Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Kita Bisa
"Kamu bicara apa Arif???". Tanyaku kaget.
"Aku bilang, Kamu dan Dayat pasangan serasi". Jelas Arif kembali.
"Ngaur Kamu". Jawabku sedikit tersinggung.
"Ayolah Ria...". Bujuk Dayat kembali.
"Kalau berpasangan, kalian mau pakai baju adat apa?". Tanya Liani penasaran.
"Aceh saja, biar bisa berdiri paling depan sebagai Raja dan Ratu". Sambung Rizki.
Dayat hanya tersenyum, mendengar saran dari teman-temannya.
Nah Aku, mau di letakkan dimana wajahku? Pikirku panjang. Aku tertunduk malu tanpa jawaban.
Bel pertama berbunyi, tanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Kami belajar sangat serius, pelajaran Matematika. Ibu menulis beberapa soal di papan tulis. Dan meminta seluruh siswa untuk mengerjakannya.
Dan siapa yang tahu jawabannya, dipersilahkan maju ke depan papan tulis untuk menulis langsung jawabannya.
Hampir bersamaan Aku dan Dayat ke depan papan tulis dan berebut kapur tulis untuk menulis jawaban di papan.
"CIEEE....". Sorak Teman-teman di dalam kelas.
Aku tersipu malu, dan menyerahkan kapur tulis itu kepada Dayat. Tapi Dayat menolaknya.
"Ladies First". Katanya sambil mempersilahkan Aku untuk yang pertama menulis jawaban di papan.
Karena kalah malu.
"Aku mau ke toilet dulu". Jawabku singkat dan meletakkan kapur tulis di atas meja.
"Bu,, Saya izin ke toilet bersama Liani ya?". Pintaku kepada Ibu pelajaran matematika.
Belum sempat Ibu menjawabnya, spontan Aku tarik tangan Liani dan mengajaknya ke toilet.
Syukur Liani tidak menolaknya. Jika tidak, begitu malunya Aku.
Sesampainya di depan pintu toilet. Liani menutup mulut mencoba menahan tawa.
"Kalau mau tertawa, ya tertawa saja. Nanti keluar angin kalau di tahan-tahan!". Kataku ketus.
Makin meledak tawa Liani.
"Ha Ha Ha...". Suara Tawa Liani pecah.
"Sudah ketawanya? Kalau sudah panggil ya, Aku mau buang air kecil". Sambungku ngambek.
Aku langsung masuk ke kamar mandi. Dan akhirnya selesai, Aku keluar kembali.
"Udah ketawanya? Kalau belum, Aku masuk lagi ni?". Tanyaku bete.
"Hehehehe, sudahlah Ria.. Itu saja kok ngambek sih?". Bujuk Liani.
Aku hanya manyun sedikit memajukan bibirku.
"Ya sudah lupain saja masalah tadi ya Ria sayang..". Bujuk Liani sambil merangkul pundakku.
Kami berjalan kembali menuju ke kelas.
Sesampai di kelas, Ibu Matematika sudah tidak ada lagi, malah ada Bapak Ali yang sedang menjelaskan di depan sambil menghadap ke arah tempat siswa duduk.
Aku masuk dengan mengucapkan salam dan duduk di meja paling depan bersama Liani.
Lalu Pak Ali berkata.
"Yang bisa menjawab pertanyaan dari Saya, tolong acungkan tangan baru di jawab ya Nak". Jelasnya.
Beberapa soal di lontarkan kepada siswa, dan ada beberapa soal yang bisa Aku jawab dengan benar dan cepat.
Hampir 20 soal ditanyakan kepada Kami. Setelah selesai semua soal diberikan.
Lalu Pak Ali memutuskan, untuk menunjuk 3 siswa yang paling banyak menjawab soal dengan benar dan cepat.
Dan yang terpilih adalah Rizki, Putra dan Ria, sebutnya mantap. Aku hanya kaget tak bisa berkata apa-apa.
Lalu Pak Ali keluar kelas, dan hanya berkata.
"Besok, Jam 09.00 pagi jumpai Saya di ruang guru".
Aku hanya terpelongo, tidak ngerti ada apa.
Ku beranikan diri bertanya pada Rizki, karena dia salah satu yang dipilih oleh Pak Ali.
"Rizki.. Tadi itu ada apa sih? Sampai nama kita terpilih". Tanyaku penasaran.
"Kita terpilih sebagai kelompok lomba cerdas cermat agama di salah satu pesantren yang berada di daerah Aceh Besar". Jelasnya.
"Jadi,, Aku sendiri perempuan?". Jawabku kaget.
Rizki hanya tersenyum.
Keesokkan harinya tepat jam 9 pagi, Aku pergi sendiri menjumpai Pak Ali. Aku tidak mau menjadi salah satu peserta perempuan yang ikut cerdas cermat agama.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊