Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sekarang, bukan hanya mencubit pingangku. Kaila juga mengelitik bagian pingang yang membuat aku merasa sangat geli.
"Ampun, ampun," ucapku sambil berusaha menyelamatkan diri dengan cara menjauhi Kaila.
"Itu adalah hukuman untuk kamu mas," ucap Kaila sambil terus mengejar aku menaiki anak tangga.
"Oke, aku nyerah," kataku saat kami sudah berada di dalam kamar.
Aku dan Kaila sama-sama merasa lelah. Kami pun terbaring di atas ranjang di dalam kamar ini.
"Lala, di rumah ini hanya ada empat kamar. Satu kamar tamu, dua kamar di belakang, dan satu kamar utama yang sekarang kita tempati ini. Apa kamu tidak keberatan, kalau kita lagi-lagi harus berbagi kamar, Lala?"
"Kenapa kita tidak tidur di kamar yang terpisah aja mas? Bukankah ada empat kamar di rumah ini?"
"Lala, satu kamar untuk mas Ali sebagai sopir. Dan satu kamar di samping kamar sopir, aku rasa akan di tempati oleh asisten rumah tangga kita. Dan kamu tidak mungkin untuk tinggal di kamar tamu kan?"
"Hmz ... baiklah, kalau kita masih harus berbagi kamar untuk yang kedua kalinya. Aku rasa, tidak masalah buat aku."
Aku tersenyum ketika Kaila mengatakan tidak keberatan untuk berbagi kamar lagi dengan ku. Karna dengan satu kamar, aku berpeluang semakin dekat dengan Kaila setiap harinya.
Sebenarnya, bukan aku tidak mampu untuk membeli rumah yang lebih besar dari pada rumah ini. Tapi aku sengaja tidak membelikan rumah yang besar dan punya banyak kamar. Alasannya sudah jelas, aku tidak ingin Kaila punya kamar sendiri nantinya.
"Lala, kamu mau makan apa malam ini?"
"Apa saja mas, yang penting bisa dimakan."
"Hahaha ... kalau gitu, kamu bisa makan roti saja untuk malam ini, gimana?"
"Lah, kok cuma roti sih."
"Habisnya, kamu bilang apa saja barusan, bukan?"
"Ya gak roti juga kali mas," ucap Kaila dengan nada sedikit kesal.
"Ya udah, bilang aja mau makan apa. Aku akan masak apapun yang kamu inginkan."
"Apa! Kamu mau masak?" ucap Kaila dengan sangat kaget dan bangun dari baringnya.
"Iya, aku akan masak untuk kita makan malam ini. Kitakan belum punya sisten rumah tangga, Lala."
"Kamu yakin mau masak mas?" tanya Kaila dengan tatapan mata yang tajam.
"Ya yakinlah. Kamu kenapa gak yakin gitu sama apa yang aku katakan. Kamu tenang saja, aku gak akan mengecewakan kamu kalau soal rasa," ucapku sambil bangun dan tersenyum.
Aku merasa geli dengan ekspresi wajah yang Kaila tunjukkan. Wajahnya yang melihat aku dengan tatapan tak percaya dengan apa yang aku katakan. Itu terlihat sangat lucu sekali.
"Beneran kamu bisa masak mas? Apa sebaiknya, kita pesan makanan aja?"
"Lala, Lala, kamu gak usah cemas sama suami kamu ini. Aku sangat lama tinggal di luar negeri sendirian. Kamu lupa ya soal itu?"
"Lagian, aku tidak terlalu suka pesan makanan. Aku lebih suka makanan yang kita masak sendiri, dari pada harus pesan makanan siap."
"Ya udah deh, kalau kamu beneran yakin mau masak. Silahkan masak mas Adya, tapi awas aja kalo makanannya gak enak yah. Aku gak akan makan tuh apa yang kamu masak."
"Dan satu lagi, aku gak bantu kamu masak lho ya," kata Kaila lagi.
"Oke kalo gitu. Aku gak minta bantu sama nona kok kon, aku akan masak sendiri," ucapku sambil mencubit pipi cantik Kaila.
"Ih, kamu ya mas," ucap Kaila dengan nada kesal.
Aku sudah tidak ada di sana lagi. Setelah mencubit pipi putih Kaila, aku segera melarikan diri dari kamar.
Aku sedikit bersyukur, rumah baru ini membuat Kaila sedikit merasa nyaman. Dan ia juga mau berteman dengan aku sekarang.
Aku sibuk di dapur, saat sepasang kaki melangkah menghampiri aku dengan perlahan.
"Kamu masak apa mas?" tanya Kaila yang berdiri tepat di sampingku sekarang.
"Aku hanya masak ikan goreng, dan tumis sayur aja."
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Ih, katanya gak mau bantuin aku tadi."
"Aku berubah pikiran."
"Yakin kamu berubah pikiran sekarang?"
"Ya yakin lah."
"Beneran?"
"Ih, kamu mau aku bantuin atau ngak sih. Aku ini udah berubah pikiran, jangan biarkan aku berubah pikiran lagi," ucap Kaila dengan kesal dan wajah manyun yang semakin memperlihat wajah imutnya.
"Yeee, gitu aja ngambek. Ya udah, kamu bisa bantu aku potong wortel dan bersihin bayamnya."
"Oke, di mana wortel sama bayamnya?"
"Di kulkas," ucapku singkat sambil terus melanjutkan pekerjaanku.
Sesaat, tidak ada suara dari Kaila. Mungkin ia sedang melakukan apa yang aku katakan padanya barusan.
Karna aku penasaran, aku melihat apa yang Kaila lakukan saat ini, sehingga membuat ia terdiam tanpa sepatah katapun.
"Ya ampun Lala, apa yang kamu lakukan dengan wortel ini," kataku sangat kaget sekaligus merasa lucu dengan apa yang Kaila lakukan.
"Lah, bukannya kamu bilang minta di potongkan wortelnya."
"Ya, aku bilang potong wortelnya. Lalu kenapa kamu potong seperti ini sih? Ini bukan potong namanya Lala. Ini menghancurkan."
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄