Mami...mami..."
Kedua bocah-bocah itu kembali mendekati nya, perlahan Mutiara mencoba mundur, namun terlambat.
"Ya Tuhan, apakah mereka Anak-anakku. lalu siapa ayahnya. kenapa semua ini membuat ku semakin bingung dan frustasi. tidak.... tidak...aku bukan mami kalian." teriak Mutiara syok. namun terlalu kedua bocah-bocah mengemaskan tersebut berhasil bergelayut manja di sebelah kanan dan kiri kakinya. dan tidak mau dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memiliki dalam mimpi
"Tuan, aku permisi dulu."
"Tunggu."
Terdengar suara Devano yang dingin dan penuh penekanan, pria itu berdiri berjalan kearah Mutiara yang mundur perlahan, dia ingin segera meninggalkan ruangan presdir menyusul Rani yang terlebih dahulu sudah keluar. namun terlambat sebelah tangan Mutiara berhasil ditarik Devano. tangan yang sama enam tahun silam menjamah seluruh tubuhnya.
Pria itu terus mendekat, hingga tubuh Mutiara terbentur dinding yang kokoh. pria itu berhasil mengunci pergerakan Mutiara.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap Devano dengan tatapan tajam, hingga Mutiara tidak mampu membalas tatapan nya. posisi mereka begitu dekat, bahkan Mutiara bisa mencium bau nafas mint milik Devano.
"Tidak pernah tuan, kamu pasti salah orang. aku hanya wanita kelas bawah dan mustahil jika kita pernah bertemu sebelumnya." seraya melepaskan diri dan langsung kabur meninggalkan ruangan Devano. tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Kita lihat, sejauh mana kamu bisa berpura-pura, cantik. sikapmu hanya membuatku semakin ingin mengetahui misteri enam tahun silam." Devano tersenyum dalam.
Mutiara masuk kedalam toilet wanita, detak jantungnya mulai tidak beraturan. beberapa kali dia mencuci wajah untuk mengurangi rasa gugup dan takut jika kebenaran akan terkuak, dan tidak ingin kehilangan dua buah hatinya yang keberdaan mereka belum diketahui Devano.
****
Sebelum pulang kerumah, Mutiara menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan bulanan dengan sisa-sisa uang tabungannya. dia langsung menuju tempat penyedia susu formula, pempers, sabun mandi dan sampo untuk anak-anak.
"Untuk sementara aku harus bisa berhemat, paling tidak sampai gajian pertama ku bulan depan. kasihan bibi Erika yang terpaksa ikutan susah setelah kedatangan ku dan anak-anak." gumamnya sedih. sedangkan papanya Hendrawan tidak bisa diharapkan lagi, setelah jatuh bangkrut dia benar-benar tidak memperdulikan Mutiara lagi.
Setelah membayar belanjaan, Mutiara memilih berjalan kaki menuju rumah, paling tidak dia bisa menghemat uang untuk ongkos taxi untuk kebutuhan lain.
"Mami pulang." teriak Reyhan dan Reyhina, sehingga rasa capek yang dirasakan Mutiara seolah-olah terobati. dengan senyuman ceria kedua anak-anak yang berlarian menyambut kedatangannya.
Malamnya Mutiara tidak bisa memejamkan mata, pikirannya masih teringat tentang pertanyaan yang diajukan Devano tadi pagi.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" kata-kata itu kembali terngiang-ngiang ditelinga Mutiara.
"Apakah pak David bisa memindahkan aku bekerja pada ruangan lainya, aku takut mati jantungan atau ketahuan. jika setiap hari harus bertemu Devano." harap Mutiara.
"Aku harus menghubungi Mbak Rani, sapa tahu dia bisa membantu ku. karena kami berasal dari negara yang sama." Mutiara mencari daftar kontak Rani diponsel nya.
"Hallo Mutiara, apa kamu belum tidur jam segini?" ucap Rani diseberang sana.
"Belum, aku tidak bisa tidur mbak. maaf mengganggu mbak?"
"Ada apa Mutiara?"
"Mbak aku tidak nyaman bekerja diruangan Presdir, jika seandainya aku minta pak David untuk memudahkan aku keruangan lain. apa dia setuju ya mbak." tanya Mutiara ragu.
"Kamu jangan bodoh Mutiara, ingat gaji kita jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain. bahkan kita sudah diberikan pelatihan khusus, banyak yang menginginkan pekerjaan seperti kita. tapi pak David lebih memilih kita berdua dibandingkan yang lainya, karena setahuku presdir sangat menyukai gadis dari Indonesia." terang Rani.
"Apa kok terdengar aneh ya mbak?"
"Kamu jangan geer dulu, maksud nya. presdir merupakan seorang indo, dia juga pernah menetap dan tinggal di Indonesia. sehingga dia senang jika pelayan khusus untuk menyediakan kopi, makanan dan bersih-bersih itu orang Indonesia asli karena sesuai dengan seleranya." terang Rani.
"Tuan Devano itu sangat tampan, bahkan setiap malam aku selalu berharap bisa bermimpi bercinta dengan nya." ucap Rani seraya menerawang.
"Be...benar sekali mbak." ucap Mutiara memaksakan senyuman nya.
"Kira-kira siapa wanita beruntung yang akan mendapatkan hati presdir?"
"Aku nggak tahu mbak, mungkin wanita sekelas dan setipe dengan nya." jawab Mutiara.
"Iya juga Mutiara, karena orang seperti kita hanya bisa mengangumi dari kejauhan dan tidak akan pernah bisa memilikinya, selain dalam mimpi saja." terang Rani menerawang.
emang bos go da akhlak
rem dadakan aja jims
biar bos mu kepentok🤣🤣🤣🤣