Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Serangan
Langit di atas Desa Bambu tidak lagi sekadar mendung; awan itu kini memutar, membentuk pusaran hitam yang mengeluarkan suara jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa. Han Zo, Wakil Ketua Sekte Awan Hitam, menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukan sekadar ahli beladiri berbakat. Tekanan aura yang dikeluarkan Jian Wuyou terasa seperti beban seluruh gunung yang menindih jantungnya.
"Kau... kau bukan manusia biasa!" teriak Han Zo dengan suara parau. "Tapi jangan harap kau bisa menang melawan kehendak Awan Hitam!"
Han Zo merobek jubahnya sendiri, memperlihatkan tato berbentuk tengkorak di dadanya yang mulai bersinar hijau zamrud. Ia menggigit lidahnya, menyemburkan darah segar ke arah tongkat tulang manusianya.
"Teknik Terlarang: Panggilan Iblis Awan — Pengorbanan Darah!"
Seketika, tubuh Han Zo bergetar hebat. Urat-urat di lehernya menonjol, dan otot-ototnya membengkak hingga merobek kulitnya. Energi gelap dari pusaran langit turun menyatu ke tubuhnya, meningkatkan basis kultivasinya secara paksa dari Penyatuan Roh Level 8 menuju Ranah Transformasi Bumi Tahap Awal.
Guncangan energi di luar membuat pilar-pilar kediaman Jian Wuyou bergetar. Li Hua yang berada di dalam aula terjatuh dari kursinya. Ia bisa merasakan aura jahat yang sangat pekat merembes masuk melalui celah pintu, sebuah hawa yang membuatnya mual dan sesak napas.
"Tuan Muda Jiwu! Apa yang terjadi di luar?" seru Mei Lian sambil mendekap Jian Han yang mulai menangis kencang.
Jiwu, yang berdiri di depan pintu aula, memegang gagang pedang kayunya dengan erat. Matanya berkilat ungu. "Tikus itu mulai membakar nyawanya sendiri untuk mendapatkan kekuatan pinjaman. Kakak bisa mengatasinya, tapi..."
Jiwu menoleh ke arah Li Hua yang tampak sangat ketakutan. "Nona Li Hua, mendekatlah padaku. Dalam pertempuran ranah tinggi, ketakutanmu adalah makanan bagi musuh. Kau harus mulai belajar mengendalikan napasmu, atau energi jahat itu akan merusak jantungmu."
Li Hua merangkak mendekat, wajahnya pucat. "Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu apa-apa tentang kultivasi!"
"Duduklah bersila. Ikuti instruksiku," ucap Jiwu tegas namun menenangkan. "Bayangkan ada sebuah cahaya lilin kecil di perut bawahmu. Fokuslah hanya pada cahaya itu. Jangan dengarkan suara guntur di luar. Ini adalah teknik Penyucian Hati paling dasar. Jika kau ingin bersama Kakak, kau tidak bisa terus menjadi beban yang rapuh."
Li Hua memejamkan matanya, mencoba mengikuti kata-kata Jiwu di tengah gempuran suara ledakan dari luar.
Di luar gerbang, Han Zo kini telah berubah menjadi sosok mengerikan setinggi tiga meter dengan kulit berwarna kelabu dan mata yang sepenuhnya hijau menyala. Setiap langkahnya membuat tanah di sekitarnya hangus terbakar.
"Mati kau, bocah!" Han Zo mengayunkan tinjunya yang diselimuti api hijau.
BOOOOOMM!
Ledakan itu meratakan gerbang kayu kediaman Jian Wuyou. Namun, saat debu menghilang, Jian Wuyou masih berdiri di sana. Ia tidak lagi menggunakan ranting kayu; ranting itu sudah hancur menjadi abu karena tekanan energi tadi.
Jian Wuyou berdiri dengan tangan kosong, namun di sekelilingnya, aliran Qi ungu membentuk pusaran naga yang melindungi setiap inci tubuhnya.
"Mengorbankan umur dan jiwa demi kekuatan palsu..." Jian Wuyou menatap Han Zo dengan pandangan menghina. "Itulah alasan mengapa sektemu hanya akan menjadi catatan kaki dalam perjalananku."
Jian Wuyou melesat maju. Kecepatannya kali ini tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
"Satu Pukulan: Pemutus Rantai Takdir!"
Tinju Jian Wuyou menghantam tepat di tengah dada Han Zo. Tidak ada ledakan besar, hanya suara dentuman rendah yang menggetarkan udara. Namun, sedetik kemudian, cahaya hijau di mata Han Zo meredup. Seluruh energi jahat yang tadi ia kumpulkan mulai meledak keluar dari dalam tubuhnya sendiri.
"Ugh... b-bagaimana mungkin..." Han Zo terhuyung, memuntahkan darah hitam yang kental.
"Aku tidak hanya memukul tubuhmu," bisik Jian Wuyou tepat di depan wajah Han Zo. "Aku menghancurkan jalur energi yang kau pinjam dari iblis itu. Sekarang, kau hanyalah cangkang kosong."
Jian Wuyou mengangkat tangan kanannya ke langit. Awan hitam yang berputar-putar di atas desa mulai dipaksa berpencar oleh tekanan aura ungunya.
"Kembali ke sektemu, Han Zo. Katakan pada Ketuamu, aku akan datang dalam tiga hari. Siapkan peti mati untuk kalian semua, karena Desa Bambu bukan lagi tempat yang bisa kalian injak sesuka hati."
Jian Wuyou berbalik, mengabaikan Han Zo yang jatuh tersungkur tak berdaya. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya yang kini gerbangnya telah hancur. Matanya langsung tertuju pada aula, di mana ia melihat Li Hua sedang duduk bersila dengan napas yang mulai teratur di bawah bimbingan Jiwu.
Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir Jian Wuyou. Perang melawan Sekte Awan Hitam baru saja dimulai, tapi di tengah badai itu, ia melihat tunas kekuatan baru mulai tumbuh dalam diri wanita yang ia cintai.