Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Noah?
*Sebelum baca mohon di like dulu ya, biar author semakin semangat up ceritanya ☺️
.....
Noah menatap curiga wanita yang saat ini tengah menggandeng tangannya.
"Kenapa?" tanya Mia yang merasa salah tingkah, tatapan Noah persis seperti Marcus dulu. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, haish kenapa dia malah mengingat pria itu.
"Tante tidak merencanakan sesuatu yang jahat kan?" bukannya menuduh tapi dia belum sepenuhnya percaya dengan wanita itu. Ucapan kakaknya terus terngiang-ngiang di kepalanya. Dan juga kenapa mama nya malah membiarkan Tante ini membawanya pergi.
Wajah Mia berubah cemberut, dia menghentikan langkahnya. "Coba kamu lihat di depan."
Noah menurut dan dia terkejut melihat keberadaan toko baju terbesar di kota ini.
"Aku hanya ingin membelikan mu baju, karena ku lihat baju-baju mu sudah tidak layak pakai lagi." gerutu Mia yang merasa tersinggung karena niat baiknya di pandang buruk. Tapi dia tidak sepenuhnya menyalahkan Noah, anak itu memang belum paham, mungkin cerita Sophia tentang dirinya terdengar sangat buruk hingga anak disampingnya ini menganggapnya jahat.
Noah menunduk, dia jadi tidak enak karena sempat berpikir yang tidak-tidak pada wanita itu. "Em maaf Tante." jika mamanya tahu bisa-bisa dia kena marah.
Mia membuang nafasnya keras, dia kembali menggandeng tangan anak itu lalu membawanya masuk ke dalam. "Tidak usah minta maaf, sana pilih baju yang kamu suka, Tante akan membayar semuanya."
mulut anak itu ternganga. Ini serius dia akan di bayari?.
Melihat raut bingung di wajah Noah membuat Mia kesal. "Cepat ambil bajunya, atau Tante tidak jadi mentraktir mu." ancamnya dan Noah langsung bergegas memilih baju.
Mia memilih untuk duduk di kursi yang terletak di samping pintu keluar. dia membuka ponselnya. Keningnya mengerut saat membaca pesan dari adiknya Emma.
"Kak, kata ibu kakak di suruh bawa kak Rose besok sore ke rumah."
Rumah siapa?.
Dia segera membalas pesan itu. "Rumah siapa?" tidak mungkin kan di rumahnya.
"Ck, rumah kak Marcus lah." sepertinya Emma mulai kesal.
Mia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas, dia tidak mood membalas pesan terakhir sang adik, pikirannya berkecamuk, haruskah dia membawa Rose kembali di rumah yang tidak nyaman bagi wanita itu.
Masalahnya Rose sudah pasti akan menolak.
Lama melamun hingga dia tidak sadar jika Noah sudah berdiri didepannya dengan beberapa helai baju di tangan anak itu. "Tante sudah."
Kesadaran wanita itu kembali, dia terlihat linglung tapi kemudian tersadar. Keningnya mengerut saat melihat hanya tiga potong baju yang diambil anak itu. "Semua bajumu sudah Tante buang, jadi baju segini mana cukup, sana ambil lagi."
Mata Noah melotot. Bisa-bisanya wanita itu tidak bilang jika mau membuang semua bajunya.
"Lama." Mia memutuskan untuk menyeret anak itu lalu memilihkannya beberapa baju yang bisa dikatakan cukup banyak untuk memenuhi satu lemari kecil.
"Nah ayo kita bayar." sekarang Noah hanya pasrah dirinya ditarik kesana kemari oleh wanita itu.
Bruk....
"Bawa itu, sudah baik aku yang bayar, sekarang tugasmu membawanya ke mobil." ucap Mia yang langsung melengos pergi meninggalkan Noah dengan tujuh Tote bag yang berisi bajunya, sebenarnya tidak terlalu berat tapi ukuran totebag nya ini cukup besar dan membuatnya kesulitan untuk berjalan.
"TANTE TUNGGU." bisa-bisanya wanita itu pergi meninggalkan Noah yang berjalan dengan tertatih.
.....
"Apalagi?" tanya Sarah yang kesal dengan kedatangan Marcus di sore yang indah ini.
Marcus mengabaikan ucapan sinis teman ibunya, dia mengedarkan pandangannya mencoba mencari keberadaan istrinya.
"Ck, Rose pulang, anaknya sakit, jadi dia tidak ada disini." ucapnya berharap pria itu segera pergi.
"Siapa yang sakit Tante, Sophia?" Sarah mengangguk dia segera pergi ke belakang, membuat Marcus sadar jika wanita itu enggan memberitahukan keberadaan istrinya.
Jadi dengan terpaksa dia kembali pulang, tapi matanya salah fokus pada sebuah mobil yang tidak asing di matanya.
Mobil berwarna dark blue itu terlihat seperti milik Mia.
......
Tok... tok.....
Rose yang baru selesai menidurkan Sophia menoleh ke arah pintu. Apa Mia sudah pulang?. Dia bergegas menuju pintu.
Klek.....
"Marcus." ucapnya syok. pria itu berdiri dengan tegap di depan pintu rumah yang dia huni, tatapan pria itu terlihat sangat menusuk.
Dan sialnya. Kedatangan pria itu bertepatan dengan Mia yang kembali dengan Noah yang masih dia gandeng.
Noah yang melihat keberadaan pria itu langsung bersembunyi dibelakang Mia, meminta perlindungan dari wanita itu.
Marcus menoleh ke arah Mia yang wajahnya sudah memucat. "Jadi selama ini kau bersama Rose?" tanya pria yang terdengar seperti sedang menyindirnya.
"Mau apa kau kesini?" tanya Rose yang tangannya sudah bergetar, matanya terlihat tidak tenang, dia mengode Mia untuk segera membawa Noah pergi.
Tapi....
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku Rose?, tentang anak itu?" tunjuk Marcus pada Noah yang ada dibelakang Mia.
Mulut Rose terbuka lebar, darimana pria itu tahu tentang Noah. Dan Mia pun tidak berani bergerak sedikit pun. Lidahnya kelu, dia melihat wajah panik Rose, ingin sekali membantunya tapi dia sendiri tidak berani melawan Marcus.
Wanita itu terlihat enggan untuk menjawab, tapi bukan Marcus namanya jika dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Perlahan dia memajukan tubuhnya dan Rose secara naluri mundur.
Hingga tanpa sadar Marcus sudah masuk ke dalam rumah yang ditinggali istrinya.
"Aku akan tinggal disini sampai kau memberitahuku tentang anak itu."
Mata Rose membola. Kenapa pria itu selalu bertindak seenaknya.
"Tidak, aku tidak akan menerima keberadaan mu disini, keluar sebelum aku memanggil keamanan." ancamnya tapi Marcus tetap acuh. Malahan pria itu dengan lancang duduk di sofa yang ada disana.
"Jawab dulu pertanyaan ku, apa anak itu anak ku?" tanya Marcus yang rasa penasarannya sangat besar, dia ingin mendengar jawaban itu dari istrinya, karena menunggu tes DNA itu cukup lama.
Rose mengepalkan tangannya erat-erat. "Bukan." jawabnya pelan.
Tapi Marcus malah terkekeh kecil. Tatapan tajamnya mirip sekali dengan mata Noah. "Tidak perlu berbohong Rose, aku akan melakukan tes DNA dan jika terbukti anak itu adalah anakku, jangan harap kau bisa lari dariku." terdengar seperti ancaman dan memang benar Marcus saat ini sedang mengancam Rose.
Wanita itu muak sekali dengan sikap suaminya yang suka seenaknya sendiri. "Kenapa?, bukankah selama ini kau tidak senang dengan keberadaan ku dan juga anakku di rumahmu?"
Marcus diam.
Mata Rose mulai berkaca-kaca. "Aku lelah Marcus, sangat lelah, tidak bisakah kau membebaskan ku. Aku hanya ingin bahagia dengan anakku yang tidak pernah kau anggap selama ini." ucapnya memelas berharap pria itu berhenti mengganggunya.