Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Meskipun kejadian di apartemen Menteng telah membongkar kegilaan Siska di depan Pak Roy, hukum korporasi dan proses perceraian kaum elit tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Siska Roy masih memiliki hak akses ke kantornya hingga surat pemberhentian resmi dari dewan komisaris ketuk palu. Ia menggunakan sisa-sisa kekuasaannya untuk menciptakan barikade terakhir, seolah-olah penolakan Arga semalam hanyalah sebuah tantangan yang belum selesai.
Nabila Mandala, yang biasanya tenang dan bertindak melalui prosedur hukum yang kaku, merasa bahwa ada sesuatu yang belum tuntas. Baginya, menyelamatkan Arga dari ruang gelap itu hanyalah sebuah penyelamatan fisik. Secara mental, Siska masih merasa ia memiliki hak atas hidup Arga.
Tanpa memberitahu Arga - yang saat itu sedang memberikan keterangan kepada tim audit internal bentukan Pak Roy - Nabila melangkah masuk ke gedung Airborne Group. Kali ini, ia tidak datang sebagai istri yang mengantar makan siang. Ia datang sebagai seorang wanita yang telah mencapai batas kesabarannya.
Nabila melewati meja sekretaris Siska tanpa permisi. Sang sekretaris mencoba menghalangi, namun tatapan mata Nabila yang tajam membuatnya mundur. Nabila mendorong pintu ganda ruangan Direktur Eksekutif dengan tenaga yang stabil.
Di dalam, Siska sedang berdiri di balkon kaca, membelakangi pintu. Ruangan itu tampak sunyi, namun penuh dengan ketegangan yang pekat. Aroma bunga lili yang menyengat masih memenuhi udara.
"Aku tahu kau akan datang, Nabila," ucap Siska tanpa menoleh. Suaranya terdengar serak, namun tetap mengandung keangkuhan yang luar biasa. "Wanita sepertimu selalu merasa perlu melakukan konfrontasi dramatis setelah merasa memenangkan pertempuran kecil."
Siska berbalik. Wajahnya tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun ia mengenakan pakaian yang sangat formal dan perhiasan yang mencolok, seolah-olah sedang bersiap untuk perang.
"Aku tidak datang untuk drama, Siska," Nabila berdiri di tengah ruangan, tangannya menggenggam tas kulitnya dengan erat. "Aku datang untuk memberimu peringatan terakhir. Jauhi suamiku. Berhenti mengirim pesan, berhenti memanipulasi laporan, dan berhenti menganggap kau punya tempat dalam hidup kami."
Siska tertawa kecil, tawa yang terdengar kering dan penuh penghinaan. Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya yang luas, menyentuh permukaan marmernya dengan ujung jari yang dipoles cat kuku merah darah.
"Suamimu? Arga bukan milikmu, Nabila. Dia adalah produk yang aku bentuk. Tanpa kebencian yang kuberi sepuluh tahun lalu, dia tidak akan punya ambisi untuk sukses. Dan tanpa bantuan yang kuberikan sekarang, dia hanyalah serangga kecil yang akan diinjak-injak oleh dunia bisnis," Siska menatap Nabila dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Lihat dirimu," lanjut Siska dengan nada mencemooh. "Kau adalah wanita kelas bawah yang beruntung bisa memungut pria yang aku buang. Kau pikir gelar pengacaramu itu berarti di sini? Di gedung ini, kau hanyalah kerikil. Kau tidak pantas bersanding dengan Arga yang sekarang. Arga yang sekarang butuh berlian, bukan batu jalanan sepertimu."
Nabila tetap berdiri tegak, napasnya teratur meskipun setiap kata Siska terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya. "Berlian yang kau bicarakan itu palsu, Siska. Berlian itu adalah obsesi yang merusak. Arga tidak butuh kemewahan yang datang dari tangan seorang sosiopat."
"Sosiopat?" Siska mendengus. "Itu istilah yang digunakan orang-orang lemah seperti kau untuk mendefinisikan wanita yang tahu cara mendapatkan apa yang dia inginkan. Arga mencintaiku dengan cara yang tidak akan pernah kau pahami. Saat dia bersamamu, dia hanya mencari keamanan. Tapi bersamaku, dia menemukan gairah dan kekuatan. Kau hanyalah persinggahan sementara agar dia merasa menjadi 'pria baik', sebelum akhirnya dia kembali kepadaku karena dia tahu kita berasal dari jenis yang sama."
Nabila melangkah maju, mendekati meja Siska hingga jarak mereka hanya terpisah oleh tumpukan berkas yang kini tidak lagi berharga.
"Kau sangat yakin dengan opinimu sendiri, ya?" Nabila tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Siska terdiam sejenak. "Jika kau memang begitu hebat, dan jika Arga memang begitu mendambakanmu, kenapa dia tidak memilihmu semalam di apartemen Menteng? Kenapa dia tidak menandatangani surat cerai itu saat kau menawarkan jabatan Direktur Utama?"
Nabila mencondongkan tubuhnya ke depan. "Karena di balik semua hartamu, Siska, kau hanyalah wanita kesepian yang tidak punya apa-apa. Kau membeli cinta dengan ancaman, kau membeli perhatian dengan sabotase. Kau merasa aku kelas bawah? Setidaknya aku tidak perlu menculik suamiku sendiri agar dia mau melihat wajahku."
Wajah Siska memerah. Otot-otot di rahangnya mengencang. "Kau pikir kau sudah menang karena Pak Roy membelamu? Roy sudah tua! Aku akan segera mengambil alih semua asetnya!"
"Kau tidak akan mengambil alih apa pun," tantang Nabila. "Aku sudah menyiapkan gugatan perdata atas nama Arga untuk pelecehan seksual di lingkungan kerja dan perbuatan tidak menyenangkan. Aku akan menyeret namamu ke media. Semua orang akan tahu bahwa Direktur Eksekutif Airborne Group yang anggun ini sebenarnya adalah seorang penguntit gila yang memenuhi apartemennya dengan foto-foto bawahannya."
"Beraninya kau!" Siska menggebrak meja dengan keras hingga vas bunga di atasnya berguncang.
"Kenapa? Kau takut kehilangan citra sempurnamu?" Nabila tidak mundur sedikit pun. "Ayo, Siska. Tunjukkan pada dunia siapa kau sebenarnya. Jika kau memang merasa lebih pantas untuk Arga, ayo kita bertarung di ruang sidang secara terbuka. Mari kita lihat, siapa yang akan dianggap 'kelas bawah' saat seluruh negeri tahu tentang rahasia kotor di ruang gelapmu itu."
Siska merasa seluruh dunianya yang selama ini ia kendalikan dengan rapi mulai runtuh karena keberanian wanita yang selalu ia anggap remeh. Kemarahannya yang selama ini dingin mendadak meledak menjadi api yang tak terkendali.
Ia menyambar vas bunga lili di atas mejanya dan melemparkannya ke arah Nabila. Nabila berhasil menghindar, vas itu pecah berkeping-keping di dinding belakangnya.
"Keluar kau dari sini!" teriak Siska, suaranya melengking tinggi, kehilangan semua keanggunannya. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi! Aku bisa menghapusmu dari muka bumi ini jika aku mau!"
"Kau hanya bisa mengancam, Siska," Nabila menjawab dengan suara yang kini meninggi namun tetap terkontrol. "Kau adalah pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan suamimu. Dan sekarang, saat suamimu pun sudah membuangmu, kau tidak punya apa-apa lagi. Kau bukan siapa-siapa tanpa nama 'Roy' di belakang namamu. Kau tetaplah gadis miskin yang ambisius dan penuh rasa iri dari masa lalu Arga."
Siska bergerak maju, mencoba meraih rambut Nabila atau mencakar wajahnya, namun Nabila dengan sigap menangkap pergelangan tangan Siska dan memutarnya dengan teknik bela diri yang pernah ia pelajari saat masih di bangku kuliah hukum.
Siska meringis kesakitan, terpaksa berlutut di samping mejanya sendiri.
"Dengar baik-baik, Siska," bisik Nabila tepat di telinga Siska yang sedang meronta. "Batas kesabaranku sudah habis. Jika kau muncul sekali lagi di depan Arga, atau jika kau mencoba menghubungi keluarganya, aku tidak akan menggunakan pengadilan. Aku akan memastikan hidupmu hancur dengan caraku sendiri. Jangan pernah meremehkan seorang istri yang sedang melindungi rumah tangganya."
Nabila melepaskan tangan Siska dengan kasar. Siska jatuh terduduk di atas pecahan kaca vas bunga miliknya sendiri. Tangannya terluka, darah merah segar menetes di atas lantai marmer putih yang mahal.
Nabila merapikan pakaiannya, mengambil tasnya, dan berjalan menuju pintu. Di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi.
Siska sedang duduk bersimbuh, menatap darah di tangannya dengan tatapan kosong. Air matanya mulai mengalir, namun bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kekalahan yang sangat pahit.
"Satu hal lagi, Siska," ucap Nabila. "Arga memintaku menyampaikan pesan ini. Dia bilang, dia berterima kasih karena kau telah meninggalkannya sepuluh tahun lalu. Karena jika kau tidak melakukannya, dia tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya dicintai oleh wanita yang benar-benar memiliki hati, bukan hanya obsesi."
Nabila melangkah keluar, menutup pintu ganda itu dengan suara dentuman yang mantap. Di koridor, ia menghela napas panjang. Seluruh tubuhnya mendadak lemas, namun hatinya merasa sangat ringan. Ia telah memberikan perlawanan yang pantas bagi wanita yang telah menyiksa suaminya selama berminggu-minggu.
Di dalam ruangan, Siska Roy mulai menjerit histeris. Ia menyapu semua barang di atas mejanya hingga berserakan di lantai. Dokumen, laptop, dan telepon semuanya jatuh hancur. Ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca, ia tampak seperti monster yang ia ciptakan sendiri.
Obsesinya telah mencapai batas akhir. Ia telah kehilangan Arga, ia telah kehilangan martabatnya, dan kini ia menyadari bahwa ia telah kehilangan dirinya sendiri dalam permainan yang ia buat.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰