NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Satu bulan berlalu begitu saja. Pertanyaan yang diajukan Intan waktu itu langsung dijawab Sonya dengan gelengan kepala, dan hingga detik ini pun wanita itu benar-benar tidak memunculkan batang hidungnya di depan Yudha.

Tentu saja, selama satu bulan ini, setiap detik terasa berat bagi Sonya dan Intan, apalagi uang yang dipegang Intan pemberian dari Yohana kini kian hari semakin menipis. Keduanya sibuk mencari pekerjaan, tetapi tak kunjung mendapatkan hasil.

"Dek, kamu makan bubur itu dulu. Aku lihat wajahmu semakin pucat," perintah Intan, saat menatap Sonya yang kini terbaring lemah di atas kasur lantai.

"Nanti dulu, Kak. Aku lagi nggak selera makan," jawab Sonya dengan mata terpejam. Kepalanya benar-benar terasa sakit, bahkan untuk membuka kelopak mata pun terasa sangat berat. Sonya sendiri bingung dengan keadaan tubuhnya yang tiba-tiba lemah.

"Kalau kamu seperti ini terus, Kakak malah repot. Atau nggak, kita ke rumah sakit saja?"

"Ini paling cuma masuk angin aja. Beberapa hari ini kita selalu pergi kesana kemari untuk cari pekerjaan sampai kehujanan," tolak Sonya dengan halus, memberikan alasan yang bisa diterima.

Meskipun demikian, Intan tidak terlalu menggubris. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Sonya. "Setidaknya kalau kita dapat obat, akan lebih cepat sembuh."

"Tapi kita sudah nggak punya uang lagi, Kak," lirih Sonya.

"Kakak masih ada. Semoga setelah ini kita bisa langsung dapat pekerjaan. Aku denger dari tetangga sebelah, restoran padang milik bosnya lagi buka lowongan," ucap Intan meyakinkan.

Sonya terlalu lemah untuk terus berdebat dengan Intan. Ia akhirnya menyetujui keinginan sang kakak yang ingin membawanya ke dokter.

***

"Selamat, Bu. Anda tengah hamil."

Kedua bola mata Sonya membulat sempurna. Perasaannya menjadi campur aduk saat mendengar kabar dirinya tengah berbadan dua. Senang? Tentu saja, karena kini ia tengah mengandung anak dari lelaki yang ia cintai. Namun, wajahnya mendadak murung ketika dirinya ingat, saat ini keadaannya sama sekali tidak menguntungkan.

Kenapa di saat seperti ini, kamu harus hadir, Nak?

Pertanyaan itu menguasai pikiran Sonya. Ia bingung harus berbuat apa untuk menjamin kehidupan anak di dalam perutnya. Apa harus anak yang masih berwujud gumpalan darah itu ia hilangkan?

"Bu Sonya," sang dokter memanggil nama pasiennya sembari melambaikan tangan. Hal itu baru bisa membuat Sonya sadar akan pemikiran konyolnya.

"Maaf, Dok, saya melamun. Kalau begitu, terima kasih untuk informasinya."

"Jangan sungkan seperti itu, Bu. Ini kabar bahagia bagi seorang wanita, di mana akan ada nyawa bersemayam di perutnya. Saya harap Ibu bisa menjaga kehamilan Ibu yang masih muda ini."

Sonya tersenyum miris. Apakah dokter itu mengetahui jalan pikirannya saat ini? Tentu saja, sebagai seorang wanita, bisa menjadi seorang ibu merupakan kabar bahagia. Tapi dengan keadaannya seperti ini, apa itu termasuk mukjizat?

"Apapun permasalahan yang Ibu hadapi, jangan sampai mempengaruhi anak di dalam kandungan Ibu," ucap sang dokter lagi, membuat Sonya tertunduk malu.

Tanpa ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari sang dokter, Sonya buru-buru meninggalkan ruang itu. Dalam benaknya, ia ingin segera menemui Yudha, menghilangkan rasa malu, dan ingin memberitahukan kabar kehamilannya. Mungkin dengan cara seperti ini, ia tidak perlu membunuh calon anak yang tak berdosa itu.

Setelah sampai di kost-kostan tempat Yudha tinggal, dengan ragu ia mengetuk pintu. Sayangnya, setelah berulang kali pintu diketuk, tak kunjung terbuka.

"Apa mungkin dia masih di tempat kerjanya?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dari benak Sonya, membuat bibir tipisnya tertarik. Benaknya kini mulai membayangkan bagaimana jika nanti ia menikah dengan Yudha.

Kehidupan harmonis di mana ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anak, sementara Yudha sebagai kepala keluarga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seketika itu, penyesalan meninggalkan keluarga Prawira sirna. Ia kembali mengulas saat-saat menjalin hubungan dengan Yudha, tentang masa depan yang sudah mereka rancang bersama.

"Baiklah, aku akan menunggu dan segera memberitahu kehamilan ini," ungkap Sonya dengan polosnya.

Setengah jam berlalu, Sonya menunggu Yudha, berharap akan ada tanda-tanda lelaki itu muncul, karena waktu sudah menunjukkan jam lima sore, di mana para pekerja kantoran pulang.

"Apa mungkin jalanan macet? Atau dia sedang lembur?" Sonya kembali melihat ke arah gerbang, barangkali ada tanda-tanda Yudha datang. Namun, hasilnya masih nihil.

"Eh... Kamu Sonya kan mantan kekasih Yudha?" sapa seorang lelaki yang tinggal di lingkungan itu.

"Kak Bayu," sapa Sonya kembali dengan menunduk malu.

Sonya tidak heran jika ia dianggap mantan Yudha, mungkin karena frustasi Yudha menceritakan kisahnya pada lelaki itu. Walau bagaimanapun, hal seperti ini tidak mungkin menjadi rahasia lagi.

"Yudha masih kerja, Kak?" Sonya tak sabar lagi dan tak ingin berbasa-basi.

"Untuk apa kamu bertanya? Apa kamu mau menghancurkan hidupnya!" sarkas Bayu.

Melihat Sonya hanya diam, Bayu kembali berkata, "Kamu dan orang tuamu itu tidak ada bedanya. Sama-sama penghancur masa depan lelaki baik seperti Yudha. Tapi aku sekarang bersyukur, saat Yudha terpuruk selama satu bulan ini, ada seorang wanita yang terus berada di sisinya. Bahkan saat ini mungkin mereka tengah merancang masa depan baru di luar negeri."

Sonya merasa tenaganya hilang seketika, bahkan kaki yang tadinya sanggup menopang berat badannya kini luruh ke lantai dingin. Harapan dan mimpinya sirna. Apa ini karma yang harus ia tanggung?

"Jangan jadi wanita menyedihkan. Lebih baik kamu segera pulang ke rumah orang tuamu. Langit menghitam, sebentar lagi akan turun hujan," setelah mengatakan kalimat itu, Bayu meninggalkan Sonya dengan tatapan menghina.

Sonya tidak peduli dengan tatapan itu. Pikirannya kosong, air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan, sejalan dengan itu, langit juga menurunkan hujan dengan cukup deras.

"Maaf, maafkan aku," ucap Sonya sembari mengelus perutnya yang datar. Ia berjalan tergopoh-gopoh menuju jalan raya.

Pikiran kosong membawa Sonya untuk mengakhiri hidup bersama sang anak. Baginya, tidak ada lagi jalan untuknya kembali. Di tengah jalan, Sonya menutup mata, menunggu sang malaikat membawanya pergi.

"Dek, apa yang kamu lakukan?" teriak Intan setelah menarik tubuh Sonya ke tepi jalan.

Beruntung Intan memiliki firasat tentang Sonya, hingga ia memutuskan untuk mencari anak majikannya itu. Jika terlambat sedikit saja, tentu Sonya sudah terbujur kaku.

Intan menangkup kedua pipi Sonya sembari berkata, "Apa yang terjadi?"

"Kak, Yudha pergi. Dan, dan, di sini..." Sonya menunjuk perutnya, "ada nyawa baru yang sedang tumbuh."

Sonya terisak. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hidupnya sudah menjadi beban bagi Intan, kini ia justru membawa masalah baru.

Intan yang mendengar kabar itu pun ikut syok. Bagaimana kehidupan kedepan nanti, jika Sonya melahirkan seorang anak tanpa ada seorang suami? Dalam kehidupan bermasyarakat, melahirkan tanpa suami menjadi momok tersendiri.

Namun, janji yang sudah terucap tidak bisa ia langgar. Intan pun memeluk Sonya dengan erat, mencoba menguatkannya meskipun hati kecilnya penuh kecemasan.

"Kita pasti bisa merawatnya," ucap Intan dengan suara gemetar, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari Sonya.

Sonya menatap kosong ke depan, air mata masih mengalir deras. Namun, saat itu, ada perasaan yang sulit diungkapkan dalam dirinya, perasaan yang tak mampu ia pahami, antara harapan dan ketakutan yang begitu besar.

Apakah mereka benar-benar bisa menghadapinya? Apakah mereka akan bertahan?

Kata-kata itu tetap menggema dalam benak Sonya, seiring dengan hujan yang semakin deras. Langit mendung, seolah mencerminkan perasaan berat yang menggantung di hatinya. Dan ketika Intan melepaskan pelukannya, Sonya hanya bisa menunduk, merasakan perutnya yang mulai terasa semakin berat. Namun, dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang terus berputar, menggugah setiap rasa takut yang ada.

"Apa yang akan terjadi jika kita gagal?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!