Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-14
Angga dan Tasya saling memalingkan wajah mereka dan cemberut seperti anak kecil yang sedang marahan.
Mata Angga melirik ke arah Tasya. Saat Tasya melirik Angga, Angga segera memalingkan lirikannya dari Tasya. Begitupun Tasya, ia melakukan hal yang sama ketika Angga akan melirik padanya.
Mereka saling terdiam, memendam rasa kesal masing-masing yang ada di dalam benaknya.
"Kruuukkk..." suara raungan itu membuat mereka tersadar.
"Hahahaha!" Angga tertawa lepas, meledek suara perut Tasya yang meraung.
Tasya mengerucutkan bibirnya, "Aku seperti ini karena dirimu!"
"Aku?" Angga menunjuk dadanya, "Kau menyalahkanku? Hahaha..." Angga tertawa sambil memegangi perutnya.
"Tentu saja. Karena ulahmu, aku jadi muntah. Semua makanan yang kumakan, telah lenyap sudah!" keluh Tasya, sambil berkacak pinggang.
"Baiklah, baiklah... tapi, karena ulahmu mobilku menjadi bau dan sangat kotor." Angga bergidik, merasa jijik.
"Hehehe..." Tasya mengusap leher belakangnya.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Angga bingung.
"Tuan telepon saja seseorang untuk membawa mobil Tuan. Dan Tuan naik angkot saja bersamaku!" ujar Tasya.
"Tidak! Aku tidak mau!" Angga menatap Tasya dengan tatapan kesal.
"Ya sudah! Aku pulang duluan, dadah Tuan Angga galak!" Tasya mengibaskan rambutnya, lalu berjalan meninggalkan Angga.
"Hei!! Tunggu aku!" Angga berlari kecil menyusul Tasya.
"Tuan, kenapa kamu mengikutiku?"
"Aku-aku tidak mengikutimu!" elaknya.
"Ah Tuan, bilang saja kalau Tuan ingin dekat denganku, kan?" goda Tasya.
"Aku tidak ingin dekat denganmu. Aku hanya ingin jawaban darimu, batalkanlah pernikahan kita!"
"Tuan, aku sudah berjanji untuk menikah dengan Tuan. Jadi, aku tidak bisa membatalkannya. Kalau Tuan mau, kenapa Tuan tidak bujuk Ibu Tuan untuk membatalkan pernikahan kita?!"
"I-itu... itu sudah kulakukan! Namun, kamu tahu sendiri bagaimana Mama. Mama itu keras kepala!" ujarnya.
Tasya tersenyum lebar, "Ke-kenapa kamu tersenyum seperti itu hah?!" tanya Angga, sambil mengeryit.
"Tidak Tuan. Aku senang, Tuan bicara 'aku-kamu' padaku!" ucap Tasya masih tersenyum.
Angga menatap dingin Tasya. "Tuan, mungkin kita ini memanglah berjodoh!" celetuk Tasya.
Tatapan dingin kini berubah menjadi tatapan tajam. "Hah..." Angga menghela nafasnya pasrah.
"Persiapkan diri untuk menikah satu minggu lagi!" sambungnya.
"Apa? S-satu minggu lagi?!" teriak Tasya terkejut.
"Tak perlu berteriak, malu tuh sama orang-orang!" kata Angga.
Tasya menatap ke sekelilingnya. "Apa mereka terlihat peduli?" ucap Tasya dalam hati.
"Tuan, tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian! Kamu senang kan? Kita akan segera menikah?"
Angga menyeringai, "Persiapkanlah dirimu untuk satu minggu kedepan." Angga tersenyum licik, lalu melambaikan tangannya saat taksi sedang melaju ke arahnya.
"Menikah? Satu minggu lagi?" gumam Tasya, sambil menatap kepergian taksi yang di tumpangi oleh Angga.
***
"Tasya? Kamu darimana saja? Ibu sudah selesai dioperasi!"
"Be-benarkah? Bagaimana keadaannya? Apa sudah membaik?" tanya Tasya.
"Aku belum tahu. Saat ini Ibu belum sadar karena pengaruh obat bius." Ujarnya.
"Aku bawakan makanan untukmu dan Bibi. Aku hanya membawa buah-buahan ini untuk Bibi. Apa Bibi boleh memakan ini setelah sadar nanti?"
"Terima kasih, nanti akan kutanyakan pada dokter. Ayo makan dulu, aku sudah sangat lapar!" Dessy membuka nasi bungkus yang Tasya bawa. Sedangkan Tasya menyimpan buah-buahan di kursi yang ada di sampingnya.
"Kamu kemana aja? Dari tadi aku telepon kamu, tapi gak di angkat!"
"Ah! Maafkan aku!" Tasya merogoh tas kecilnya. "Ternyata ponselku mati!" sambungnya.
"Baiklah, Tasya ayo makan sama-sama!"
Tasya tersenyum-senyum, "Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Dessy.
"Aku tersenyum karena kamu. Tadi pagi kamu begitu khawatir dan tidak mau meninggalkan tempat ini. Aku senang, kamu kembali ceria!"
"Oh, itu... maafkan aku Tasya," Dessy menunduk malu.
"Tidak apa-apa. Ayo, setelah ini kita lihat Bibi!"
Beberapa menit kemudian, Tasya dan Dessy selesai makan. Mereka memasuki ruangan tempat Ratih dirawat.
"Bibi, kapan Bibi akan siuman?" Tasya menatap Ratih yang terbaring lemah.
"Ibu pasti akan segera sadar. Dokter bilang, operasinya berhasil! Mungkin sebentar lagi Ibu akan siuman!" ujarnya.
"Dessy, ada yang ingin kubicarakan," Tasya menggenggam kedua tangannya ragu. Jari-jemarinya tidak bisa diam.
"Aku... aku akan menikah," sambungnya.
"Kamu menikah?" Dessy tersenyum lebar, "Kapan? Dengan siapa? Apa dengan anak bosmu itu?" Dessy menyenggol lengan Tasya.
"Ih... Dessy!" pipinya merah merona, Tasya mengangguk.
"Wah! Selamat ya! Aku ikut senang mendengarnya!" seru Dessy.
"Aa-apa? Nona akan me-menikah?"
"Bibi/Ibu!" seru Tasya dan Dessy bersamaan.
"Syukurlah Ibu sudah sadar. Dessy sangat khawatir dengan Ibu!" Dessy memeluk Ratih dengan sayang.
"Dessy, kasihan Bibi. Dia baru siuman..."
"Ah! Maaf Bu, maafkan aku!" Dessy tidak bisa berkata-kata. Ia melepas pelukannya, "Dessy terlalu senang, karena Ibu sudah sadar."
"Katakan pada Ibu, apa benar yang tadi Ibu dengar? Nona akan menikah?" tanya Ratih pada Dessy.
"Itu benar!" jawab Dessy.
"Nona akan menikah dengan siapa Non?"
"Bibi, nanti akan kuceritakan. Sekarang Bibi harus banyak istirahat." Kata Tasya.
***
Dua hari kemudian...
Keadaan Ratih sudah membaik. Maka dari itu Ratih sudah boleh pulang. Saat di rumah, Tasya menceritakan tentang pernikahannya dengan Angga yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
"Cepat sekali? Apa ini tidak terburu-buru Non?"
"Semua ini karena keinginan Bu Santi. Tasya hanya bisa menurut saja. Mungkin, lebih cepat akan lebih baik!" ucap Tasya tersenyum. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin tersenyum. Tapi, ia tidak ingin Ratih kecewa dan melihat adanya keterpaksaan dalam penikahannya.
"Begitu ya! Bibi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Non Tasya." Ratih tersenyum, ia mengelus-elus puncak kepala Tasya dengan sayang.
"Kalau Tasya menikah, Tasya tidak akan tinggal di sini lagi dong Bu?!"
"Iya Nak. Nona Tasya akan ikut suaminya."
"Yahh... padahal Dessy senang ada Tasya di sini! Dessy bakal kesepian lagi deh!" keluhnya.
"Dessy, aku janji. Aku akan menyempatkan diri untuk ke sini. Lagi pula, ada Bibi di sini. Kamu tidak akan kesepian!" ujar Tasya.
"Baiklah..." jawab Dessy pasrah.
Di sisi lain...
"Bije, apa semua sudah siap?" tanya Santi.
"Sudah Nyonya. Semua sudah siap!" jawab Bije di seberang telepon.
"Bagus, nanti saya akan suruh Angga untuk menaikan gajimu!"
"Nyonya serius? Wah terima kasih Nyonya, terima kasih!" ucap Bije kegirangan.
"Baiklah, saya tutup teleponnya!" Santi menutup teleponnya.
"Tuan, kata Nyonya, Tuan harus menaikkan gajiku!" ucapnya senang.
Bibirnya tertarik ke atas, "Ck! Baiklah, akan kutambah lima puluh ribu untuk semua kerja kerasmu!" Angga meninggalkan ruangannya. Meninggalkan Bije yang termangu mendengar penuturan tuannya itu.
"Apa? Hanya lima puluh ribu? Dasar pelit! Aku sudah capek-capek menyiapkan pernikahannya yang mendadak ini, dan gajiku hanya dinaikkan lima puluh saja?! Cih! Dasar Bos pelit!" gerutu Bije dalam hati. Ia terus saja mengumpati Angga.
***
Happy reading 😘
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤