gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Nafisa memperhatikan pantulan wajahnya di cermin dan melihat tampilan nya. Wajahnya terlihat pucat, walaupun ia sudah memoleskan lip close di bibirnya. Ia melihat penampilannya. Dengan memakai baju kemeja dan rok panjang di tambah jilbab segi 4. Ia tidak mempunyai baju yang bermodel kebaya. Gadis itu sangat jarang membeli baju, apa lagi mengikuti fashion terbaru. Begitu sangat memperhatikan pergi untuk Ahkad nikah dengan penampilan seperti ini.
Nafisa menarik nafas dan menghembuskan nya. Tak pernah terpikir oleh dirinya bahwa ia akan menikah seperti ini. Selama ini ia selalu menghindar agar tidak berhubungan dengan laki-laki dan berhrap pemuda yang akan menjadi suaminya nanti adalah pria pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Gadis itu bahkan sudah membuat perencanaan untuk masa depannya. Ia sudah membuat target tamat kuliah, kerja, beli motor, beli rumah dan usia menikah, usia hamil anak pertama, usia hamil anak ke 2 dan usia hamil anak ke 3. Semuanya sudah di susun dengan secermat mungkin. Namun kenyataannya semua rancangan yang dibuatnya hancur. Bahkan ia sendiri tidak bisa membayangkan takdir hidupnya nanti.
Menangis, sepertinya gadis itu sudah puas untuk menangis. Ia bahkan sangat ingin masuk ke dalam hutan dan berteriak sepuasnya. Ia memandang sekeliling rumah sewa yang kecil tersebut. Di sini ia sekarang sendiri.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya saat ini. Segala pemikiran yang memenuhi benak kepalanya teralihkan oleh panggilan masuk di ponselnya. Nafisa melihat nomor baru. Ia kemudian mengangkat telpon tersebut.
“Hallo.” ucapnya.
“Datang ke kantor KUA sekarang. Ahkad nikah jam 9. Kalau kau terlambat. Nikah batal.” Sambungan telpon terputus.
Tak ada satu kata pun yang lolos dari mulut gadis itu. Dilihatnya jam 8. 20. Nafisa bergegas mengambil tas dan memasukkan hp serta dompetnya ke kedalaman tas tersebut. Agar bisa cepat sampai di kantor KUA Nafisa memesan gojek online. Saat ini ia terlihat seperti seorang wanita yang ngebet kawin.
******
Ada beberapa orang di kantor KUA tersebut, wali hakim yang disiapkan Julian, beberapa orang saksi dan Nafisa tidak melihat keluarga Julian. Seharusnya ia tidak memikirkan hal tersebut. Ia menikah karena kecelakaan. Jadi tidak ada yang spesial untuk acara ini. Terlihat Julian yang memakai baju kemeja putih dan peci. Nafisa yang berlari memasuki ruangan tersebut tampak ngos-ngosan. Ia mengatur nafasnya.
Ia duduk di sebelah Julian. Julian melirik Nafisa. “Mas kawin yang aku sediakan seperangkat alat sholat. Aku sengaja tidak memberikan kau uang, emas dan perhiasan. Apabila aku memberikan kau perhiasan sudah pasti akan kau jual nanti.” Dengan senyum di wajahnya yang tampak sangat menghina.
Nafisa duduk dengan menundukkan kepalanya. Nafisa memang tak memakai perhiasan berbentuk apa pun terkecuali jam tangan merek kw yang dikenakannya. Tidak ada satu kata Julian yang di jawabnya. Karena memang, apa pun yang disampaikan Julian bukanlah untuk dijawab. Setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya untuk menyampaikan.
Randi duduk tidak jauh dari Nafisa. Ia memandang Nafisa dengan tatapan sendu. Wajah gadis itu sudah seperti mayat hidup, pucat dan tatapan yang kosong.
Penghulu memasuki ruangan tersebut. Akad nikah sedang berlangsung. Tanpa ada pengulangan kalimat.
“Bagaimana saksi,” tanya penghulu.
“Sah...” Saksi menjawab serentak.
Setelah selesai penghulu menyampaikan pesan, aturan dan tata cara yang wajib diketahui mereka. Acara selesai.
“Ikut aku.” Julian memandang tajam ke arah Nafisa
*******
Julian membawa Nafisa ke restoran. Nafisa duduk di dalam restoran tersebut. Semua menu terbaik restoran tertata di atas meja. Perutnya terasa sangat lapar. Julian memasukan nasi dan berbagai menu ke piringnya.
“Ayo makan.” Julian memberi isyarat tangannya yang mempersilakan tersebut.
“Saya sudah kenyang.” Jawab Nafisa pelan.
Julian hanya diam dan memakan makanannya sendiri. Setelah selesai ia makan, para pelayan mulai mengangkat piring kosong. Julian melemparkan amplop coklat pas di depan muka Nafisa. “Ini surat pernyataan dan surat perjanjian yang harus kau tanda tangani.”
Nafisa melihat amplop tersebut, Ia kemudian membukanya. Ia mulai membaca satu persatu isi surat perjanjian yang dibuat Julian. Nafisa mengangguk kepalanya tanpa ada penawaran sama sekali. Nafisa menanda tangani surat penyataan yang dua rangkap tersebut.
“Kalau sudah tidak ada lagi yang penting, saya permisi tuan.” ucapnya.
****
jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏
dan dia pura2 tidak mengenali
dan dia pura2 tidak mengenali