Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Peduli Mobil
Malam itu Syahira kembali ke keluarganya dengan perasaan hancur. Lebih-lebih ia juga dihujani oleh ratusan pertanyaan dari para wartawan yang berada di rumah Neneknya. Begitu Syahira menginjakan kaki di depan pintu para wartawan rangsung mengerubuninya. Ratusan kilatan lampu blitz mengenai wajahnya. Begitu mendengar keributan yang dibuat oleh wartawan Nenek Syahira langsung turun untuk menyelamatkan cucunya dari serangan wartawan. Pintu rumah ditutup rapat kembali. Syahira langsung dipeluk erat oleh Neneknya.
“Sya, my love. Where have you been all this time?” Nenek melepaskan pelukannya dan membawa Syahira ke ruang keluarga.
“Panjang ceritanya Oma. I’m tired now. Sya mau mandi terus istirahat.” Syahira enggan bercerita untuk saat ini. Perasaannya masih sedih karena berpisah dengan Syamir.
“Okay. Tapi jelasin ke Oma kenapa kamu pake baju kayak gini? Kamu habis ngapain Sya?”
“Sya pengen aja pake baju kaya gini. Pooknya Oma jangan banyak nanya dulu ya. Besok Sya janji Sya bakal jelasin semuanya ke Oma, okay?”
“Okelah, Oma ngerti kamu lagi butuh waktu sendiri. Have a good rest Sya.” Oma lalu mengecup pipi Syahira.
“Thanks Oma. I love you.”
“I love you too.” Oma lalu pergi meninggalkan Syahira.
Syahira lalu naik ke atas kamarnya. Kamar yang selalu ia kunjungi hampir setiap pekan. Terkadang jika Syahira pulang terlalu larut dan dalam keadaan mabuk ia memutuskan untuk pulang ke sini. sudah jelas ia akan diomeli oleh kedua orang tuanya keesokannya saat ia kembali ke rumahnya. Rumah Omanya terutama kamar yang kini Syahira tinggali adalah tempat pelariannya ketika ia sudah muak dengan rumahnya. Kini ada sedikit perasaan yang berbeda saat kembali masuk ke kamar itu.
Syahira merebahkan tubuhnya di kasur empuk untuk beberapa saat. Ia memejamkan matanya, bayangan sosok Syamir tiba-tiba berkelebat di pikirannya. Ia tak bisa menghilangkan pria itu dari ingatannya. Astaga! Ia juga lupa jika Syamir belum menalaknya. Syahira lalu bangun dengan kondisi kaget. Bagaimana sekarang? Kenapa tadi Syamir tidak mengingatkannya. Syahira lupa kalau di detik-detik sebelum kepergiannya Syamir sempat mencoba mengatakan sesuatu pada Syahira. Apa jangan-jangan soal talak itu. Kenapa ia tidak ingat? Bagaimana ini? kemana kira-kira Syamir pergi sekarang? Apakah ia akan kembali ke kampungnya? Tidak mungkin! Syamir telah diusir dari kampungnya. Tapi di mana ia sekarang?
Syahira mondar-mandir di kamarnya sembari menggigit ujung kukunya. Ia tampak tengah berpikir sangat keras. Sudah satu jam ia mondar mandir tak jelas.
“What should i do now? Jika dia belum menalakku maka saat ini aku, aku...., aku masih....”
“Ah, tidak! God! Kenapa malah begini?” Syahira lalu duduk dengan putus asa.
Ia meratapi jendela dengan tatapan kosong. Kini kehidupannya benar-benar telah berubah semenjak kejadian itu. Dalam hati kecilnya ia juga tak bisa menampik perasaannya yang mulai tumbuh pada pria alim itu. Tapi dengan realita hidupnya saat ini mana mungkin Syahira akan meneruskan pernikahannya dengan Syamir. bagaimana jika orang tua Syahira tahu? Bagaimana jika semua orang tahu kalau ia telah dinikahi oleh seorang pria dari desa pelosok? Apa kata rekan kerjanya di rumah sakit? Apa kata pacarnya? Ya! Edward. Pria itu belum kunjung menghubungi Syahira semenjak malam itu. Apakah ia tak tahu jika Syahira sudah kembali? kenapa Edward tak pernah mencari Syahira selama ini? Syahira mulai merasa ruwet. Malam itu ia akhirnya tertidur di lantai.
“Sya! Sya! Bagun!” Ibu Syahira menggorang-goyangkan pundak Syahira dengan kuat.
“What?” Syahira mencoba membuka kedua matanya. Saat bangun kepalanya terasa pening, seakan ditusuk-tusuk oleh jarum.
“Kemana mobilmu? Malam tadi kau pulang dengan apa hah?” tanya Ibu Syahira.
“Kenapa Mami mencemaskannya? Bukannya dari kemarin Mami baik-baik saja tanpa Syahira? Oh, Syahira tahu. Mami mencemaskan mobil itu karena mobil itu mobil mahal dan Dad bakal marah besar kalau tahu mobilnya telah hilang? But, apa boleh buat. Mobil itu telah hilang.” Syahira menyimpulkan senyuman licik dan berbicara pada ibunya dengan nada yang terdengar menyindir.
‘Plak!’ Ibu Syahira menampar pipi Syahira.
“Dasar anak tak tahu diuntung! Kau hilangkan kemana mobil itu hah? Jawab!” Ibu Syahira tampak murka. Dengan mulut yang bersungut-sungut ia menghadapi anaknya.
“Cuh (meludah)! Jadi benar ternyata Mami lebih peduli pada mobil itu daripada anaknya sendiri. Baiklah, to be honestly, Sya malam itu mengalami kecelakaan dan mobil itu meledak. And you know what? Sya hampir mati karenanya! But luckly there someone who help me. Jadi Sya bisa pulang ke sini dengan selamat.” Syahira memandang dengan penuh dengki pada wajah ibunya.
“What? A car crash? Kamu pikir Mami akan percaya gitu aja? Kamu pasti jual mobil itu kan buat berfoya-foya sama pacar kamu yang gak jelas itu? Ngaku kamu, jangan bohong!”
“Berapa kali Sya harus bilang kalau Sya kecelakaan! Terserah kalau Mami mau percaya atau nggak. Sya gak peduli. Yang penting sekarang Sya bisa pulang ke sini dengan selamat. Minggir! Sya mau mandi. Sya harus berangkat kerja!” Dengan sedikir menyeruduk pada ibunya Syahira lalu mengakhiri percakapan penuh emosi itu. Ia bergegas pergi ke kamar mandi.
Usai mandi Syahira turun ke bawah untuk sarapan pagi. Tetapi saat itu seleranya langsung hilang karena ibunya duduk di meja makan. Syahira langsung pergi begitu saja. Oma yang geram melihat pertengkaran antara anak dan cucunya itu tak tinggal diam. Oma lalu menghampiri Syahira untuk memberikan kotak bekal padanya.
“Sya, kalau nggak mau makan maka bawa bekal ini ya. Oma khwatir, sejak malam kamu belum makan. Ambil ya.” Oma menyodorkan bekal itu pada Sya.
“i’m not in kindergaten anymore Oma. Lagian Sya udah terbiasa kelaparan selama beberapa hari terakhir. Ups, harusnya Sya gak bilang itu. Oke Sya berangkat ya. Bye!”
Syahira berangkat dengan terburu-buru. Ia berangkat kerja dengan diantar oleh supir milik Oma nya. Saat mobil keluar dari pagar para wartawan langsung mengerubuni mobil itu. Syahira tampak kesal dengan ulah wartawan yang tak henti-hentinya membuntuti kehidupan keluarganya.
“What a f*cking reporter! Masih pagi gini udah bikin hancur mood aku. Ini semua gara-gara Mami yang membuat drama sialan di depan wartawan hari itu, arrrggghh!” Syahira marah-marah sendiri di mobil itu.
Syahira lalu tiba di tempat kerjanya. Salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Syahira bisa bekerja di situ karena pengaruh dari keluarganya. Kakek Syahira dari pihak Ibu adalah pemilik perusahaan property besar sedangkan Ayahnya adalah seorang pengusaha batu bara sekaligus seorang Mentri. Sebenarnya Oma-nya juga sudah menawarkan Syahira salah satu posisi tertinggi di perusahaan property itu tetapi Syahira menolaknya mentah-mentah. Dengan alasan bahwa ia ingin mendapatkan kerja karena usahanya sendiri. Karena Syahira lulusan sekolah kedokteran akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Tanpa Syahira tahu dibalik perekrutan Syahira di rumah sakit ini ada sedikit pertolongan dari koneksi Ayahnya.
Pagi itu semua orang menatap keheranan pada Syahira. Mungkin mereka merasa heran karena kemarin baru saja mereka mendengar kabar kehilangan Syahira dan tiba-tiba hari ini Syahira muncul kembali. Salah satu rekan kerja Syahira yang juga teman dekat semasa kuliahnya kini menghampiri Syahira dengan penuh antusias.
“Sya!” temannya memeluk Syahira dengan begitu kencang.
“Alma!” Syahira tampak antusias. Ia memeluk temannya dengan ceria. Perlahan rasa penat dan letihnya sedikit berkurang.
“Sya, lo kemana aja? Gue kangen tau.”
“Emm, ada deh. Eh, Al anter aku ke kantin yuk! Laper nih.”
“Diih, masa udah laper pagi-pagi gini. Emang lo gak sarapan di rumah? Bicara soal rumah, gue ikut prihatin ya atas musibah yang menimpa keluarga lo.”
“Thanks ya Al.”
“Nevermind my friend. Kuy!” Dengan semangat Alma menarik lengan Syahira. Mereka pun pergi ke kantin bersama.
Kantin begitu ramai dengan orang-orang yang sibuk mengisi perut kosong mereka. Begitu pun dengan Syahira. Ia saat ini tengah sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Alma yang sudah terbiasa dengan kelakuan sahabatnya ini tak lagi heran melihat cara makan Syahira.
“Sya, sampai kapan sih cara makan lo gitu terus. Nanti kalo lo udah nikah bakal kaget, kalo suami lo illfeel gimana?” kata Alma.
“Gak Bakal, dia gak illfeel kok.” Syahira spontan menjawab pernyataan Alma barusan.
“Apa? What are you mean? Coba ngomong sekali lagi.” Alma kaget medndengar ucapan dari sahabatnya barusan.
“Oh, i mean, nanti kalo aku jadi nikah sama Edward dia gak bakal illfeel kok. Dia udah biasa, hehe.” Syahira pura-pura tertawa.
“Oh, kirain apa. Eh, btw. Soal Edward,... Edward....” Alma tampak bingung saat harus membicarakan soal pacar sahabatnya itu.
“Edward kenapa Al?”
.