Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Dua puluh menit kemudian, Edo sang sahabat sekaligus dokter pribadi di keluarga Brian datang menuju alamat Apartement yang tadi di kirimkan Brian padanya.
TOK....TOK...TOK....
Pintu di ketuk dan Brian segera membukanya.
CLEK.....
Tampaklah Edo berdiri di sana sambil membawa tas berwarna hitam di dalamnya.
"Masuk," pinta Brian.
"Siapa yang sakit?" tanya Edo sambil melangkah masuk mengikuti Brian yang membawanya menuju kamar di mana Sasa berbaring.
"Istri ku," jawab Brian
Edo menatap seorang wanita yang berbaring di ranjang dengan wajah pucat, dan Edo cukup terkejut sebab wanita yang di sebut Brian sebagai istrinya bukan Anggia. Dan Edo benar-benar tak mengerti hingga ia menatap Brian penuh tanya.
"Ini Dokter Sahara kan?" tanya Edo, "Bukannya istri mu Anggia?" Edo tak mau di landa bingung jadi lebih baik bertanya langsung dari pada berpikir tidak-tidak. Sebab ia cukup mengenal Sasa.
"Aku dan Anggia sudah bercerai, cepat periksa Dia," perintah Brian.
Edo mulai memeriksa Sasa, sejenak ia membuang rasa penasarannya sebab kondisi Sasa cukup memperihatinkan.
"Dokter Sahara demam karena kelelahan, Dia juga belum makan, makanya jadi drop begini," tutur Edo tanpa mengalihkan pandangannya menatap wajah pucat Sasa.
Perlahan Sasa mulai mengerjapkan matanya dan menatap Edo yang juga tengah menatapnya.
"Ssssstttt..." Sasa meringis memegangi kepalanya yang terasa pusing, "Mas Edo?" ucap Sasa menatap Edo.
Edo tersenyum saat Sasa menatapnya dan ternyata masih mengenalinya, "Kamu sudah lebih baik?" tanya Edo sambil membantu Sasa yang mencoba bangun.
"Mas?" Brian bingung menyaksikan Sasa yang ternyata mengenal Edo, dan panggilan Mas rasanya menggambarkan kedekatan mereka yang cukup saling mengenal.
"Brian, ada makanan tidak?" tanya Edo menatap Brian yang menatap mereka dari kejauhan.
Brian mengambil ponselnya dan memesan makanan, ia pun tak tau apakah ada makanan di apartement itu. Namun untuk saat ini Brian lebih memilih memesan saja, dan dalam beberapa menit makanan itu sudah tiba.
Brian seperti orang bodoh yang melihat Sasa duduk di ranjang dan Edo duduk di sisi ranjang.
"Kamu harus makan, setelah itu minum obat," kata Edo yang terlihat sangat memperhatikan Sasa, "Biar saya suapin," sambung Edo dengan tersenyum tulusnya.
Brian semakin bingung, jika biasanya Edo akan pulang setelah selesai memeriksa Anggia dulu namun tidak dengan saat ini. Saat ini Edo terlihat sangat perhatian pada Sasa, padahal Sasa sudah berulang kali menolak tapi Edo tetap memaksa.
"Mas, biar saya makan sendiri saja," Sasa mengambil piring yang berisi makanan dari tangan Edo, ia tak mungkin membiarkan Edo menyuapinya. Karena mau bagaimana pun dirinya sudah menikah dan Brian pun ada masih sana. Ia sadar pernikahannya dengan Brian tidak pantas di sebut sebagai pernikahan, namun tetap saja ia masih berusaha menjaga diri dari pria lain termasuk Edo.
"Tidak apa biar saya bantu, bukankah saat kita masih menjadi sepasang kekasih dulu aku sering merawat dan munyuapi mu. Dan penyakit mu masih saja sama Asam Lambung," tutur Edo mengingatkan Sasa.
DEEG!
Brian bagai di siram air panas, hatinya bagai tersambar petir ternyata Edo adalah mantan kekasih Sasa. Dengan begitu Brian mengerti mengapa mengapa Edo sangat memperhatikan Sasa, dan artinya juga Edo masih menyimpan rasa hingga terlihat jelas dengan perhatian yang Edo berikan.
Sementara Sasa hanya diam saja, ia tak melihat exspresi Brian sedikit pun. Dan ia juga tak memikirkan perasaan Brian sama sekali karena tak ada cinta Brian sedikit pun untuknya, hanya saja ia menjaga diri dari pria lain karena sudah berstatus istri itu saja tidak lebih.
"Iya Mas, tapi saya makan sendiri saja," ucap Sasa yang kini mulai menyuapi makanan kemulutnya, dengan Edo terus tersenyum menatapnya. Sedangkan Brian masih diam membisu seakan menjadi penonton.
"Minum?" tanya Edo yang semakin terlihat cukup cekatan dalam memperharikan Sasa.
"Iya, tapi biar saya sendiri saja," kata Sasa dengan cepat mengambil gelas dari tangan Edo.
"Buka mulut mu biar Mas berikan obatnya," Edo masih tak berhenti mencoba mendekati Sasa, walau pun sudah beberapa kali di tolak namun usahanya tak pernah bisa putus.
"Mas, tidak perlu," tolak Sasa lagi yang entah sudah untuk yang keberapa kalinya.
"Ayolah buka mulut mu," Edo terus saja memaksa hingga Sasa tak bisa lagi menolak, karena ia ingin beristirahat lebih cepat. Hingga dengan berat hati ia perlahan membuka mulut dan mendeguk air bersamaan dengan obat tersebut.
DEEG!
Lagi-lagi Brian merasa seperti di hantam badai yang tiada henti, di hadapannya Sasa di perhatikan oleh orang lain sementara ia hanya menjadi penonton dan merasa tak di perdulikan sama sekali.
"Edo keluar dari sini!" ucap Brian dengan tegas.
"Kamu mengusir saya?" tanya Edo tak percaya.
"Iya, keluar dari sini. Dia itu istri ku berani sekali kau bersikap lancang," geram Brian mengepalkan tangannya.
Edo yang tadi melupakan akan hal itu mulai menyadi kesalahannya, Brian tadi sempat memberi tahukan pada dirinya tentang Sasa adalah istrinya. Namun saat Sasa tersadar ia malah melupakan hal itu, kini ia mulai menatap Sasa ada rasa kecewa yang ia rasakan. Namun tetap Sasa semua itu tak bisa merubah apa-apa, sedari masa kuliah dulu Sasa dan Edo sudah saling mengenal hingga terjalin ikatan kasih, namun cinta mereka kandas karena sebuah kesalah pahaman dan hingga kini Edo belum bisa lupa akan Sasa. Wanita pertama yang mengisi relung hatinya saat itu.
"Sahara, saya pamit," kata Edo dengan raut wajah kecewa lalu melangkah keluar tanpa menatap Brian sedikit pun.
Setelah Edo pergi, Brian kini menatap Sasa dengan serius, "Apa kau tidak punnya harga diri sampai mau di suapi seperti oleh pria lain, bahkan di depan mata suami mu sendiri?" tanya Brian.
Sasa yang mendengar apa yang di kata Brian mulai mendudukan tubuhnya dan berusaha berdiri dengan susah payah.
"Iya, aku memang bukan wanita baik-baik. Dan aku memang bukan wanita yang berharga diri, keluar dari rumah ku!" ucap Sasa menunjuk letak pintu keluar.
"Sasa bukan begitu maksud ku," Brian yang baru saja terbakar emosi mulai tersadar atas apa yang barusan ia ucapkan, "Maksud ku......" belum sempat Brian melanjutkan perkataannya Sasa lagi-lagi mengusirnya.
"Keluar dari sini....." Sasa mendorong tubuh Brian agar keluar dari apartemennya.
"Sasa, Saya minta maaf..." ucap Brian.
BRAAAAK!
Sasa menutup pintu dengan membantingnya, ia menangis dan bersadar di daun pintu. Perlahan tubuhnya terasa lemas hingga terduduk begitu saja di lantai.
"Hiks....hiks.....Tuhan hukuman ini terlalu berat aku tidak sanggup," gumam Sasa di sela-sela tangisannya.