NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Tak Ingin Berakhir

Angin malam berhembus pelan membelai jendela kamarku, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang tumbuh liar di halaman depan. Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup, seolah ikut menjaga keheningan yang terasa begitu berharga malam ini. Di dalam ruangan, cahaya lampu yang remang menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding, dan di tengah semua itu, aku berbaring di sampingnya — merasa lebih aman daripada di mana pun di dunia ini.

Orion berbaring miring menghadapku, satu lengannya melingkar di pinggangku, menarikku dekat hingga dada kami nyaris bersentuhan. Napasnya terasa hangat di dahiku, berirama tenang, seperti ombak yang menyapu pantai pelan dan teratur. Jantungnya berdetak di bawah telingaku — kuat, mantap, dan entah bagaimana, selalu membuatku merasa semuanya akan baik-baik saja, apa pun yang terjadi di luar sana.

"Kau tahu," suaranya berbisik pelan, begitu lembut sampai aku nyaris takut mengganggu keheningan itu, "sebelum ada kau, aku pikir aku sudah terbiasa dengan keheningan. Bahwa kesepian itu adalah rumahku yang sesungguhnya. Tapi sekarang... kalau aku terbangun dan kau tidak ada di sampingku, ruangan ini terasa terlalu luas. Terlalu dingin. Dan aku baru sadar — aku tidak pernah benar-benar hidup sebelum aku bertemu denganmu."

Aku mendongak perlahan, jariku menyusuri garis rahangnya yang tegas namun halus di bawah sentuhan kulitku. Cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai menyinari separuh wajahnya, menonjolkan matanya yang berkilau lembut — seperti bintang yang terjaga khusus untukku.

"Kau tidak pernah sendirian lagi, Orion. Bahkan saat kita terpisah, ada sebagian dari diriku yang selalu bersamamu. Di sini." Aku meletakkan tanganku di dadanya, tepat di tempat jantungnya berdetak. "Dan di sini juga ada sebagian dari dirimu yang tinggal di dalamku. Sehingga ke mana pun aku pergi, kau selalu ikut."

Dia menunduk perlahan, keningnya menyentuh keningku, hidung kami bersentuhan pelan. Napasnya berhenti sejenak, seolah dia sedang berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak terlalu berlebihan.

"Kau terlalu berarti untukku, Aruna. Kadang aku takut — kalau sesuatu terjadi padamu karena aku... aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Ribuan tahun aku bertahan sendirian, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan lagi kalau harus kehilanganmu."

"Kau tidak akan kehilanganku," bisikku, jemariku merambat naik ke lehernya, membelai rambut hitamnya yang sedikit berantakan. "Dan aku tidak akan kehilanganmu. Kita berdua sudah bagian dari cerita yang lebih besar dari sekadar pertemuan kebetulan. Ingat itu."

Dia tersenyum tipis, senyum yang hanya muncul untukku — lembut, sedikit rapuh, tapi penuh dengan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kata-kata. Perlahan bibirnya menyentuh keningku, lama dan penuh perasaan, lalu turun pelan ke pelipisku, ke sudut mataku, hingga akhirnya berhenti tepat di bibirku. Sentuhannya bukan terburu-buru, bukan menuntut — melainkan menanyakan izin, seolah dia selalu takut akan menyakitiku walau sekecil apa pun.

Saat bibirnya menyatu dengan bibirku, rasanya seperti seluruh dunia di luar sana berhenti berputar. Tidak ada bahaya, tidak ada dua dunia yang terpisah, tidak ada raja yang marah atau jenderal yang mengancam. Hanya kami berdua — utuh, nyata, dan saling memiliki dalam keheningan yang penuh makna. Tangannya di pinggangku mempererat pelukan itu, menarikku sedekat yang kami bisa, seolah dia ingin menyatukan jiwanya dengan jiwaku agar tak pernah terpisah lagi. Ciumannya dalam namun lembut, penuh kerinduan yang tak terucap, penuh rasa syukur yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan saat kami akhirnya berpisah, napas kami terengah, wajahnya masih sangat dekat dariku, matanya menatapku lekat-lekat seolah dia sedang menghafal setiap inci wajahku agar tidak lupa walau satu detik saja.

"Kau adalah mimpi yang tak pernah aku berani impikan," bisiknya, suaranya sedikit bergetar. "Dan aku takut suatu hari aku akan terbangun dan kau tidak akan ada di sini."

Aku mencium bibirnya sekilas, lembut dan menenangkan. "Aku nyata, Orion. Dan aku tidak akan pergi ke mana pun. Tidurlah. Aku akan di sini saat kau membuka matamu nanti pagi."

Dia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bantal, menarikku agar aku bersandar di dadanya, lengannya melingkar erat di sekitarku. "Janjilah?"

"Janji," bisikku, memejamkan mataku, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan membuatku terlelap.

 

Aku terbangun karena cahaya yang tidak seharusnya ada. Ruangan itu masih remang, jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Tapi Orion tidak ada di sampingku.

Aku duduk perlahan, bingung, lalu melihatnya — dia berdiri di dekat jendela, membelakangiku, tubuhnya tegang seolah membatu. Cahaya samar memancar dari tubuhnya, berwarna keemasan redup yang semakin lama semakin terang, berdenyut perlahan seperti detak jantung.

"Orion?" panggilku pelan, turun dari tempat tidur dan melangkah mendekat. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"

Dia menoleh perlahan, dan mataku membelalak — matanya yang biasanya berwarna keemasan lembut kini bercahaya terang, dan di sudut mataku... ada jejak air mata yang jatuh pelan ke pipinya. Tapi bukan air mata biasa — saat menyentuh kulitnya, ia berkilau seperti butiran cahaya cair sebelum lenyap begitu saja.

"Aku mendengar sesuatu," katanya suaranya rendah, penuh kecemasan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Sesuatu yang jauh. Tapi semakin dekat."

"Mendengar apa?" aku meraih tangannya, dan tangannya terasa hangat tapi sedikit bergetar di genggamanku.

Dia menatapku lama sekali, seolah sedang berjuang dengan kata-kata yang ingin diucapkan.

"Ada pesan. Bukan untukku. Untukmu. Dan itu bukan dari musuh. Itu peringatan — dari seseorang yang sudah lama hilang. Seseorang yang kukira sudah tidak ada di dunia ini."

Dia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar, "Aruna... mereka tidak hanya tahu di mana kita berada. Mereka tahu siapa kakekmu. Dan mereka tahu apa yang kau bawa dari rumah nenekmu dulu — kotak kayu kecil yang kau simpan di bagian paling bawah lemari pakaianmu. Itu bukan peninggalan biasa. Itu adalah kunci yang selama ini mereka cari tanpa pernah tahu di mana letaknya."

Darahku terasa berhenti mengalir. Kotak kayu itu — benda kecil yang sudah ada di keluargaku selama tiga generasi, yang tak pernah bisa kubuka, yang selalu kusesembunyikan karena terasa aneh dan misterius.

"Tapi... itu mustahil," suaraku tercekat. "Tidak ada yang tahu tentang itu. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa isinya."

Orion menggenggam kedua tanganku erat sekali, matanya menatapku dalam-dalam, penuh ketakutan yang jujur dan mendalam.

"Mereka tahu, Aruna. Dan saat matahari terbit nanti... seseorang akan datang mencarinya. Seseorang yang kau percaya. Seseorang yang kau kenal sejak kecil. Tapi percayalah pada apa pun yang terjadi — jangan pernah membukanya. Tidak peduli apa yang mereka katakan. Tidak peduli apa yang mereka janjikan. Karena begitu terbuka... tidak ada yang bisa menutupnya lagi. Bahkan aku sekalipun."

Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ketukan pelan terdengar di pintu depan. Tiga ketukan — lambat, berirama, tepat pukul tiga pagi.

Orion menegang seketika, tubuhnya melindungiku di belakangnya sendiri. Cahaya di sekujur tubuhnya semakin terang, siap untuk apa pun yang ada di balik pintu itu.

"Itu dia," bisiknya, matanya tak lepas dari pintu yang tertutup rapat itu. "Pintu tak terkunci. Dan dia sudah tahu kita di dalam."

Aku menelan ludah, jantungku berpacu kencang hingga rasanya mau meledak di dada. Siapa yang bisa datang jam segini? Dan bagaimana mereka tahu kotak itu?

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini disertai suara yang membuat kakiku terasa lemas tak berdaya — suara yang sangat kukenal, suara yang selalu membuatku merasa aman sepanjang hidupku.

"Aruna... buka pintunya, Nak. Aku tahu kau di dalam. Dan aku tahu kau sedang menungguku."

Itu suara Kakek. Tapi kakek sudah meninggal dua tahun lalu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!