Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Yang Terungkap
Ingin sekali Rose menampar memaki wanita didepannya, tapi dia tidak sejahat itu.
Apalagi mendengar kisah Aurora selama menjadi keluarga Vale, selalu diabaikan karena dia anak perempuan hasil dari pernikahan pertama ayahnya Marcus. Tidak dianggap bahkan keberadaannya hanya dianggap bayangan.
Aurora sudah menceritakan semuanya tanpa terkecuali pada Rose.
"Maafkan aku Rose." entah sudah berapa kali wanita itu meminta maaf padanya. Mata Rose membengkak begitupun dengan Aurora. Keduanya sama-sama menangis, meluapkan emosi mereka hingga habis tidak tersisa.
"Aku mohon kembalilah pada Marcus, ku dengar dari ayah dan ibu, Marcus seperti orang gila saat kau pergi."
Rose terkekeh geli mendengarnya. "Iya aku tahu, dan semalam dia tidur denganku."
Mata Aurora membola. "Apa terjadi sesuatu?"
Blush ....
wajah Rose kembali memerah mengingat kejadian semalam. Dimana dia di hajar habis-habisan oleh suaminya.
Nyerinya pun masih terasa sekarang.
.....
Sarah menyuruh Rose dan Aurora pulang meksipun sekarang belum waktunya untuk pulang.
"Terimakasih banyak Tante sudah mengijinkan ku bicara dengan Rose." ucap Aurora sangat sopan hingga Sarah sempat tertegun sejenak.
Anak didepannya terlihat baik tapi entah kenapa Catherine sejak dulu tidak menyukainya, tidak sedikit yang wanita itu katakan tentang Aurora yang selalu buruk dimatanya.
Sepertinya yang bermasalah adalah Catherine karena wanita itu terlalu membenci anak tirinya dan juga menantunya.
"Halo yah, aku ingin mengumumkan sesuatu di rumah ku nanti sore, bawa ibu juga." ucap Marcus dengan nada serius.
Setelahnya dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang dia pakai saat ini. Tatapannya kembali terkunci pada rekaman cctv yang menampilkan sosok istrinya yang sedang melahirkan.
Banyak hal yang dia sesali, dia bahkan tidak mendampingi istrinya melahirkan, bahkan tidak ada seorangpun yang ada disisi Rose, hanya ada dua pelayan yang ada di luar.
Matanya memanas saat melihat wajah Rose yang seperti menahan sakit. Wanita itu berjuang sendirian diruangan yang sangat dingin itu demi buah hatinya.
Hati Marcus seperti teriris melihatnya. Dia menyesal, sangat menyesal. andai waktu bisa diulang.
"Nah ini pak Marcus." Seorang pria yang bekerja di ruang cctv menunjuk ke arah layar didepannya.
Marcus menyipitkan matanya, dia melihat sosok wanita yang terlihat tidak asing, wanita itu memberikan sejumlah uang pada suster yang berjaga di ruang bayi.
dan suster itu terlihat mendekati ranjang bayinya lalu dengan cepat mereka menukar anaknya dengan bayi lain.
"Tolong perbesar gambarnya." pintanya dan pria itu lalu membesarkan video itu, meskipun samar, tapi melihat Bros yang dipakai wanita itu membuat Marcus menggeram sambil mengepalkan tangannya.
"Kak Aurora."
"Apa Tante tidak bekerja?" tanya Noah yang penasaran karena wanita itu terus mengekori mama nya dan kegiatannya hanya bermain ponsel sepanjang hari.
"Tidak, calon suami Tante orang kaya jadi untuk apa Tante bekerja." sahut Mia yang matanya masih fokus pada layar ponselnya. dia sedang memantau tunangannya yang saat ini tengah bekerja.
LDR memang berat tapi tidak masalah asal transferannya lancar.
Mendengar jawaban Mia membuat Sophia memutar bola matanya malas. "lebih kaya calon suami Tante atau papaku?" tanya anak itu yang membuat atensi Mia teralihkan.
"Ck, papa mu." jawab wanita itu jujur. Sophia tersenyum lebar. Dia sudah tahu jawabannya tapi senang melihat kekalahan di wajah wanita itu.
"Apa papa benar-benar kaya kak?" tanya Noah yang sudah duduk dihadapan Sophia.
Gadis itu mengangguk dengan semangat. "papa itu kaya, sangat-sangat kaya, bahkan rumah papa sangat besar." ucap Sophia sambil mengangkat tangannya ke atas lalu melebarkan nya.
Mia sendiri tidak memperdulikan obrolan dua anak itu.
"Benarkah?" mata Noah mulai berbinar.
"Lalu mobil papa sangat banyak, ada em berapa ya sepuluh lebih, bahkan aku bisa memilih mau pergi pakai mobil yang mana." ucap anak itu yang tidak menyadari perubahan wajah Noah.
Anak itu terlihat sedih, mendengar cerita kakaknya dia jadi iri, seumur hidup dia belum pernah naik mobil, pernah si kemarin saat ikut Tante Mia ke rumah sakit mengantarkan mama nya menjenguk Sophia.
Hanya itu.
"Di rumah ada kolam renangnya Noah, besarrrrr sekali, aku biasanya berenang bersama pelayan karena aku tidak punya teman." tatapan Sophia berubah menjadi sendu.
Karena papa nya yang tidak memperdulikannya, anak-anak mengira jika dia berbohong saat mengatakan bahwa papa nya adalah Marcus Vale. Dan itu membuat anak-anak membully nya dan mengatakan bahwa dirinya berbohong.
"Kenapa kak?" tanya Noah yang menyadari perubahan ekspresi kakaknya.
"Huhhh aku kesal karena sering di bully teman sekelas Ku."
Bukan hanya Noah yang kaget, Mia yang tidak sengaja mendengar pun juga terkejut. Sophia di bully?. Yang benar saja.
"Bagaimana bisa?" Noah yang miskin saja tidak pernah di bully oleh temannya, tapi kakaknya yang hidup bergelimang harta malah di bully. Bukankah harusnya terbalik.
"Mereka mengatakan bahwa aku bohong saat bilang papaku itu Marcus Vale, hanya karena setiap ada acara di sekolah yang datang selalu mama sendiri, papa tidak pernah mau datang." mengingatnya saja sudah membuatnya ingin menangis.
Dia juga tidak bisa memaksa pria itu untuk datang karena sejak SD dia sudah tahu jika dia adalah anak yang tidak diinginkan.
Mia meletakkan ponselnya diatas sofa. Dia penasaran dengan cerita Sophia yang ternyata menyimpan banyak kesedihan. Dia tidak menyangka anak itu mengalami kejadian yang cukup menyakitkan. Karena yang selama ini dia lihat, anak itu keras, arogan dan tidak sopan.
Sophia mengelus rambut Noah dengan sayang, sepertinya adiknya itu ikut sedih mendengar ceritanya. "Jangan sedih Noah, aku tidak apa-apa, sudah biasa diabaikan oleh papa sejak kecil."
"Kenapa Marcus mengabaikan mu?" tanya Mia yang entah sejak kapan pindah ke belakang Sophia, anak itu menoleh ke belakang. "Ya gara-gara Tante, Kenapa Tante tidak menjaga papa dari rencana mamaku."
Mata Mia melotot mendengar ucapan tidak sopan anak itu. "Kau tahu dari mana bocah?"
"Semuanya, aku sudah tahu dari lama, memangnya aku bodoh tidak menyadari jika papa sejak awal tidak menyukai mama, dan kebetulan ada orang baik yang mau menceritakan semuanya dari awal, sejak mama merebut papa dari Tante."
Noah terperangah saat mendengar kenyataan yang terjadi. Dia menatap Mia tidak enak karena sejak awal yang dia tahu wanita itulah yang merebut papa nya.
"Siapa?" tanya Mia penasaran tapi Sophia mengabaikan nya lalu kembali menatap Noah.
"Kak, ceritakan semuanya, aku harus tahu." pinta Noah yang diangguki oleh Sophia, dia harus berbagi informasi ini pada adiknya.
....
Marcus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang begitu besar.
dia tidak menyangka jika semua ini ulah dari kakaknya.