Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teratai darah dari Utara part 3
Di tengah perjalanan menuju lereng Lawu, ketiga algojo Teratai Hitam—Si Buta Feng, Mei Lian, dan Iron Khan—memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah kedai tersembunyi yang sering menjadi tempat berkumpulnya para penyamun dan pendekar aliran hitam. Kabut tebal menyamarkan kehadiran mereka, namun aura dingin yang mereka bawa membuat suasana kedai yang tadinya bising mendadak sunyi.
Di pojok ruangan, dua orang pendekar lokal dengan bekas luka melintang di wajah sedang asyik menenggak tuak. Mereka tidak menyadari siapa yang duduk di meja sebelah mereka.
"Kau dengar kabar dari wilayah Timur?" tanya salah satu pendekar itu dengan nada gemetar. "Kebo Anabrang II... jagoan andalan Majapahit yang tubuhnya sekeras perunggu itu, tumbang! Dia diutus Gajah Pradoto untuk menangkap pemuda 'Sableng' itu, tapi malah dibuat berlutut."
Mendengar nama itu, telinga Si Buta Feng bergerak halus. Ia memberi isyarat pada Mei Lian dan Iron Khan untuk tetap diam dan mendengarkan.
"Maksudmu Arya Gading? Si Satya Wanara itu?" sahut temannya. "Gila! Aku melihatnya sendiri dari kejauhan saat itu. Pasukan elit Majapahit kocar-kacir. Arya Gading mengobrak-abrik formasi mereka sendirian, hanya dengan sebatang tongkat emas yang berputar seperti baling-baling maut. Padahal Kebo Anabrang II sudah menggunakan Gada Kyai Mega Mendung. Tapi pemuda itu... dia seperti bukan manusia. Dia bergerak mengikuti arah angin, membuang tenaga raksasa Kebo hingga menghancurkan pohon-pohon jati di sekitarnya."
Pendekar pertama mengangguk sambil meneguk tuaknya. "Betul. Katanya, Kebo Anabrang II sekarang sedang mengasingkan diri, bertapa di lereng Gunung Penanggungan karena malu atau mungkin karena hatinya hancur. Arya Gading tidak membunuhnya, ia justru memberi nasihat yang membuat pendekar sekelas Kebo terdiam seribu bahasa. Dia bilang 'angin tidak bisa ditangkap oleh besi'."
Di meja sebelah, Iron Khan meremas cangkir tanah liatnya hingga hancur menjadi debu. Matanya berkilat penuh kemarahan dan tantangan.
"Angin tidak bisa ditangkap oleh besi, katamu?" bisik Iron Khan dengan suara yang terdengar seperti geraman harimau. "Kita lihat saja, apakah angin itu masih bisa berhembus setelah dihantam oleh bola besiku."
Mei Lian tersenyum sinis, mengipasi wajahnya dengan kipas baja yang tertutup. "Jadi bocah itu pernah mengalahkan raksasa bodoh dari Majapahit? Menarik. Tapi Kebo Anabrang hanyalah otot tanpa otak. Dia tidak memiliki racun spora dan frekuensi suara yang mematikan."
Si Buta Feng berdiri perlahan, membetulkan letak Pipa di punggungnya. "Pembicaraan ini cukup. Pemuda itu memiliki rekam jejak yang lebih berbahaya dari yang kita duga. Jika dia bisa menumbangkan jagoan pusat kerajaan Majapahit seorang diri, berarti 'Jiwa Kera Sakti' yang disebut Tuan Gao Zhan bukanlah isapan jempol belaka."
Ketiga algojo itu bangkit secara bersamaan. Hawa membunuh yang mereka lepaskan membuat para pendekar lokal tadi mendadak tersedak tuak mereka sendiri. Tanpa menoleh, ketiga bayangan merah itu lenyap ditelan kabut malam, melesat menuju Curug Parang Ijo.
Kini, mereka tidak lagi meremehkan Satya. Mereka tahu mereka tidak sedang memburu seorang pemuda ceroboh, melainkan seorang legenda hidup yang mampu mengguncang tatanan kekuasaan di tanah Jawa. Pertempuran di Curug Parang Ijo nanti bukan sekadar perebutan pusaka, melainkan pembuktian: apakah kelincahan sang 'Raja Kera' mampu bertahan dari kepungan maut tiga algojo daratan tengah.
"Ayo," ajak Feng dingin. "Biarkan Pipa-ku yang menyambut kepulangan sang putra Ki Ageng Dharmasanya di air terjun itu."
Gemuruh Curug Parang Ijo yang biasanya membawa ketenangan, kini terasa mencekam. Air terjun yang jatuh menghantam bebatuan menciptakan uap air yang tebal, namun di sela-sela kabut itu, Satya Wanara dan Li Wei mendadak berhenti.
Satya, yang baru saja hendak mencuci mukanya, tiba-tiba memiringkan kepala. "Waduh, Li Wei... sepertinya uap air ini bau obat nyamuk ya? Manis-manis bikin mual," gumam Satya sambil menyeringai lebar.
Li Wei menyentuh hulu pedangnya. "Spora Mei Lian. Mereka sudah di sini."
Tiba-tiba, dari tiga arah berbeda, bayangan merah melesat. Si Buta Feng mendarat di atas batu besar, langsung memetik senar Pipa-nya—Tring!—menciptakan gelombang suara yang membelah permukaan air. Di sisi lain, Iron Khan menghantamkan bola besinya ke tanah hingga bergetar, sementara Mei Lian muncul dengan kipas terbuka, menebarkan kabut ungu yang lebih pekat.
"Li Wei, urus si pemusik itu! Telingaku tidak kuat kalau harus dengar konser dangdut gagal di tengah hutan begini," seru Satya sambil melompat tinggi.
Pertempuran pecah. Li Wei melesat menerjang Feng, sementara Satya kini harus berhadapan dengan raksasa Iron Khan dan si cantik Mei Lian.
Iron Khan meraung, mengayunkan bola besi berduri ke arah kepala Satya. "Mati kau, Monyet Jawa!"
Satya tidak menangkis. Dengan gaya "Kera Mabuk", ia justru sengaja menjatuhkan diri ke belakang, membiarkan bola besi itu lewat hanya seujung rambut dari hidungnya. Saat bola besi itu menghantam batu di belakangnya, Satya menggunakan rantai bola besi itu sebagai titian. Ia berlari lincah di atas rantai tersebut menuju ke arah Iron Khan.
"Permisi, numpang lewat!" ucap Satya sambil memberikan sentilan keras di dahi Iron Khan saat melewatinya, lalu mendarat tepat di depan Mei Lian.
Mei Lian mendengus benci. Ia mengayunkan kipas bajanya, berniat mengiris leher Satya. "Bocah kurang ajar! Hirup racun ini!"
Satya menutup hidungnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang memegang Toya Emas justru bergerak nakal. Alih-alih menyerang titik vital, Satya menggunakan ujung toyanya untuk menyangkut tali pengikat jubah luar Mei Lian.
Sreeet!
Jubah luar merah milik Mei Lian melorot separuh, membuatnya tersandung kainnya sendiri. "Aduh, Nona, kalau mau ganti baju jangan di sini, banyak monyet nanti malu," ledek Satya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Mei Lian wajahnya memerah padam karena malu dan marah. Ia menyerang membabi buta dengan kedua kipasnya. Satya melakukan gerakan salto berkali-kali di udara, selalu mendarat di tempat yang tak terduga. Saat Mei Lian menusukkan kipasnya ke depan, Satya justru jongkok dan menggunakan Toya Emasnya untuk menggelitik telapak kaki Mei Lian yang terbuka.
"Aha! Ternyata Nona ini geli juga ya?"
Mei Lian kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di kubangan air terjun dengan posisi yang sangat tidak anggun. Iron Khan yang melihat rekannya dipermalukan, mencoba menghantam Satya dari belakang. Namun Satya, tanpa menoleh, mengayunkan pantatnya ke samping sehingga bola besi itu justru menghantam pundak Iron Khan sendiri.
"Aduh, hati-hati dong Paman Raksasa. Nanti kalau benjol tidak ada yang mau kasih bapao loh," Satya menjulurkan lidahnya.
Meskipun dikeroyok oleh dua algojo elit, Satya bertarung seolah sedang bermain petak umpet. Setiap serangan Mei Lian yang mematikan justru ia balas dengan gerakan konyol—mulai dari pura-pura mencari kutu, hingga menggunakan kipas baja Mei Lian untuk mengipasi wajahnya sendiri yang kepanasan.
Mei Lian berteriak histeris, "Aku akan mencabik-cabik mulutmu, Arya Gading!"
"Coba saja kalau bisa tangkap angin, Nona Cantik!" jawab Satya sambil melakukan gerakan salto di atas kepala Iron Khan yang sedang melongo.
Di tengah kegaduhan itu, Satya tetap waspada. Matanya sesekali melirik ke arah Curug, tempat di mana ia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertempuran ini tengah menunggunya.
Pertempuran di Curug Parang Ijo mencapai puncaknya saat kabut ungu Mei Lian mulai buyar tertiup angin gunung yang kencang. Iron Khan, yang sudah kehabisan napas karena terus-menerus menghantam angin, mengayunkan kedua bola besinya dalam satu putaran terakhir yang putus asa.
"Habislah kau, Monyet!" raung Iron Khan.
Satya tidak lagi menghindar. Ia menancapkan Toya Emas Angin Langit ke celah bebatuan, menggunakannya sebagai tiang, lalu berputar horizontal seperti gasing. Saat bola besi Iron Khan mendekat, Satya menendang rantainya dengan teknik "Kera Menendang Rembulan". Putaran bola besi itu berbalik arah dengan kecepatan ganda, menghantam dada Iron Khan sendiri hingga raksasa itu terjengkang ke dalam sungai dengan bunyi Byuurrr! yang dahsyat.
Di sisi lain, Li Wei melakukan gerakan terakhirnya. Dengan satu cabutan pedang giok yang memancarkan cahaya hijau jernih, ia memotong seluruh senar Pipa milik Si Buta Feng dalam satu tebasan presisi. Feng tertegun, menatap instrumennya yang kini bungkam.
Mei Lian, yang jubahnya sudah compang-camping dan rambutnya acak-adakan karena terus-menerus dikerjai Satya, mencoba melakukan serangan terakhir. Ia melompat maju dengan kipas terbuka, namun Satya justru diam mematung dengan wajah serius yang dibuat-buat.
Begitu Mei Lian sudah sangat dekat, Satya tiba-tiba berteriak, "HATCHIII!!!"
Satya pura-pura bersin dengan sangat keras tepat di depan wajah Mei Lian. Karena kaget dan jijik, Mei Lian kehilangan pijakan, kakinya terpeleset lumut licin, dan ia jatuh terjerembap dengan wajah mendarat lebih dulu di lumpur pinggir sungai.
Suasana mendadak hening, hanya terdengar suara gemericik air terjun.
Mei Lian bangkit dengan wajah yang separuh tertutup lumpur hitam. Harga dirinya sebagai pembunuh elit dari Utara hancur berkeping-keping. Ia menatap Satya yang sedang asyik membersihkan kuku menggunakan ujung Toya Emasnya.
"KAU... KAU BENAR-BENAR MANUSIA PALING TIDAK TAHU ADAT!" teriak Mei Lian histeris, suaranya melengking tinggi hingga burung-burung beterbangan. "Dasar pria gila! Dasar tidak waras! Pendekar macam apa yang mengalahkan musuh dengan bersin?! Kau itu sableng! Edan!"
Satya menoleh, lalu memasang wajah polos yang menyebalkan. "Lho, Nona, bersin itu kan manusiawi. Daripada aku kentut, nanti racunmu malah kalah saing sama racun punyaku."
Li Wei, yang biasanya selalu terlihat tenang dan sedingin es, tidak bisa menahannya lagi. Melihat wajah Mei Lian yang penuh lumpur dan gaya Satya yang menggaruk-garuk ketiak, pertahanan mental Li Wei runtuh.
"Pfft... Hahahaha!" Li Wei tertawa terbahak-bahak, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. "Maaf, Mei Lian... tapi dia benar. Di tanah Jawa ini, sepertinya logika daratan tengah memang tidak berlaku."
"Hahahaha! Tuh kan, orang asing saja bilang aku benar!" Satya ikut tertawa lebar sambil memegang perutnya. "Aduh, Li Wei, lihat si Abang Raksasa itu, dia malah jadi berendam air terjun gratis. Kekecilan ya sabunnya?"
Ketiga algojo itu hanya bisa terduduk lemas. Iron Khan pingsan karena hantaman senjatanya sendiri, Feng meratapi Pipanya, dan Mei Lian hanya bisa terus mengomel tidak jelas sambil mencoba membersihkan lumpur dari wajah cantiknya.
"Sudahlah, Nona Cantik," ujar Satya sambil menyampirkan Toya Emas ke punggungnya. "Katakan pada Si Tangan Besi itu, kalau mau main ke Lawu, bawa pasukan yang lebih lucu lagi. Yang ini kurang seru, cuma bikin baju kotor saja."
Satya kemudian berbalik arah, menatap ke arah puncak Curug Parang Ijo di mana cahaya matahari mulai menembus celah pepohonan.
"Li Wei, ayo lanjut. Telingaku sudah lelah dengar teriakan Janda pasar ini."