Kehidupan Lambok yang memutuskan menduda setelah kepergian sang istri, Tiana Kartika. Dia akan fokus merawat anak-anaknya buah cinta dengan Tia.
Adik iparnya, Nindi yang belum juga menikah karena belum mendapatkan jodoh seperti keinginannya. Dia juga berat jika harus meninggalkan keponakannya.
Atala dan Twins yang tumbuh besar tanpa seorang Mama tetapi tak pernah kurang kasih sayang Mama karena Auntie Nindi yang menyayangi mereka seperti Mama.
Atala yang tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, membuat banyak wanita yang tergila-gila padanya tak terkecuali dengan Vita yang diam-diam menyukai Kakaknya.
Terkuaknya status Atala, membuat Atala terpukul dan mulai mencari Orangtua kandungnya.
Bagaimana kisah cinta Nindi selanjutnya? Apakah dia akan mendapatkan pendamping seperti Lambok?
Bagaimana usaha Atala yang mencari orangtua kandungnya, akankah berhasil?
Seseorang yang berasal dari masa lalu akan datang lagi, Siapakah dia?
Selamat membaca novel edisi kedua dari 🌷"Derita, Akankah Berakhir?"🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Fath, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Yang Baik
Pagi ini Tia telah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya makin membaik, hanya saja ingatannya yang belum kembali.
"Mama....!! Papa...!!" Atala dan Twins masuk ke ruang perawatan Tia.
"Assalamu alaikum...." Salam Nindi.
"Waalaikumussalaam..." Jawab Lambok.
Atala dan Twins segera mencuim pipi Lambok kemudian mereka memeluk Tia secara bergantian.
Tia posisinya sedang bersender setengah duduk karena Lambok menaikan brankar bagian kepala Tia.
"Bagaimana kabar Kak Tia hari ini?" Tanya Nindi pada Tia.
Tia hanya terdiam. Dia masih terasa asing dengan Nindi. Membalas pelukan Atala dan Twins saja dia enggan padahal waktu masih menjadi Sis Maria, dia bisa begitu hangat menyambut mereka.
"Pa... Mama kenapa? Kok Mama gak mengenal Aku?" Tanya Vita yang nampak kecewa.
"Sayaaang... Mama Kamu masih belum ingat dengan dirinya. Kamu sabar ya." Kata Lambok.
Vita mengangguk. Nindi merasa kasihan dengan keponakannya.
"Ma, boleh gak Lita duduk disamping Mama." Tanya Lita pada Tia.
Tia mengangguk. Dia hanya mencoba menyenangkan anak-anak kecil itu. Tia mendengar perkataan Vita dan Tia tak tega melihat Vita bersedih.
"Kak Lambok sarapan dulu ya. Biar Aku yang terusin suapin Kak Tia." Pinta Nindi.
Lambok mengangguk. "Kalian sudah sarapan?" Tanya Lambok pada anak-anaknya.
"Sudah dong Pa. Tadi Kita sarapan di rumah sama Auntie." Kata Lita.
Tia tersenyum melihat keceriaan Anak-anak Lambok.
Atala duduk disamping brankar Tia sebelahnya lagi. Atala menyenderkan kepalanya pada bahu Mamanya. Atala memegang tangan Tia.
Tia menoleh. Dia ingin menepis tapi diurungkan manakala dia melihat Atala menciumi lengannya. "Atala kangen sama Mama. Mama cepat ingat sama Kita ya." Atala mengusap airmatanya.
Vita, Lita, Lambok dan Nindi terharu melihat perlakuan Atala pada Tia.
"Maafkan Aku. Aku belum ingat apa-apa." Akhirnya Tia membuka mulutnya.
"Gak apa Ma. Kita semua sayaaang sama Mama..." Kata Vita terlihat senang.
Lambok tersenyum karena Tia mau berbicara walau hanya seperlunya.
"Aku sudah kenyang." Kata Tia yang menolak suapan dari Nindi lagi.
Nindi tersenyum. Pintu ruangan terbuka.
"Waaaahh... Pagi-pagi sudah pada kumpul ini." Marcel tersenyum sambil menyapa.
"Uncle... Kapan Mama Kami sembuh?" Tanya Lita.
Marcel tersenyum sambil memeriksa kondisi Tia. "Mama Kalian sudah sehat tubuhnya, hanya saja Mama Kalian masih belum ingat siapa dirinya." Kata Marcel.
"Dokter..." Panggil Tia.
"Ya Kak Tia?" Marcel senang Tia mau bicara.
"Apa Aku benar Mama Mereka? Apa Dia adikku?" Tanya Tia masih ragu.
Marcel mengangguk. Nindi mengambil tas nya. Nindi mengeluarkan sebuah surat dan memberikan pada Tia.
"Ini Kak, hasil test DNA kalau Kakak adalah Tiana Kartika, Kakak Aku dan Mama Mereka juga istri Kakakku yang tampan ini." Nindi manja pada Lambok. Nindi melihat Lambok dari tadi bersedih.
Tia melihat surat itu dan membacanya. Tia mengangguk. Tak ada alasan lagi baginya untuk menolak keluarganya.
"Maafkan Aku, Kak Lambok. Aku belum mengingat siapa diriku. Maafkan Aku..." Tia meneteskan airmata.
"Sssttt.... Kamu jangan nangis lagi ya. Kamu gak salah apa-apa." Kata Lambok yang senang karena Tia mau menyapanya walau seperti orang asing.
"Pesanan Papa dibawa gak?" Tanya Lambok.
"Ada Pa.... Nih..." Kata Atala yang segera memberikan bungkusan pada Lambok.
Lambok membuka bungkusan itu. "Apa boleh?" Tanya Lambok pada Marcel.
Marcel mengangguk, tapi dia bingung mengapa Lambok memberikan itu.
"Ini untuk Kamu, Sayaang..." Kata Lambok yang menyerahkan ice cream dan Coklat pada Tia.
Tia menerimanya. Tia tersenyum. "Ice cream dan Coklat bisa mengurangi kesedihan dan kegalauanmu...." Tiba-tiba Tia berbicara.
Lambok terperanjat. "Subhanallaah... Kamu mengingatnya Sayaaang??" Lambok bergegas mendekati Tia.
Tia mengerutkan keningnya. "Aku bingung kenapa kata-kata itu terngiang dikepalaku?" Tanya Tia.
Marcel tersenyum. "Gak apa Kak. Mudah-mudahan ini awal yang baik." Kata Marcel.
"Aaamiin..." Jawab mereka.
_______________
Beberapa hari kemudian.
Tia sudah berada di rumah sekarang. Lambok memutuskan untuk tidak ke perusahaan. Dia sudah meminta pada orang kepercayaannya untuk menghandle pekerjaannya.
Lambok ingin mengurus sang istri. Anak-anaknya pun sedang libur panjang sekolah.
"Kak... Apa gak sebaiknya Kita pulang saja ke Indonesian?" Tanya Nindi disela-sela canda tawa Tia dengan anak-anaknya.
"Kakak berfikir begitu, Dek. Tapi bagaimana dengan Kamu? Marcel?" Tanya Lambok yang tak tega meninggalkan Nindi sendiri di Negara A.
"Aku mau pindah ke Indonesia Kak. Disini Kita seperti orang asing. Lagu pula Kak Tia banyak kenangannya disana. Pasti akan membantu Kak Tia untuk mengingat kembali siapa dirinya." Kata Nindi.
"Lalu Marcel?" Tanya Lambok.
Nindi menghela nafas. "Kayaknya Marcel bukan jodohku, Kak. Aku sudah menunggunya sekian lama, tapi dia tak juga percaya denganku. Aku akan mencoba membuka hatiku untuk yang lain." Nindi menangis.
Akhirnya Nindi menyerah, sekuat apapun dirinya menahan untuk tidak menangis tapi akhirnya tumpah juga.
Lambok memeluknya sambil mengusap rambutnya. "Kamu yang sabar ya. Mudah-mudahan Kamu mendapat pengganti yang lebih baik lagi."
Tia melihat Lambok yang memeluk Nindi. Tia menghampiri Lambok. "Kenapa Kamu memeluk Adikku?" Tia heran dan sedikit tak suka.
Nindi melerai pelukannya. Nindi mengusap airmatanya. "Kakak cemburu ya..." Nindi tertawa sambil menangis.
Tia terlihat bingung. "Apa iya Aku cemburu. Tapi Katanya Dia suamiku, kok Adikku mau dipeluk suamiku?" Guman Tia.
Lambok merangkul bahu Tia. "Sayaang... Dia Adik kecil Kita, Adik kesayanganku, dari dulu dia selalu manja denganmu dan juga denganku." Jelas Lambok.
"Ooohh... Maafkan Kakak ya Nindi." Kata Tia.
Lambok memeluk tubuh Tia dan mengecup pucuk kepala Tia. Ada debaran aneh dijantungnya.
"Kenapa Kamu deg-degan, Sayaang? Kamu mulai jatuh cinta sama Aku ya?" Goda Lambok sambil melerai pelukannya.
Tia menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
Lambok mengangkat dagu Tia dan mengecup Bibir Tia.
Tia terperanjat. "Apa yang Kamu lakukan?" Tanya Tia tak suka.
Lambok dan Nindi tertawa. Tia hanya mengerutkan keningnya.
"Nanti malam Kak Tia tidur dikamar Kakak temani suami Kakak nih. Kasihan tahu Kak, tiap malam selama 4 tahun tidur sendiri." Canda Nindi.
"Hhaaaahhh..." Tia terperanjat. "Tapi... Aku...." Tia terlihat gugup. Tia menggigit bibir bawahnya.
Lambok tersenyum. "Gak apa kalau Kamu belum siap. Aku akan menunggumu." Kata Lambok yang kembali mencium bibir Tia.
"Anak-anak... Kita ke klinik yuk. Disini ada adegan orang dewasa." Canda Nindi.
Atala, Vita dan Lita tertawa melihat tingkah Papa nya yang kaya anak ABG sedang jatuh cinta.
"Papa mau pacaran ya." Canda Vita.
Nindi mendelik. "Kamu tahu darimana bahasa pacaran?" Tanya Nindi yang mendelik matanya pada Vita.
"Uupppsss..." Vita menutup mulutnya sendiri.
Nindi segera membawa keponakannya ke Klinik.
Kini tinggal Tia dan Lambok berada di rumah inti.
"Kalian mau kemana?" Tanya Tia yang melihat Nindi dan anak-anaknya pergi meninggalkan dirinya berdua dengan Lambok.
Lambok merangkul bahu Tia. "Biarkan saja, Sayang. Mereka ingin Kita berduaan." Goda Lambok sambil mencium leher Tia.
Tia memang tak mengenakan hijabnya karena Tia masih lupa akan dirinya. Nindi akan membantu Tia memakai hijabnya jika mereka akan keluar rumah.
Bulu kuduk Tia meremang. Jantungnya berdegub kencang. "Apa yang Kakak mau lakukan? Aku takut." Kata Tia.
"Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya ingin melepas rinduku saja sama istriku." Goda Lambok yang telah menyusuri leher Tia.
"Jangaaann.... Kaya gini... Kak..." Tia menjauh.
Lambok membawa Tia ke ruang tengah. Lambok membawa Tia duduk di sofa, disampingnya.
Lambok merengkuh bahu Tia. "Kamu tahu Sayaaang. Aku sangat mencintaimu....."
"Dulu... Kini... dan sampai kapanpun...." Tiba-tiba Tia meneruskan kata-kata Lambok.
Lambok terperanjat. "Kamu mengingatnya Sayaaang??? Alhamdulillaah Ya Allah...." Lambok memeluk tubuh Tia.
Tia mengerutkan keningnya. Dia masih bingung kenapa bibirnya mengeluarkan kata-kata itu begitu saja.