Xin Yue, seorang wanita cantik dengan kecerdikan yang mematikan, hidup dari mencuri dan membunuh. Namun, sebuah insiden membuatnya terlempar ke dunia kuno tanpa apa-apa selain wajahnya yang menipu dan akalnya yang tajam. Ketika dia mencuri identitas seorang wanita misterius, hidupnya berubah drastis—dari buronan kekaisaran hingga menjadi bunga paling dicari di Ruoshang, tempat hiburan terkenal.
Di tengah pelariannya, dia bertemu Yan Tianhen, pangeran sekaligus jenderal dingin yang tak pernah melirik wanita. Namun, Xin Yue yang penuh tipu daya justru menarik perhatiannya.
Dipaksa berpura-pura menjadi kekasihnya, keduanya terjebak dalam hubungan yang penuh intrik, adu kecerdikan, dan momen-momen menggemaskan yang tak terduga.
Akankah Xin Yue berhasil bertahan dengan pesonanya, atau akankah hatinya sendiri menjadi korban permainan yang ia ciptakan?
Tagline: Di balik wajah cantiknya, tersembunyi rencana yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Kontrak yang Tak Terduga
Malam itu, Xin Yue berlari dengan cepat, napasnya terengah-engah. Di tangannya tergenggam erat token kecil yang ternyata menjadi sumber masalah besar. Token itu ia curi beberapa hari lalu dalam salah satu misinya, hanya untuk mengetahui bahwa benda itu milik seorang wanita bangsawan yang sudah mati—dan kebetulan juga bernama Xin Yue.
Wanita itu, seperti yang ia dengar dari rumor, adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian keluarganya beberapa tahun lalu. Keluarga itu memiliki musuh besar di istana, dan token ini menjadi bukti identitas yang sangat penting. Sayangnya, Xin Yue telah menggunakannya secara sembrono untuk melewati pemeriksaan saat ia sedang melarikan diri, menyebabkan kegemparan besar. Kini, musuh keluarga itu dan pihak-pihak lain yang terlibat mengejarnya mati-matian, mengira dia adalah pewaris terakhir keluarga itu.
"Kenapa aku selalu terjebak dalam masalah seperti ini?" gumamnya, menatap token di tangannya dengan kesal.
Saat dia mencoba menghindari pengejaran, dia tidak sengaja bertemu Li Zheng di pasar. Mata pria itu langsung menyala saat melihatnya.
"Hei! Kau! Berhenti!" teriak Li Zheng, mengejarnya seperti orang gila.
"Astaga, dia lagi," desis Xin Yue sambil memutar tubuh dan melarikan diri.
Dalam kepanikannya, dia akhirnya melompati tembok tinggi yang ternyata adalah... mansion Yan Tianheng.
Di dalam mansion, Yan Tianheng sedang berendam di kolam air panas. Suasana hatinya sedang buruk setelah kembali dari istana, di mana ibu suri mencoba menjodohkannya lagi.
"Dunia ini benar-benar menyebalkan," gumamnya sambil menutup matanya. "Inilah alasan aku lebih suka perbatasan. Tidak ada drama seperti ini."
Namun, pikirannya yang tenang terganggu oleh suara seseorang melompat turun dari tembok mansionnya. Matanya terbuka, alisnya berkerut. Kabut tipis dari uap air panas menghalangi pandangannya, tetapi dia mengenali sosok itu.
"Xin Yue," gumamnya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Sepertinya aku menemukan solusi untuk masalahku."
Dia berdiri dari kolam air panas, membiarkan air menetes dari tubuhnya, dan berjalan ke arah Xin Yue, yang sedang bersembunyi di balik semak-semak.
"Xin Yue," suara dingin Tianheng membuatnya tersentak.
Xin Yue menoleh perlahan, wajahnya penuh kewaspadaan. "Astaga... apakah aku salah masuk lagi?" gumamnya pelan.
"Sepertinya kau suka sekali menyusup ke tempatku," kata Tianheng sambil melipat tangannya. "Kali ini, apa alasanmu?"
Xin Yue berdiri dengan sikap tenang, meskipun hatinya sedikit gugup. "Aku sedang dikejar, dan aku tidak punya pilihan lain."
Tianheng mendekat, menatapnya dengan mata tajam. "Dikejar, ya? Karena token itu?"
Xin Yue mengerutkan kening. "Bagaimana kau tahu tentang itu?"
Tianheng tidak menjawab, tetapi senyum licik muncul di sudut bibirnya. "Kebetulan, aku juga punya masalah. Dan aku pikir kau bisa menjadi solusi yang sempurna."
Xin Yue melipat tangan, menatapnya dengan curiga. "Apa maksudmu?"
"Aku butuh tunangan," jawab Tianheng datar.
Xin Yue tertegun. "Apa?"
"Aku muak dengan perjodohan yang terus dipaksakan padaku. Jika aku memiliki tunangan, mereka tidak akan bisa menggangguku lagi. Dan kau..." Tianheng mendekat, membuat Xin Yue mundur sedikit. "Kau butuh perlindungan. Kesepakatan yang adil, bukan?"
Xin Yue memutar matanya. "Kau pikir aku akan setuju begitu saja?"
"Kau tidak punya pilihan," balas Tianheng dingin. "Musuhmu terlalu banyak, dan aku satu-satunya yang cukup kuat untuk melindungimu."
Xin Yue terdiam, mempertimbangkan kata-katanya. Dia tahu Tianheng benar. "Baiklah," akhirnya dia berkata. "Tapi ingat, ini hanya kontrak. Jangan harap aku akan bertindak seperti gadis lemah yang tergila-gila padamu."
Tianheng tersenyum, kali ini lebih lebar. "Oh, tentang itu..."
Xin Yue merasa firasat buruk. "Apa lagi?"
"Untuk membuat ini meyakinkan, kau harus berpura-pura menjadi gadis lembut yang penuh kasih sayang di depan orang lain," katanya dengan nada serius namun menggoda. "Aku akan mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama karena kelembutanmu."
Mata Xin Yue melebar. "Kelembutan? Aku? Kau bercanda, kan?"
Tianheng mengangkat bahu. "Tidak. Bukankah kau sering bertindak sebagai lotus putih di Ruoshang? Ini pasti sangat cocok untukmu."
Alis Xin Yue terangkat. "Jadi, kau menyelidikiku?"
Tianheng hanya menatapnya tenang. "Aku hanya perlu tahu siapa yang akan menjadi tunanganku."
Xin Yue mendengus, merasa sedikit kesal tapi tidak punya pilihan. "Baiklah," katanya dengan enggan. "Aku profesional."
Namun, ketika Tianheng menarik sudut bibirnya dengan senyum jahat, Xin Yue mulai meragukan keputusannya.
"Bagus," kata Tianheng, suaranya penuh kemenangan. "Kita akan mulai besok."
"Mulai apa?" tanya Xin Yue curiga.
"Kau akan pindah ke mansionku. Tinggal di sini akan memudahkan kita berpura-pura, dan kau bisa membantu membereskan bunga liar yang terus berdatangan."
"Bunga liar?" Xin Yue menatapnya bingung.
"Para wanita yang dikirim bangsawan tua. Mereka tidak akan berhenti sebelum aku punya tunangan. Dan dengan kau di sini, aku tidak perlu repot-repot menolak mereka."
Xin Yue mendengus kesal. "Jadi aku ini semacam penjaga pintu untukmu?"
Tianheng tersenyum ringan. "Lebih dari itu. Kau adalah tunanganku. Itu tanggung jawabmu."
Xin Yue merasa ingin memukul wajah pria itu. "Kau benar-benar menyebalkan."
Tianheng menatapnya dingin namun penuh keyakinan. "Bahkan jika kau tidak mau, kau tetap harus setuju. Kau tidak punya pilihan."
Xin Yue hanya bisa menghela napas panjang, merasa bahwa hidupnya baru saja menjadi jauh lebih rumit.
Setelah kesepakatan itu dibuat, suasana di antara mereka mendadak menjadi canggung. Xin Yue, yang biasanya tenang dan tak tergoyahkan, tiba-tiba merasa tidak nyaman. Pandangannya tanpa sengaja menyapu tubuh Yan Tianheng yang masih basah, dan baru saat itulah dia menyadari bahwa pria itu tidak mengenakan apa-apa selain uap air yang melingkupi tubuhnya.
Matanya tertuju pada otot perutnya yang terukir sempurna, lalu naik ke dadanya yang bidang. "Astaga, lihat otot itu," pikir Xin Yue, sebelum matanya tak sengaja turun lebih jauh. Wajahnya langsung memerah, dan dia buru-buru berdeham untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Oh, ini bukan salahku," pikirnya cepat. "Dia sendiri yang keluar tanpa apa-apa, jadi aku tidak bisa disalahkan."
Yan Tianheng, yang awalnya tidak menyadari pandangan itu, akhirnya menangkap perubahan ekspresi di wajah Xin Yue. Dia terdiam sesaat, sebelum sudut bibirnya terangkat dengan senyum menggoda.
"Xin Yue," panggilnya dengan nada rendah, membuat gadis itu tersentak.
"Apa?" jawab Xin Yue, mencoba terlihat tenang meski pipinya masih sedikit merah.
"Kau tahu," Tianheng mulai, langkahnya mendekat perlahan. "Jika kita bertunangan, kau bisa melihat tubuhku lebih sering. Tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti tadi."
Wajah Xin Yue langsung memanas, tapi dia menatap Tianheng dengan tatapan tajam. "Siapa yang ingin melihat tubuhmu? Jangan terlalu percaya diri."
Tianheng mengangkat alis, senyumnya semakin lebar. "Benarkah? Tapi wajahmu bilang sebaliknya."
"Jangan terlalu banyak bicara!" Xin Yue memutar tubuhnya, membelakangi Tianheng untuk menyembunyikan rasa malunya. Namun, dia bisa mendengar suara tawa pelan Tianheng di belakangnya, membuatnya semakin kesal.
"Pria ini benar-benar menyebalkan," gumamnya pelan.
Tianheng hanya mengamati punggungnya dengan senyum tipis. "Kau sebaiknya bersiap. Mulai besok, kau akan tinggal di sini. Jangan lupa membawa semua barangmu."
Xin Yue mendengus, tidak menoleh. "Aku tahu. Jangan terlalu memerintahku."
Namun, sebelum dia pergi, Tianheng menambahkan satu kalimat terakhir. "Dan Xin Yue," panggilnya, membuat gadis itu berhenti di tengah langkahnya.
"Apa lagi sekarang?" tanyanya tanpa menoleh.
"Jangan terlalu lama memikirkan tubuhku. Aku tahu itu sulit, tapi cobalah," katanya dengan nada menggoda.
Xin Yue memutar tubuhnya dengan cepat, melemparkan pandangan tajam ke arahnya. "Kau benar-benar...!" Tapi dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Tianheng sudah berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan tawa kecil yang terdengar jelas.
Setelah keluar dari mansion Tianheng, Xin Yue langsung menuju Ruoshang untuk melapor pada Madam Hua. Di sepanjang jalan, dia masih merasa kesal sekaligus malu.
"Pria itu benar-benar menyebalkan," gumamnya lagi, tapi kali ini ada sedikit senyum di wajahnya. "Tapi dia memang punya tubuh yang cukup bagus... Astaga, apa yang aku pikirkan!"
Xin Yue menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir pikiran aneh itu. Dia harus fokus. Sekarang dia punya kontrak baru, dan hidupnya akan semakin rumit.
Namun, jauh di lubuk hatinya, dia tidak bisa menyangkal bahwa Yan Tianheng—dengan segala keangkuhan dan sikap dinginnya—membuat hidupnya sedikit lebih menarik.