Jelly Putri Wijaya sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Benjamin Huang. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Jelly ke Hongkong mempertemukan gadis itu dengan Oscar Liu, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Jelly yang kikuk dan misterius, membuat Oscar tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Oscar yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Jelly bukanlah gadis sembarangan, membuat Oscar jadi mempertanyakan niatnya. Jelly pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Jelly kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?
Bagaimana kisahnya? yuk ikuti di novel baruku.. 🙏
Jika suka, like, komen positif, sub, rate 5 and share ya.. Terimaka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"Sial."
"Yang sialan itu kau. Kenapa harus berhenti tiba-tiba seperti ini? "
Oscar menoleh dan menemukan gadis yang sedang mengusap - usap hidung di belakangnya. "Jelly, " gumamnya lebih serupa bertanya, seolah-olah baru menyadari kalau gadis itu masih bersamanya. "Kau bisa mengantarku ke suatu tempat? Dimana saja, asal sepi. Aku ingin bernafas lega. "
Jelly menggerak- gerakan telunjuk sambil mengingat- ingat. "Aku tahu pemakaman di sekitar sini. "
Oscar menjejalkan ponselnya ke saku mantel. " Tempat sepi tidak selalu berarti pemakaman, " gerutunya. "Lagi pula, ada apa denganmu? Batu nisan, pemakaman... kenapa kau selalu berurusan dengan kematian? "
"Sebenarnya ada apa? " Jelly bersedekap.
"Hari ini cukup sepertinya. "
"Hari ini cukup, apa maksudnya? " ulang Jelly.
Oscar tersenyum sekilas. "Kita berdua sedang menjadi perbincangan di internet. "
"Apa? " Jelly lekas- lekas menatapnya. Suara gadis itu terdengar kaget. "Apa kau baru saja berkata.... "
"Ya, dan minta maaf, " sela Oscar berpura-pura. Tapi diam- diam ia merasa heran melihat Jelly yang mulai bergerak- gerak gelisah. Apakah gadis itu perlu bereaksi sepanik itu? " Aku benar-benar minta maaf. "
"Tapi... "
"Beberapa penggemarku mulai membicarakan kita, " Kata Oscar lagi.
"Mustahil." Jelly merangkum wajahnya sendiri. Matanya melebar ketakutan ketika ia melihat Oscar lagi. "Kau tidak mengerti.... "
"Apa? Apa yang tidak kumengerti? " balas Oscar cepat. Melihat Jelly yang mematung, mendadak perasaannya mulai tidak enak. Semakin lama gadis itu membisu, semakin otak Oscar tidak bisa berpikir waras kemungkinan. Jangan- jangan....
"Kau.... Memiliki kekasih? " Oscar mengucapkan hal itu sambil terbata. Ia berusaha agar tidak terdengar macam- macam. Namun melihat Jelly yang kini memegangi leher dan menerawang, rasa khawatir mendadak menyelimuti dirinya. "Jelly, katakan sesuatu. Kekasihnya pasti akan membunuhku, benar? "
Tiba-tiba Jelly sudah menarik napas dan menggeleng. "Ada hotel beberapa blok dari sini, kau.. kau akan menemukannya. " Setelah mengatakan kalimat bernada datar, Jelly pun segera berlalu meninggalkannya.
****
"Hoi! ini dia yang ditunggu- tunggu. Kemana saja kau sendirian? Aku sudah menantimu sejak sore tadi. "
Jelly menyunggingkan seulas senyum kecil ketika Zoya Amanda membukakan pintu dan segera memeluknya. Sudah lama mereka tidak bertemu, tepatnya setelah Zoya memutuskan kembali ke Hongkong begitu mengundurkan diri dari rumah sakit di Shenzhen, beberapa tahun lalu.
Persahabatan Zoya Amanda dan Jelly diawali setelah keduanya sama-sama tahu mereka memiliki darah Indonesia dari pihak ibu masing-masing. Mereka tak sengaja bertemu di pertukaran pelajar. Saat itu Jelly Putri Wijaya masih tercatat sebagai Mahasiswi Sejarah di Universitas Indonesia, sementara Zoya Amanda Mahasiswi Fakultas Kedokteran di Universitas Shenzhen.
Mendengar Zoya Amanda yang menghalau dan mengomeli merpati- merpati di tempat itu dengan menggunakan bahasa Indonesia, tiba-tiba saja Jelly terdorong untuk berkenalan. Ya, bahasa yang membuat mereka saling menemukan. Meski tinggal di Tiongkok dalam waktu yang cukup lama membuat mereka terbiasa menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin, tetapi terkadang bahasa Indonesia tetap mereka gunakan dan hanya pada saat membicarakan atau menghina seorang yang mereka benci.
"Kau harus membiarkanku masuk dulu baru menanyakannya."
Zoya Amanda tertawa dan memiringkan tubuhnya. "Masuklah, kalau begitu. "
"Dimana saudaramu? "
"Kau hanya bisa bertemu dengannya pada hari libur."
"Sesibuk itukah? "
"Jangan tanya. "
Jelly lalu menengadah dan tersenyum, memperhatikan keadaan rumah Zoya Amanda. Kertas dinding motif bunga mawar kuning dan foto- foto berbingkai kecoklatan rupanya masih menghiasi dinding- dinding rumah apartemen dua lantai. Foto- foto keluarga, bukti kebersamaan, atmosfer hangat..
Senyuman Jelly menerawang. Ia tidak memilikinya.
Jelly enggan mengingat saat dirinya duduk memeluk boneka panda di sofa menyaksikan perdebatan orangtuanya di hadapannya. Kata- kata tajam ibunya dan ekspresi murung ayahnya. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Udara di sekitar Jelly mengisi rongga dadanya dengan oksigen. Menolak untuk tenggelam dalam masa lalu orangtuanya, ia menarik napas dan beralih ke lemari kayu yang berisi buku dan Piagam yang kebanyakan tentang ilmu Kesehatan dan juga penghargaan.
"Keluarga penyakitan, " sindir Jelly dulu ketika mereka baru berteman. Bagaimana tidak, ayah Zoya Amanda dokter spesialis bedah jantung, ibunya dokter gigi, Vika Andini kakaknya, dokter spesialis anestesi dan sementara Zoya Amanda sendiri seorang dokter umum.
Mungkin satu- satunya yang menjauhi dunia. " bersakit-sakit. " hanya si bungsu Kevin Handoko. Dia bintang film dan memilih menetap di Seoul, mengikuti jejak Zoya sebelumya. Dan laki-laki itu juga rekan kerja Benjamin Huang, tunangan Jelly yang temperamental.
Di samping menekuni profesi masing-masing, keluarga Amanda juga mendirikan bisnis alat kesehatan dan membangun sejumlah rumah sakit di Hongkong, Indonesia, Korea Selatan dan Thailand. Keluarga Amanda diketahui sangat berpengaruh dan terpandang di bidang kesehatan. Tapi untuk alasan profesional, Zoya Amanda enggan bekerja di rumah sakit milik ayahnya,sangat berbeda dengan Vika Andini yang memutuskan ikut mengelola rumah sakit keluarganya.
"Masih seperti dulu, " gumam Jelly sambil menyusuri meja kayu mahoni, lemari kaca dan mainan porselen di dalamnya dengan jemarinya. "Tak banyak yang berubah. "
Zoya Amanda ikut mengamati sekeliling ruang tamu keluarganya setelah duduk di sofa. "Sejak orangtuaku pindah ke Indonesia, rumah ini hampir terlantar. Andai aku senang mengurung diri dalam rumah sepertimu, mungkin rumah ini masih terasa bernyawa. Tapi waktuku sekarang lebih banyak di rumah sakit, jadi... yah. "
"Kau sudah menggantung lukisanku." Jelly tersenyum samar melihat lukisan yang menggambarkan suasana pedesaan di pagi hari, di ruang tamu Zoya.Ia ingat, lukisan ini dibuatnya lima tahun lalu dan di kirimkannya untuk ayah Zoya Amanda yang berulang tahun.
"Tentu, siapa pun yang berkunjung ke rumah ini selalu memuji lukisanmu. Ayahku bahkan bilang pada rekan- rekannya kalau dia membeli lukisan itu dengan harga yang fantastis."
"Aku sangat merindukan lelucon- lelucon ayahmu, " gumam Jelly menggeleng- gelang, lalu beralih menelusuri penampilan Zoya sambil tersenyum lebih lebar. "Ternyata atmosfer Hongkong membuatmu banyak berubah, " katanya sambil duduk di seberang gadis itu.
"Berubah bagaimana maksudmu? "
Jelly menunjuk rambut panjang kemerahan Zoya." Ini rambut panjang membuatmu terlihat semakin cantik saja."
"Aku tahu. Aku sudah menebak kau pasti langsung mengomentari rambutku begitu kita bertemu, " decak Zoya. "Aku menyanggulnya setiap kerja. Dan untuk membuat sanggul yang rapi, aku harus bangun lebih awal. Bisa kau bayangkan penderitaanku? "
Jelly tertawa mendengar penuturan bernada yang sedikit mengerutu itu. Ia tahu bangun pagi sama sekali bukan hobi Zoya. "Tapi aku yakin penampilan kamu yang sekarang sudah memakan banyak sekali korban. "
Zoya Amanda berdecak." Beberapa, hanya beberapa, " tegasnya sambil menggoyangkan sebelah bahu kiri agak dramatis. Lalu tiba-tiba ia bertanya," Oh ya, bagaimana kabar ayahmu? Dia sehat? "
"Terakhir bertemu dia masih bertamasya."
"Well, pemilik hotel bintang lima dan pengacara top seperti Jonathan Wijaya sudah pasti sibuk sekali bertamasya. Tapi kegigihannya tidak sia- sia, baru - baru ini ku lihat Wijaya menempati urutan kelima hotel terbaik di dunia di majalah National Geographic Travelers."
Bersambung!!