NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Alya menutup pintu kamarnya pelan, tapi begitu kunci berputar, tubuhnya runtuh. Ia bersandar di balik pintu, lalu melorot ke lantai. Tangannya menekan dada yang terasa sesak, seolah napasnya tertahan di tenggorokan. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah, deras, panas, dan menyakitkan. Tangisnya pecah, bukan isak kecil, tapi tangis yang keluar dari hati yang benar-benar hancur.

Dadanya bergetar. Lima tahu? Bukan waktu yang singkat, lima tahun hidupnya direnggut dalam satu pagi, dan semua benar-benar tidak peduli dengan perasaannya, seakan ini sebuah takdir yang harus ia terima.

Alya menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara, tapi tubuhnya berkhianat. Bahunya naik turun, napasnya tersengal. Ia merasa seperti ditinggalkan di tengah keramaian, banyak orang di sekelilingnya, tapi tak satu pun benar-benar melihat lukanya.

"Kenapa harus aku? Kenapa aku yang harus mengalah?"

Ia memeluk lututnya sendiri, menangis sampai kepalanya pening. Sampai air matanya habis, tapi perih di dada justru semakin dalam.

Belum sempat Alya bangkit, terdengar ketukan di pintu.

“Alya,” suara ibunya terdengar dari luar. “Keluar sebentar.”

Alya diam. Ia tidak menjawab.

Pintu diketuk lagi, kali ini lebih keras. “Alya, jangan kekanak-kanakan.”

Kata itu menusuk, hanya karena ia tidak sanggup menerima pengkhianatan, semua orang langsung menghakiminya, seolah dirinya tak layak didengar.

Dengan langkah berat, Alya bangkit dan membuka pintu. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ibunya berdiri di sana dengan ekspresi lelah bukan khawatir, bukan sedih, melainkan seperti orang yang kehabisan kesabaran.

“Kamu harus belajar ikhlas,” kata ibunya tanpa basa-basi. “Ini sudah terjadi, mau ditentang seperti apa, yang namanya takdir tidak bisa diubah Alya," tegas ibunya.

Alya menatapnya. “Ikhlas tentang apa, Bu?”

Ibunya menghela napas. “Relia itu adikmu. Dia butuh dukungan. Jangan malah bikin suasana makin rumit.”

“Lalu aku?” suara Alya bergetar. “Aku ini siapa?”

Ibunya terdiam sejenak, lalu berkata, “Kamu kan kuat. Dari kecil juga selalu mandiri.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi rasanya seperti hukuman.

 "Terus, karena aku kuat, Ibu gak membelaku sama sekali, dan membiarkan hatiku terluka, ini bukan tentang siapa yang mandiri dan kuat, tapi ini tentang hak aku yang dicuri, dan semuanya bersikap seolah aku ini pelaku, bukan korban," tandasnya dengan suara yang bergetar.

Dari ruang tengah, suara ayah menyela, datar dan dingin, seolah tidak mau putri sulungnya berbicara dan membela diri.

“Sudah, masalah ini jangan dibesar-besarkan. Orang luar nggak perlu tahu.”

Alya tersenyum pahit. Bahkan di saat seperti ini, yang dipikirkan hanya nama baik keluarga.

"Kenapa memang, Ayah, mau menutupi semua ini dari luar, dan membiarkan anak Ayah yang lain menderita?" Alya bertanya dengan nada yang cukup tinggi.

  "Stop Alya," katanya dengan nada yang menghunus. "Kami ini kedua orang tuamu, aku harap kamu bisa menghargai kami sedikit saja.

"Menghargai, aku," kata Alya sambil menunjuk ke dirinya sendiri. "Heeeemb, terus gimana luka yang aku rasa, apa kalian mau tahu?" tanya Alya dingin. "Enggak Yah, dan kalian semua egois," pungkas Alya, dan pintu kamar tertutup kembali.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, Relia muncul di ambang pintu kamar Alya. Wajahnya masih sembab, tapi matanya menyimpan rasa takut, bukan rasa bersalah tapi takut jika sang kakak tidak mau mengalah.

“Kak…” panggilnya pelan. “Aku nggak pernah mau semua ini kejadian.”

Alya menoleh. “Tapi kamu biarkan, kejadian ini bukan kesalahan satu malam tapi sudah satu tahun, itu berarti kamu mau," sekak Alya.

Relia menunduk. “Aku juga korban, Kak.”

Kata itu membuat Alya tertawa lirih.

"Korban?" katanya pelan "Lalu diriku apa?"

Relia terdiam, seolah sulit untuk meyakinkan sang kakak, kalau dirinya tidak bermaksud seperti itu. "Semuanya sudah takdir Kak," katanya akhirnya.

  "Takdir." Alya tertawa kecil, "hanya orang-orang yang membela dirinya dalam kesalahan, yang selalu mengatasnamakan takdir, padahal kamu diberi akal, itu bukan takdir, tapi kalian saja yang tak punya hati," kata Alya.

  "Terus apa yang Kakak mau, apa Kakak mau aku gugurkan kandungan?" Kalimat itu bukan terdengar seperti pertanyaan melainkan ancaman.

  "Terserah kamu, itu bukan urusanku," sahut Alya, ia pun lebih memilih pergi meninggalkan Relia, yang mematung.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malamnya, rumah itu terasa semakin asing. Di meja makan, Alya duduk bersama keluarganya, tapi tak satu pun benar-benar berbicara padanya. Obrolan berputar pada rencana ke depan tentang pernikahan sederhana, tentang bagaimana tetangga harus diberi penjelasan.

Seolah Alya tidak ada di sana.

Ketika sendoknya berhenti bergerak, ibunya berkata, “Besok kamu jangan keluar rumah dulu. Biar omongan orang nggak ke mana-mana.”

Alya mengangguk pelan, lalu diam. Diam bukan karena setuju, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk melawan, dan setelah makan tidak ada perkataan lagi gadis itu langsung masuk ke kamar, tanpa berpamitan.

Malam semakin larut. Alya kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil di bawah lemari, koper yang dulu ia pakai saat liburan bersama Randa. Tangannya bergerak pelan, membuka koper itu.

  "Dulu, aku selalu membawa koper ini di saat liburan, tapi sekarang koper ini akan ku bawa jauh dari semua kenangan yang sudah tidak terselamatkan," gumamnya lirih

Alya mulai menutup koper itu kembali, seolah sebuah tekad sudah tumbuh di dalam hatinya, yaitu sebuah keputusan yang akan membawanya pergi dari rumah ini.

Malam belum benar-benar larut ketika Alya mendengar suara langkah di teras. Ia sedang duduk di tepi ranjang, koper kecil terbuka di lantai, pakaian dilipat tanpa rencana. Pikirannya kosong, tapi telinganya masih peka. Ketika bel pintu berbunyi, Alya tidak bergerak.

Suara ibu terdengar dari luar kamar. Disusul suara lain.

Suara yang sangat ia kenal.

“Randa datang,” kata ibunya, setengah berbisik, seperti menyampaikan kabar baik.

Alya menutup mata.

Dadanya tidak lagi sesak, hanya kosong dan tak lama kemudian, ketukan terdengar di pintu kamarnya.

“Alya,” panggil Ardan dari luar. “Boleh aku masuk?”

Tidak ada jawaban. Pintu itu tetap terbuka sedikit ketika ibunya mendorongnya dari luar. “Bicaralah baik-baik. Jangan keras kepala.”

Keras kepala? Sekali lagi, Alya yang salah.

Randa melangkah masuk. Penampilannya rapi seperti biasa, kemeja bersih, rambut tertata. Lelaki yang selama lima tahun terlihat meyakinkan sebagai masa depan. Ia berdiri canggung, lalu duduk di kursi dekat jendela.

“Aku nggak lama,” katanya pelan. “Aku cuma mau jelasin.”

Alya tetap duduk membelakangi koper. Ia tidak menoleh.

“Aku tahu kamu marah,” lanjut Randa. “Dan kamu berhak.”

Kalimat pembuka yang terdengar dewasa. Alya hampir tersenyum—jika ia masih punya tenaga untuk itu.

“Tapi keadaan ini juga berat buat aku,” Randa menghela napas. “Aku terjepit.”

Alya menoleh perlahan. “Terjepit di mana?”

Ardan menunduk. “Semua terjadi di luar rencana. Aku nggak pernah niat nyakitin kamu.”

“Niat itu penting?” tanya Alya datar. “Atau hasilnya?”

Ardan terdiam sejenak. Lalu ia mendongak, menatap Alya dengan mata yang dulu selalu membuatnya luluh.

“Kamu yang paling dewasa di antara kita, Al."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

“Kamu selalu kuat,” lanjut Randa. “Makanya aku yakin kamu bisa ngerti. Relia masih muda. Dia panik. Kalau bukan kamu yang ngalah, siapa lagi?”

Alya menatapnya lama, bibirnya sedikit tersenyum miring, mendengar kalimat yang terdengar dari mulut pacarnya sendiri. Dan untuk pertama kalinya ia tahu, bahwa alasan Randa datang. Bukan untuk meminta maaf. Tapi untuk memastikan Alya tetap mengalah.

“Lima tahun,” ucap Alya lirih. “Selama itu aku juga dewasa, Dan. Dewasa nunggu kamu. Dewasa percaya. Dewasa nutup mata waktu kamu berubah.”

Ardan mendekat setapak. “Aku tetap sayang kamu.”

Alya tertawa kecil, tanpa suara. “Sayang yang mana? Yang selingkuh setahun?”

“Itu cuma kesalahan,” Ardan cepat menimpali. “Satu kesalahan.”

“Satu tahun,” potong Alya. “Bukan satu malam.”

Sunyi menggantung. Ardan mengusap wajahnya, terlihat frustrasi. “Aku datang karena aku peduli. Aku nggak mau kamu hancur.”

“Kamu datang karena takut,” jawab Alya pelan. “Takut aku berhenti mengalah.”

Randa terdiam.

“Itu kenapa kalian semua ke sini,” lanjut Alya. “Bukan buat nyelametin aku. Tapi buat nyelametin rasa bersalah kalian.”

Ardan berdiri. Nada suaranya mengeras sedikit. “Jangan muter fakta, Alya. Ini sudah terjadi. Hidup harus jalan.”

Alya mengangguk. “Iya.”

Jawaban itu membuat Ardan lega. “Kamu ngerti, kan?”

Alya berdiri, menutup koper di lantai. Klik. Suaranya tegas di ruangan sunyi.

“Aku ngerti,” katanya tenang. “Makanya aku berhenti.”

Ardan mengerutkan kening. “Berhenti apa?”

“Berhenti jadi orang yang selalu kalian injak,” jawab Alya.

Ardan melangkah mendekat lagi. “Kamu mau ke mana?”

Alya menatapnya lurus, tanpa air mata, tanpa amarah.

“Ke tempat di mana aku nggak disuruh kuat setiap kali aku disakiti.”

Ardan terdiam, kehilangan kata. Ketika Alya melewatinya menuju pintu, Ardan memanggil pelan. “Alya…”

Ia berhenti sejenak. Bukan untuk menoleh hanya untuk berkata:

“Terima kasih sudah ngajarin aku satu hal.”

“Apa?” tanya Ardan.

“Aku bukan pilihan terakhir siapa pun.”

Alya keluar dari kamar itu tanpa menutup pintu, langkahnya cepat seolah sudah diperhitungkan, bahkan ia mencoba untuk tuli disaat suara sang ibu memanggilnya.

Bersambung .....

Selamat pagi semoga suka

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!