Eiren Azura merupakan gadis periang denga wajah cantik dan penuh keberanian. Dia merupakan gadis yang tidak memiliki prestasi apa pun dalam bidang kuliahnya. Sebuah kesalahan membuatnya harus berurusan dengan Adelio Cetta, seorang dosen tampan, tetapi juga galak. Semua bermula dari kesalahannya hingga dia mengetahui begitu banyak tentang dosen populer yang digandrungi begitu banyak wanita.
Adelio Cetta, merupakan pria yang selalu bertanggung jawab dan terpaku pada masa lalu. Keberadaan Eiren perlahan melunturkan pandangannya tentang seorang wanita. Perlahan, gadis tersebut mampu mengikis benteng yang selalu dibangunnya hingga menjulang tinggi.
》》》》》
Aku berusaha menjauh darimu, menghindari luka yang masih begitu baru menampilkan goresannya. Namun, takdir begitu kejam menarikku hingga kembali padamu.
Eiren Azura
》》》》》
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Apa pun yang kamu pikirkan saat ini. Aku hanya akan membawamu dalam genggamanku.
Adelio Cetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15_Peringatan Pertama
Elio masih mengunyah makan malamnya dengan perasaan hambar. Rasanya dia tidak bernafsu makan. Pikirannya masih berkutat dengan Eiren yang pergi bersama Alex di depan matanya. Beberapa kali dia menghela napas dan menggelengkan kepala pelan.
Stop memikirkan hal tidak penting, Elio. Dia pergi dengan kekasihnya, kenapa kamu yang repot. Bahkan kamu mengenalnya dalam waktu dekat. Jadi, berhenti memikirkan hal yang tidak penting, batinnya bergejolak.
Abian yang sejak tadi memperhatikan Elio mengerutkan kening heran dan menatap istrinya yang juga memandang dengan tatapan sama. Ada apa dengan anak kita?
“Elio,” panggil Farah yang membuat Elio kaget dan memandang mamanya dengan wajah bingung.
“Ada apa, Ma?” tanya Elio yang bingung dengan pandangan kedua orang tuanya.
“Apa kamu pusing, Elio? Sejak tadi kamu bicara sendiri,” Farah memandang anaknya dengan tatapan khawatir.
Elio hanya diam dengan mulut membentuk huruf O. Dia bahkan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Pikirannya bercabang ke mana-mana dan dia benar-benar kehilangan fokus.
“Atau Papa butuh antar kamu ke psikiater? Kali saja kamu mengalami gangguan dalam otak karena terlalu keras berpikir,” celetuk Abian santai dan mengunyah makananya.
Elio yang mendengar berdecak kesal dan menatap kedua orang tuanya malas. “Elio baik-baik saja. Jangan terlalu khwatir,” jawabnya singkat.
“Kami tidak mengkhawatirkanmu, Elio. Aku hanya takut jika nantinya, calon pewaris tunggal perusahaan Cetta menjadi gila. Aku hanya belum siap menyumbangkan seluruh aset keluarga,” kata Abian tanpa rasa bersalah.
Adelio yang mendengar hanya berdecih kesal. Kenapa dia harus memiliki orang tua yang begitu menyebalkan? Bahkan, mamanya tidak memiliki niat untuk membelanya. Matanya menatap kedua orang yang tengah menatapnya dengan tawa tertahan.
“Apa Elio seimut itu sampai kalian melihat dengan tertawa?” ujarnya dengan nada ketus.
“Tidak. Kami hanya memikirkan hal lain lagi,” jawab Abian masih dengan gaya santai.
Farah yang melihat anaknya mengetukan kening dalam segera mengambil kertas kecil yang sudah ada di sebelahnya sejak tadi. Jemarinya membalik kertas bergambar seorang wanita seksi dengan senyum bak malaikat dan menyodorkan ke arah Adelio duduk.
Adelio yang awalnya tidak tertarik menjadi penasaran dan melirik foto tersebut. Setelahnya, netranya menatap mamanya yang masih memunculkan senyum. “Ini apa maksudnya?”
“Bukankah dia cantik, El?” tanya Farah dengan wajah antusias.
“Hmm. Lalu?” Adelio masih sibuk dengan makannya.
“Kamu tahu, dia seorang model loh. Di bahkan sering....”
“Iya, Ma. El pernah lihat dia muncul di salah satu stasiun televisi. Lalu apa hubungannya dengan Elio?” tanya Elio dengan perasaan tidak sabar.
Farah yang diteggur hanya tersenyum. Bahkan Abian tidak membantu sama sekali. Dia malah santai dan menyantap makanan penutup yang dibuat oleh asisten rumah tangganya.
“Mama pengen kamu besok ketemuan sama dia,” ucapnya membuat kedua pria yang masih asik mengunyah langsung diam seketika, “itu pun kalau kamu mau,” tambah Farah dengan senyum canggung.
Elio yang mendengar menghela napas keras dan meletakan sendoknya dengan pelan. “Sepertinya kita pernah membahas ini sebelumnya, Ma. Jadi kenapa masih dibahas terus? Elio pikir ini sudah berakhir,” ucapnya dengan nada suara datar dan mengelap mulutnya dengan sapu tangan.
“Mama cuma mau kamu kembali bangkit, sayang. Mama mau, kamu....”
“Elio harus kembali ke rumah, Ma. Masih ada banyak pekerjaan. Selamat malam,” potongnya dan segera bangkit. Tanpa menatap kedua orang tuanya, langkahnya segera meninggalkan rumah tersebut.
Farah yang melihat menghela napas keras melihat perilaku anaknya yang selalu bersikap dingin setiap ada pembahasan mengenai wanita yang akan mendampingi. Abian yang melihat istrinya murung segera mengelus pelan pundak Farah dan menatap penuh kasih sayang.
“Biarkan dia menjalani kehidupannya, sayang. Jangan paksakan dia untuk segera mencari pendamping,” ujarnya dengan nada lembut.
“Tetapi ini sudah hampir lima tahun, Abian,” keluh Farah merasa frustasi.
Abian mengangguk mengerti. “Aku tahu, tetapi kita tidak bisa memaksakan semuanya. Biarkan dia yang menentukan hidupnya sendiri. Aku yakin, dia cukup tahu apa yang akan dilakukan.”
“Iya.” Farah akhirnya mengalah dan kembali menarik foto tersebut untuk disimpan. Rasanya dia memang sudah menyerah untuk mencarikan calon untuk anaknya.
_____
Eiren masih asik menonton drama thailand kesukaannya, sesekali menatap ponsel yang tidak juga bergetar. Padahal dia menunggu panggilan masuk dari Alex atau sekedar pesan singkat mengucapkan selamat malam. Namun, semua harapannya hanya tinggal harapan. Nyatanya, ponsel di sebelah tidak juga menyala.
“Sebenarnya apa yang akan kamu lakukan, Alex? Bahkan menghubungi saja kamu tidak bisa. Padahal aku rindu,” ucapnya pelan dengan kepala ditidurkan. Lapotnya masih menyala, menampilkan seorang pria yang tengah memarahi wanita.
Eiren menegakan kepala dan menghela napas. Dia segera bangkit dan berniat mengambil minuman di kulkas. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Feli masuk ke dalam kamar dengan tergesa. Membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
“Feli, kalau buka pintu bisa pelan sedikit, kan?” protes Eiren dengan wajah kesal.
“Gak bisa,” ucapnya dengan buru-buru, “ada yang mencarimu. Seorang wanita dengan dua pria kekar yang menemani.”
“Apa?” Eiren mengerutkan kening heran. Siapa yang mencarinya?
Eiren menutup kembali lemari pendinginnya dan meletakan gelas di atas. Langkahnya segera menuju ke luar. Dia sendiri merasa penasaran. Di tambah dengan beberapa mata yang menatapnya penuh selidik. Papa gak berurusan dengan orang aneh, kan, batinnya takut.
Eiren membuka gerbang ke dua dan melihat ketiganya masih diam dan mengamati kosan. Dengan cepat, dia segera menutup gerbang dan melangkah mendekat.
“Anda mencari saya?” tanya Eiren dengan sopan.
Mendengar suaranya, ketiganya langsung berbalik. Eiren sedikit kaget karena wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang sama dengan yang pernah dilihat di apartemen. Dia tunangan Alex. Apa yang akan dilakukannya?, batin Eiren berkecambuk.
Dora tersenyum menatap Eiren yang hanya diam. “Kamu Eiren?” tanyanya dan hanya diangguki pelan oleh gadis di hadapannya.
“Perkenalkan, aku Dora Amara, calon tunangan Alex,” ucapnya memperkenalkan diri. Senyumnya bahkan tidak menghilang sama sekali.
Eiren yang mendengar hanya diam dan menatap Dora dengan pandangan datar. Sebenarnya dia merasakan sakit yang teramat ketika mendengarnya. Tunangan? Lalu dia harus bagaimana?
“Lalu, untuk apa kamu datang mencariku? Jika kamu menanyakan keberadan Alex, aku tidak tahu di mana dia,” celetuk Eiren malas menanggapi Dora yang masih memandang dengan wajah ramah yang dibuat-buat.
“Aku tidak mencari Alex, Eiren. Aku hanya ingin memepringatkanmu untuk menjauh dari Alex sebelum kamu merasakan sakit hati karena kecewa,” terang Dora dengan wajah lembut.
“Bagaimana jika aku tidak mau?” tantang Eiren dengan wajah tegas.
Dora menghela napas keras dan menatap ke arah Eiren santai. “Aku hanya memberikamu peringatan. Namun, jika kamu masih tidak mau mendengarkan, maka aku akan melakukan hal gila yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.”
“Jadi, lebih baik kamu menurut dan ikuti apa mauku. Dengan begitu, kamu dan Alex tidak akan pernah merasa saling menyakiti,” lanjut Dora dan segera melangkah menuju mobil.
Eiren yang mendengar hanya diam dengan tangan mengepal. Rasanya kali ini dia ingin menghajar Dora sampai babak belur. Namun, dia mengabaikan. Eiren memilih untuk diam dengan pandangan yang masih menatap ke arah mobil yang mulai berlalu.
“Sialan!” bentaknya dengan perasaan kesal dan langsung masuk ke dalam kos-kosan.
_____