Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sena memperhatikan Echa yang tengah bermain perosotan seorang diri. Jam sekolah sudah usai dua puluh lima menit yang lalu, mereka tengah menunggu Rega menjemputnya saat ini. Wanita muda ini tak menyangka sama sekali jika Echa mempunyai cacatan buruk di sekolah. Banyak sekali keluhan dari orangtua siswa yang lain soalnya.
Echa sering mengganggu teman sekelasnya, bahkan yang lebih parahnya lagi gadis berusia 4,5 tahun itu suka sekali merusak barang milik temannya tanpa sebab.
Gurunya bahkan mengatakan sudah tak sanggup lagi untuk mengajar Echa karena dia sulit di atur dan sulit menerima pelajaran. Mereka ingin Sena menyampaikannya pada orangtua Echa kalau putri mereka seharusnya di sekolahkan di sekolah yang khusus. Bu Wanda meminta Sena yang menyampaikan itu pada orangtua Echa karena Rena yang selalu mengabaikan apa yang dikatakannya. Guru muda itu hanya berpikir mungkin jika saudaranya sendiri yang bicara maka akan di dengarnya.
"kak Sena.." Panggil Echa membuyarkan lamunannya.
Sena tersenyum, melihat Echa yang tertawa kearahnya. Gadis kecil itu begitu polos dan lugu, kenapa dia memiliki sifat yang begitu sulit di tebak jika sudah berkumpul bersama teman sekelasnya. Siapapun pasti tak akan mengira jika gadis kecil itu sangat nakal dan sulit di atur jika tak melihatnya secara langsung.
Ckiiitt...
Decitan ban mobil menggesek aspal membuat Sena dan Echa melihat kebelakang. Nampak Rega keluar dari sebuah mobil, pria itu merentangkan tangannya ke arah Echa.
"sayang..."
"uncle..." Echa bergegas menghampiri Rega, melompat masuk kedalam pelukannya. "hum...aku lapar sekali, uncle lama." Bibirnya mengerucut lucu.
Rega mengangkat tubuh mungil itu, mengayunkannya di udara membuat Echa tertawa girang.
"oke... princess, mau makan apa?" Goda Rega.
"ummm....kak Sena.." Echa melihat ke arah Sena. "kakak mau makan apa?" Tanyanya.
Sena melihat Rega sekilas lalu menggelengkan kepalanya. Merasa jika Rega tak mungkin mau mentraktirnya makan. Pria itu berdeham pelan, menurunkan Echa dari gendongannya.
"masuklah, Echa sudah lapar." Ujarnya.
Sena dengan ragu menuntun Echa masuk kedalam mobil. Duduk di depan karena Rega sudah membuka pintunya, meskipun tak memintanya dengan secara langsung tapi Sena tahu pria itu ingin mereka duduk di depan.
Rega mengajak keduanya makan siang di restoran milik Arfian. Untuk apa repot-repot mengeluarkan uang makan di tempat lain jika memiliki restoran sendiri, begitulah pikirnya. Bukan karena dia pelit, hanya saja sedikit berhemat agar bisa membayar biaya kuliahan. Rega masih saja menolak untuk menerima bantuan dari Arfian, dia tak ingin terlalu tergantung pada pria itu.
"pesanlah." Rega menyodorkan buku menu kepada Sena.
Sena menerimanya lalu segera melihatnya. Dia terkejut dengan daftarkan harga yang tertera di sana. Melihat Rega dengan alis bertaut.
"ini mahal sekali, bahkan hanya segelas jus saja harganya 25 ribu." Cetusnya.
Sena menutup kembali buku itu. Dia tak mau makan karena takut jika nanti Rega tak mau membayarnya dia harus bagaimana. Uang pun tak ada. Wanita ini sama sekali tak tahu kalau restoran ini milik Arfian karena Rega tak memberitahu nya.
"tenang saja kak Sena. ini milik Daddy kok." Ujar Echa sambil melambaikan tangannya ke pada salah satu pramusaji.
Sena mengerutkan keningnya, tak menyangka jika Arfian memiliki sebuah restoran semewah ini. Dia melihat ke arah Echa, gadis kecil itu tengah memesan makanannya. Dia merasa jika Echa sangat pintar di usianya, tapi kenapa gadis ini sulit menerima pelajaran di sekolah.
"kenapa?" Tanya Rega pada Sena.
Sena menggelengkan kepalanya.
"pesanlah yang kau mau, jangan khawatir soal harganya." Seru Rega.
Sena dengan ragu membuka kembali buku menu itu. Mencoba memesan makanan yang menurutnya pasti enak. Rega tersenyum tipis, melirik Sena diam-diam. Rasanya begitu menyenangkan bisa makan bersama dengannya.
...*****************...
"jangan bertele-tele, kau ingin bertemu dengan kekasih ku untuk menanyakan kenapa Echa seperti itu?" Ben menatap Arfian tak suka. "ck..kau itu bukan ayah biologisnya, jadi pantas saja kau tak akan mengerti dengan....."
"dia Putri ku." Sela Arfian tak terima. "sekali lagi kau mengatakan dia bukan putri ku maka aku tak segan-segan menghajarmu."
Ben terkekeh pelan. Merasa jika Arfian sangat lucu, begitu peduli dengan gadis kecil itu sementara dirinya pun yang merupakan ayah kandungnya tak peduli dengan gadis itu sedikit pun.
Rena merasa tersentuh dengan perkataan Arfian. Meskipun tahu Echa buka putrinya tapi pria ini begitu menyayanginya.
"hahahaha...lucu sekali. sekarang dia sudah bersama mu jangan libatkan Rena atau pun aku dalam masalah nya." Ujar Ben.
Arfian tak terima itu. Sebagai seorang ayah tak sepantasnya Ben mengatakan hal semacam itu.
"kau..."
Bugh....
Brak...
"Ben.." Pekik Rena terkejut melihat Ben yang tersungkur dengan keras.
Arfian mh mematung ditempatnya, baru saja dia berniat untuk memukulnya tapi sudah ada seseorang yang melakukannya dengan begitu cepat.
"brengs......." Ben tercekat saat melihat siapa yang telah memukulnya begitu keras. "Liliana..." Gumamnya tak percaya.
Rena mengeryit memperhatikan wanita itu. Rasanya dia pernah melihatnya, tapi tak ingat di mana.
"jadi..kau dan wanita ini memiliki hubungan?" Tanya wanita bernama Liliana itu.
Ben dengan cepat berdiri lalu meraih kedua tangannya.
"dengarkan penjelasan ku.."
"tidak." Liliana menepis tangan Ben kuat. Dia memandang Rena dengan tatapan marah. "kau kekasih Ben?" Tanyanya.
Rena mengangguk, ia tak kalah sengit memandang Liliana.
"ck...hebat sekali. kau berjanji menikahi ku tapi...." Liliana mendengus keras. Dia melepaskan cincin permata di jari manisnya, melemparkannya kepada Ben.
"tidak ana... dengarkan aku dulu."
"Ben, apa ini? kau dan dia akan menikah juga?" Rena meminta penjelasan.
Sementara Arfian hanya diam saja, dia tak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya dengan apa yang terjadi. Melihat Rena lalu wanita itu dengan pandangan yang sulit di artikan. Merasa kasihan karena Ben telah mempermainkan keduanya.
"ck..diamlah Rena." Bentak Ben. Mendorong tubuh Rena hingga terhuyung dan dengan cepat Arfian menangkapnya.
Ben lebih memilih mengejar Liliana, dia sama sekali tak peduli dengan Rena.
"Arfian.. kau lihat. Ben mengkhianati ku?" Isaknya.
Arfian melepaskan pegangannya di tangan Rena. Dia sama sekali tak peduli.
"sudahlah, aku harus kembali." Ucap Arfian.
"ku mohon Arfian, jangan tinggalkan aku."
Arfian menepis tangan Rena yang memegang lengannya. Sebenarnya dia ingin menemani Rena tapi dengan posisi nya saat ini merasa jika dia tak seharusnya ikut campur dalam urusan asmara orang lain.
"Arfian..."
"aku sudah terlambat." Ucap Arfian tanpa melihat ke arah Rena sedikit pun lalu pergi meninggalkan wanita itu.
Rena meremas jemarinya, dia tak menduganya sama sekali. Arfian yang dulu selalu peduli dan memproritaskan dirinya kini sama sekali tak melihatnya di saat dia membutuhkan sandaran.
Arfian terkejut begitu sampai di parkiran, wanita yang tadi memukul Ben memanggilnya.
"tuan.." Wanita itu sepertinya sembunyi dari Ben. "boleh antar aku pulang?"
Arfian berpikir sejenak lalu membuka pintu mobil bagian belakang.
"masuklah."
"terimakasih."
Wanita itu memperhatikan Arfian yang berjalan memutari mobil. Matanya tak lepas dari Arfian yang kini sudah duduk di kursi kemudi.
"kau siapanya Ben dan wanita tadi?" Tanyanya.
Arfian melajukan mobilnya tak langsung menjawab.
"mantan suaminya."
Jawaban Arfian membuat wanita itu terkejut.
"apa kau memergoki mereka tadi?" Tanyanya lagi semakin penasaran.
Arfian hanya tersenyum kecil. Dia tak ingin menjawab lebih banyak lagi pertanyaan. Memilih untuk diam, hingga wanita itu pun merasa jika dirinya sudah terlalu ikut campur.
"kau tak menangis?" Tanya Arfian.
"apa?"
"kekasihmu selingkuh tapi itu sama sekali tak membuat mu bersedih."
Mendengar perkataan Arfian, wanita itu terkekeh pelan.
"untuk apa aku menangisi pria macam dia. tak ada sejarahnya dalam hidup ku."
Arfian merasa jika wanita ini bukanlah wanita yang lemah. Bahkan dari caranya memukul Ben saja sudah terlihat kalau dia begitu tangguh dan kuat.
...****************...