NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Nego Brutal

Bagi Bara yang jiwanya telah menyatu dengan orang hebat, uang 500 ribu rupiah di saku celananya saat ini terasa lebih berat daripada peti emas batangan. Ini adalah modal awal untuk kesuksesannya.

"Lima lembar kertas bergambar pahlawan," gumam Bara sambil berdiri di gerbang Pasar Loak Jatinegara. "Di tanganku, kertas ini akan berubah menjadi senjata pemusnah massal... atau minimal panci yang tidak bocor lah ya."

Target hari ini: Perlengkapan Survival Hutan.

Anggaran: Rp 500.000,-

Tingkat Kesulitan: Neraka (Harga barang naik).

Bara melangkah masuk. Hiruk-pikuk pasar menyambutnya. Suara pedagang obat, derit gerobak, dan aroma oli bekas bercampur keringat manusia menciptakan simfoni kekacauan yang dirindukan Bara.

Dia melewati lapak penjual batu akik (dia membuang muka, trauma dengan akik merah kemarin), melewati lapak penjual sparepart motor curian, dan akhirnya berhenti di zona yang dia cari: Lapak Barang Bekas Logam.

Seorang bapak tua dengan rokok kretek terselip di telinga sedang menjaga tumpukan besi tua. Di sana tergeletak cangkul patah, rantai kapal, dan... sebuah Golok yang terlihat menyedihkan, alias berkarat.

Mata Bara berbinar. Dia bukan melihat karat nya. Tapi melihat potensi yang akan di hasilkan barang tersebut untuknya.

Bara berjongkok, mengambil golok itu. Gagangnya dari kayu yang sudah retak, bilahnya penuh noda oranye (karat).

"Berapa ini, Pak Tua?" tanya Bara, menimang golok itu. Beratnya pas. Titik keseimbangannya agak lari ke depan, cocok untuk memotong dahan keras.

Si Bapak Tua melirik malas. "Tujuh puluh ribu. Itu besi per mobil. Kuat itu."

"Tujuh puluh ribu?" Bara tertawa renyah, tawa seorang bangsawan yang mendengar lelucon rakyat jelata. "Pak, Pak. Mari kita bicara jujur sesama ahli karatan"

Bara mengetuk bilah golok itu dengan kuku jarinya. Tring. Suaranya sember.

"Dengar itu? Frekuensinya rendah. Ini bukan besi per murni, tapi campuran besi cor biasa. Dan lihat noda oranye ini? Ini bukan sekadar karat, ini Ferri Oksida tingkat lanjut yang sudah memakan struktur mikro logamnya. Kalau saya pakai ini buat nebas pohon pisang, bisa-bisa goloknya yang patah, bukan pohonnya pak."

Si Bapak Tua melongo. Dia tidak mengerti "Ferri Oksida" atau "struktur mikro", tapi omongan Bara terdengar sangat meyakinkan.

"Ya... ya terus lu mau nawar berapa?" Bapak itu mulai goyah.

"Dua puluh ribu," tawar Bara sadis. "Itu pun saya rugi karena harus beli amplas dan cuka buat ngilangin korosinya."

"Buset! Sadis amat lu Tong! Lima puluh lah!"

"Dua puluh lima. Saya naik 5 rebu, atau saya laporin ke asosiasi pandai besi kalau Bapak jual barang rongsok dengan harga premium." (Padahal asosiasi itu tidak ada).

Si Bapak Tua menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bocah ini bicaranya seperti pejabat tapi bajunya kayak gembel. Bikin pusing.

"Yaudah angkut! Angkut sana! Pusing gua denger lu ngoceh kimia-kimia apa lah itu namanya.!"

Bara tersenyum puas.

Item: nambah satu

Harga: Rp 25.000, hasil malak.

Sisa Anggaran: Rp 475.000.

Lanjut ke target kedua: Pakaian Lapangan.

Bara butuh celana yang banyak kantongnya (untuk simpan ramuan) dan jaket yang tahan angin. Dia masuk ke area pakaian bekas impor (Thrift Shop kaki lima).

Di sini, penguasanya berbeda. Bukan bapak-bapak santai, tapi Ibu Hajjah Maimunah. Wanita paruh baya dengan badan subur dan kacamata berantai emas yang duduk di atas singgasana kursi plastik. Dia terkenal sebagai Ratu Tawar Menawar.

Bara melihat sebuah jaket parka tentara (bekas tentara entah negara mana) yang warnanya sudah pudar tapi serat kainnya masih kuat. Ada banyak saku. Sempurna.

"Berapa, Bu Hajjah?" Bara mengangkat jaket itu.

Bu Hajjah menatap Bara dari balik kacamatanya. Tatapan scanner harga.

"Buat lu, seratus lima puluh ribu. Itu barang branded. Original ."

Bara mengelus dagu. Mahal. Hampir sepertiga anggarannya. Dia harus menggunakan Ultimate Skill: Analisis Kesehatan Palsu.

Di kehidupan lalu, jiwa yang ada dalam tubuh bara adalah tabib istana. Dia bisa tahu penyakit orang cuma dari melihat warna kulit dan cara napasnya.

Bara meletakkan jaket itu, lalu menatap wajah Bu Hajjah dengan tatapan prihatin yang mendalam.

"Bu Hajjah..." suara Bara melembut. "Maaf sebelumnya. Ibu sering merasa pegal di tengkuk kalau sore? Terus kadang-kadang jempol kaki kiri suka kesemutan?"

Bu Hajjah terlonjak kaget. "Lho? Kok situ tau?"

Bara mengangguk bijak. "Saya lihat dari aura wajah Ibu. Ada sedikit penyumbatan di meridian hati. Itu karena Ibu terlalu sering marah-marah sama pembeli yang nawar sadis. Kalau dibiarkan, bahaya lho, Bu. Bisa jadi asam urat kronis."

Wajah Bu Hajjah pucat. Emak-emak paling takut kalau soal penyakit. "Waduh... terus gimana dong, Dek? Eh, Mas Tabib?"

"Gampang," Bara tersenyum menenangkan. "Ibu harus banyak beramal. Memudahkan urusan orang lain itu obat paling mujarab. Misalnya... memudahkan pemuda miskin yang mau merantau ini untuk mendapatkan jaket pelindung tubuh."

Bu Hajjah terdiam, mencerna logika mistis itu. Antara takut asam urat dan sayang dagangan.

"Jadi... kalau saya kasih diskon, kaki saya sembuh?"

"Garansi karma instan, Bu," jawab Bara mantap. "Hati senang, aliran darah lancar."

"Yaudah! Yaudah! Ambil tujuh puluh ribu aja! Doain saya sehat ya!"

Bara membungkuk hormat "Semoga sendi-sendi Ibu sekuat baja."

Item kedua: Military Parka (Quality: Medium).

Harga: Rp 70.000.

Sisa Anggaran: Rp 405.000.

Belanja berlanjut. Bara menggila.

Dia membeli Panci Aluminium kecil (untuk merebus ramuan) seharga 30 ribu setelah berdebat soal ketebalan pantat panci.

Dia memborong Garam Kasar 2 kg, Gula Pasir, Cuka, dan Korek Api di toko kelontong. Si penjaga toko bingung kenapa ada orang beli garam sebanyak itu.

"Buat ngusir setan ya, Mas?" tanya penjaga toko.

"Yoi mas, soalnya saya ganteng mbak kunti ketagihan Ama saya," jawab Bara asal.

Total belanja sembako dan kimia dasar: Rp 100.000.

Sisa Anggaran: Rp 305.000.

Terakhir, dan yang paling penting: Tenda/Terpal.

Bara tidak mampu beli tenda mahal. Dia pergi ke toko bahan bangunan. Dia membeli terpal plastik biru ukuran 3x4 meter dan tali tambang nilon.

"Terpal: 50 ribu. Tambang: 20 ribu."

Total pengeluaran: Rp 70.000.

Sisa Anggaran: Rp 235.000.

Bara menatap sisa uangnya. Masih cukup banyak. Dia merasa seperti miliarder.

"Saatnya investasi di sektor nutrisi dan persenjataan jarak jauh," pikirnya.

Dia berjalan ke penjual mainan anak-anak. Ya, mainan.

Dia membeli Ketapel Kayu yang biasa dimainkan bocah SD.

"Ini bukan mainan," batin Bara saat memegang ketapel itu. "Ini adalah peluncur proyektil silent-kill."

Dia juga membeli sekantong kelereng.

Cost: Rp 15.000.

Sisa uang Rp 220.000 dia simpan rapat-rapat. Itu dana darurat.

Matahari mulai terbenam. Bara duduk di pinggir trotoar pasar, dikelilingi barang belanjaannya yang dibungkus kantong kresek hitam besar. Dia terlihat seperti orang yang mau pindahan rumah tapi tidak punya truk.

Dia mengenakan jaket parka tentara barunya (yang agak kebesaran), celana kargo curian kemarin, dan sepatu kets jebol. Di pinggangnya terselip golok karatan. Di lehernya tergantung ketapel. Lebih kurang kayak orang gila tau-tau nya Intel.

"Sempurna," ucap Bara puas. "Penyamaran taktis. Orang akan mengira aku orang gila, padahal aku adalah ancaman nasional."

Tiba-tiba, perutnya berbunyi. Pesta Steak Wagyu semalam sudah habis energinya dipakai debat sama Bu Hajjah.

Bara melihat gerobak Nasi Goreng Tek-Tek yang baru mangkal. Aromanya menggoda iman.

"Bang! Nasi goreng satu! Pedesnya level setan, telurnya dadar!" teriak Bara.

"Siap, Bos! Pake kerupuk?"

"Kerupuknya banyakin! Itu sumber karbohidrat instan soal nya!". Padahal cuman mau terlihat banyak.

Sambil menunggu nasi goreng, Bara mengeluarkan golok karatannya. Dia mengambil selembar kertas amplas yang tadi dia beli, lalu mulai menggosok bilah golok itu di tengah keramaian trotoar.

Srek... srek... srek...

Orang-orang yang lewat menatapnya ngeri. Ada orang gila, pakai jaket tentara, mengasah golok sambil senyum-senyum sendiri menunggu nasi goreng.

"Tenang, Sayang..." bisik Bara pada goloknya. "Nanti malam kita akan mandikan kamu dengan cuka biar karatmu rontok. Lalu kau akan tajam, setajam lidah mertua, saat lu lagi gak ada duit."

Si Abang Nasgor mengantar piring dengan tangan gemetar. "I-ini Mas... nasgornya. G-gratis kerupuk tambahan."

"Terima kasih, Rakyatku," ucap Bara sambil menerima piring.

Suapan pertama masuk. Rasa micin meledak di lidah.

"Ah... Monosodium Glutamat," desah Bara bahagia. "Penyedap rasa buatan dewa. Micin paling di depan"

Malam ini, dia akan tidur di pos ronda kosong dekat pasar. Besok pagi, saat fajar menyingsing, Bara akan memulai perjalanan panjangnya (jalan kaki, biar hemat ongkos) menuju Hutan Larangan di pinggiran kota.

Di sana, di antara pohon-pohon raksasa dan hewan liar, legenda Alkemis Hutan akan benar-benar dimulai. Dan yang paling penting: Tidak ada lagi WC mampet yang harus dia kuras.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!