi hati kecilnya tak bisa dibohongi. Ha Joon bukan pria biasa. Dia adalah seseorang dari masa lalu yang pernah membuat hatinya bergetar, bahkan sampai sekarang. Seseorang yang pernah ia lihat dengan cara yang hanya dia yang tahu.

Ruby menunduk, menatap telapak tangannya yang gemetar ringan. Di balik semua itu, ada perasaan bersalah yang selama ini berusaha ia tekan. Tapi malam ini, semua kembali mencuat ke permukaan.

"Maaf…" gumamnya, meski tak ada siapa-siapa di sana untuk mendengarnya.

Di bar,

Ha Joon akhirnya berdiri. Langkahnya masih agak goyah, tapi tidak separah sebelumnya. Jin Young ikut berdiri, bersiap mengantar pria itu pulang, tetapi Ha Joon mengangkat tangan.

"Aku bisa sendiri."

"Kau yakin?"

Ha Joon mengangguk.

"Aku ingin sendiru."

Jin Young menatap sahabatnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Kalau begitu, hati-hati. Dan Joon…"

Ha Joon menoleh.

"Jangan sampai kehilangan dia dua kali. Kadang, kesempatan kedua tidak akan datang."

Ha Joon tidak menjawab. Ia hanya melangkah pelan keluar dari bar, meninggalkan kehangatan lampu dan suara musik di belakangnya.

Begitu keluar, udara malam langsung menusuk kulitnya. Ia menengadah, membiarkan gerimis jatuh di wajahnya. Entah mengapa, dinginnya terasa lebih nyata dari tadi. Seolah tubuhnya mulai sadar bahwa rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya karena alkohol, tapi karena luka yang jauh lebih dalam.

Ia menyusuri jalanan Gangnam dengan langkah pelan, mencoba mengatur napas, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Tapi satu hal pasti, suaranya, tangisnya yang ditahan, bahkan kemarahannya tadi, semua itu membuat hatinya seperti diremas.

"Ruby…" bisiknya. Nama itu meluncur begitu saja, dan kali ini, bukan karena mabuk.

Ha Joon terus melangkah tanpa arah pasti, pikirannya penuh. Ia berbelok di sudut jalan, di sebuah gang sempit dengan lampu jalan temaram. Ponsel di sakunya bergetar, tapi ia tidak peduli. Pria itu terus berjalan, berharap dengan berjalan pikirannya akan jauh lebih membaik.

Ha joon berhenti melangkah saat melihat seseorang yang ia kenal dari kejauhan.

Ruby.

Gadis itu sedang duduk di halte bus dengan memeluk dirinya sendiri, seperti sedang menahan dingin. Ha Joon memperhatikan jaket yang Ruby kenakan lalu menggeram kesal.

"Sudah tahu dingin, berani pakai jaket tipis. Bodoh." cetusnya lebih ke dirinya sendiri. Jaraknya terlalu jauh, Ruby tidak akan mendengarnya.

Ha Joon hanya mengamatinya dari jauh. Ia terlalu gengsi untuk mendekat. Lagipula tiap kali mereka berhadapan, tidak ada hal baik yang terjadi. Ia selalu terbawa emosi dan ingin menyakiti Ruby dengan kata-katanya.

Ha Joon mengatupkan rahangnya, menahan dorongan untuk berlari dan membungkus Ruby dengan jaketnya sendiri. Tapi kakinya tetap terpaku di tempat. Perasaan marah dan rindu bertabrakan di dalam dadanya, menciptakan badai yang membuatnya sulit bernapas.

Saat melihat Ruby makin menggigil, saat itulah, pertahanannya mulai runtuh. Perlahan, ia melangkah mendekat, tapi belum cukup dekat untuk disadari Ruby.

Ia membuka jaketnya sendiri, menggenggamnya erat, lalu berjalan cepat ke arah halte. Tanpa sepatah kata pun, ia menyampirkan jaket itu ke bahu Ruby dari belakang. Gadis itu tersentak, menoleh kaget, dan mendapati Ha Joon berdiri di sana, menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa ia baca.

"Ha Joon …" Ruby memanggil pelan, nyaris tak terdengar.

"Pakai itu, aku tidak ingin kau menyalahkanku karena membuatmu datang malam-malam di bar. Lain kali kalau Jin young menelpon lagi, jangan datang." kata Ha Joon lalu kembali berbalik meninggalkan Ruby.

Ruby terus menatap kepergian pria itu sampai ia benar-benar hilang dari pandangannya. Gadis itu tertegun. Ada perasaan hangat yang ia rasakan.

1
MAYZATUN 🥰🥰🥰al rizal
HA JOON RUBY🔥🔥🔥
Gintania nia
bagus dong
Nia Nara
Ruby tuh kayak suamiku. Baik, tapi agak2 gitu deh.. Gak bisa baca situasi dan kadang apa yg dipikir benar malah benar-benar menghancurkan hati pasangannya
Nia Nara
Gak di novel, gak di dunia nyata, kenapa ya kalau cowoknya pintar tahu gimana bersikap pasti dapet ceweknya model ruby gini agak2 gemblung. Begitu juga sebaliknya.
Nia Nara
Pergilaj eun joo, demi melindungi hatimu sendiri. Move on. Laki-laki gak cuma 1.
Elmi Varida
barj bisa ikut nyimak thor...😁
dwie 2025
Ruby terlalu unak unuk...
dwie 2025
Otor tolong suruh Ha joon mengunci pintu kmrny klo mau ditinggal keluar.. Ruby tidur telanjang 🤭takut ada yg masuk/Facepalm/
Dysha♡💕
walau udah nikah,semoga ha join selalu percaya sama Ruby ,karena Ruby masih banyak rahasainya🫶
dwie 2025
buruan cerita Ruby kelamaan mikir ...
dwie 2025
Sampai sini ak msh menunggu Ruby cerita semua masa laluny pada Hajoon....
walaupun Hajoon sllu melarang dan sssttttttttt pd Ruby/Shhh//Shhh//Shhh/ tetep harus cerita masa lalu yg sebenarnya sprti apa suatu saat klo hub.mrka ada masalah tdk diungkit lg cerita kelam dimasalalu.... gemesss bgt sama Ruby tinggal cerita ja trlalu banyak mikir dan diemmmm/Angry//Angry//Angry/🤭
dwie 2025
semakin menarik perhatian ku....sdh ada adegan romantisny😍😍😍ak suka👍👍👍
dwie 2025
sampai sini ku mulai ada ketertarikan /Ok/
Fatimah Ima
aku suka karya2 mu thor
mimief
semoga selalu bahagia
Karena masuk ke dunia pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan
tapi...awal dunia yg baru
mimief
dia pulang ke Indonesia,baru tau rasa lu joon
biarin aja
mimief
yah . bagaimanapun menemui tanpa ijin suami emang salah
walaupun.. walaupun untuk terakhir kalinya
Mei TResna Rahmatika
akhirnya ha joon sama ruby nikah,tp penasaran sama visual nya thor
mimief
Karena Han joon tau di belum bisa nyentuh Ruby kalau belum dinikahi
mknya...gas lah 🤭
mimief
pastilah...
manusiawi itu by😔😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!