"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Hati Arkan seolah mencelos melihat air mata Gladis yang jatuh semakin deras.
Ia tahu ia telah melampaui batas. Niatnya untuk melindungi justru berujung menyakiti perasaan istrinya yang sedang dalam kondisi sangat rapuh.
Gladis tidak mau menatap Arkan sama sekali. Ia menoleh ke arah salah satu perawat dengan mata yang memerah dan suara yang serak karena menahan tangis.
"Tolong, antarkan aku kembali ke kabin sekarang," ucap Gladis pelan, namun penuh penekanan.
"Aku sudah tidak mau di sini. Aku tidak mau Kumpir, aku tidak mau melihat apa-apa lagi."
Arkan mencoba meraih tangan Gladis. "Sayang, dengarkan aku dulu—"
"Jangan sentuh aku, Arkan!" potong Gladis sambil menarik tangannya. Ia membuang muka ke arah laut.
"Bawa aku pulang ke kapal. Sekarang."
Suasana di dermaga Turki yang tadinya indah seketika berubah menjadi kaku.
Arkan berdiri dengan kaku, tangannya terkepal di samping tubuh—bukan karena marah, tapi karena merutuki kebodohannya sendiri.
Ia hanya bisa memberikan isyarat dengan kepala kepada Gerald dan tim medis untuk segera memutar arah kursi roda tersebut.
Sepanjang perjalanan kembali ke kapal, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Gladis.
Ia hanya menatap kosong ke arah jalanan, sementara Arkan berjalan di sampingnya dengan wajah yang penuh penyesalan.
Setiap kali Arkan mencoba memperbaiki posisi selimut atau menyentuh pundaknya, Gladis sedikit menghindar.
Begitu sampai di kabin, Gladis langsung beranjak dari kursi roda dengan bantuan perawat, tanpa mau dibantu oleh Arkan.
Ia merebahkan diri di ranjang dan langsung memunggungi pintu, menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Keluar, Arkan. Aku ingin sendiri," suara Gladis terdengar dari balik selimut, teredam namun jelas bahwa ia sangat terluka.
Arkan berdiri di ambang pintu, menatap punggung istrinya dengan tatapan yang sangat sedih.
Ia tahu, memenangkan hati Gladis kali ini akan jauh lebih sulit daripada menghadapi ombak sebesar apa pun di laut lepas.
Arkan menarik napas panjang, meredam egonya demi senyum sang istri.
Ia sadar, tidak ada gunanya memenangkan argumen jika itu harus mengorbankan kebahagiaan Gladis. Dengan langkah cepat, ia kembali ke dermaga, menghampiri kerumunan, dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh kru kapalnya: membawa "si penjual jagung viral" naik ke atas kapal pesiar mewah tersebut.
Arkan mengetuk pintu kabin dengan lembut.
"Sayang, ada tamu yang ingin bertemu," ucapnya pelan.
Gladis yang masih meringkuk di balik selimut segera mengernyitkan kening. Suaranya masih terdengar serak.
"Tamu siapa? Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun, Arkan."
Namun, karena rasa penasaran, Gladis perlahan bangkit dan membuka pintu kabin. Matanya membelalak sempurna, rasa kantuk dan sedihnya seketika hilang saat melihat sosok pria Turki dengan rompi tradisionalnya berdiri di koridor kapal sambil membawa nampan berisi jagung bakar yang mengepul harum.
"Merhaba, Nyonya!" sapa penjual itu dengan senyum lebar dan gerakan tangan yang atraktif, persis seperti di video viral yang sering dilihat Gladis.
Arkan berdiri di belakang pria itu, melipat tangan di dada dengan wajah yang sedikit kaku namun tatapannya lembut ke arah Gladis.
"Aku membawanya ke sini. Dia akan melakukan atraksi jagung khusus untukmu dan nakhoda kecil kita di balkon kabin ini. Jadi, kamu tidak perlu berdesakan di dermaga."
Gladis menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya suaminya yang sangat pencemburu dan kaku itu rela melakukan hal sejauh ini hanya untuk menghiburnya.
"Arkan, kamu serius?" tanya Gladis dengan mata berkaca-kaca, tapi kali ini karena haru.
"Sangat serius. Aku lebih baik melihat pria ini beraksi di depanku daripada melihatmu menangis karena bentakanku tadi," jawab Arkan tulus. Ia mendekat, lalu mengusap puncak kepala Gladis.
"Maafkan aku ya, Sayang?"
Gladis langsung menghambur ke pelukan Arkan, melupakan kekesalannya.
Penjual jagung itu mulai memutar-mutar tongkol jagung dengan lincah, menciptakan suasana meriah di dalam kabin mewah itu.
Kegembiraan Gladis benar-benar terpancar saat ia berfoto bersama sang penjual jagung.
Dengan senyum lebar, Gladis berpose sambil memegang tongkol jagung bakar, sementara si penjual menunjukkan gaya khasnya yang energetik.
Arkan yang memegang ponsel untuk memotret mereka, sesekali berdehem kecil—mencoba menahan rasa cemburunya yang masih tersisa sedikit, namun tetap memastikan hasil fotonya bagus untuk istrinya.
Setelah sesi foto selesai, Gladis duduk di kursi balkon kabin dengan lahap menikmati jagung bakar yang masih panas.
Rasa manis, gurih, dan aroma asap khas Turki itu benar-benar mengobati rasa mual dan suasana hati buruknya tadi.
"Terima kasih sudah datang ke sini," ucap Arkan kepada si penjual jagung dalam bahasa Inggris yang fasih.
Ia memberikan imbalan yang sangat murah hati sebagai kompensasi karena telah membawa pria itu keluar dari lapaknya.
Arkan menoleh ke arah Gerald yang berdiri siaga di dekat pintu.
"Gerald, tolong antarkan dia kembali ke dermaga dengan selamat. Pastikan semua urusan administrasi dan bayarannya diselesaikan dengan baik."
"Siap, Kapten," jawab Gerald sambil mempersilakan pria Turki itu keluar.
Setelah suasana kembali tenang, Arkan menghampiri Gladis yang sedang asyik menggigit butiran jagung.
Ia berlutut di depan istrinya, menatap wajah Gladis yang kini jauh lebih cerah dan tidak pucat lagi.
"Enak jagungnya?" tanya Arkan lembut.
"Enak banget! Lebih enak dimakan di sini karena tidak perlu berdesakan," jawab Gladis sambil tersenyum lebar ke arah suaminya. Ia memotong sedikit bagian jagungnya dan menyuapkannya ke mulut Arkan.
"Maaf ya sudah membuatmu repot, Kapten Posesif."
Arkan mengunyah jagung itu sambil tersenyum tipis.
"Apapun untukmu dan si kembar. Asal kamu tidak menangis lagi, aku rela membawa satu pasar Istanbul ke atas kapal ini."
Mereka berdua menghabiskan waktu sore itu di balkon kabin, menikmati angin selat Bosphorus yang sejuk sambil sesekali merasakan tendangan halus yang seolah-olah berasal dari kegembiraan si kembar di dalam perut Gladis.
Malam itu, kapal Ocean Empress membelah perairan Mediterania dengan sangat tenang. Arkan telah menyiapkan dek observasi pribadi yang tertutup untuk kru lain.
Di sana, sebuah meja bundar dengan taplak putih bersih telah ditata rapi, dihiasi lilin-lilin kecil yang apinya menari ditiup angin laut yang sepoi-sepoi.
Langit malam itu sangat bersih, menampakkan taburan bintang yang berkilau seperti berlian di atas hamparan permadani hitam.
Suasana begitu sunyi, hanya ada suara deburan ombak yang memukul lambung kapal secara ritmis.
Arkan menarik kursi untuk Gladis, lalu duduk di hadapannya.
Ia menggenggam jemari Gladis di atas meja, menatap mata istrinya dengan penuh kesungguhan.
"Sayang, aku ingin minta maaf soal kejadian siang tadi," ucap Arkan pelan.
"Aku tahu caraku salah. Bentakanku tadi sama sekali tidak pantas. Aku hanya sangat trauma membayangkan kejadian di dek kemarin. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan kalian."
Gladis menatap Arkan dengan lembut. Rasa hangat menjalar di hatinya melihat kerapuhan di balik sosok Kapten yang biasanya begitu tangguh itu.
Ia menganggukkan kepalanya perlahan, membalas genggaman tangan Arkan.
"Aku juga minta maaf, Arkan," bisik Gladis tulus. "Aku terlalu keras kepala dan tidak memikirkan kekhawatiranmu. Aku lupa kalau aku tidak lagi sendirian, ada dua nyawa yang harus kujaga. Maafkan aku karena sudah membuatmu takut."
Arkan tersenyum lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Ia mencium punggung tangan Gladis lama.
"Kita belajar bersama, ya? Ini pengalaman pertama kita menjadi orang tua, apalagi langsung dapat paket kembar."
Malam itu mereka habiskan dengan menyantap hidangan laut segar dan Baklava yang manis, ditemani alunan musik klasik yang diputar pelan. Keharmonisan kembali tercipta, jauh lebih indah daripada sebelumnya.
Di bawah saksi jutaan bintang Mediterania, Arkan dan Gladis saling berjanji untuk lebih saling mengerti satu sama lain.
"Arkan," panggil Gladis saat mereka sedang menikmati pemandangan laut.
"Ya, Sayang?"
"Sepertinya si kembar suka suasana ini. Mereka sangat tenang di dalam," ujar Gladis sambil mengusap perutnya dengan senyum bahagia.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys