NovelToon NovelToon
Jodohku Suporter Bola

Jodohku Suporter Bola

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanyrosa93

Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelantikan Pimpinan Baru

Setelah kemarin Anne, Yuda, Rey dan Nabila saling bertemu tanpa sengaja, hari ini Yuda ada acara di divisi kerja pelantikan pimpinan baru. Karena pimpinan yang menjabat terdahulu sudah memasuki usia pensiun.

Sementara Anne juga sibuk di toko aksesories ponsel banyak inputan barang baru.

Pagi ini, Yuda bangun lebih awal dari biasanya. Hari ini ada acara penting di divisi kerjanya, yaitu pelantikan pimpinan baru.

Pimpinan lama yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade akhirnya pensiun, memberikan kesempatan bagi kepemimpinan baru untuk melanjutkan tugasnya.

Setelah bersih-bersih dan bersiap, Yuda mengenakan seragam kerjanya yang sudah disetrika rapi semalam. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, merapikan kerah dan memastikan semuanya terlihat profesional.

"Semoga acaranya berjalan lancar," gumamnya sambil meraih jaketnya dan bersiap mengorder taksi online.

Di sisi lain kota, Anne juga sudah bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya di toko aksesori ponsel yang ia kelola karena sudah mendapat kepercayaan dari bosnya. Hari ini ada banyak barang baru yang masuk, dan ia harus memastikan semuanya tercatat dengan baik di sistem. Anne menyukai pekerjaannya, meskipun terkadang ia merasa lelah menghadapi pelanggan yang beragam.

Pukul delapan pagi, Yuda sudah tiba di divisi kerja. Acara pelantikan akan dimulai pukul sembilan, namun ia datang lebih awal untuk membantu persiapan. Ruangan sudah dihiasi dengan dekorasi sederhana, dan para karyawan lain juga tampak sibuk. Beberapa di antaranya sedang mengatur kursi, sementara yang lain memastikan peralatan teknis seperti mikrofon dan proyektor berfungsi dengan baik.

“Yud, sini bantuin pasang spanduk,” panggil Dodi, salah satu rekan kerjanya.

Yuda segera mendekat dan membantu merentangkan spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang Pimpinan Baru ". Setelah semua persiapan selesai, mereka beristirahat sejenak sambil menikmati kopi di pantry.

“Kira-kira pimpinan baru kita gimana, ya? Tegas atau santai?” tanya Dodi.

“Entahlah, kita lihat saja nanti,” jawab Yuda santai.

Tak lama kemudian, para undangan mulai berdatangan. Pegawai dari berbagai cabang, para petinggi perusahaan, hingga beberapa mitra bisnis turut hadir. Yuda dan rekan-rekannya duduk di barisan belakang setelah memastikan semua berjalan lancar.

Acara dimulai dengan sambutan dari pimpinan lama, Pak Surya, yang mengucapkan terima kasih atas kerja sama tim selama bertahun-tahun. Suasana sedikit emosional ketika ia berbicara tentang perjalanan panjangnya di perusahaan, hingga akhirnya tiba saatnya bagi beliau untuk menyerahkan jabatan kepada penggantinya.

“Pimpinan baru kita adalah seseorang yang memiliki pengalaman luas di bidang ini. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik di bawah kepemimpinannya,” ujar Pak Surya sebelum menyerahkan mikrofon kepada orang yang ditunggu-tunggu.

Saat sosok pimpinan baru naik ke podium, Yuda terkejut.

“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Dandi Pradipta. Mulai hari ini, saya akan menjabat sebagai kepala cabang .”

Yuda menatap pria di podium itu dengan kaget. Dandi.

Dandi yang kemarin ia temui tanpa sengaja bersama Rey, Anne dan Nabila. Dandi yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Anne. Pada waktu masih awal kenal Yuda, Anne pernah cerita tentang masa lalunya.

Seketika, pikirannya kembali ke pertemuan kemarin. Ia tak menyangka bahwa Dandi adalah pimpinannya yang baru. Yuda menelan ludah, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Sementara itu, Dandi berbicara dengan percaya diri, menyampaikan visi dan harapan untuk timnya.

Setelah acara selesai, Yuda sengaja menghindari perhatian Dandi. Ia tidak ingin suasana menjadi canggung di hari pertama pimpinan barunya bertugas. Namun, saat jam makan siang tiba, Dandi justru menghampirinya di kantin.

“Yuda, kan?” sapa Dandi dengan senyum ramah.

“Iya, Pak,” jawab Yuda, berusaha bersikap profesional.

“Kemarin kita sempat bertemu, ya? Aku baru sadar setelah lihat namamu di daftar karyawan.”

Yuda mengangguk. “Iya, kebetulan banget.”

Dandi tertawa kecil. “Dunia ini memang sempit.”

Mereka berbincang sebentar sebelum Dandi kembali ke ruangannya. Yuda menghela napas lega. Setidaknya Dandi tampak profesional dan tidak membawa urusan pribadi ke tempat kerja.

***

Sementara itu, di toko aksesori ponsel, Anne tengah sibuk menata barang-barang baru di rak. Nabila datang membantu setelah menyelesaikan kuliahnya siang ini.

“Baru seminggu nggak ke sini, tapi toko ini makin ramai aja,” komentar Nabila sambil membantu menata casing-casing baru.

“Alhamdulillah, lagi banyak pelanggan,” jawab Anne sambil tersenyum.

Mereka bekerja sambil mengobrol ringan, hingga tiba-tiba seorang pelanggan datang. Anne menoleh dan terkejut melihat siapa yang masuk ke tokonya.

“Dandi?”

Dandi tersenyum kecil. “Hai, Anne.”

Anne berdiri kaku. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Dandi lagi, apalagi di toko yang dia jaga sendiri. Nabila yang berada di sampingnya ikut terkejut, namun ia memilih untuk diam dan memperhatikan reaksi Anne.

“Aku nggak tahu kalau toko ini milik kerabatmu,” kata Dandi setelah melihat-lihat sekeliling.

“Iya, aku yang kelola,” jawab Anne singkat.

Suasana sedikit canggung, namun Anne mencoba tetap bersikap profesional. “Ada yang bisa kubantu?”

Dandi tersenyum. “Aku sebenarnya cuma ingin beli charg*r. Tapi kalau nggak enak, aku bisa cari di tempat lain.”

Anne menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku ambilkan.”

Ia mengambil beberapa pilihan charg*r dan menunjukkan kepada Dandi. Sementara itu, Nabila diam-diam mengamati ekspresi mereka. Ia bisa melihat ada ketegangan di antara mereka, campuran antara kejutan, nostalgia, dan entah perasaan apa lagi yang sulit dijelaskan.

Setelah memilih salah satu, Dandi membayar dan sebelum pergi, ia berkata, “Senang bisa ketemu kamu lagi, Anne.”

Anne hanya tersenyum tipis. Setelah Dandi keluar, Nabila langsung menoleh ke Anne dengan tatapan penuh tanya.

“Kok bisa sih dia datang ke sini?”

Anne menghela napas. “Gue juga nggak tahu.”

Nabila berpikir sejenak. “Jangan-jangan dia datang bukan cuma buat beli charger, tapi juga buat ketemu lu?”

Anne menggeleng pelan. “Gue nggak tahu, Bil. Tapi pertemuan kemarin rasanya sudah cukup. Gue nggak mau berharap atau memikirkan sesuatu yang nggak perlu.”

Nabila menatap sahabatnya dengan khawatir. Ia tahu Anne sudah berusaha menutup lembaran masa lalu, tapi apakah semudah itu?

Tak berselang lama, kekasih Anne yaitu Mas Yuda pun muncul, ia disuruh atasannya untuk membeli handphone untuk inventaris kantor ke Toko dimana Anne sedang berjaga.

Lalu, tiba-tiba Yuda pun nyeletuk didepan Anne dan sahabatnya Nabila itu, “ Ada apa nih, tumben ngumpul rame-rame?”

Langsung dijawab oleh Anne, “ Tidak ada apa-apa yank, ini Nabila katanya kangen jadi menghampiri ke toko,”

“ Mas sendiri tumben kesini? Ada perlu apa? Atau mau belanja?” lanjut Anne kemudian.

“ Oh ini, Mas disuruh beli ponsel buat inventaris kantor, ada yang type apa aja ayank Anne?” tanya Yuda sambil memilih-milih ponsel yang akan dibeli.

“ Nah, ini aja Mas warna item dan memory internalnya lumayan besar, cocok nih buat menyimpan dokumen.” jawab Anne sambil menyodorkan ponsel dari etalase.

“ Ya udah, Mas ambil yang ini ya, totalin jadi berapa?”

Anne pun lanjut membuat kwitansi pembayaran dan Yuda segera membayar sesuai harga barang tersebut.

Sementara itu, di luar toko yang berjarak beberapa ratus meter, Dandi berhenti sejenak di dekat motornya. Ia menggenggam charg*r yang baru saja dibelinya, lalu tersenyum tipis.

“Sepertinya takdir memang masih suka memper*ainkan kita.”

Hari itu berlalu dengan banyak pertanyaan yang menggantung di benak masing-masing. Apakah pertemuan ini hanya kebetulan? Ataukah takdir memang sedang mengatur ulang kisah yang belum selesai?

***

1
Hanyrosa93
sabar
Hanyrosa93
wkwkw biar tegang
Protocetus
baru main udh kecelakaan 😮‍💨
Protocetus
Crazy up min
Hanyrosa93
boleh, yang mana ya novelnya?
Protocetus: kunjungin aja Mercenary of El Dorado
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of Dorado
Hanyrosa93: boleh
total 1 replies
Nay
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!