~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 - Ketenangan yang Retak
...----------------...
Malam itu, setelah kehangatan makan malam yang sederhana bersama Kimiko dan Sora, Abirama keluar ke halaman kecil di depan rumah mereka. Ia menatap langit yang dipenuhi bintang, pikirannya melayang ke kejadian siang tadi. Saat melatih Sora, ia sempat merasakan kehadiran seseorang. Tatapan itu tidak mengancam, tetapi penuh rasa ingin tahu.
Namun, siapa pun itu, orang tersebut sudah pergi sebelum ia bisa menyelidikinya lebih lanjut.
Pagi pun tiba. Suara burung-burung berkicau riang di antara pepohonan yang mengelilingi desa kecil itu. Udara dingin masih menyelimuti tanah, tetapi sinar matahari mulai mengusir sisa-sisa embun yang menempel di dedaunan.
Di tengah hiruk-pikuk pasar pagi yang mulai hidup, Abirama berjalan perlahan di antara para pedagang. Ia mengenakan jubah sederhana, tak ingin menarik perhatian lebih dari yang diperlukan. Sejak ia dan Kimiko menetap di desa ini bertahun-tahun lalu, ia lebih memilih hidup tenang sebagai seorang warga biasa.
Namun, pagi ini berbeda.
Dari kejauhan, seorang pria tua bertongkat dengan jubah lusuh berwarna cokelat berdiri di dekat lapak seorang pedagang buah. Matanya tajam, penuh kebijaksanaan yang terasah oleh usia. Ia menatap lurus ke arah Abirama, sebelum akhirnya melangkah mendekat dengan langkah tertatih, namun tetap tegap.
“Abirama,” suara tua itu mengalun berat, penuh wibawa.
Abirama berhenti. Para pedagang di sekitar mereka seolah tak menyadari percakapan ini, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Kepala desa,” Abirama menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk penghormatan.
Pria tua itu—kepala desa yang sudah memimpin tempat ini selama puluhan tahun—memandangnya dalam-dalam. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Mari bicara empat mata. Aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu.”
......................
Mereka duduk di sebuah pondok kecil di belakang pasar. Tempat itu sepi, hanya suara angin yang menggoyangkan dedaunan dan samar-samar suara pasar dari kejauhan. Kepala desa duduk di atas bangku kayu, tongkatnya bertumpu di lutut, sementara Abirama bersila di hadapannya.
Sejenak, keduanya saling diam. Hanya suara kayu yang berderak pelan saat kepala desa menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Aku melihatmu kemarin,” akhirnya pria tua itu membuka suara. “Di hutan, saat kau melatih putramu.”
Abirama tetap diam, tetapi pandangannya sedikit menyipit.
Kepala desa menghela napas panjang. “Seumur hidupku tinggal di desa ini, aku belum pernah melihat seorang pendekar sejati. Kami adalah kaum yang sederhana, petani dan pengrajin, bukan pejuang.” Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah. “Tetapi apa yang kulihat kemarin… Itu bukan teknik seorang warga biasa. Itu adalah seni bertarung.”
Abirama menatapnya lekat. “Dan apa yang ingin kau ketahui, kepala desa?”
Orang tua itu tersenyum tipis. “Siapa dirimu sebenarnya?”
Abirama terdiam sesaat. Lalu, perlahan, ia menatap lurus ke dalam mata pria tua itu.
“Hanya seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya.”
Kepala desa menyipitkan mata, mengamati wajah pria yang duduk di hadapannya. “Jangan bermain kata denganku, Nak. Aku mungkin sudah tua, tetapi aku belum pikun.” Ia bersandar ke belakang, lalu menghela napas. “Aku tak tahu dari mana kau berasal, tetapi jelas bahwa kau bukanlah orang biasa.”
Hening sejenak.
Kemudian, kepala desa melanjutkan, suaranya lebih lembut, tetapi penuh keyakinan. “Aku tahu kau adalah seorang imigran. Dulu, saat kau dan istrimu pertama kali datang ke desa ini, aku tidak banyak bertanya. Aku menyangka kalian hanyalah sepasang suami istri yang ingin mencari kehidupan baru, seperti banyak orang lainnya.”
Ia mengetuk tongkatnya sekali lagi, kali ini lebih pelan. “Tapi sekarang aku bertanya-tanya… Apakah kau melarikan diri dari sesuatu?”
Tatapan Abirama mengeras.
“Kami hanya ingin hidup damai.”
Kepala desa tersenyum kecil. “Aku percaya itu. Dan aku bukan orang yang suka ikut campur dalam urusan orang lain.”
Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Tetapi aku ingin mengingatkan satu hal, Nak.” Matanya menatap tajam, seolah mampu menembus lapisan hati yang selama ini Abirama sembunyikan.
“Seorang pendekar bukanlah seseorang yang bisa hidup tanpa meninggalkan jejak.”
Abirama merasakan sesuatu di dalam dadanya bergetar, tetapi ia tetap diam.
Kepala desa melanjutkan, suaranya kini lebih lembut, tetapi tetap tajam bak pisau yang mengiris waktu. “Cepat atau lambat, kebenaran akan mengejar mu. Orang-orang sepertimu… Tidak bisa selamanya bersembunyi.”
Sejenak, Abirama menundukkan kepala.
Namun, saat ia mengangkat wajahnya kembali, ekspresinya tetap tenang.
“Aku berterima kasih atas peringatan mu, Kepala Desa.”
Orang tua itu menghela napas panjang. “Aku hanya ingin kau tahu… Jika ada sesuatu yang akan menimpa desa ini, aku ingin tahu lebih dulu.”
Abirama menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan.
“Baik.”
Kepala desa tersenyum samar. “Bagus.”
Ia berdiri perlahan, dibantu tongkatnya. Angin berembus, membawa serta daun-daun kering yang beterbangan di sekitar mereka.
“Terakhir kali aku melihat seseorang seperti dirimu…” Kepala desa bergumam pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Ia membawa kehancuran dan perubahan dalam takdir banyak orang.”
Ia menoleh ke arah Abirama. “Aku harap kau tidak akan melakukan hal yang sama.”
Abirama tetap diam, tetapi dalam hatinya, ia tahu—sejarah lama yang selama ini ia coba kubur, perlahan mulai menggeliat kembali.
Kepala desa pun melangkah pergi, meninggalkan Abirama dalam kesunyian yang penuh arti.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/