NovelToon NovelToon
RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat / Action / Pusaka Ajaib / Mengubah Takdir
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.

“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”

Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Ritual di Atap!

Angin kencang menyapu atap gedung pencakar langit DarsMagusl. Struktur baja raksasa itu seperti mengerang pelan, seolah ikut merasakan amarah langit. Lampu neon dari gedung sekitar berkedip samar, memantul di permukaan kaca dan baja yang basah oleh embun malam. Di tengah terpaan angin itu, seorang lelaki tua berdiri tegak. Rambut dan janggut panjangnya terombang-ambing liar, hampir tercabut dari kepalanya.

Raze Cromwell menyipitkan mata, menatap dingin cahaya kota yang berkilauan di kejauhan. Ia mengangkat satu tangan ke wajahnya, melindungi mata dari hembusan angin yang begitu kuat.

"Kenapa aku memilih atap untuk ritual ini?" gerutunya, dengan jengkel.

Sejumput rambut perak jatuh menutupi penglihatannya. Dengan gerakan kasar, ia menyibakkannya ke belakang. Jubah hitamnya berkibar bebas, kain tebal itu diterpa angin... bergoyang menghantam kakinya berulang kali.

"Benar... sihir bisa menyelesaikan banyak masalah di dunia ini," gumamnya, setengah merenung, setengah mencibir. "Tapi sihir tidak bisa memperbaiki keputusan bodoh."

Langkahnya berat tapi mantap saat ia berjalan menuju pusat atap. Setiap pijakan sepatu botnya menimbulkan bunyi gesekan halus di permukaan beton. "Jika bukan karena angin ini," lanjutnya, "aku pasti sudah selesai sejak tadi."

Tiba-tiba, suara tangisan teredam mencapai telinganya. Napas terputus-putus, isak tertahan, bahkan ada yang nyaris menjadi jeritan putus asa. Suara manusia yang biasa terdengar saat nyawa berada di ujung tanduk. Alis Raze berkerut, kesabarannya langsung menipis.

"Apakah kalian semua tidak bisa diam?" katanya dingin, tanpa menoleh. "Atau ada yang ingin kalian katakan?"

Di hadapannya, terukir sebuah lingkaran sihir bercahaya di permukaan atap. Simbol kuno dan pola rumit saling bertaut, membentuk konstruksi magis yang sulit dipahami orang biasa. Cahaya putih menyilaukan memancar dari lingkaran itu, murni dari sihir Raze sendiri, terasa padat dan menekan udara di sekitarnya.

Di dalam lingkaran itu, lima orang tergeletak dengan tangan dan kaki terikat. Tubuh mereka gemetar, bukan hanya karena dinginnya malam, tapi juga karena ketakutan yang merayap tanpa henti. Segel fisik menutup mulut mereka, meredam jeritan menjadi suara sengau yang menyedihkan. Mata mereka liar, mencari pertolongan yang tak akan mungkin datang.

"Jika aku izinkan salah satu dari kalian berbicara," ujar Raze sambil menggerakkan jarinya, menelusuri simbol di udara, "apakah yang lain bersedia untuk diam?"

Seketika... Cahaya ungu samar menyala di ujung jemarinya. Dengan isyarat singkat, segel di mulut salah satu tawanan, seorang pria paruh baya, lenyap. Pria itu langsung terengah-engah, menghirup udara malam dengan rakus dengan air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

"Tolong.... Magus Kegelapan!" ratapnya. "Ampuni aku! Aku akan memberimu apa pun. Uang, artefak, segalanya! Tolong jangan bunuh aku!"

Raze melangkah mendekat. Bayangannya menjulang dan menutupi tubuh pria itu. Tatapannya sangat tajam, tanpa perasaan.

"Seperti pasanganmu yang memohon agar mereka tetap hidup," katanya pelan tapi tegas, "apa yang kau tawarkan kepada mereka? Di mana mereka sekarang?"

Wajah tawanan itu membeku. Matanya membelalak, ketakutan berubah menjadi gelombang panik yang jelas.

"B-bagaimana.... bagaimana kamu tahu?" Tanyanya dengan suara bergetar.

Raze tidak menjawab. Ia terus berjalan, mengitari lingkaran sihir seperti hakim yang memeriksa terdakwa. Suaranya datar saat ia menyebutkan satu per satu dosa yang mereka sembunyikan.

"Membunuh kekasih sendiri dalam ledakan amarah hanya karena cemburu," katanya pada salah satu dari mereka.

"Menciptakan laporan palsu tentang kekerasan, menjebloskan orang yang tidak kau sukai ke penjara," lanjutnya pada yang lain.

"Menjual zat terlarang kepada magus putus asa, hingga inti sihir mereka meledak dan hancur."

Setiap kalimat membuat tubuh para tawanan semakin gemetar. Keringat dingin bercampur air mata, napas mereka tersendat-sendat. Kini mereka mengerti, Raze Cromwell tidak hanya asal bertindak. Seperti kali ini, ia membacakan kejahatan yang mereka kira sudah terkubur rapi untuk selamanya.

Di hadapan sihir dan mata seorang Magus Kegelapan, tidak ada dosa yang benar-benar bisa disembunyikan.

Namun ketika ia yakin semua dosa telah disebutkan, Raze berhenti mengitari lingkaran. Ia menatap tawanan terakhir, seorang pria muda dengan wajah pucat dan mata merah karena menangis.

"Dan kau," kata Raze dengan nada mengejek yang jelas terdengar di suaranya, "seorang vegan yang begitu bersemangat, sampai memaksakan pandanganmu pada orang lain. Sejujurnya, kamu ada di sini hanya karena aku butuh angka lima, dan waktu sudah hampir habis."

Ketegangan saat itu langsung memenuhi udara malam. Angin yang tadi kencang kini terasa lebih dingin, menusuk kulit hingga tulang. Simbol-simbol di dalam lingkaran sihir mulai bertambah banyak, cahayanya semakin terang, memantul di permukaan atap yang basah dan membuat bayangan para tawanan bergoyang seperti hantu.

Saat Raze bersiap melanjutkan fase berikutnya dari ritualnya, sebuah suara keras dan menantang tiba-tiba terdengar dari salah satu tawanan. Segel mulutnya entah bagaimana sudah lepas, mungkin karena getaran energi yang semakin kuat.

"Jadi apa! Kau akan menghakimi kami, tapi bagaimana dengan dirimu sendiri, Dark Magus? Berapa banyak nyawa yang sudah kamu ambil? Berapa banyak orang yang kau bunuh, hah!? Kau tidak lebih baik dari binatang!"

Raze membuka mulut untuk menjawab, tapi tiba-tiba batuk hebat menyerangnya. Tubuhnya membungkuk, tangannya seketika menutup mulutnya dengan panik. Bintik-bintik darah merah segar jatuh ke beton atap, menyebar kecil di bawah kakinya. Angin langsung membawa bau amis samar yang khas.

"Kau benar," jawabnya serak setelah batuk reda, sambil menyeka mulut dengan lengan jubah hitamnya yang sudah usang. "Kita semua pantas mati."

Tiba-tiba, sebuah suara tegas dan dingin terdengar dari belakang mereka semua.

"Tidak semua. Hanya kau...Reza!"

Para tawanan dan Raze langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari langit malam yang gelap, lima sosok mengenakan jubah putih bersih perlahan turun. Cahaya lembut memancar dari tubuh mereka, seolah membawa sedikit kehangatan di tengah dinginnya malam ini. Kaki mereka menyentuh atap tanpa suara, gerakan mereka tenang dan penuh dengan wibawa.

"Grand Magus! Mereka datang menyelamatkan kita!" seru salah satu tawanan dengan suara penuh harap, meski masih terikat.

Di antara para penyihir di dunia ini, Grand Magus adalah yang tertinggi. Mereka adalah elit sejati, masing-masing memiliki kekuatan yang cukup untuk mengubah nasib sebuah negara hanya dengan satu keputusan. Semua adalah penyihir bintang sembilan, puncak yang sangat jarang dicapai.

Tentu saja, melihat lima orang sekaligus berkumpul seperti ini terasa tidak wajar, bahkan jika tujuan mereka adalah menangkap Dark Magus yang ditakuti.

Raze tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat karena batuk tadi. Matanya menyipit menatap salah satu dari mereka.

"Sepertinya kalian menerima undanganku," ejeknya santai. Pandangannya tertuju pada sosok di depan. "Enlaxx, bagaimana istrimu sekarang? Apa dia masih bisa tersenyum, mengetahui suaminya... hanya bermain dengan satu bola saja?"

Wajah Enlaxx langsung memerah hebat. Matanya melebar karena marah, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Rasa sakit lama yang disembunyikan tiba-tiba muncul lagi, membuat napasnya sedikit tersengal.

Sebelum Enlaxx sempat menjawab, salah satu Grand Magus lain melangkah maju. Ia seorang wanita dengan rambut pirang panjang yang berkibar lembut meski angin kencang. Energi putih terang memancar darinya, cukup kuat hingga menerangi seluruh atap dan membuat bayangan menghilang sejenak.

"Aku tidak percaya penyihir berbakat sepertimu bisa jatuh sejauh ini," katanya dengan nada kecewa yang tulus, suaranya tetap tenang tapi tegas.

"DIAM!" teriak Raze tiba-tiba, suaranya menggelegar hingga angin seolah berhenti sesaat. Matanya menyala merah gelap, energi hitam mulai membungkus tubuhnya seperti asap tebal. Jubah compang-campingnya berkibar liar, seperti hidup sendiri.

"Tak seorang pun di antara kalian berhak bicara padaku! Tarik kembali ucapanmu!! Kau atau kalian semua, tak berhak mencampuri hidupku. Kalian telah merampas segalanya yang aku sayangi dari dunia ini. Kalian tahu apa yang telah kalian lakukan??! Terutama kau, Idore!"

***

1
Kholi Nudin
lanjutt gas!
Wisma Rizqi
mantap thorr.. gas lanjut!
Wisma Rizqi
wih mantap😄
Wisma Rizqi
buku baru . CIAYOOO THOR💪
vian16
yang ini jangan gantung Kaya buku pertama ya🤭
Wisma Rizqi: udah update tuh barusan
total 1 replies
Kholi Nudin
Sehari jangan cuma 3 bab tor. pelit amat
vian16
Wah baru lagi thor💪 gas upload
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!